Cover Buku Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing

Hasil Buruan 27 tahun,Untuk mengumpulkan data" Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing

Poto Pak Made Masih Remaja

Poto tahun 1990, Bersama penglingsir Warga Sri Karang Buncing Jero Wayan Gede Oka (3 dari kiri) di depan "SUMUR UPAS" (dalam gubug), sumur diperkirakan dibuat oleh Ki Kebo Iwa oleh penduduk setempat disebut Kebo Suwo Yuwo.

Desa Adat Gamongan, Tiyingtali, Kecamatan Abang, Karangasem.

Foto Tahun 1992, bekas Pura Penataran Lempuyang

Pura Kuru Baya

Pura Kuru Baya terletak di barat Pura Gaduh, Blahbatuh. Pura ini tempat Ki Kbo Iwa mendapat wangsit bahaya, bahwasanya akan terjadi firasat buruk yang akan menimpanya. Tapi karena satya wacana dan mengemban tugas raja beliau akhirnya berangkat juga, maka terjadilah kenyataan pirasat itu dan beliau menemui ajal di tanah Jawa.

Pura Kawitan Blahbatuh

Pura Kawitan Yang terletak di barat daya Kota Gianyar

Bale Panjang Kebo Iwa

Bale Panjang Kebo Iwa di Jaba Pura Puseh Beda, Sudimara, Tabanan ,, dikisahkan dalam Prasasti Maospahit, bahwa bale ini dibuat untuk Kebo Iwa ,,, dimana dulunya sendi akhir berada jauh ke barat sekitar 300 meter ,,,

Simbol Penghulu Sri Karang Buncing

Simbol

Pak Made Lagi Jualan Buku

Pak made mempromosikan buku terbitan pertamanya

Pembuatan Tapel Kebo Iwa

Process pembuatan tapel Kebo Iwa berlokasi di gianyar oleh bapak Tjokorda

Kamis, 24 November 2011

SKEP MAHASABA










MAKALAH Prof. Dr. A.A. Bagus Wirawan, SU


Makalah Prof. Dr. A.A. Bagus Wirawan, SU. (asal tulisan tangan, 13/11/2011)

BEDAH BUKU
KEBO IWA DAN SRI KARANG BUNCING
Dalam Dinasti Raja-Raja Bali Kuno.
Karya I Made Bawa, Denpasar: Buku Arti, Agustus 2011, 246 halaman, XVII (3 Kata Sambutan dan Prakata)
                  Oleh: A.A. Bagus Wirawan
PROLOG:
                Kemunculan produk historiografi Bali adalah upaya generasi saat ini berdialog dengan masa lampau untuk mengenal jati diri dan memetik kearifan yang dapat dijadikan menapaki masa depan historiografi yang ditulis mengisyaratkan tentang tema sejarah keluarga Sri Karang Buncing sebagai tonggaknya, artinya dari Sri Karang Buncing bisa ditarik ke atas atau keleluhur –nya, ke masa lampau hingga Sri Kesari Warmmadewa atau ke bawah yaitu terutama lahirnya tokoh terkenal pada abad ke 14 Kebo Iwa, Sri Kebo Iwa, Kebo Taruna karena kesaktian dan kekebalannya. Gajah Mada mahapatih Majapahit sendiri mengalahkannya mesti dengan tipu daya. Namun tewasnya hanyalah kehendak Kebo Iwa sendiri dengan rela membuka rahasia menuju moksahnya di Wilwatikta.
          Setelah Kebo Iwa berlanjut pula keturunan Sri Karang Buncing hingga sekarang yang tersebar domisilinya di seluruh Bali dan luar Bali. Utamanya tempat kelahiran penulis buku. Dari alasan dan perspektif tertentu termasuk perspektif sejarah realitas yang mengitari yaitu pergulatan Kebo Iwa dengan situasi kondisi yang mengitarinya diangkat, direkontruksi berupa gambaran kearifan sosok panutan yang sangat berkesan bagi keturunannya dan generasi sekarang
  
BAHASAN: 
           Membedah atau lebih cocok memberi bahasan untuk kemudian lebih membuka ajang diskusi atau perdebatan guna meningkatkan pemahaman peserta sekalian. Bahasa yang diajukan meliputi dua kata kunci yang bisa diajukan yaitu: 1) Rekontruksi dan Dekontruksi, serta, 2) Kontinuitas dan Diskontinuitas.

Rekontruksi dan Dekontruksi,
            Menggambarkan kembali (rekontruksi) realitas kemanusiaan baik dalam kehadiran tokoh beserta asal usulnya yaitu Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing yang mengaitkannya pada dinasti raja-raja yang berkuasa secara kronologis pada periode Bali Kuno (abad ke-9 sampai abad ke-14) oleh I Made Bawa, S.Fil.H. telah berhasil dan menambah khazanah produk karya sejarah (historiografi) di Bali. Keberhasilannya ditandai dengan jumlah sumber-sumber (tulisan, monument, lisan) yang digunakan sebagai alat bukti dari sejarah yang dikisahkan di daftar pustaka, terdaftar 61 buku dan 62 terjemahan Prasasti, Piagem, Pemancangah, Prakempa, Babad (Belanda, Latin, Bali).
            Subtansi yang terkandung dalam karya I Made Bawa ialah Rekontruksi dan Dekontruksi atas empat tema yaitu: 1) Siapa, kapan dan bagaimana Kebo Iwa; 2) Asal usul treh Sri Karang Buncing yang berasal dari raja-raja yang berkuasa pada periode Bali Kuno; 3) Sejarah Pura Lempuyang dan Pura Gaduh, dan, 4) Menggambarkan keberadaan treh Sri Karang Buncing dan Kebo Iwa masa kini (Bab II, Bab III, Bab VI, Bab IX, dan Bab X).
            Dari tema-tema yang diangkat, Made Bawa menangkap arti dan memberi interpretasi disertai makna tentang kiprah Sri Karang Buncing sebagai cikal bakal Kebo Iwa dan kiprahnya pada masa lampau kepada generasi sekarang. Tidak hanya kepada warga treh Sri Karang Buncing namun juga bagi masyarakat Bali terutama Gianyar. Dan tidak main-main seorang Bapak Bupati Gianyar, Tjok. Oka Artha Ardhana untuk memilih Kebo Iwa sebagai maskot/ ikon Kabupaten Gianyar. Ketika akan dihadapkan pada wajah asli Kebo Iwa maka keputusan historis pun diperlukan meskipun hanya setetes embun dihadapan samudra, keputusan politik pengemban kekuasaan. Namun tokoh Kebo Iwa termasuk tokoh Bali yang paling banyak dimitoskan dan telah menjadi mitos saat ini.
            Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rekontruksi terhadap masa lampau senantiasa dibarengi dekontruksi masa sekarang karena tokoh Kebo Iwa telah diangkat menjadi fakta pertanyaan-pertanyaan masa kini. Kemudian muncul pelbagai tafsir mengenai sang aktor Kebo Iwa oleh generasi sekarang yang memiliki hak untuk merekontruksi atau dekontruksi disertai makna-makna yang kadang melampaui batas-batas kewajaran historis (Bab XI).
KONTINUITAS dan DISKONTINUITAS:
            Pepatah kuno yang tetap aktual jika disimak dan dicermati, bahkan tetap benar dan bermakna jika direnungkan yaitu “Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama” Dengan kalimat lain dapat dikatakan bahwa manusia tidak hanya terlibat dengan waktunya tetapi juga dengan waktu yang melewati dirinya. Dimensi waktu yang melewati dirinya itulah historisitasnya sesungguhnya yang menyebabkan arti hidupnya masih dinilai dan dimaknai jauh setelah tiada di dunia fana ini.
           Semakin ia berperan sebagai aktor sejarah dalam arti, bahwa laku dan aktivitasnya dicatat dan dikenang, semakin ia terkena tirani waktu itu. Si aktor seakan-akan dipaksa untuk terus menerus mengulangi peranannya. Semakin keras tirani waktu melekat pada diri aktor semakin jauhlah dirinya mengalami transformasi.
           Kebo Iwa yang tak tertandingi pada zamannya (Bab V) mengalami transformasi arti dan makna menjadi Kebo Iwa di Pesraman Yoghadhiparamaguhya, putra pertapa dengan makhluk halus, maskot ikon Gianyar, spirit of inspiration, dipuja bersama tokoh Gajah Mada di pura Dalem Kretti Bhuwana dan bahkan keris Kebo Iwa ditemukan saat kini (Bab XI)
           Penulis sangat kreatif untuk melanjutkan dan mewujudkan gagasan besar yang dirintis sejak tahun 1937 yaitu menyusun silsilah/ lelintihan Sri Karang Buncing (Buku Kuning) pada tahun 1991 dan tahun 2003. Dari Buku Kuning, penulis Made Bawa disertai kemampuan, ketekunannya mengumpulkan data, maka tersusun bukunya yang diberi judul Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing Dalam Dinasti Raja-Raja Bali Kuno.
           Kurang tepat jika dijadikan satu judul saja. Alasanya ialah, 1) Dari sisi kronologi antara Sri Karang Buncing dengan Kebo Iwa siapa yang lebih dulu mengada, 2) Dari sisi yang sama mana lebih dulu Kebo Iwa, Sri Karang Buncing dan dianasti raja-raja Bali Kuno. Oleh Karena itu, komentar dan saran saya ialah karya historiografis Made Bawa yang sudah diterbitkan ini bisa dipecah menjadi empat buku. Apalagi sumber acuan pustakanya banyak, meskipun masih tergolong sumber sekunder (61 buah buku dan 62 buah berupa Prasasti, Piagem, Purana, Prakempa, Pemancangah dan Babad, baik naskah atau sudah diterbitkan).
          Empat buku yang saya anjurkan dan sarankan disusun ialah 1) Biografis Kebo Iwa; 2) Sejarah keluarga treh Sri Karang Buncing; dan, 3) Sejarah politik dinasti raja-raja Bali Kuno (abad ke-9 sampai abad ke-14), 4) Ke empatnya adalah karya historiografis yang dapat memberi kontribusi untuk memperkaya kazanah kebudayaan Bali yang mengalami prase kontinuitas dan diskontinuitas sejak periode klasik sampai modern, sejak mengadanya manusia pertama penghuni pulau Bali hingga saat ini.
           Kontinuitas dan diskontinuitas perlu juga diperhatikan ketika menggambarkan raja-raja Bali kuno sebelum ekspansi Majapahit (26 raja), ketika dikuasai dan masa transisi kekuasaan dan kekuasaan raja-raja Bali sesudah ekspedisi Gajah Mada. Kekuasaan raja-raja Bali dalam satu kerajaan Bali pun masih perlu dibedakan raja (Dalem) yang bergelar “Raja Adipati Majapahit di Bali” (abad ke-14 sampai pertengahan pertama abad ke-15) dan raja-raja Bali yang berdiri sendiri dalam satu kerajaan Bali lepas dengan Majapahit (pertengahan ke dua abad ke-15 sampai pertengahan pertama abad ke-17). Pada pertengahan ke dua abad ke-17 pulau Bali telah terpecah dan terbagi oleh kekuasaan raja-raja di kerajaan-kerajaannya masing-masing pada periode itu muncul periode kerajaan-kerajaan Bali.

EPILOG:
             Sepatutnya karya historiografis I Made Bawa diberi acungan jempol bukan isapan jempol, karena kemampuan dan kreativitasnya. Saya sebagai pemberi komentar dan bahasan bukan mencari-cari kesalahan kekurangan dari isi dan teknis penulisan. Memang harus diakui bahwa setiap karya tulis apalagi karya historiografis yang jarak waktu lampaunya cukup lama dari sang penulis hidup pasti terkandung kekurangan. Hal ini dapat diatasi jika penulis mau belajar terus untuk memperbaikinya. Sebab belajar tidak mengenal usia tua sesuai adagium “belajar sepanjang hayat”. Selain itu karya historiografis harus terbuka dan dibuka bagi debat dan perdebatan substantif.
            Berani masuk ke ranah sejarah yang menghasilkan historiografi harus siap didebat dan berdebat. Sejarah memang ilmu debat yang tak henti-hentinya, karena setiap generasi berhak menulis sejarahnya. Namun ketika sejarah ditulis ada pesan kearifan dan perdamaian yang mesti ditangkap. Pesan moral arif dan adil dari sejarah yang ditulis adalah mengenal jati diri itu sendiri jati diri Bali, jati diri warga Bali, warga Negara, bangsa Indonesia yang “Bhineka Tunggal Ika”

A.A. Bagus Wirawan.

MAKALAH Iwayan REDIG


Karakteristik Kebo Iwa
 Sebagai Terlihat dalam Mitos dan Ikonnya
Oleh I Wayan Redig
1.Pendahuluan
Nama tokoh yang disebut Kebo Iwa tidak asing lagi bagi masyarakat Bali. Beberapa kitab, misalnya Usana Bali, Babad Barabatu (Raka dkk, 2010: 4), Purana Pura Luhr Pucak Padang Dawa (Bawa, 2011:90) dan lain-lainnya menunjukkan  Kebo Iwa ini mempunyai popularistas. Mungkin tidak salah kalau boleh berpraduga bahwa Kebo Iwa adalah tokoh  sejarah, yang pernah memegang kukuasaan di masa lampau. Akan tetapi, kesejarahannya sedikit kabur karena sampai saat ini belum pernah didapatkan prasasti  yang dikeluarkan atas nama dirinya. Tambahan lagi, berdasarkan sumber-sumber yang ada,  kehidupannya dibumbui dengan mitos. Karena itu sering dikatakan bahwa kesejarahannya bersifat irasional. Mengenai apakah cerita ketokohan Kebo Iwa irasional atau tidak, bukanlah persoalan yang akan dijawab dalam makalah ini.
Persoalan yang akan dijawab dalam makalah ini adalah  apa makna dari mitos yang merajut ketokohan Kebo Iwa. Kebesaran, kekuatan, keunggulan dan lain-lain yang berkenaan dengan tokoh Kebo Iwa ini, dapat diungkap dari mitosnya. Keunggulan seorang tokoh, bisa juga terkuak  dari bentuk ikonografisnya. Sebelum dipaparkan mitos dan ikononnya, ada baiknya pengertian mitos itu sendiri dijelaskan terlebih dahulu.
Berdasarakan pemahanan convensional, mengutip Sobur dalam bukunya: Semiotika Komunikasi (2004: 222), mitos dianggap sebagai cerita yang aneh yang sulit dipahami  atau sulit diterima kebenarannya. Sebabanya karena kisah-kisah yang  di dalamnya tidak sesuai dengan pengalaman sehari-hari. Itulah pandangan lama mengenai cerita-cerita mitos. Pandangan demikian rupanya sudah mulai ditinggalkan. Menurut Urban (dalam Sobur, 2004), mitos adalah cara utama yang unik untuk memahami realitas. Atau, menurut Molinowski (dalam Sobur, 2004: 222), mitos adalah suatu pernyataan purba tentang realitas. Dalam jaman Yunani Kuno, realitas-realitas itu diungkapkan dalam bentuk mitos.  Jadi,  realitas (yang hanya dikenali oleh rasio) bukan hal yang bertentangan  dengan mitos. Hal ini diperjelas oleh kutipan berikut.
“Pada hakikatnya usaha manusia rasional adalah mitos, sebab usaha manusia rasional tidak dapat berdiri sendiri, tidak otonom, tidak mengenal dirinya sendiri: usaha manusia rasional itu terjadi, ada dan mengenal dirinya hanya berkat dan di dalam mitos. Dengan kata lain, usaha manusia rasional itu niscaya atau tidak dapat tidak adalah mitos sendiri” (Sobur, 2004: 223).

Jika ungkapan di atas dapat dianggap benar, maka Kebo Iwa yang selama ini dipahami sebagai mitos, semestinya sebuah realitas yang dibungkus dengan cerita-cerita aneh. Cerita-cerita aneh ini pasti ada maknanya. Maknanya inilah yang akan dipaparkan dalam makalah ini.

2. Cerita Mitos di Sekitar Tokoh Kebo Iwa
Rupanya Kebo Iwa adalah seorang tokoh yang betul-betul dikagumi banyak orang. Sebab, cerita-cerita mitosnya senantiasa mengagung-agungkan  kebesaran dan kehebatanya. Cerita-cerita berkenaan dengan kebesaran dan kehebatannya adalah sebagai berikut.[2]
  1. Ketika masih bayi Kebo Iwa sudah bisa makan makanan orang dewasa. Setiap hari anak itu makan makin banyak dan makin banyak. Ia tumbuh  menjadi orang dewasa yang tinggi besar. Karena itu ia dipanggil dengan nama Kebo Iwa, yang artinya paman kerbau.Kebo Iwa makan dan makan terus dengan rakus. Lama-lama habislah harta orang tuanya untuk memenuhi selera makannya. Mereka pun tak lagi sanggup memberi makan anaknya.Dengan berat hati mereka meminta bantuan desa. Sejak itulah segala kebutuhan makan Kebo Iwa ditanggung desa. Penduduk desa kemudian membangun rumah yang sangat besar untuk Kebo Iwa. Mereka pun memasak makanan yang sangat banyak untuknya. Tapi lama-lama penduduk merasa tidak sanggup untuk menyediakan makanan. Kemudian mereka meminta Kebo Iwa untuk memasak sendiri. Mereka cuma menyediakan bahan mentahnya.
  2. Kebo Iwa memang serba besar. Jangkauan kakinya sangat lebar, sehingga ia dapat bepergian dengan cepat. Kalau ia ingin minum, Kebo Iwa tinggal menusukkan telunjuknya ke tanah. Sehingga terjadilah sumur kecil yang mengeluarkan air.
  3. Salah satu hal yang paling istimewa dari Kebo Iwa adalah kemampuannya untuk membuat sumur mata air. Kebo Iwa dengan segenap kekuatan menusukkan jari tangannya ke dalam tanah. Dengan kekuatan jari tangannya yang dahsyat, dia mampu mengadakan sebuah sumur mata air, hanya dengan menusukkan jari telunjuknya ke dalam tanah.
  4. Pada abad 11 Masehi, sebuah karya pahat yang sangat megah dan indah dibuat di dinding Gunung Kawi, Tampaksiring. Kebo Iwa yang memahat dinding gunung dengan indahnya, hanya dengan menggunakan kuku dari jari tangannya saja. Karya pahat tersebut dibuat hanya dalam waktu semalam suntuk, menggunakan kuku dari jari tangan Kebo Iwa.Pahatan tersebut diperuntukkan memberikan penghormatan kepada Raja Udayana, Raja Anak Wungsu ,Permaisuri dan perdana menteri raja yang disemayamkan disana.
  Cerita-cerita di atas menggambarkan kekuatan fisik yang dimiliki Kebo Iwa. Demikian kagumnya seseorang terhadap seorang tokoh Kebo Iwa, Ia  secara emosional berlebihan mengungkap kekuatan fisik Kebo Iwa. Contoh pekerjaan membuat sumur di atas membuktikan. Pekrjaan membuat sebuah sumur, suatu perkerjaan yang tidak mudah, tidak mungkin dikerjakan dalam waktu singkat, oleh satu orang, dengan tidak menggunakan alat kerja. Akan tetapi Kebo Iwa dapat melakukannya hanya dengan sebuah jarinya, ia bisa membuat sumur dalam wakti singkat. Secara akali, hal ini tidak mungkin. Inilah ungkapan emosional rasa kagum seseorang terhadap tokoh yang menjkadi panutannya. Ini tidak salah. Ini makna sebuah kekaguman.
   Selain kekuatan fisiknya, keuatan psikis Kebo Iwa juga ada digambarkan dalam mitosnya. Ketika ia diminta datang ke Jawa Timur untuk membuat sumur, karena Jawa kekurangan air, ia pun menyanggupi; walaupun hal ini diketahui sebagai tipu muslihat.
  1. Dalam waktu yang cukup singkat, sumur telah tergali cukup dalam. Namun belum ada mata air yang keluar. Di atas lubang sumur yang digali oleh Patih Kebo Iwa, para prajurit Majapahit terlihat berkerumun, nampak mereka memusatkan pehatian pada Patih Gajah Mada. Seakan mereka menantikan sesuatu perintah…Tiba-tiba Gajah Mada berteriak: “Timbun dia dengan batu………!!!!” Seketika itu juga, para prajurit menimbun kembali lubang sumur yang sedang dibuat, dengan Patih Kebo Iwa berada di dalamnya.
  2. Para prajurit menimbun lubang sumur dengan batu hasil galian itu sendiri, nampak Kebo Iwa sangat terkejut dan berusaha menahan jatuhnya batu. Dalam waktu yang singkat, lubang sumur itupun tertutup rapat. Menguburseorang pahlawan besar didalamnya. Patih Gajah Mada yang berbicara kepada para parjuritnya.Gajah Mada : “Sungguh amat disayangkan seorang pahlawan besar seperti dia harus mengalami ini. Namun, hal ini terpaksa harus dilakukan, agar nusantara ini dapat dipersatukan. Dengan ini kerajaan Bali akan menjadi bagian dari Majapahit”.
  3. Tiba-tiba timbunan batu melesat ke segala penjuru, menghantam prajurit Majapahit. Terdengar teriakan membahana dari dalam sumur. Kebo Iwa : (berteriak) “Belum ! Bali masih tetap merdeka, karena nafasku masih berhembus !!. Batu-batu yang ditimbunkan melesat kembali keangkasa dibarengi dengan teriakan prajurit Majapahit yang terhempas batu. Dari dalam sumur, keluarlah Patih Kebo Iwa, yang ternyata masih terlalu kuat untuk dikalahkan.
  4. Patih Gajah Mada terkejut, menyaksikan Patih Kebo Iwa yang masih perkasa, dan beranjak keluar dari lubang sumur. Kebo Iwa : “Dan pembalasan adalah apa yang kutuntut dari sebuah pengkhianatan !” Patih Kebo Iwa menyerang Patih Gajah Mada kemarahan dan dendam mewarnai pertempuran. Akibat amarah dan dendam yang dirasakan oleh Patih Kebo Iwa, pertempuran berlangsung sengit selama beberapa waktu.
  5. Disela-sela saling serang Gajah Mada berteriak:”Untuk memersatukan dan memperkuat nusantara, segenap kerajaan hendaklah dipersatukan terlebih dahulu. Dan kau berdiri di garis yang salah sebagai seorang penghalang !”.
  6. Kesaktian Patih Kebo Iwa, sungguh menyulitkan usaha Patih Gajah Mada untuk menundukkannya. Pertempuran antara keduanya masih berlangsung hebat, namun amarah dan dendam Patih Kebo Iwa mulai menyurut…Dan rupanya Patih Kebo Iwa tengah bertempur seraya berpikir … Dan apa yang tengah dipikirkan
    olehnya, membuat dia harus membuat keputusan yang sulit… Kebo Iwa : (dalam hati) Kerajaan Bali pada akhirnya akan dapat ditaklukkan oleh usaha yang kuat dari orang ini, keinginannya untuk mempersatukan nusantara agar menjadi kuat kiranya dapat aku mengerti kini.
  7. Namun apabila, aku menyetujui niatnya dan ragaku masih hidup, apa yang akan aku katakan nantinya pada Baginda Raja sebagai sangkalan atas sebuah prasangka pengkhianatan ? Masih dalam keadaan bertempur, secara sengaja Patih Kebo Iwa melontarkan pernyataan yang intinya mengenai hal untuk mengalahkan kesaktiannya.
  8. Kebo Iwa : “Wahai Patih Gajah Mada ! Cita-citamu untuk membuat nusantara menjadi satu dan kuat kiranya dapat aku mengerti, namun selama ragaku tetap hidup sebagai abdi rajaku, aku akan menjadi penghalangmu. Maka, taklukkan aku, hilangkan kesaktianku dengan menyiramkan bubuk kapur ke tubuhku.
  9. Pernyataan Patih Kebo Iwa rupanya membuat terkesiap Patih Gajah Mada. Patih Gajah Mada menunjukkan reaksi keheranan yang amat sangat atas perkataan Patih Kebo Iwa.
  10. Gajah Mada yang mengerti atas keinginan Kebo Iwa, nampak menghantamkan jurusnya ke batu kapur, batu itupun luluh lantakmenjadi serpihan bubuk.
  11. Patih Gajah Mada menyapukan bubuk tersebut ke arah Patih Kebo Iwa dengan ilmunya, bubuk kapur menyelimuti tubuh sang patih Nampak Patih Kebo Iwa, sesak napasnya oleh karena bubuk kapur tersebut.
  12. Kiranya bubuk kapur tersebut membuat olah pernapasan Patih Kebo Iwa menjadi terganggu, hal tersebut mengakibatkan kesaktian tubuh Patih Kebo Iwa menjadi lenyap.Patih Gajah Mada melesat ke arah Patih Kebo Iwa,menusukkan kerisnya ke tubuh Kebo Iwa.
  13. Sebelum kepergiannya, dengan sisa tenaga yang ada Patih Kebo Iwa mengutarakan apa yang ingin dikatakan untuk terakhir kali. Patih Kebo Iwa : “Kiranya kematianku tidak sia-sia adanya…biarlah nusantara yang kuat bersatu hasil yang pantas atas harga hidupku”.Patih Gajah Mada dengan raut muka sedih, memberikan jawaban atas perkataan Patih Kebo Iwa. Gajah Mada : “Kepergianmu sebagai tokoh besar akan terkenang dalam sejarah… Sejarah suatu nusantara yang satu dan kuat”.
Dari cerita-cerita di atas terungkap bahwa Kebo Iwa memiliki sikap mental spiritual baja. Berpegang teguh terhadap prinsip yang dianggapnya benar. Kekuatan fisiknya yang demikian hebat, kalau mau dapat mengalahkan Gajah Mada. Akan tetapi ia tidak mau melakukan hal itu hanya demi sebuah prinsip “bersatunya Nusantara”.Ini sebuah makna. Ia memberikan arti (makna) terhadap kekuatan fisiknya untuk kepntingan yang lebih banyak. Kekuatan fisiknya bukan untuk pribadinya tetapi untuk rakyat yang daerahnya dikabarkan kekeringan atau untuk persatuan nusantara. Kekuatan fisik yang bermakna untuk yang lain bisa disimak cerita berikut.
  1. Walaupun terlahir dengan tubuh besar, namun Kebo Iwa adalah seorang pemuda dengan hati yang lurus. Suatu ketika dalam perjalanannya pulang dari Danau Beratan, tampak segerombolan orang dewasa yang tidak berhati lurus, Dari kejauhan para warga desa merasa sangat cemas. Tampak seorang dari mereka tersita perhatiannya pada seorang gadis cantik. Laki-laki itu menggoda gadis ini dengan kasar, gadis ini menjadi takut dan enggan berbicara. Laki-laki itu semakin bernafsu dan tangan-tangannya mulai melakukan tindakan yang tidak senonoh.
  2. Tiba-tiba Kebo Iwa muncul di belakang gerombolan tersebut, mencengkeram tangan salah seorang dari mereka, nampak kegeraman terpancar dari wajahnya, laki-laki itu menjerit kesakitan, gerombolan itu sangat terkejut melihat Kebo Iwa yang begitu besar, ketakutan nampak dari raut muka gerombolan tersebut. Gerombolan tersebut lari tunggang langgang.
Demikianlah Kebo Iwa membalas jasa baik para warga desanya dengan menjaga keamanan di mana dia tinggal. Tubuh yang besar, yang dimiliki Kebo Iwa, dimanfaatkan dengan sangat baik dan benar. Tubuhnya bukan untuk kepentingannya sendiri, bukan untuk kelompoknya, bukan untuk rajanya tetapi untuk nusantara.
3.Arca Kepala Kebo Iwa: Representasi Fisik dan Karakternya.
Keberadaan Kebo Iwa, bukan saja dikenang dalam bentuk mitos tetapi juga dalam wujud arca. Di Pura Puseh Gaduh, Blahbatuh, di dalam sebuah Palinggih tersimpan sebuah arca kepala. Arca ini menggambarkan kepala arca raksasa (Raka dkk, 2010: 14) Oleh masyarakat setempat, arca ini dipercayaai sebagai arcanya Kebo Iwa. Arca ini menjadi kaver sebuah buku  berjudul Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing Dalam Dinasti Raja-Raja Bali Kuna, ditulis oleh  I Made Bawa. Gambar dari kaver ini cukup jelas keberadaannya sehingga tidak sulit untuk menguraikan secara diskriptif. Mata arca digambarkan bulat mendelik bagaikan orang marah; hidung besar dan lebar, bibir lebar terbuka memperlihatkan sebaris gigi atasnya; taring atas dan bawah diperlihatkan. Ini semua adalah simbol kekeras, bertolak belakang dengan pahatan rambutnya. Rambut arca ini digambarkan ikal seperti rambut Sang Buddha dalam wujudnya sebagai Dhyani Buddha. Buddha yang bioasanya digambarkan dengan raut muka tenang dan rambut ikal seperti rumah siput biasanya dianggap sebagai simbul kedamaian, simbol dharma.
Mencermati kepala arca Kebo Iwa ini, dapat mengingatkan sesorang kepada perwujudan Bima. Bima diwujudkan dengan mata bulat mendelik, hidung lebar, bibir terbuka dengan memperlihatkan gigi dan taring, arti simboliknya telah dibicarakan oleh banyak pakar seperti I Gusti Bagus Sugriwa, I Made Kanta dan I Wayan Widia (Linggih, 2010: 189). Penggabaran raut muka Bima dengan detailnya seperti telah disebutkan, oleh para pakar tersebut sebagai simbol-simbol kekerasn. Merujuk pendapat ini dan mengingat hiasan rambut ikal yang biasa dipergunakan oleh arca Dhyani Buddha, dapat dikemukakan bahwa kepala arca Kebo Iwa adalah simbol kekersan dan kedamaian. Jadi tokoh Kebo Iwa ini digambarkan memiliki watak keras sekaligus damai. Kata ‘damai’ dalam konteks ajaran Buddhist berasosiasi dengan kata ‘dharma’.
Melihat arti simbolik penggambaran ikon Kebo Iwa, kemudian dikaitkan dengan ungkpan mitos tersebut di atas, maka Kebo Iwa itu adalah seorang tokoh (bisa fiktif atau bisa jadi nyata) yang pada dirinya menunjukkan keteguhan dalam memegang prinsip kebenaran. Segala potensi yang ada pada dirinya, kekuatan fisiknya, kekuatan fsikisnya sepenuhnya untuk tujuan prinsip kebenaran.Prinsip kebenarannya terletak pada norma-norma universal yang berlaku untuk kepentingan orang banyak. Contohnya. persatuan nusantara adalah kehendak normatif orang banyak. Contoh lainnya,  mengganggu wanita-wanita di jalan (lihat kembali cerita di atas) adalah suatu perbuatan yang tidak baik.  Itulah makna yang terungkap dari mitos dan bentuk ikonografis Kebo Iwan.

4. Penutup
  1. Kebo Iwa adalah seorang tokoh yang dapat membuat kagum banyak orang.
  2. Dia sangat teguh dan brani berkorban dalam memegang prinsip kebenaran
  3. Tokoh ini, bisa fiktif dan bisa kenyataan, tergantung dari sisi mana mau dilihat.
  4. Dari pandangan  rasional, Kebo Iwa dianggap  tokoh fiktif. Akan tetapi dari pandangan  emosional dia bukanlah tokoh fiktif tetapi tokoh nyata yang kehidupannya dibumbui dengan kejadian-kejadian aneh dan gaib.
  5. Pertanyaan yang urgen: adakah pengagum Kebo Iwa sanggup dan berkehendak menteladani karakternya ?
  6. Adakah yang mau dan berani berkorban untuk orang banyak? 
  7. Tidak ada artinya, tidak ada  maknanya, kalau  tokoh Kebo Iwa , yang karakternya luhur, hanya dipajang sebagai sebuah kebanggaan, tanpa dijadikan sori toladan.


Bahan Bacaan

Bawa, I Made. 2011. Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing dalam Dinasti Raja-Raja Bali-Kuna. Denpasar: Buku Arti.
Linggih, I Nyoman. 2010. “Tokoh Bima Dalam Seni Rupa di Bali: Perspektif Kajian Budaya”. Disertasi. Program Studi Kajian Budaya, Program Pascasarjana Universitas Udayana.
Raka dkk, A.A Gde. 2010.  Kebo Iwa, Patih Amangku Bhumi di Jaman Bali Kuna. Gianya: Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar.
Sobur, M.Si., Drs. Alex.
         2004. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Bandung.
http:// ceritarakyat Indonesia.com.2009/01/27Kebo Iwa Patriot Indonesia.


[1] Makalah ini dibawakan dalam rangka “Bedah Buku dan Serasehan: Kebo Iwa antara mitos dan Fakta”, diselenggarakan  tgl 13 November 2011, di wantilan Bali TV, Denpasar.
[2] Cerita berikutnya, terutama yang bernomor,  diunduh 13 Sept 2011 dari  http:// ceritarakyat Indonesia.com.2009/01/27/Kebo Iwa Patriot Indonesia.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More