Sabtu, 30 Oktober 2010

SEJARAH MUNCULNYA BRAHMANA DUKUH DI BALI

Sejarah munculnya Brahmana Dukuh di Bali
            Perkembangan sejarah Bali tentang lahirnya seorang brahmana (pendeta) terdapat 3 (tiga) jalan yang disebut:
     1). Sapinda, seorang brahmana (pendeta) lahir karena berdasarkan hubungan darah dengan orang suci atau para pertapa sebelumnya.
     2). Prawara, seorang brahmana (pendeta) lahir berdasarkan dari sekte/sampradaya/pakse walau dari wangsa mana pun mereka.
     3). Gotra, seorang brahmana (pendeta) lahir karena berdasarkan dari kelompok warga, soroh, klen, wangsa tertentu.

       Ad 1. Sapinda adalah seorang brahmana (pendeta) lahir berdasarkan hubungan darah dari orang suci atau para pertapa yang ada sebelumnya. Di dalam Prasasti Pura Puseh Sading dan piagem Dukuh Gamongan, raja-raja Bali Kuno setelah habis masa pemerintahan secara konsisten melakukan hidup suci menjadi seorang pertapa atau me-wanaprasta ke tempat yang lebih tinggi, untuk mencari ke agungan Tuhan/Hyang Widhi, sehingga akhirnya beliau sampai di Gunung Lempuyang. Hal ini mulai terlihat jelas dari raja Sri Jayasakti yang merintis pedharman (pertapaan) di Gunung Lempuyang dan diteruskan oleh keturunannya yaitu; Sri Gnijaya, Sri Maha Sidhimantradewa, Sri Indracakru, Sri Pasung Grigis, Sri Rigis, Sri Pasung Giri, Dukuh Sakti Gamongan dan keturunan Dukuh lainnya yang meneruskan pertapaan yang terletak di Desa Adat Gamongan. Sri Pasung Giri inilah yang menurunkan para Dukuh yang tersebar di Bali sebelum masuknya para Brahmana Majapahit. Nama keluarga dan nama raja masih tetap disandangnya walau pun telah melakukan hidup suci dan tanpa amari aran (ganti nama) seperti yang diberikan oleh Guru Nabe dalam suatu sekte yang ada di Bali pada era itu. Dalam hal ini secara implisit para raja Bali Kuno tidak secara tegas telah mengikuti sekte atau paham apa beliau pada era itu. Para raja Bali Kuno melakukan hidup suci dengan belajar dari alam sekitarnya, melalui tapa, brata, yoga, semadhi. Gelar Dukuh ditegaskan kembali bagi keturunan raja Bali yang melakukan hidup me-wanaprasta oleh Pedanda Sakti Wawu Rauh pada era pemerintahan Dalem Baturenggong, seperti tertulis dalam Piagem Dukuh Gamongan tersebut. Kata dukuh dalam Kamus Jawa Kuno oleh Zoetmulder (1994:233) berarti pertapaan di hutan, bertempat tinggal di hutan. Dalam Kamus Bahasa Bali (Simpen, 1985:59) kata dukuh artinya wang mdwijati, adan soroh dukuh.

Dalam Piagem Dukuh Gamongan, Gelar Dukuh Ditegaskan Kembali oleh Danghyang Wawu Rauh di zaman Pemerintahan Sri Kresna Kepakisan Baturenggong, berikut:

. . . sira Pasung Giri, asentana limang diri, kang panwa apasadnyan sira Dukuh Gamongan, panugrahan nira Danghyang Bawurawuh, manenggekin, mwang manisyanin, maring Gunung Lempuyang, wetning treh nira Hyang Sidhimantra, amuja parikrama, maring kahyangan nira Hyang Gnijaya . . .
(Piagem Dukuh Gamongan, halaman 21a).

Arti Bebas: 
. . . .  beliau Pasung Giri berputra lima orang, yang tertua bernama Dukuh Gamongan, panugrahan beliau Danghyang Bawurawuh, yang mengepalai dan sebagai orang suci di Gunung Lempuyang, memang asal keturunan Hyang Sidhimantra, memuja dan mendoakan haturan umatnya yang ada di tempat suci Hyang Gnijaya . . . . . .
  
Dalam Pangeling-eling I Dukuh Gamongan pangandika Raja Ida Anake Agung, I Gusti Ngurah Made Karangasem, disebutkan:

Dukuh Gamongan, ira ngidih sukaan I Dukuh Gamongan, tunasang ira kasidian, teken bhatara ditu digunung Lempuyang, di Bukit Bisbis, di Telaga Sawang, yen suba ira makantos maan pamuktian dini di Karangasem, tur asing-asing gebug ira sida kalah baan ira, ira ngebug Sibetane, ira ngaturang abah-abah sapradeg tur ira ngadakang acin-acin Bhatarane ditu, di Lempuyang, di Bukit Bisbis, di Telaga Sawang, tur ira manyiwi kema, tur ira ngadakang juru sapuh, mamahayu, nureksayang sane rusak, pepayone di Bukit Bisbis, di Telaga Sawang lempuyang sane kapahayu baan Dukuh Gamongan, kenehe masangkepin, tur mitindihan I Dukuh Gamongan, manukuhan, manisyanin, tur ira tusing ngenain I Dukuh Gamongan pejah panjing, cacamputan, tetegenan, tan kawasin gentosin sentanane Dukuh Gamongan.
(Pangeling-ngeling Dukuh Gamongan)

Arti Bebas:
Dukuh Gamongan, saya minta pemberkatan I Dukuh Gamongan, mohonkan saya tuah, dengan Bhatara yang  berstana digunung Lempuyang, di Bukit Bisbis, di Telaga Sawang, kalau sudah dapat hasil disini di Karangasem, dan setiap saya serang dapat saya taklukan, saya serang Sibetan, saya menghaturkan seperangkat busana pura dan mengadakan apacara dan upakara Bhatara disana di Lempuyang, di Bukit Bisbis, di Telaga Sawang dan saya akan menyembah Bhatara kesana, dan saya akan menyediakan tukang sapu, memperbaiki yang telah rusak, pohon-pohon kayu yang ada di Bukit Bisbis, di Telaga Sawang yang dilaksanakan oleh Dukuh Gamongan, hendak menyatukan, dan mendukung I Dukuh Gamongan manukuhin, bertanggung jawab dan saya tidak akan membebani I Dukuh Gamongan kewajiban tanggungan istana sampai keturunan, tak ada yang berkuasa menggantikan keturunan Dukuh Gamongan.

Perlu juga diketahui ada beberapa acuan dalam mengenal dan menganalisa tentang keberadaan Dukuh yang ada di Bali, dimana sebenarnya istilah Dukuh sudah ada sebelum datangnya Danghyang Nirartta ke Bali, ini bisa kita lihat dalam Prasasti Dalem Sagening disebutkan; kekosongan pemimpin setelah Bali ditaklukkan oleh Majapahit, dua pendeta Bali yaitu; Dukuh Sakti dan Dukuh Sagening memohon raja ke Jawa (Majapahit) untuk mengirimkan utusan menjadi raja di Bali. Pada saat itu yang didatangkan ke Bali adalah Dalem Sagening. Dimana Dalem Sagening nantinya mensetarakan kedudukkan Dukuh Sagening dan Dukuh Sakti yang datang ke Jawa sebagai penghormatan ditambah kata Dalem. Dimana sebelumnya istilah Dukuh itu sudah ada tetapi gelar Dukuh Dalem itu muncul pada era Dalem Sagening sebagai bentuk penghormatan atas jasa yang diberikan pada ke dua Dukuh tersebut.
          Dalam Purana Dalem Tarukan, bahwa Dukuh Bunga, Dukuh Jati Tuhu, Dukuh Pantun adalah Bagawanta dari pada Dalem Tarukan. Begitu juga Wangbang Pinatih memiliki seorang ibu dari keturunan Dukuh Bang Sakti.
          Dalam Prasasti Manik Angkeran, Besakih menjelaskan, pada saat beliau ada di Bali untuk mengemban Ida Naga Basuki, dalam suatu perjalanan beliau bertemu dengan seorang tokoh tua yang sedang duduk di kiskis (cangkul). Tokoh tua ini habis mengerjakan ladangnya setelah beliau payah beliau duduk diatas kiskis (cangkul). Pada saat itu datanglah Ida Manik Angkeran, dan tokoh tua itu turun dari kiskisnya dan menanyakan siapa gerangan anak muda yang baru datang ini. Anak muda ini menyahut putra dari Mpu Bekung atau yang disebut Danghyang Sidhimantra. Dalam pertemuan ini terjadi suatau perdebatan atau kalau boleh dikatakan suatu bentuk pengujian kemampuan, dimana pada saat itu dilihat tokoh tua ini tiada lain adalah Dukuh Blatungan sedang membakar sampah hasil rabasan di ladangnya dengan menggunakan api biasa, tetapi tokoh muda ini beliau mengatakan mampu membakar sampah ini hanya menggunakan air kencing. Pada waktu itulah tokoh tua ini, kalau memang benar beliau mampu membakar sampah ini hanya menggunakan air kencing maka beliau akan menyerahkan semua sisya dan sanak keluarganya kepada tokoh muda ini. Dan betul pada hari yang telah ditentukan, tokoh muda ini membakar semua rumput itu dengan hanya mengencingi sampah/ rumput tersebut. Sehingga sesuai dengan janji, maka tokoh tua yang tiada lain adalah Dukuh Blatungan ini menyerahkan semua sisya, sanak saudara beserta putrinya diserahkan kepada Manik Angkeran.
Dan pada akhirnya putri Dukuh Blatungan inilah yang menjadi cikal bakal turunnya Warga Manik Angkeran yaitu, yang pertama Sidemen (I Gusti Ngurah Sidemen), yang ke dua Manikan (Gusti Ngurah Manikan), yang ke tiga Wayabya, yang ke empat Pinatih. Dan beliau itulah awal cikal bakal adanya Catur Sanak dari warga keturunan Sidhimantra di Bali yang diturunkan oleh Manik Angkeran. Jadi pada era itu juga dikenal adanya Dukuh yang disebut Dukuh Blatungan.
          Sedangkan pura-pura yang ada di Bali, terutama pura gunung yang ada patirtan, itu sepenuhnya di emban oleh Dukuh. Ini bisa kita lihat dari Gunung Lempuyang sampai Gunung Batukaru itu semuanya masih embanan Warga Dukuh. Itu menandakan penghormatan untuk Brahmana Bali di era itu yang sampai saat kini masih ada.
         Jadi sangat keliru seseorang menganggap Klen Dukuh itu adalah Brahmana sudra yang telah mabersih (ditahbiskan) menjadi bagawanta kerajaan Bali pada zaman itu, seperti tertulis dalam buku Dinamika Sosial Masyarakat Bali oleh Tim (2008:150). Kita bisa bayangkan bagaimana mungkin seorang sudra menjadi bagawanta seorang raja, yang keturunannya sangat dihormati sampai saat kini. Kalau memang demikian halnya tentunya dari dahulu Bali ini dipimpin oleh orang sudra karena mereka memiliki seorang ibu dan mertua turunan dari seorang sudra yaitu Dukuh.
        Dalam Siwa Sasana yang menjadi acuan untuk kesulinggihan di Bali, dimana dijelaskan bahwa yang disebut Brahmana sudra adalah seorang Brahmana (sulinggih) dimana keseharian beliau bekerja sebagai seorang petani disamping melakukan tugas ngaloka palasraya, beliaulah yang dikategorikan Brahmana sudra karena tugas, bukan sudra dalam segi wangsa, karena beliau mengambil tugas seorang sudra sebagai petani. Karena petani dalam Catur Warna beliau dikategorikan Sudra. Hal ini perlu dicamkan dengan baik yang disebut Brahmana sudra bukan karena sumbernya dari Sudra tetapi mereka mengerjakan karena tugas dari Warna Sudra sebagai petani yang ada dalam Siwa Sasana yang sampai kini masih dipakai sepenuhnya oleh para Brahmana yang ada di Bali.

Ad 2. Prawara, seorang brahmana (pendeta) lahir berdasarkan dari sekte, paksa, sampradaya, aguron-guron. Dalam buku Sampradaya (Jendra, 2007:17) yang dimaksud sekte, paksa, sampradaya, aguron-guron adalah suatu sistem perguruan yang telah mentradisi yang menjadi integral dari sistem belajar pengetahuan sejati (spiritual) dalam Weda atau Agama Hindu. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia oleh Tim (2002:1015) dijelaskan kata sekte/agama adalah kelompok orang yang mempunyai kepercayaan akan pandangan agama yang sama, yang berbeda dari pandangan agama yang lazim diterima oleh para penganut agama tersebut, misalnya; sekte siwa, sekte budha, sekte waisnawa, sekte bhairawa, sekte indra, dan lain-lain. Sekte ini mempunyai jalan dan identitas diri masing-masing, yaitu: ada istadewata (dewa pujaan), ada kitab sucinya, ada orang sucinya (pendeta), ada tempat ibadah, ada hari-hari suci dan sebagainya. Prasasti yang dikeluarkan oleh raja Bali Kuno selalu tertulis para pendeta yang menyaksikan keluarnya aturan tersebut. Pada era itu Sekte Siwa pendetanya bergelar dang acharya, Sekte Budha pendetanya bergelar dang upadyaya, Sekte Waisnawa pendetanya bergelar bhujangga, dan sebagainya. Jadi masing-masing sekte mempunyai sebutan pendeta dengan gelar atau identitas tersendiri. Yang menjadi pertanyaan, dimanakah tempat suci (pura) dari masing-masing sekte itu, karena telah mentradisi, semestinya di Bali saat kini ada Pura Brahma, Pura Wisnu, Pura Siwa, Pura Bhairawa, Pura Indra dan lainnya sesuai keberadaan sekte-sekte yang ada di Bali pada era itu.

       Ad. 3. Gotra, adalah seorang brahmana (pendeta) lahir karena berdasarkan dari kelompok warga/klen/soroh/wangsa, misalnya: Warga Ida Bagus gelar pendetanya disebut Ida Padanda, Warga Pasek pendetanya bergelar Sri Mpu, Warga Para Gusti pendetanya bergelar Rsi Bhagawan, Warga Sengguhu pendetanya bergelar Rsi Bujangga, Warga Bali Kuno pendetanya bergelar Dukuh dan lain sebagainya.

9 komentar:

Om Swastiastu Tiang Para warih Dukuh Segening Matur Suksma..

Om Swastyastu warih Dukuh Sagening ,, dagingin malih indik pamargi leluhur dwene (Dukuh Sagening), mangda nyambung lelintihan th per tahun perjalanan asal usul kehidupan beliau sampai disebut Dukuh ,, dan hubungan Dukuh satu dgn Dukuh yg lain di Bali ini ,, ngiring pulpulang ring website dwene niki ,,durusang jro ,,

tulisan nyane mewarne gadang ten mresidayang tiang memace nika..matur suksma

@made darmi bisa di baca di buku kebo iwa lebih lengkap.hubungi yayasan garbha nusantara. di jalan plawa.

Om Swastyastu @Made Darmi, materi buku bisa dibaca di kolom "BUKU" kiri atas dinding ini, isi sudah final, untuk cetakan pertama 2000 exs telah habis menuju cetakan ke 2 tentu kami minta kritik serta tambahan materi dari ibu ,, suksma sampun berbagi ,,

om swastiastu, warga brahmana bhujangga waisnawa bila didwijati bergelar Ida Rsi Bhujangga Waisnawa / Ida Bhujangga Rsi Waisnawa. Beliau memiliki gelar sangguhu bukan sengguhu yang artinya sang guwung hulu atau sang guru, yang memiliki wewenang muput sor ke luhur atau luhur ke sor. Biasanya orang memplesetkan sangguhu menjadi sengguhu atau senggu. ini kekeliruan yang sangat fatal, sengguhu atau senggu itu sebutan kelik / i guto / i burit / jero gede, sedangkan sangguhu bhujangga waisnawa itu keturunan Ida Maha Rsi Markandeya yang merupakan seorang brahmana pertama kali ke Bali. I Kelik / I Guto / I senggu itu abdinya Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh yang belakang datang ke Bali. Lebih jelas infonya silahkan tanya pada Ida Rsi Bhujangga Waisnawa / Ida Bhujangga Rsi Waisnawa / baca kutipan lontar Rsi Waisnawa / lontar Eka Pretama / lontar Babancangah Maospahit / buku yang berjudul Bhujangga Waisnawa bagian dari siwa sidantha, biar tidak terjadi informasi yang keliru mengenai warga bhujangga waisnawa. Suksma, Om, Santih 3x Om...

Waduh ,, lagi2 BABAD adalah kebenaran nomor lima setelah Prasasti, Purana, Piagem, Prakempa dan baru Babad ,, dalam sejarah Bali tidak muncul nama Rsi Markendya ,, di Bali tidak ada pura kuno, yg ada adalah bekas abu raja, bekas pertapaan raja menjadi pura sangat megah masa kini, misalnya Pura Gunung Kawi adalah tmp abu raja Udayana dan 2 anaknya yaitu Marakata dan Aji Hungsu, Pura Durga Kutri adalah bekas tempat bakar istri udayana, Pura Lempuyang adalah bekas pertapaan raja Jayasakti jadi raja Bali th 1150 M setelah hidup suci disebut Sri Gnijaya Sakti, Pura Balingkang adlah tempat bakar istri cina raja Jaya pangus dlll ,, jadi tidak ada pura kuno di Bali ,, jika dikatakan pura besakih pura kuno tidak masuk akal karena gunung agung masih aktif dan tidak ada tertulis Pura Besakih dalam Prasasti yg dikeluarkan raja2 Bali Kuno ,,
Dan yg mana kanggo untuk Rsi Markendeya karena muncul 3 Versi catatan yg berbeda ,, Rsi Markendeya muncul di zaman MAHABARATA 5000 th yg lalu adalah anaknya Bagawan Bregu ,,, Rsi Markendya muncul dalam Babad Batur dijelaskan ,, Dewa pura Penulisan adalah Bhatara Wisnu Murti yang berwajah empat dan ketika bentuk manusia namanya Bhagawan Siwagandu. Bagawan Siwagandu setelah moksah di Gunung Agung mengganti namanya menjadi Rsi Markendya ,,, dan satu versi lagi yaitu guru Hindu dari Gunung Raung MAHARESI MARKANDEYA yg dikatakan datang ke Bali abad ke 7 dgn membawa pengikut sebanyak 800 orang. Para pengikut ini dikatakan adalah orang pertama yg membersihkan hutan di kaki gunung Agung yg sekarang disebut Pura Besakih. Namun kebanyakan dari pengikut itu mati karena penyakit dan dimakan binatang buas. Sehingga orang suci itu terpaksa balik kembali ke Jawa dan membawa 1000 orang lagi. Dengan bantuan pengikut baru itu mulang panca datu mendirikan Pura Besakih di Gunung Agung.
Di balik cerita di atas, mengemukakan bahwa mungkin ia diciptakan ataudisesuaikan oleh para penguasa Majapahit dgn mempertimbangkan penduduk Bali asli gagal untuk mendirikan sebuah peradaban yg setabil.
Baru gelombang kedua dari imigran Jawa itu (dari Majapahit abad ke 14 setelah kalahnya Kebo Iwa, dan berhasilmendirikan sebuah tatanan yg stabil di Bali, di mana Pura Besakih merupakan pura utama masa kini ,,, ?? jadi yg mana kanggo mas anonim ,,

Pada intinya pemujaan leluhur (Kawitan) semestinya nama orang atau nama leluhur yang dijadikan pedoman untuk disucikan di pura kelompok warga. Tentu nama leluhur yang pernah hidup pada zaman dahulu dan mempunyai jasa untuk dikenang pada masa kini. Perubahan Catur Warna menjadi Catur Wangsa membawa dampak kebingungan bagi warga Bali Mula di dalam menentukan nama leluhur yang akan dijadikan patokan untuk disucikan. Sistem Catur Warna yang menjadi pegangan warga Bali Mula lahir berdasarkan guna karma, tugas dan pekerjaan yang pernah di emban oleh leluhur pada zaman dahulu, sedangkan Catur Wangsa muncul pada era Majapahit ditentukan berdasarkan kelahiran dari kelompok warga tertentu.

Beberapa acuan yang dijadikan pedoman oleh orang-orang Bali Mula untuk menentukan nama Pura Kawitan pada masa kini antara lain,
1) Nama Kawitan berasal dari nama leluhur yang disucikan, misalnya, Pura Kawitan Sri Karang Buncing, Pura Kawitan Dalem Tarukan, Pura Kawitan Kresna Kepakisan dan lain-lain yang tercatat kisah perjalanan hidupnya.
2) Nama Kawitan berasal dari nama kelompok pekerjaan/ jabatan yang pernah diemban oleh leluhur pada masa lalu, namun kurang jelas siapa nama leluhur sebenarnya, misalnya, pasek, pande, penyarikan, dukuh, kubayan, bendesa, si, juru bahu, samgat, senapati dan lainnya.
3) Nama Kawitan berasal dari nama sekte yang dianut oleh leluhur di masa lalu misalnya, Bujangga Waisnawa, Pendeta Siwa, Pendeta Budha, Pitamaha (Pendeta sekte Brahma) dan lainnya.
4) Nama Kawitan berasal dari aguron-guron misalnya, warga Pasek berguru nabe dengan pendeta Dukuh, setelah dwijati diberi gelar Dukuh, yang semestinya warga Pasek bergelar Sri Mpu, lama kelamaan keturunannya menyebut diri warga Dukuh. Atau pragusti berguru nabe dengan Ida Pedanda setelah dwijati menyandang dua gelar yaitu Ida Pedanda Rsi Bhagawan.
5) Nama Kawitan berasal dari anugrah penguasa, misalnya, Pura Dukuh di Banjar Perarudan, Jimbaran, Kuta Selatan awalnya paibon Sri Batu Putih (Dalem Putih Jimbaran) dengan putranya Dalem Petak Jingga. Karena ekpansi para Arya Majapahit, Pura Dukuh ditinggal pergi oleh keluarga Dalem. Dan Pasek dari Desa Kusamba yang mengungsi di Desa Jimbaran diberikan mandat oleh penguasa selanjutnya untuk menjadi pemangku di Pura Dukuh tersebut. Akhirnya lama kelamaan keturunannya menyebut diri warga Dukuh sesuai nama pura yang di empon.
6) Nama Kawitan berasal dari hubungan abstrak tanah ayah-ayahan desa yang ditempati sekarang berasal dari wilayah/ pura tertentu yang mempunyai kekuasaan lebih tinggi atau sebagai pemilik awal sebelumnya. Dari hubungan abstrak pemilik awal tanah yang ditempati sekarang ini diyakini mempunyai hubungan satu genealogis dengan pangamong pura yang lebih tinggi itu.
7) Nama Kawitan berasal dari nama asal desa sebelum menempati tanah sekarang misalnya, soroh sidakarya adalah nama tempat di Denpasar, soroh beng adalah nama tempat di Desa Sanur, soroh pajeng nama Desa Pejeng dan lain-lain.

dengan demikian Bujangga Waisnawa itu adalah nama sekte bukan nama orang/ nama leluhur ,, harus runut turunannya tak boleh kecag kecog ceritanya ,, di sastra mana tertulis nama2 turunannya ,,??
suksma

Tiyang warih dukuh dalem segening, apa bedanya dukuh segening dan dalem segening?knp di mrajan gede tiang ada linggih menjangan saluwang rong 6? Itu apa maknanya?

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More