Sabtu, 30 Oktober 2010

Tentang Kami

 Om Swastyastu

WEBsite ini adalah Sebuah Informasi yg kami tujukan kepada masyarakat khususnya untuk masyarakat Bali dengan tujuan untuk melestarikan budaya Bali dengan mengumpulkan sumber-sumber sejarah budaya bali sebanyak mungkin,yang mungkin nantinya bisa di jadikan pedoman oleh beberapa masyarakat Bali yang memerlukan dan ingin tahu tentang sejarah.Semua yg kami tampilkan website ini adalah suatu bahan diskusi agar isi dari web ini bisa kita koreksi jika ada suatu kesalahan dalam penulisan tentang isi web ini mari bersama-sama kita perbaiki dengan cara memberikan comentar agar kita bisa mendapatkan informasi yg benar dan berguna bagi anak cucu kita nantinya.Terimakasih

Om Shanti Shanti Shanti Om


Jika anda butuh informasi lebih lanjut bisa hubungi kami 
     DeGlung Watu Kembar                                            Mank Adi

 Pendiri Website :

1.DeGlung Watu Kembar    email; watukembar@yahoo.com
2.Mank adi  Jimbaran          email: lm_hariadi@yahoo.com



           

66 komentar:

mank adie = Om baba maju terus tegakan kebenaran

om suastiastu semeton watu kembar.. tolong kalau bisa uraian sejarah dan babad yang di terbitkan mohon di terbitkan dengan lengkap. bukan setengah setengah...dan kalau boleh tiang tahu dari siapa semua babad sejarah yang anda posting tentang IDA DALEM KEMBAR? SUKSMA OM SANTI SANTI SANTI.. OM..

untuk anda ketahui .. bahwa keris pajenengan ida ki kebo iwa sudah ada di bali di serahkan oleh seseorang dari jawa mengendarai sepeda motor dari jawa timur dengan keris di tangan sambil mengikuti petunjuk yang ia terima sambil mengendarai sepeda motornya hingga sampailah dia di jaba semangen pura dalem bali batu kuub dan di temukan oleh jero mangku kami.. dan akhirnya dia bercerita banyak tentang keris yang dia bawa dari jawa yang mana keris tersebut di temukan di sebuah sumur tua yang mana menurut orang 2 disana itu adalah keris peningalan i kebo iwa yang harus di serahkan lagi ke bali...akhirnya kami menerima dan melakukan riual untuk menguji kebenaran dari keris ini serta keasliannya.. akhirnya ada bawos dari ida sesuhunan bahwa ini asli kepunyaan BELIAU..setelah itu datanglah PRERAI beliau berupa batu secara gaib di areal pura kami..dan ini sudah pernah di ketahui oleh salah seorang jero mangku yang ada di semeton karang buncing blahbatuh...dan beliau sudah pernah kesini untuk mendak beliau .namun beliau tidak berkenan.... apunika uningang titiang.. suksma om santi santi santi om...

Yth bapak Dalem Bali,sukma atas sarannya ,,, tidak sembarang data kami masukan dlm artikel ,babad adalah data klasifikasi kelas 5 ,, klasifikasi kls 1 = PRASASTI yg dikeluarkan oleh para raja pada zamannya sendiri disaksikan bawahan pemerintahanya dan prasasti ini sgt disucikan dan disimpan di pura (100% sejarah), ,,, kelas data no 2 adalah PURANA adalah menceritakan kejadian yg sudah lewat ttg kisah para raja serta keturunannya dan dikaitkan dgn mitos para dewa yg berstana di gunung sekitarnya (purana ini menjadi pedoman di pura untuk kelanjutan dari pangemong dan pangempon pura itu). Purana pun disimpan di pura. Akurasi dari purana 50% sejarah dan 50% dongeng. Dlm purana tercatat klompok warga mana yg ikut merintis keberadaan pura itu ,,, ,,,, klas data no 3 PIAGEM adalah pegangan dari kelompok warga/klen yg menceritakan kisah leluhur mereka terdahulu dan hubungannya dgn keberadaan dr pura tertentu. Akurasi dari piagem 75% sejarah dan 25% dongeng ,,,,, klas data no 4 PRAKEMPA adalah pegangan dr klompok warga/klen yang menceritakan sekelumit jejak leluhur mereka yg hanya ada di desa itu ,,,, sedangkan klas data no 5 BABAD adalah cerita dongeng yg tidak ada ujung pangkalnya, yg didengar, lalu ditulis tanpa sumber data yg jelas dan babad adalah ditulis perseorangan yg ada unsur kepentingan dan menjadi milik pribadi (75% dongeng dan 25 sejarah) jadi banyak bohongnya. ,,,, klas data no 6 adalah hasil interpretasi seseorang yg didapat dari data diatas yg mendoktrin pikiran umatnya, kalau babad dipakai pedoman dlm penulisan awal sejarah kacaulah sejarah Bali ini ,,,,

Jadi kesimpulannya ,,, walaupun mempunyai data sebagai pedoman klompok warga tetapi tidak kelihatan dalam purana dan prasasti maka data itu diragukan kebenarannya alias ngambang. Begitupun jika anda punya babad, piagem, dan purana tetapi tidak kelihatan dalam prasasti sama juga bohong atau mungkin keberadaannya setelah prasasti ,,,, jadi harus pas antara prasasti, purana, piagem saling menceritakan ,,,,

Sy dapat data babad dalem batu kuub dari jro mangku pura dalem batu kuub yg perawakan gede ganggas jenggotan dikala beliau membuat patung kbo iwa di jaba pura dalem batu kuub tetapi dlm bahasa indonesia ,,, babad batu kuub sama persis dengan babad batu aji, prasasti dalem putih jimbaran dlllllllllllll ,,,,,

Mas Dalem ,,, cobalah anda teliksik materi yg anda unggah dalam bahasa indonesia jadi sy masih ragu sekali apakah data anda memang berbahasa Ind atau bhs bali. Dlm materi/blogspot anda sangat lucu ,,, kwkwkw ,, masak sampai gajah mada sampai punya istri dan anak di Bali ,,, kwkwkwk ,,, masak zaman dalem selem itu sudah ada soroh GUSTI dan PRADEWA ,,, gusti itu produk belanda ,, jadi ditulis belakangan mas ,,,, lucu ,,,,

Dari WATUKEMBAR ,

Mas ,, sy sama sekali tidak ada menambahkan dan mengurangi teks yg ada, satu huruf saja salah ketik akan berarti lain ,,, kwkwkwkw ,, ingat mas banyak teks hasil perenungan seseorang. Sejarah itu bisa dipolitisir, bisa disucikan, bisa di dongengkan, dlll ,,, masak ada manusia lahir dari batu dan dalem putih lahir dr buih air ,,, kwkwkw ,, tanpa ada penunjang yg lain alias ngambang ,,, coba anda posting naskah aslinya di website ,,, terkrnologiskah data anda ???
kalau memang tempat itu bekas ida dalem selem mestinya masuk situs purbakala dan diakui sah oleh negara ,,, adakah peninggalan kuno dadi anda bilang tempat itu bekas dalem selem dan kenapa dibuatkan patung dalem putih ?? kwkwkw lucu ,,, dalem putih purinya/rumah tinggal di jimbaran sekarang menjadi pura dukuh di timur banjar perarudan sekarang di mong oleh warga pasek dari kusamba rarud ke jimbaran amangkuin di pura paibon dalem putih ,,, sedangkan pesraman/pertapaan dalem putih di pura sarin bwana jimbaran, ada peninggalan kuno berupa lingga jangkep, arca siwa bairawa, arca para dewi dlll ,,, naskah penunjang piagem dukuh gamongan ,,,, aruuugghh ,, males ketik mas ,,, baca dulu habisi menu kami anda akan dpati kesimpulannya ,,,, inget posting teks asli yg anda maksud pembenar itu ,,, atau alih aksara dgn bhs tulisan LATIN ,, tak boleh salah ketik ya ,,, contoh, Badhahulu menjadi Bedahulu akan lain arti, huruf A awal diganti dgn huruf E ,,, Badhahulu= Istana Raja/ pusat pemerintahan, sedangkan bEdaulu = beda kepala alias kepala babi ,,, kwkwkw masak kepala dalem selem kepala BABI ,,, menganalisa data mestinya secara LOGIKA, RASIONAL dan PAKTA LAPANGAN ,,,, kalau memang jaman dalem itu tak ada disana kenapa dibuat-buat sejarah baru ?? Atau hanya tempat pengayatan saja ??

Dari WATUKEMBAR
terus diatas dalem selem dan dalem putih itu siapakah bapak dan ibu dalem anda ??? Mas Dalem Bali ,,, naskah anda tak ada sy tag di artikel kami yang sy tag adalah PURANA PURA LUHUR PUCAK KEMBAR mas ,,, tolong dibaca ulang mas ,,, Buku yg dikasi oleh bapak anda berjudul BABAD DALEM BATU KUUB sampul depan ada gambar meru tumpang 7, ada gambar penjor, pohon kelapa dan kiri bawah ada gambar ukir2an dikeluarkan oleh BANTAS, DESA PAGUYANGAN KANGIN TH 20002, ,,, APA MAKSUD ANDA SETENGAH2 ITU ,,, sekali lagi tak ada kami posting Babad TUNGKUB itu anda kurang cermat membaca ,, yg benar sy masukan Purana Pura Luhur PUCAK KEMBAR yg lebih terkenal dr babad anda ,, BUKIT KALI itu memang ada di JIMBARAN ,,,, tolong di poskan teks asli dalem anda ,,,
PURANA PURA LUHUR PUCAK KEMBAR naskah ini disalin oleh Ketut Sudarsana & I Gusti Ngurah Oka Anom, dari desa Baturiti mas ...

Dari WATUKEMBAR,

SEKARANG MENGENAI KERIS KEBO IWA ,,, kwkwkw
sy setiap ada seminar ttg Kebo Iwa pasti ada disana, baru ini tgl 10/10/2010 di hotel Saron Seminyak Kuta ada seminar ttg Kebo Iwa dan Gajah Mada ,, narasumber 3 orang, salah satu dosen UNUD namanya I Dewa Mahardika dari Bangli, beliaulah yg mencabut keris itu di tengah laut ,,, bukan seperti yg anda sebutkan datang dr sumur galian kebo iwa ,, kwkwkwk ,, yg mana benar mas ,,, kalau data ini dipercaya maka akan masuk kelompok BABAD ,,, sy tanya apakah betul itu milik keris kebo iwa krn kejadiannya sudah 600 th yg lalu ,,, rasanya beliau tak perlu keris itu untuk mebangun dan mempertahankan bali mas ,,, itu hanya hasil imajinasi seseorang ,,

Dari Watukembar
Mas Made Wijaya alias DALEM BALI
dlm purana Pr Luhur Pucak Kembar tidak ada nama BATU KUUB alias TUNGKUB ,, jadi babad anda itu hasil comot sana comot sini ,,, kwkwkw ,,, banyak data judul beda isi sama ,,

BADAH MARA NGENAH IDENTITAS PUK ,,,

Karena kita tak menyaksikan pristiwa sejarah, akhirnya muncul berbagai interpretasi ttg wujud, kewisesan, kisah pristiwa yg terjadi padanya tentunya melalui sastra2 dr sang penekun sastra, ada beberapa versi mengenai sidhi beliau salah satunya beliau hanya mengandalkan kuku untuk menggelindingkan sebongkah batu dlm membangun tempat suci/pura, empelan, candi2, dll ,,, ada yg menulis beliau memiliki tenaga khusus berjumlah 33 yg mempunyai keahlian masing2, hal ini terlepleksi dlm upacara nyutri yg ada di di pr kawitan, blahbatuh, dgn kata lain beliau selalu melakukan ritual sebelum memulai suatu pekerjaan, ,,, ada yg menggambarkan beliau mempunyai "pecut sakti" dlm membantu dlm pekerjaan ,,, dan sekarang muncul KERIS KEBO IWA ,,,, betulkah????? krn kehidupan beliau 600 th yg lalu ??? maaf lucu ,,, kwkwkwkw ,, ampura yening iwangi

,, maaf beribu maaf bkn bermaksud menyombongkan keyakinan kita bhw beliau itu memang betul2 sakti ,,, ini hanya gambaran di lapangan ,, kalau saudara tangkil dlm piodalan di Kawitan Sri Karang Buncing, Blahbatuh banyak wakul "pralingga ida bhatara" ngoyog - ngoyog alias bergoyang bukan karena atas kehendak si pemundut untuk melakukan gerakan seperti itu, ,,, dan gerakan wakul itu berbagai arah, ada gerakan anggut2 saja, ada yg "NGUYENG", ada berputar ke kiri seperti hitungan detik, ada mengikuti sprti gerakan acara tertentu, mis, pas acara mendet/mendak, gerakan si pemundut seperti orang menari pendet, dlll ,, jadi masing2 wakul memiliki gerakan tersendiri ,,, kalau ini dilawan menyebabkan kesakitan sang pemunut, sangat sulit dilawan, padahal ia BUKAN KERAUHAN ,,,,,, hal seperti ini terjadi juga pada Pratima Pura Panti Karang Buncing, Kuta dan Jimbaran ,,,,,, setiap acara pemelastian Desa, karya di panti, atau setiap Pratima tedun pasti terjadi gerakan seperti itu ,,, Pemelastian desa semua pratima prasanak tedun, kecuali halangan, dimana seblum BATU KEPEL KEBO IWA dilinggihkan di Pr Panti, pratima panti tak pernah OYOG2 alias bergoyang ,,, karena kepel kebo iwa itu berada di SD 2 Kuta, dulu samping Hotel Ida Beach Inn, ,,, banyak cerita yg mengatakan dr lingkungan terdekat bhwa batu itu KEPELAN KEBO IWA, karena tdk ada sastra menyebutkan maka warga karang kuta mengabaikan cerita itu ,,, stelah ada berita banyak anak2 SD yg kerauhan, atau sakit gara2 menginjak batu yg ada di cacapan sekolah, dll setelaah ditanya ke orang pintar bahwa batu kepelan itu saatnya nanti akan ada yg memindahkan, begitupun sang pemangku kahyangan tak berani untuk memindahkan walau pun tempatnya sangat ngandang2 di muka kelas,,, sudah ada palinggih untuk beliau ,,, diameter batu kira2 60 cm dan tinggi 125 seperti "lingga" ,,,, akhirnya kira th 1998 baru dipindah ke Pura Panti, ,,, dan dibuatkan pralingga beliau jg ,,, semenjak itu baru di Kuta ada pratima yg ngoyog2 yg menjadi penomena oleh para spiritual di Kuta ,,, kenapa bisa ngoyog2 di muka umum, ,,?? kewisesan sang pemangku dimana knp tak bisa meneropong apa sebab ,,, ada yg mengatakan sang munut krauhan, ada yg bilang sang pemgangku pura sakti dllll ,,, dari seklumit keterangan diatas dapat sy simpulkan bahwa dr penomena PRATIMA NGOYOG - NGOYOG atau bergoyang itu, menandakan bahwa beliau KEBO IWA tak perlu senjata keris itu untuk mempertahankan dan membangun Bali ini, ,,, SPIRIT KEBO IWA MASIH DISEKITAR KITA ,,, ampura yening iwang ,,, monggo ,,

Dalam PRASASTI PURA DALEM MAYA, Blahbatuh, disebutkan ,, secara acak, isinya hampir sama dengan Prasasti Pura Maospahit hanya tambahan sebagai berikut, pada tahun Isaka 1185/1263 Masehi, Prajurit Taruna Batu, anggota sebanyak 33 orang, semuanya gagah berani berbusana serba putih, memakai destar Merah api, bunga Waribang Dwikarna, bersenjata Tamyang dan keris 10 orang pengawin samlong mapontang kuningan 10 dan membawa pratoda, dan tiga orang membawa air, pasepan, tirtha suci. Diceritakan lagi tahun Isaka 1197/1275 Masehi pasukan Teruna Batu membangun Pura Dalem Maya. Dikisahkan lagi Patih Mada bermaksud membuat daya upaya jahat terhadap Sang Kebo Waruga bersama raja Bali karena tahu para patihnya tak ada menandingi kesaktiannya. ,,,,,

Komparasi teks Dalem Maya ini dgn teks lain, dijelaskan bahwa Bali kalah th 1343 ,,, kalau dikurangi dgn 1263 maka selisih anka 86 th. Jadi umur Ki Kebo Iwa sekitar 86 menurut teks dalem maya ,, padahal seluruh sastra mengakui Kebo Teruna meninggal muda maka disebut kebo teruna ,,

Karena kita tak hidup bareng dgn kebo iwa alias tidak menyaksikan peristiwa saat itu ,, akhirnya selamat menganalisa dan berimajinasi mengenai kisah peristiwa apa yg terjadi pada KI BEBO IWA, tentunya tergantung dr kepentingan si penulis hendak dibawa kemana kisah hidupnya, apakah di PELINTIR, ,, atau di DONGENG-kan, atau, di-SUCI-kan, atau di-HAPUS-kan, atau di-LECEH-kan, tentunya akan mendoktrin pikiran generasi penerus mengenai sejarah BALI KUNO, disamping aspek lainnya yg ditimbulkan dari tulisan itu ,,,,, salam

kata anda anda tidak memasukan babad pura dalem bali batu kuub dalam blog anda....tapi apa kenyataannya.. lihat bagan yang anda buat...semua penuh imajinasi anda anda buat sesuka hati anda...lihat daftar pustaka yang anda pakai no.16.. apa itu bunyinya...sungguh bagan yang aneh yangg buat juga ngak punya nama.. apakah itu tidak aneh juga.... mas kalau mau memasukan punya orang ke blog anda.. ngomong dulu mas.. jangan asal comot sana comot sini sesuka hati....aneh..

ya ,,,nanti akan sy hapus babad batu kuub di blog kami ,,, babad anda hanya sebagai pembanding saja ,,,, isi babad anda tidak masuk materi pokok di artikel kami ,,, suksma mas made gd wijaya

seharusnya kalau anda ingin menjadi seorang penerbit atau pengarang dan masih mengunakan data orang lain harusnya anda melakukan koordinasi dengan yang bersangkutan dan jangan lupa sebutkan nama anda bukan samaran...nama adalah jati diri dan identitas...suksma

Mas Gede Wijaya ,,
Untuk apa sy mesti koordinasi dgn anda karena anda bukan penulis dari materi yg sy angkat ini ,,,
Mas ,, lain kali kalau mau menceritakan sejarah pura batu kuub tolong disisipi bahasa aslinya, apakah memakai bhs bali kuno atau bhs bali pertengahan atau bhs bali kekinian ,, setelah disisipi bhs asli baru terjemahkan ke dlm bhs indonesia, biar umat cepet mengerti secara langsung ,, jika hanya memakai bahasa bali kuno/jawa kuno saja maka umatnya akan kelimpungan mencari terjemahan teks naskah itu ,,,dlam babad batu kuub sy dpt dr orang tua anda sudah dalam bhs indonesia, jadi sy masih ragu dan penuh tanda tanya, bhs aslinya mana ??

Mas ,, materi ini ada susunan panitia lalintihan Treh Sri Karang Buncing yg ikut menggodok naskah ini yg terdiri 34 orang dr berbagai profesi ,, saat ini materi masih di EDIT oleh TIM 5 dan telah mendapat kata pengantar dari seorang DOTOR FAK SASTRA UNUD sebgai pembenar dlm isi materi, ,, begitupula materi ini telah kami sebar ke Kantor arkeologi sesetan, ke para dosen kami di IHDN Dps khususnya pada mata kuliah tertentu ,,, disamping kami edarkan ke panglingsir pasek yg kebetulan jadi dosen sy di kampus ,,, disampping sy sosialisasikan lewat seminar, ke facebook dlllllllll ,,,

Dan bukan kami mencari pembenar kepada Bpk MADE GEDE WIJAYA yg keahliannya ngoceeeh melulu sing ada tutuk bongkolne ,, buwung baan megae ,,

Mudah2an bulan depan buku ini sudah dicetak dan diedarkan ,, nantinya mas akan tau nama asli sy dalam sampul depan buku ,,hehehe ,, ingat mas, harus mebeli buku ini dan dibaca ,, jangan sekali2 buku ini dijadikan pengganjal kaki meja atau tempat duduk anda ,,

salam

mas made gede wijaya, keberadaan blog ini baru beberapa bulan dan detik sy menulis komen ini sudah 16 negara yg mengakses isi menu yg ada di dlmnya yg penuh kontroversial, dgn yg ada dipermukaan yg hanya bersumber dari BABAD, tentunya akan berdampak ke pemikiran generasi yg akan datang ,,, selamat menikmati ,, ala kadarnya

salam

siapa yg menentang sejarah dia lah yg akan tergilas oleh sejarah....

maju terus pak made watu kembar

pak made wijaya banyak kok yg ngku punyakeris kebo iwa..bahkan yg pling kontroversial keris milik pak dewa mardiana yg katanya dituwur di pantai selatan jawa timur,,,panjang keris 2m..katanya dlu dibuang oleh gajahmada di pantai selatan setelah kebo iwa moksah.....nah jadi berapa kebo iwa punya keris..?????bahkan klo serching di internet banyak orang juga mengatakan punya keris kebo iwa atau keris gajah mada....jadi apakah smua yg membawa keris ituketurunan kebo iwa..???

maju terus pak watu kembar,
jangan toleh kanan kiri lagi pak,
men nak ngae lwung mula bek nu sing demen pak..
tyang tunggu buku kebo iwanya,dan bberapa artikel bapak sampun sangat membantu, suksma pisan pak,
maju terus pak :)

Pak Made...biarkan org lain bicara apa, yg terpenting apa yg pak Made sajikan sdh sesuai dg ageman/pedoman dlm menulis (Prasasti, Purana, piagam, pakempa & babad). Masalah nama...apalah arti sebuah nama sepanjang apa yg ditulis dpt dipertanggungjawabkan, toch pak Made sudah secara terbuka upload di website, facebook & diskusi. Maju terus pak Made...jgn pernah gentar...niat baik utk lelangit pasti ada jalan. Masalah keris beliau, semua org bs mengaku polih paice keris beliau Kebo Iwo, di Jkt jg banyak yg ngaku2 punya keris beliau jaman dulu.

I MADE GEDE WIJAYA bek raos gen.

Mas Made Gede Wijaya, buku Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing sudah muncul dan telah beredar ti toko buku Toga Mas, Gramedia, garuda Wisnu, TB Setia Kawan dll atau langsung saja ke Kuta setiap sudut pasti mas Made jumpa buku itu, atau duduk di pantai Kuta bawah pohon santen terselip buku itu ,,, hasil buruan 27 th baru jadi buku ini ,,, jadi selama ini kita dibodohi oleh para transkrip itu tak tahunya anda mesti pinter2 menelaah naskah dan tempatkan pada posisinya masing2 antara kelompok: 1)PRASASTI, 2) Kelompok PURANA, 3)Klompok Piagem, 4) Kelompok PRAKEMPA, 5)Kelompok BABAD, 6) Klompok Hasil Kajian akademik, jangan dicampur aduk. Ironisnya bila para akademisi atau para pe-NGAWI memakai acuan BABAD sbg karya ilmiah maka akan berbenturan naskah satu dgn yg lain, semua mengaku paling jitu dan sah ,,inget beli ya buku itu disana anda akan tau nama asli si penulis ,,, salam

Biar Ga banyak tanya mending beli bukunya aja Bapak Gede Wijaya

salam sejahtera

slamat siang, perkenalkan saya adi suwandana : kawitan saya di pasek gaduh , desa peminggir , tepat nya di sebelah timur pura dasar buwanan gelgel. pertanyaan saya:
1. apakah ada hubungan kawitan saya dengan (maap) KI PATIH GADUH KEBO IWA?
2. TOLONG DI BERIKAN PENCERAHN TENTANG INI , TRIMS

Selamat Malem Adi Suwandana, selamat bergabung di web ini, ,, ring dija kawitan jro ne yang biasa diajak oleh orang tua ?? ,,, jika anda sering diajak hatur sembah oleh orang tua sebelumnya di Pura Gaduh, Blahbatuh, maka masih ada kemungkinan keterkaitan dgn pengamong atau pengempon pura Gaduh, Blahbatuh ,, jika tidak, ya, jelas tak hubungan dgn Kebo Iwa mau-pun dgn Warga Sri Karang buncing sebagai pengamong Pr Gaduh Blahbatuh. Disamping itu Pr Gaduh bukan pura Warga Pasek ,, lebih lengkapnya klik kolom BUKU (atas) lihat Bab. IV Pura Gaduh Tugu Akhir Raja Bali Kuno ,,, jd tidak ada hubungan kawitan Pasek dgn KI Patih Gaduh Kebo Iwa, karena Kebo Iwa tidak mempunyai keturunan,,, kebo iwa banyak mempunyai nama lain dan banyak masyarakat bali pemuja Ki Kebo Iwa bukan hanya warih beliau saja, bahkan sampai dibangunkan palinggih tmp pesimpangan ida bhatara ratu gde kebo iwa di rumahnya ,, ngiring druwening sareng-sareng jro Adi Suwandana ,,, rahajeng

maaf Bpk Adi Suwandana, dari mana anda dapat kata KI PATIH GADUH KEBO IWA itu ?? bisakah di pos kan di web niki ?? suksma ,,

inggih suksma atas pencerahannya

Pak made, tiang mau tanya, apakah gaduh itu sebuah klan? Lalu pelinggih gaduh yang biasanya ada di pura desa atau puseh itu berhubungan dengan pura gaduh blahbatuh? Mohon infonya...

OSA pak Anonim, Gaduh yang ada di pura gaduh blahbatuh bukan pura klan (klompok warga), sampun kacawis, pura gaduh pinaka gagaduhan prabu bali. Tugu akhir raja bali kuno yg dibangun oleh sri jayakatong, kakek kandung sri kebo iwa sekitar th 1316 M. Pura Gaduh identik dengan Pura Jagat Nata era itu.

Kembali ke sejarah, munculnya kata Blahbatuh setelah kalahnya bali, dimana tempat tinggal dan kerajaan sri jaya katong, sri jayasunu, sri masula-masuli, sri astasura ratna bumi banten sampai sri karang buncing bernama batahanar (gianyar) daerah pejeng. Pejeng = Pajeng, yg memayungi, yg melindungi,

Blahbatuh asal kata Belah dan Batu // Belah = pecah jadi dua // Batu = jagat, kerajaan // Jadi Blahbatuh artinya jagat bali atau kerajaan bali pecah jadi dua ,, Setelah masuknya para arya majapahit dan bukti penundukan bali oleh majapahit salah satunya pura gaduh, selain pura gunung agung, pura batur dan lempuyang.

Pura Gaduh yg awalnya tempat suci kerajaan pecah jadi dua halaman pura, menjadi pura puseh milik desa adat blahbatuh dan pura gaduh yg di mong oleh warga karang buncing. Tinggalan kuno yg dibangun oleh sri jaya katong berupa patung kepala berada di pura puseh dan lontar yg menjadi pegangan pura disebut PURANA PURA PUSEH GADUH ,,

Konsep Sapta Giri memang awalnya berasal dari pura gaduh yaitu tujuh gunung yg dipuja era itu ,, konsep sapta giri di aplikasikan kedlm pura puseh desa adat yg ada di bali ,, munculnya konsep tri hita karana ditegaskan juga dlm purana puseh gaduh, dijelaskan,,,, awanana Lempuyang maka siwan bumi, awanana Gaduh, maka tunggul i bumi, hana bwana rwa, agung mwah alit, bwana alit ,

Setelah kekuasaan dalem waturenggong konsep tri hita karana menjadi pura besakih pinaka kahyangan jagat era itu dan gelgel pawongan yg mengurus hubungan pemerintah dgn rakyatnya

Bukan hanya jagat dan pura pecah jadi dua, bahasa-pun pecah jadi dua, bahasa bali masuk bahasa kasar, bhs majapahit masuk bhs halus,,, adanya wong jaba dan wang jero ,, adanya sugiyan jawa dan sugiyan bali ,, sejarah bali pun pecah dados dua versi, versi jawa dan versi bali, padiksan ada dua versi versi jawa dan bali ,,, memeh akeh sal nika bawosang ,,

Suksma pak made atas infonya. Tapi tiang ada pertanyaan lagi, tiang nyungsung pura gaduh di celuk sukawati, pura ini diempon oleh 12 kk. Tapi warga kami terpecah ada yang memaksan karang buncing ada yang mengangap ini adalah pura pasek gaduh. Wah saya bingung jadinya??? Mau ikut yang mana??? Tapi kalau cerita orang tua saya katanya penglingsir dirumah karena tidak punya keturunan, maka ngidih sentana atau nyelosin ( saya kurang jelas) dari keluarga soroh karang. Dan itu katanya terjadi dua kali. Dipura kami ada peninggalan berupa lingga yoni. Dan dulu waktu sebelum dipugar ada pelinggih gedong batu mekembaran ( sepasang gedong batu) selain itu keluarga kamisejak dulu mendapat tugas untuk ngemong pelinggih gaduh yang ada di pura desa celuk. Dapatkah ini dijadikan suatu petunjuk? Mohon pencerahan. Suksma

memeh biin ngawayah-wayahan tekane jro Anonim, sadurungne ttyg nunas ampura dinding niki wantah genah mablibagan yening tan munggah ring kayun, tan dados brangti, tersinggung, dendem, lan ningting bawong baju ritatkala ka panggih ring margi ,, ngiring mengungkap suatu hal secara logika, rasional dan fakta lapangan.

Munculnya konsep pemujaan kawitan belakangan setelah terjadi pengklaiman tri sadaka yg wajib muput di besakih, yaitu pedanda siwa, padanda budha dan bujangga ,, hanya tiga wangsa tsb yg berhak memimpin upacara kala itu ,, lalu muncul kelompok bali mula mengatasnamakan soroh pasek dan pande dan beberapa warga lain yg mendukung pengklaiman konsep tsb. Perkembangan selanjutnya kolompok bali mula ini membentuk phdi besakih tandingan dari phdi campuan yg dikomandoi oleh pedanda gunung ,, disini orang2 bali mula kebingungan mencari kawitan yg sudah ada sebelum masuknya pedanda sakti wawu rawuh yg mereformasi total agama dan budaya bali ,, seluruh bali mula masuk kolmpok pasek, termasuk karang buncing, kubayan, tangkas, dukuh, dll ,,
Sujatinya zaman dulu hanya ada catur warna, empat klompok tugas sesuai bakat dan kehidupannya, yaitu brahmana (sulinggih, pemangku, jawatan agama), klompok striya (tni, polisi, scurity, hansip, pemerintahan), wesya (pedagang, pengusaha), sudra (karyawan, buruh, tani) ,,

Munculnya perbedaan identitas tersebut berdasarkan guna karma, atau tugas dan fungsi keturunan beliau saat itu. Misalnya, warga Karang Buncing Tatkala keturunannya menjabat sebagai kepala desa, bendesa karang buncing sebutannya. Tatkala keturunannya mendapat tugas pemerintahan Dalem (Majapahit), arya karang buncing sebutannya.Sedangkan keturunan yang berasal dari pertapa raja raja Bali Kuno di Desa Gamongan, persebaranya warga dukuh sebutannya. Tatkala ada pengelompokan dalam penulisan babad antara nak jawa dan nak bali atau keturunan berasal dari Jawa dan orang Bali, prabali karang buncing disebutnya. Jika keturunannya mamarekan (mengabdi) di keluarga dalem atau yang berkasta lebih tinggi, pasek karang buncing disebutnya, dan sebagainya. Sesungguhnya kata-kata Karang Buncing yang berbeda itu berasal dari Sri Karang Buncing adik kandung Sri Kebo Iwa yang hidup pada masa peralihan pemerintahan Bali Kuno ke Majapahit. Beliau berdua adalah keturunan akhir raja-raja Bali Kuno dan misan mindon (sepupu) dengan Sri Astasura Ratna Bumi Banten.

Kalau menyebut Kawitan "pasti" nama orang bukan nama jabatan ,, pasek pande adalah nama jabatan ,, siapakah nama leluhurnya yg dicandikan ??

Kembali ke palinggih GADUH yang ada di pura gaduh celuk, jika tiap pujawali gede (karya) ring pura gaduh celuk, apakah nunas tirta ke pura gaduh blahbatuh?? Jika "YA" itu artinya ada keterkaitan antara pura induk dan cabang atau sebaliknya ,, jika tidak, berarti terjadi perubahan aturan karena sentana yg nyerod merasa warga pasek ,, secara tidak langsung ikut pasek, padahal sujatinya warga yg lain (karang buncing) ikut nyungsung di pura gaduh blahbatuh ,,
Versi Jero Mangku Subandi Pura Gaduh Blahbatuh termasuk Pura Pasek Gaduh ,, itu mungkin dasar pemikiran semeton tiyosan dlm satu pura itu. Padahal sudah disangkal oleh Pangamong pura Gaduh, Pemangku Pura, dan Bedesa Blahbatuh menyatakan Pura Gaduh Blahbatuh bukan Pura Pasek Gaduh ,,

Banyak terjadi hal seperti itu karena putung tak ada sentana lalu ngangkat warga lain untuk mneruskan pura gaduh yg tadinya di mong oleh karang buncing, misalnya, pura dukuh di jimbaran yg awalnya paibon dalem putih, setelah masuk majapahit, pura dikuasai dan keluar "pawarah-warah" dari raja mengwi, perarudan pasek saking kusamba amangkuin ring pura dukuh ,, ini artinya warga pasek masuk klompok dukuh padahal bukan darah langsung dari dalem putih jimbaran ,,
Banyak penyawangan Gaduh, misalnya di Pura Puseh Desa Adat Blahbatuh, di belakang palinggih ULU ada palinggih Gaduh ,, padahal pura gaduh ada sebelah tembok, tatkala pujawali ri pura puseh blahbatuh selalu nunas tirta dan mendak pratima di pura gaduh yg ada di halaman barat pura puseh ,,

lebih spesifik lagi, Gaduh artinya ribut, ramai, dalam arti tempat sang sulinggih nedunang ida batara ,, tempat nunas bawos lewat kerauhan ,, terjadi komunikasi antara alam manusia dan dewa tertinggi sekitar ,, di pura gaduh blahbatuh tempat nunas bawos pengganti pasung grigis di lempuyang ,, pura gaduh tempat nunas sentana sri karang buncing maka lahir kebo iwa ,, pura gaduh jagat nata bali tengahan ,,

ada juga kawitan dari asal nama tempat awal sebelum menetap di desa tsb ,, soroh sidakarya = desa sidakarya, soroh beng = nama tempat sanur, ,, wayan gianyar = keluarganya dari gianyar, ,,

Sinampurang agak nyenye puniki, tiang metaken malih. Apakah ada pura gaduh di desa desa lain selain di blahbatuh? Kalau ada apa hubungannya dengan pura gaduh blahbatuh. Kalau di blahbatuh adalah gegaduhan raja raja bali. Lalu apa fungsi pura gaduh yang lainnya? Apakah sebagai pura kawitan atau apa?
Mohon infonya pak made? Kami sedang berusaha mencari informasi, fakta mengenai pura yang kami empon. Sayangnya data dan petunjuk yang kami miliki sangat minim.

ampura pertanyaan diatas belum dijawab ,, apakah pura gaduh celuk, tatkala pujawali (karya) nunas tirta ke pura gaduh blahbatuh ?? niki kunci jawaban pak kadek ,,

Kalau dulu tidak, tapi sekarang ada dualisme, ada yang nunas tirtha ke blahbatuh, ada yang nunas tirtha ke peminggir. Terus terang di pura kami jarang ada piodalan besar, biasanya hanya tumpeng solas saja. Terakhir piodalan gede katanya tahun 1976 ( saya belum lahir). Kalau odalan tumpeng solas paling nunas tirtha di khayangan tiga saja. Kami tidak punya purana atau catatan tertulis mengenai keberadaan pura kami ini. Tapi yang jelas dulu penglingsir kami juga memaksan di pura madya karang buncing celuk. Tapi sekarang beberapa yang berpandangan bahwa pura kami adalah pasek gaduh tidak lagi memaksan di pura karang buncing.

Kami tidak punya kunci jawabannya pak made. Kami tidak tau kemana penglingsir kami sebelumnya nunas tirta. Ada informasi yang terputus, ada informasi yang tidak sampai ke generasi kami. Mohon bantu kami didalam menggali dan menelusuri informasi yang kami butuhkan

Pak Kadek ,, kunci yg ke dua, adakah semeton irika memakai nama "karang" dimuka atau belakang nama tambahan lain-nya ,, pura gaduh ring usana bali tertulis Karang Gaduh, dlm prasasti maospahit tertulis Bedugul Gaduh, ring purana pura puseh tertulis Purana Pura Puseh Gaduh ,,, kolom babad di bali post th 1999 oleh jero mangku ktut soebandi dgn gagah berani menyebut Pura Pasek Gaduh, walau sdh dibantah oleh pangemong, pemangku pura dan bendesa adat blahbatuh lewat media sama.
Nika mawinan warga bali mula bingung mencari kawitan konsep pemujaan leluhur digagas oleh para arya majapahit.
Penulisan babad tidak kronologis, adakah seseorang dgn tekun menulis keturunan yg melahirkan. Jangankan menulis silsilah ribuan tahun yg lalu, menulis 4 generasi diatas kita mustahil mencatat keturunannya ,, biasanya akan kelihatan nama desa persebaran selanjutnya ,,
sebagai bandingan saja ,,sri jaya katong membangun pura gaduh th ragam hias "gajah apit lawang"/ 928/907M menurunkan arya rigih menurunkan arya kedi menurunkan arya karang buncing menurunkan kebo iwa (1343),, jeda wktu 436 tahun, apakah hanya 4 generasi ?? tengok hal, 93 dibawah ini ,,,http://id.scribd.com/doc/40218982/17/Keturunan-Mpu-Dangka-dan-Riwayat-Kebo-Iwa#page=82
kunci yg ke tiga nyusul ,,

Kalau generasi sekarang tidak ada yang memakai nama karang. Tapi tidak tau kalau generasi sebelumnya? Pada Generasi kumpi saya, pura gaduh kami ini diempon oleh dua kk dimana kedua kk ini juga memaksan di karang buncing. Sekarang dua kk ini berkembang menjadi 12 kk, dan Yang masih memaksan di karang buncing hanya 3 kk saja. 4kk mengarah ke pasek. 1 kk masih mengambang, sisanya 4 kk termasuk keluarga saya tidak memaksan ke karang buncing celuk karena sudah diwakili oleh paman saya. Kami yang 4 kk lebih cenderung ke gaduh blahbatuh. Perbedaan pandangan ini dimulai sekitar tahun 1989. Ketika itu salah satu penglingsir kami menelusuri dan mencari purana mengenai pura kami, kemudian bertemu dengan jero mangku ketut subandi. Ya pak made bisa dugalah kejadian selanjutnya. Terjadilah perbedaan pandangan itu. Kemudian ditulislah sebuah purana oleh penglingsir kami tersebut bersama pak ketut rinda. Purana tersebut kemudian disungsung dipura kami. Tapi anehnya tidak ada yang tahu apa isinya secara jelas. Nah kita yang muda muda jadi bingung deh jadinya??? Lalu kami berinisiatif untuk kembali menelusuri fakta dan petunjuk untuk mendudukkan sejarah yang berdasarkan fakta dan kebenaran, dengan mengedepankan logika dan rasionalitas. Untuk itulah saya banyak bertanya sama pak made dan ke banyak pihak lainnya. Untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi sehingga kami mendapat gambaran yang lebih jelas . Mohon kami dibantu pakde...

Badah ,,, pak Soebandi biang pembuat kacau ,, sok tau sejarah nak mara ibi hidup menceritakan ratusan tahun yg lalu ,,, sy pernah debat di pembaca bali post mengenai karang buncing ,, dua kali lempar argumen ttg kebingungan yg tak masuk akal ,, krn banyak warga yg tak terima ulasannya akhirnya kolom babad dihentikan ,,
Begitu Soebandi mengaku dirinya bohong mengenai babad, 3 harinya meninggal dunia ,,
Kalau begitu buku Kebo Iwa dijadikan rujukan dan tetapkan hati Nyungsung lelangit Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing ,, salam pasemetonan

Masalah Gaduh sebagai Kawitan khususnya Gaduh Paminggir di Gelgel dan Gaduh sebagai Gegaduhan Prabu Bali alias Merajan Prabu Bali yg terkait dengan Karangbuncing sebagai pengemong utama Pura tsb semakin menarik untuk ditelurusi dan dikaji karena ini kunci masuk sejarah Bali Kuno Mari kita kembali kepada kebenaran sejarah tanpa harus menghakimi pihak atau semeton lain karena sesungguhnya kita semua generasi yang mempunyai peran sama membangun Bali yang modern tanpa meninggalkan spirit yang mulia dari Leluhur masing-masing. Mari kita tinggalkan para pengarang dongeng yang mewariskan bom waktu untuk hancurnya semangat menyamabraya paras paros salunglung sabayantaka
Kembali mengenai Gaduh, baru baru ini saya ke Mataram Lombok Barat,bertemu dengan Bp Ketut Sulendra asal Blahbatuh yang sudah puluhan tahun menetap di Mataram. Beliau menceritrakan bahwa di Sengkongok Gunung Pengsong dekat Gerung ada Pura Gaduh yang dibangun oleh tokoh yang ikut sebagai pimpinan pasukan kerajaan Karangasem yang menentukan kemenangan raja karangasem atas Kerajaan selaparang Lombok. Di Sengkongok ada tokoh Bali Jro Wayan Bambang yang al menceritrakan bahwa mereka adalah keturunan dari Tokoh penting dalam invasi kerajaan Karangasem ke Lombok yg leluhurnya berasal dari Gamongan. Masyarakat Bali di Sengkongok Gunung Pengsong tsb sekarang sudah memilih Pasek sebagai trah atau kawitan tetapi setelah membaca buku Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing mereka mulai ragu dan ingin mencari kawitannya sesuai informasi buku tsb yg elas menggambarkan hubungan dukuh Gamongan dan Sri Karang Buncing. Info lain bahwa di Pura Lingsar yang merupakan kayangan jagat yang terkenal di Lombok Barat ada Pelinggih Gaduh di hulu/ Madya Utama Pura tsb Nah ini menarik untuk dipelajari.Semeton Made Bawa perlu menelusuri lebih lanjut temuan ini Informasi lebih lanjut tentang sejarah invasi ke Lombok tsb katanya ada di Geria Ida Dandak Resi di Desa Pagutan Mataram Kapan kita ke Lombok Made nanti bisa nginap di rumah adik tiang di Mataram Dari Nyoman Sudana

Om Swastyastu Guru Nyoman Sudana ,, suksma info ,, ada Palinggih Gaduh ?? Penyawangan bhatara dijo pak man?
Kira2 niki masalahnya, Pura Gaduh memang kahyangan jagat bali dalam arti bukan saja "pangemong" turunan raja bali tetapi yg ikut "pangempon" semua para Ksatrya Bali era itu (Ki Tambyak (jimbaran), Ki Gudug Basur (Batur), Si Tunjung Biru (seraya), Ki Kopang di Taro, Si Tunjung Tutur di Tenganan, Ki Bwahan di Batur dll ,,,
Setelah terjadi transisi pemerintahan bali ke majapahit terjadi perpecahan antara yg masih royal dgn Bali Kuno berkiblat ke Gaduh Blahbatuh ,, bagi yg ikut pemerintahan majapahit akan membentuk klompok pasek (parek) mengambdi dgn Dalem Gelgel ,,,apakah Pasek Gaduh nama "orang" ?? apa hubungan dgn Kiayi Agung Pasek Gelgel yg menegahi bali jawa ??
Akhirnya rancu asal "KAWITAN" itu ,, apakah berasal dari nama orang (leluhur) atau hubungan darah langsung ,, atau kawitan berasal dari nama JABATAN (Pasek, Pande, Penyarikan, Dukuh, Pedanda dll),, apakah kawitan dari nama DESA asal ke tempat yg ditempati sekarang (soroh sidakarya =asal nama desa sidakarya denpasr, soroh Beng nama tempat di Sanur dll,,, apakah kawitan berasal dari hubungan abstrak (niskala) asal tanah ayah desa yg ditempati akhirnya ikut nyungsung ,,, apakah nama kawitan berasal dari hubungan aguron guron ahirnya nama abiseka sama (mis, pasek maguru nabe sama dukuh, stelah dwijati jabatan jadi Dukuh ,, atau kawitan berasal dari ikut2an karena bawos balian ,, atau nama kawitan berasal dari mana ????
Yg jelas pemujaan kawitan muncul belakangan, sehingga membuat warga bali mula KELIMPUNGAN mencari jejak2 leluhur ,, yg didapat hasinya kembali jalan diatas , ,, salam rahayu OM< ,,

nah nike sane durung jelas De sire sane kasungsung ring palinggih GADUH Lombok punika, Apakah sama seperti yang ada di Pura Gaduh yang merupakan pura Penataran Ida Bhatara ring Sapta Giri ataukah yang lain Oleh karena itu perlu diteliti oleh para pemerhati sejarah dan budaya utamanya para S2/S3 Pang tusing gaduh dalam arti menimbulkan kegaduhan dikalangan umat (Nyoman Sudana)

Om Swatyastu Bapak Made Bawa,
Tiang Bapak Nengah Sukaya dari Penebel Tabanan (yang kerja di Alron Hotel Kuta), yang sering SMS sama pak Made, maaf belum sempat mampir kerumah karena kesibukan.
Pak Made, menurut penuturan orang tua, tiang keturunan orang Bali Mula dan punya pura kawitan dukuh, dari dulu sudah mencari lelintihan dan pura kawitan Bali Mula tapi belum ketemu, mungkin pak made memberikan penjelasan.
Terimakasih, saya tunggu jawabannya (I Nengah Sukaya)

Swastyastu pak Sukaya ,, ampura wawu kacawis, santukan komputere usak ,, ring dijo pura kawitan dukuh pak nengah??

kata dukuh artinya pertapa ,,, sebutan pendeta dukuh muncul anugrah dari danghyang nirarta (pedanda sakti wawu rauh) kepada turunan raja pertapa bali di lempuyang berasal dari putra sri pasung giri berputra dukuh sakti gamongan, dukuh semalung, dukuh angsoka, dukuh tuwuka, dukuh maya sakti ,, mereka ini menurunkan para dukuh yg ada di bali saat ini ,, jadi dukuh semestinya kawitannya di lempuyang gamongan ,, salam

osa admin (bapak made bawa)
Disinilah perlunya bantuan dari bapak untuk lebih menjelaskan/ mau menelusuri tentang
1. Apakah ada hubungannya Pura Gaduh Peminggir di Gelgel dengan Pura Gaduh Blahbatuh karena dari kami data yang kami miliki saya sebatas cerita dan berdasarkan bawos.
2. Konsisi kami kurang lebih sama dengan bapak kadek ganda
3. Kami semakin tertarik untuk menelusuri dan memperjelasnya, sudikah kiranya bapak made bawa mau membantu meneliti/ menelusuri tentang hal pada no 1 diatas (Adi Suwandana)

Om Swastyastu pak Adi Suwandana, menurut buku Budaya dan Masyarakat di Pegunungan Bali oleh Thomas A. Reuther, proyek pemerintah Indonesia dgn Australia th 2005 ada dua faksi Pasek, yg satu kiblat ke kerajaan Gelgel dan satu lagi berkiblat atau masih royal dgn kerajaan Bali Mula (Batahanar) sekarang Pejeng ,, nama tempat/ Desa Pejeng, Bedulu dan Blahbatuh muncul setelah kalahnya Bali oleh Majapahit ,,
Pejeng asal kata pajeng (payung), yang memayungi, yang melindungi, kerajaan, atau tempat asal mula kerajaan Batahanar (Istana Baru) yang dirintis oleh Sri Jaya Katong era Bali pertengahan. Bedulu berasal dari kata badha dan hulu. Badha artinya tempat, istana, pemerintahan dan Hulu artinya kepala, raja, pusat. Jadi Badhahulu artinya pusat pemerintahan, istana raja. Kata ini muncul karena orang-orang Jawa tidak tahu nama kerajaan Bali saat itu, sehingga mereka hanya menyebut Pusat Pemerintahan (Badhahulu) saja. Di dalam naskah Babad, kata Badhahulu sengaja diplesetkan menjadi Bedahulu atau berbeda dengan pusat (Majapahit) atau raja berkepala babi. Sesungguhnya Bali dengan Majapahit era itu belum terjadi perselisihan.

Sedangkan Blahbatuh berasal dari bahasa Bali Kuno dari urat kata Belah dan Batu. Belah artinya pecah menjadi dua. Batu artinya jagat, kerajaan, tanah. Jadi Blahbatuh artinya jagat Bali pecah menjadi dua, baik dalam bidang sosial, politik, bahasa dan kebudayaan. Terjadi dua terapan relegi yang dianut oleh masyarakat Bali saat kini, yaitu adanya sebagian warga atau desa yang mengikuti relegi sejarah Bali Kuno, dan sebagian warga atau desa mengikuti relegi sejarah Majapahit, bahkan masyarakat bisa menjalani kedua konsep tersebut, mengikuti aturan para pimpinan yang berkuasa pada masa kini.

Berikut komparasi antara, adanya istilah wang jaba dan wang jero, Orang-orang Bali Mula disebut wang jaba dan keturunan Arya Majapahit disebut wang jero. Bahasa pun pecah jadi dua, bahasa Bali menjadi bahasa kasar, sedangkan bahasa Majapahit menjadi bahasa halus misalnya, ditu bahasa Bali Kuno menjadi irika (Majapahit), bapa menjadi ajik, meme menjadi biyang. Nyumu menjadi ngawit. Cicing menjadi asu, dan lain sebagainya. Pura Gaduh, Blahbatuh yang awalnya merupakan tempat suci kerajaan Batahanar terbagi menjadi Pura Puseh dan Pura Gaduh.
adanya sugiyan jawa dan sugiyan bali, adanya dua metode padiksan majapahit pake silad kaki/ napak kaki di kepala oleh guru napak dan bali kuno pake napak wakul, dlll

jangan2 bapak Adi masih royal dgn kerajaan bali ,, yaitu Pura Gaduh, Blahbatuh adalah pura jagat nata bali kuno akhir ,, banyak ttyg liat seperti ini di desa2 yg ada di gunung ,, MAAF pak adi mudah2an versi ttyg salah ,, Pasek itu asal kata PAEK = PAREKan adalh nama jabatan ,, xiixix

Pada intinya pemujaan leluhur (Kawitan) seharusnya nama orang atau nama leluhur yang dijadikan pedoman untuk disucikan di pura klompok warga. Tentu nama leluhur yang pernah hidup pada zaman dahulu dan mempunyai jasa untuk dikenang pada masa kini. Perubahan Catur Warna menjadi Catur Wangsa membawa dampak kebingungan bagi warga Bali Mula di dalam menentukan nama leluhur yang akan dijadikan patokan untuk disucikan. Sistem Catur Warna yang menjadi pegangan warga Bali Mula lahir berdasarkan guna karma, tugas dan pekerjaan yang pernah di emban oleh leluhur pada zaman dahulu, sedangkan Catur Wangsa muncul pada era Majapahit ditentukan berdasarkan kelahiran dari kelompok warga tertentu.

Beberapa acuan yang dijadikan pedoman oleh orang-orang Bali Mula untuk menentukan nama Pura Kawitan pada masa kini antara lain, 1) Nama Kawitan berasal dari nama leluhur yang disucikan, misalnya, Pura Kawitan Sri Karang Buncing, Pura Kawitan Dalem Tarukan, Pura Kawitan Kresna Kepakisan dan lain-lain. 2) Nama Kawitan berasal dari nama jabatan yang pernah diemban oleh leluhur pada masa lalu, namun kurang jelas siapa nama leluhur sebenarnya, misalnya, pasek, pande, penyarikan, dukuh, kubayan, bendesa, si tunjung tutur, dan lainnya. 3) Nama Kawitan berasal dari nama sekte yang dianut oleh leluhur di masa lalu misalnya, Bujangga Waisnawa. 4) Nama Kawitan berasal dari aguron-guron misalnya, warga Pasek berguru nabe dengan pendeta Dukuh, setelah dwijati diberi gelar Dukuh, yang semestinya warga Pasek bergelar Sri Mpu, lama kelamaan keturunannya menyebut diri warga Dukuh. Atau pragusti berguru nabe dengan Ida Pedanda setelah dwijati menyandang dua gelar yaitu Ida Pedanda Rsi Bhagawan. 5) Nama Kawitan berasal dari anugrah penguasa, misalnya, Pura Dukuh di Banjar Perarudan, Jimbaran, Kuta Selatan awalnya paibon Sri Batu Putih (Dalem Putih Jimbaran) dengan putranya Dalem Petak Jingga. Karena ekpansi para Arya Majapahit, Pura Dukuh ditinggal pergi oleh keluarga Dalem dan warga Pasek dari Desa Kusamba yang mengungsi di Desa Jimbaran diberikan mandat oleh penguasa selanjutnya untuk menjadi pemangku di Pura Dukuh tersebut. Akhirnya lama kelamaan keturunannya menyebut diri warga Dukuh sesuai nama pura yang di empon. 6) Nama Kawitan berasal dari hubungan abstrak tanah ayah-ayahan desa yang ditempati sekarang berasal dari wilayah/ pura tertentu yang mempunyai kekuasaan lebih tinggi atau sebagai pemilik awal sebelumnya. Dari hubungan abstrak pemilik awal tanah yang ditempati sekarang ini diyakini mempunyai hubungan satu genealogis dengan pangamong pura yang lebih tinggi itu. 7) Nama Kawitan berasal dari nama asal desa sebelum menempati tanah sekarang misalnya, soroh sidakarya adalah nama tempat di Denpasar, soroh beng adalah nama tempat di Desa Sanur, soroh pajeng nama Desa Pejeng dan lain-lain.
Makanya orang2 Bali Mula bingung cari kawitan ,,

tambahan jawaban untuk pak Nengah Sukaya ,, zaman dulu sebutan dukuh pasti berisi nama desa/ tempat, persebaran dari gamongan ke luar desa dan hanya diberikan gelar dukuh khusus untuk turunan langsung (warih)dari turunan raja pertapa di gamongan misalnya, dukuh batugunung (menjadi nama desa batu gunung timur gunung lempuyang), dukuh tuwuka menjadi desa tuwuka, dukuh angsoka, dukuh bayung gede menjadi nama desa bayung gede dlll ,, krn pemerintahan berbeda, sekarang dukuh berisi nama nabe napak/ nama orang mis, dukuh dhaksa anu ,, atau kembali ke jawaban di atas asal usul kawitan yg dijadikan pedoman

tambahan u/pak Adi ,, jawaban pertanyaan nomor 1 sampun ttyg cawis sane lintang ,, paling tidak pakta lapangan tat kala pujawali gede pasti nunas tirta ke pura gaduh blahbatuh ,, nomor dua ring pura gaduh peminggir wenten palinggih/ pasimpangan gaduh ,, pura gaduh blahbatuh pura kahyangan jagat bali kuno, siapa saja hatur sembah irika ,, mungkin saja yg dulunya gaduh peminggir royal dgn bali mula (gaduh blahbatuh)setelah muncul pemujaan kawitan akhirnya bingung cari identitas leluhur ,,

osa, slamat pagi.
suksma atas jawabanya, kami berasal dari desa kerobokan (Pura Panti Pasek Gaduh), kami biasanya apabila wenten upacara besar biasanya nunas tirta ke
1. Pura Prasasti Pasek Gaduh Dalung (lokasinya di sebelah pura desa dalung),
2. Pura Dalem Pasek Gaduh (lokasinya di Br Anyar Kaja desa kerobokan),
3. Palinggih Gaduh yang ada di Pura Desa Padangsambian, dan
4. Pura Gaduh Peminggir.
Apakah pura2 diatas nika ada disebut di data yang ada di Pura Gaduh Balahbatuh pak?
Apakah perbedaan Palinggih Gaduh yang ada di Pura Desa dengan Pura Gaduh Blahbatuh/ apakah ada keterkaitan antara ke2nya?
Apakah persebaran pengempon Gaduh menjapai ke Desa Kerobokan?
(Adi Suwandana)

tambahan pak made bawa:
Saya diceritakan kami(Pura Panti Pasek Gaduh) dulunya adalah rarudan dari Pura Pasek Gaduh yang ada di desa Buduk (rarudan pada perang menguwi dan badung(pemecutan) hijrah ke desa Dalung( Pura Prasasti Pasek Gaduh yang lokasinya di sebelah pura desa dalung) di pura Gaduh dalung ini ada sebuah lontar disana yang mungkin menyebutkan sesuatu(tetapi saya tidak tau dan tidak diceritakan isi dari tulisan yang ada dilontar tsb), kemudian hijrah lagi ke desa kerobokan (pura panti pasek gaduh lokasinya di br batubidak, pura saya).
Haya ini lah yg saya ketahui tentang Pura kami.(Adi Suwandana)

swastyastu pak Adi, memeh rumit jua ggiih?? ttyg tak habis pikir dgn buku babad pasek oleh jm soebandi (alm) dgn begitu gagahnya membuat silsilah nama persebaran keturnannya, dan kadang2 tidak runut setelah ttyg cocokan th angka dan nama keturunannya banyak yg nyaplir ,, ntah dapat data dari mana tak jelas bahasa aslinya ,,banyak wrg yg bertentangan di lapangan seperti warga kubayan, karang buncing, catur sanak, wrg ida bgs dll ,, ttyg pernah bertanya dlm kolom babad di koran bali post ttg lempuyang setelah beliau menggebu2 di koran bhw lemuyang dibangun oleh mpu gni jaya zaman udayana lalu jwbanya "kite-kite" ragane tanpa merujuk data dgn bahasa asli ,, lalu kolom babad di tutup oleh redaksi ,,, maaf ttyg bukan saksi sejarah yg mengetahui dgn kepala sendiri kejadian2 yg ditulis diatas ,, tentu dgn adanya data tertulis dijadikan pegangan dan sebagai pembanding data yg ada sebelumnya antara prasasti, purana, piagem, prakempa dan babad ,, ttyg wantah seneng diskusi tan dados brangti, tan dados dendem, tan dados tersinggung lan tan dados ningting bawong baju ri pet prade kpanggih ring margi antuk salah hatur majeng ring pak adi ,, niring data antar data bertinju sekadi nama petinju bali adi swandana (jgn2 pak adi petinju balilawas niki yg jd pavorit wkt teruna ,, xiixi)

Dari uraian yg pak adi sebutkan di atas, ttyg terbalik menjadi bertanya, mudah2an dgn adanya pertanyaan2 kita tahu runutan jejak perjalanan leluhur sane sampun lintang ,, waktu karya agung nenten nunas tirta ring kawitan pasek ring gelgel?? napi beda kawitan pasek gaduh sareng pasek (MGPSSR)?? perlu nedunan isi prasasti sane kasurat ring pura prasasti ring dalung nika?? sira uning wenten kasurat indik permargi nak lingsir sampai ring desa dalung ?? Pura Dalem Gaduh niki napi wenten setranya?? kata "Dalem" niki mengandung banyak arti, bisa dalem = dewa/ tuhan, dalem = raja atau penguasa ,, dalem = tak terjangkau ,, dalem = nama pura dalem kahyangan desa dll
Kalau kata 'dalem" ini adalah penguasa perlu tahu siapa nama beliau?? jika dulunya leluhur di dalung sbgi penguasa memang pas pura desa dan pura puseh berada disamping pura prasasti pasek gaduh karena puri ida irika ,, dan kuburannya ada di kerobokan ,, lalu hubungan nunas tirta ring palinggih gaduh pura desa padangsambian nika napi?? napi ragane membangun pura desa ini maka untuk mengabadikannya dibuat satu palinggih di halaman pura desa?? yg ttyg tahu di pura desa kuta tan wenten palinggih gaduh ring halaman tengah (hanya gedong) tajuk, padma, pesimpenan ,, ring jaba bale agung panjang palinggih pan balang tamak ,,
Gaduh = tempat mabawosan/ paruman ,, Gagaduhan = tempat suci ,, Gaduh = tempat sulinggih ,, mangkin wenten gaduh = nama warga pasek gaduh ,,, memeh

tambahan u/ pak Adi Suwandana ,, indik isi purana pura puseh gaduh blahbatuh wenten ring kanan nomor 11 ,,

ring pura puseh blahbatuh dulunya satu kesatuan dgn pura gaduh yg ada disebelahnya dan satu kori agung, dan bila pura puseh odalan batara ring gaduh ka pendak dilinggihkan di gedong puseh ,, ada palinggih gaduh juga ring pura puseh desa blahbatuh ini ,,

u/ pak adi ,, masak nenten uning isi prasasti yg ada di dalung nika ??

osa pak made bawa,
1. untuk nedunan prasasti (lontar yg ada di pura dalung, mungkin tyang tidak berani karena pura tsb diempon oleh banyak dadia yg tersebebar di legian, kerobokan, negara, abianbase, ada sebagian dari sesetan dps)
dan mengenai isinya tyang tidak tahu.
2. untuk lokasi kawitan yang ada di desa gelgel (PURA PASEK GADUH PEMINGGIR) lokasinya disebelah timur Pura Dasar Buana Gelgel, tepatnya di Br. Peminggir di sebelah pengkolan dan saya rasa (mungkin tyang salah) untuk nunas tirtanya hanya di pura pasek gaduh peminggir dan tidak di Pura Pasek MGPSSR . Jadi Puranya berbeda
3.untuk Pura Dalem Gaduh di Br Anyar tidak ada setranya pak (dalem =dewa/penguasa)
4. untuk pelinggih gaduh yang ada dipura desa padangsambian. leluhur kami tidak yang membuatnya, tetapi berdasarkan cerita dari tetua kami, kami harus kesana nunas tirta.
ampura pak made bawa tyang menyel pesan niki, ada pertanyaan yg tyang ingin ada jawabanya:
1. Apakah Gaduh itu sebuah Klan Keturunan?
2. Antara Gaduh dan maap Pesemetonan Sri Karang Buncing ini hubungannya apa y? (adi suwandana)

Naaa ini Baru Berita namanya ,,, OM Swastyastu pak Adi Swandana salah satu pembenar yg di ungkap ,, memang banyak kontroversi ttg buku Babad Pasek Subandi nika ,,

jawaban,
1) Kasihan pak Adi tak tahu napi isi prasasti ring pura prasasti Dalung, umumnya prasasti tertulis di atas TEMBAGA/ BATU bukan di atas daun tal /lontar ,, bisa lontar pengayam2an, bisa carcan kedis, bisa perjalanan lelangit (silsilah klrg), bisa penestian, bisa usada, atau yg lain ,, WAJIB DIKETAHUI oleh warih IDA masa kini ,, bila namanya prasasti akan berisi nama penguasa, tahun angka atau bisa tahun candra sangkala disaksikan pemerintahan bawahan, para pendeta, para tetua desa, dgn isi mis, sisilah kluarga dan kisah pristiwa perjalanan, bisa ttg pajak, batas desa atau yg lain, akan tertulis jelas ,, ttyg masih meragukan data tertulis yg dimaksud itu, apakah mungkin saja babad dianggap prasassti, atau purana pura setempat, atau piagem adalah pegangan warga, atau prakempa ,, semua data dimaksud mempunya nilai dan waktu kebenaran berbeda2 ,, bila PURANA yg di pura prasasti itu SINGID dlm arti tenget/berisi, atau ada penjaganya, tentu saat nedunan prasasti ada yg kerauhan tetua wrg sebagi permakluman atas kelancangan maka akan terjadi dialog media komunikasi antar sekala ke niskala ,, bila singid lontar itu tak akan terbaca oleh siapa pun dgn kata lain hanya orang yg ditunjuk oleh kerauhan itu ,, bila singit lontar itu di sulut dgn api tak akan terbakar ,, alon alon pak Adi ,,tunasang majeng panglingsire mangda sida tatas uning daging prasasti yg ada pura prasasti itu ,, mangda sampunang salah sembah nantinya ,, disamping dari pada nunas bawos balean ,,
2)Berarti pak adi nenten satu kawitan sareng Pasek MGPSSR ,,ttyg boya panatik, ttyg sembah ring kawitan wrg mana pun ,, batu saja ttyg sembah xiix ,,, KIra2 brapa meter kawitan gaduh peminggir dgn kawitan MGPSSR pak adi ??
Kata Peminggir niki ttyg masih curiga asal usulnya, apakah betul dari awal nama I Gusti Peminggir atau warga Pasek Gaduh ini lebih dulu disana karena MINGGIR/ tempat di pinggir kerajaan gelgel sbg tapeng dada raja waturenggong ,, karena dlm Piagem Dukuh Gamongan disebutkan putra dari Sri Pasung Giri (pendeta di desa gamongan) bernama Sri Giri Ularan menjadi mahapatih di kerajaan gelgel, Sri Giri Ularan ini adalah trah bali yg berkiblat ke Gaduh (Blahbatuh) dlm menengahi kemarahan rakyat bali yg masih royal ,, mangkin Sri Giri Ularan menjadi Arya Ularan = Gusti Ularan berkiblat ke Jawa ?? bingung dadosne ,,
3) Karena tidak jelas nama penguasa ring pura dalem gaduh itu ,, ttyg maduwe alasan kanapa disebut dalem gaduh, sesuai alasan ttyg ring ajeng ttg keberadaan pura GADUH Blahbatuh tugu akhir raja bali kuno ,, BANDINGKAN dgn PRAKEMPA DESA CELUK, Gianyar ,, berbunyi ,,Keturunan Jro Nyoman Karang Tebel berumah di Gaduh Karang dan semua mempunyai banyak keturunan sampai masa kini. Maka dari itu ada soroh Gaduh Karang di Desa Celuk Mantri, keturunannya bukan Karang Gaduh, juga bukan Gaduh Karang, sebetulnya Karang ya, dan Gaduh ya. Demikian yang tertulis di prasasti.
Ini salinan prasasti dari Jro Nyoman Karang Buncing berasal dari Jro Nyoman Karang Samping Jeruk bertempat tinggal sekarang Desa Celuk Mantri, keturunannya ada di Desa Kapal dan di Desa Penarungan. Turunannya yang tinggal di Desa Celuk Mantri sudah mempunyai tempat suci stana bhatara leluhur yang awalnya tinggal di Desa Celuk, juga stana leluhur yang ada di Lempuyang, menjangan saluwang, padma rong kalih sebagai symbol bakti keturunan Ida Wijaya Katong, memang treh Brahmana wangsa, selesai disalin sukra kliwon watugunung, tanggal ping 13, sasih jiyesta, isaka 1880/1958M, (sumber: Kadek‘Romo’Mustika)
Apakah keturunan Gaduh di kapal yg dimaksud sampai di dalung letaknya berdekatan ,, ??

u/ Adhi Suwandana, sujati nya konsep pemujaan kawitan muncul belakang sekali di blow up oleh pak Soebandi (alm),, beliau ini menulis babad pura gaduh blahbatuh disebut pura pasek gaduh ,, wah rame, sudah dapat bantahan oleh pemangku pangemong pura sameton karang buncing, dibantah oleh bendesa adat blahbatuh, dan perbekel desa, dan panglingsir puri dll ,, toh kukuh kite kite ragane tanpa sumber data sejarah jelas ,,

4) Gaduh versi mana yg dimaksud, versi pak soebandi, Pasek Gaduh adalah nama orang bukan nama desa, biasanya menyebut leluhur pasti isi nama desa/tmp tinggal mis, DUKUH GAMONGAN, DUKUH TUWUKA, Pasek Ketewel, Pasek Kuta dll ,, lalu pasek GADUH?? adakah nama desa Gaduh di Bali ?? sangaat sulit mencari data akurat, adakah yg menulis setiap kelahiran, 4 undag di atas kita sdh rapuh apalagi mendata kelahiran 500 th yg lalu ,,

Dan Gaduh versi Bali adalah PURA GADUH, Blahbatuh ,, jgn2 pak adi, gaduh bali niki ,, sekadi ring Prakempa Celuk asal ne ada yg ke wrg pasek ada yg ke karang buncing (gaduh blahbatuh),, banyak semeton belum tau hal ini, setelah muncul buku Kebo Iwa yg ttyg tulis, wawu Ngeh indik ragane sekadi wrg dukuh, dll ,, untuk pembuktian siapa tahu tersurat di prasasti pura dwene ,,

Pura Gaduh Blahbatuh dibangun oleh kakek karang karang buncing atau kakek kebo iwa yaitu raja patih kebo parud menjadi raja patih (pengganti/ mewakili sang ayah raja Sri Indra Cakru/Sidimantra) ,, setelah jadi raja patih melakukan hidup suci mendirikan pura Gaduh (tempat bawosan)seperti balean nunas petunjuk niskala ,, jadi pura gaduh karang buncing tak bisa dipisahkan, pangemong pun wrg karang buncing yg tinggal di blahbatuh ,,
Ngiring tambahin malih jroo ,,

OSA, slamat siang pak made,
semua pertanyaan balik pak made tidak tyang bisa menjawabnya.

- sedikit tentang pura dipeminggir yang tiang ketahui lokasinya kira2 1km ketimur dari pura dasar buana gelgel, disebelah pura peminggir ada kuburan dan letaknya di pengkolan disebelah barat jalan. Yang disebut pura kawitan MGPSSR tyang tidak juga mengetahuinya dimana lokasinya, apa bapak tahu lokasinya?
- kalo pura dalungnya lokasinya tepatnya di desa adat dalung, letaknya disebelah pura desa dalung. dijalan menuju ke SMAN 1 Kuta Utara.

suksma pak made, tyang semakin bingung, tetapi ada keinginan terus untuk mencari tahu apakah itu ujungnya.
sekali lagi suksma atas pencerahannya (adi suwandana)

tambahan letak pura peminggirnya di selatan jalan (adi suwandana)

u/ pak Adi ,, Pura Gaduh nama ini tertulis dalam Piagem Dukuh Gamongan, lontar milik Griya Tegeh Budakeling Karangasem,,,, nama Pura BEDUGUL GADUH tertulis dlm Prasasti Maospahit, Grenceng, Dpsr ,, nama Pura KARANG GADUH tertulis dlm Usana Bali milik Pura Kawitan Karang Buncing Blahbatuh, ,, sedangkan nama Pura Pasek Gaduh versi pak Soebandi (alm) ,,

untuk pak Adi ,, nama GEGADUHAN terlihat di bawos nak kerauhan ,, xiixix

osa, yang pak made maksud dengan "pura gaduh nama ini tertulis dalam piagem dukuh gamongan" , ini maksudnya pura gaduh apa y namanya dan lokasinya dimana pak?(adi suwandana)

osa pak made bawa, apakah yang pak made maksud pura gaduh peminggir???
dan apakah benar sri giri ularan yg ada di sebut di piagem dukuh gamongan berlokasi di pemingir?
(adi suwandana)

Swastyastu pak Adi Suwandana, yg ttyg maksud tertulis di Piagem Dukuh Gamongan adalah Pura Gaduh di sebelah barat Pura Puseh Desa Pakraman Blahbatuh ,, (satu kori agung dgn pura puseh)
Sri Giri Ularan menjadi senapati kerajaan Waturenggong ,,hanya itu yg tertulis ,, salam rahayu

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More