Cover Buku Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing

Hasil Buruan 27 tahun,Untuk mengumpulkan data" Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing

Poto Pak Made Masih Remaja

Poto tahun 1990, Bersama penglingsir Warga Sri Karang Buncing Jero Wayan Gede Oka (3 dari kiri) di depan "SUMUR UPAS" (dalam gubug), sumur diperkirakan dibuat oleh Ki Kebo Iwa oleh penduduk setempat disebut Kebo Suwo Yuwo.

Desa Adat Gamongan, Tiyingtali, Kecamatan Abang, Karangasem.

Foto Tahun 1992, bekas Pura Penataran Lempuyang

Pura Kuru Baya

Pura Kuru Baya terletak di barat Pura Gaduh, Blahbatuh. Pura ini tempat Ki Kbo Iwa mendapat wangsit bahaya, bahwasanya akan terjadi firasat buruk yang akan menimpanya. Tapi karena satya wacana dan mengemban tugas raja beliau akhirnya berangkat juga, maka terjadilah kenyataan pirasat itu dan beliau menemui ajal di tanah Jawa.

Pura Kawitan Blahbatuh

Pura Kawitan Yang terletak di barat daya Kota Gianyar

Bale Panjang Kebo Iwa

Bale Panjang Kebo Iwa di Jaba Pura Puseh Beda, Sudimara, Tabanan ,, dikisahkan dalam Prasasti Maospahit, bahwa bale ini dibuat untuk Kebo Iwa ,,, dimana dulunya sendi akhir berada jauh ke barat sekitar 300 meter ,,,

Simbol Penghulu Sri Karang Buncing

Simbol

Pak Made Lagi Jualan Buku

Pak made mempromosikan buku terbitan pertamanya

Pembuatan Tapel Kebo Iwa

Process pembuatan tapel Kebo Iwa berlokasi di gianyar oleh bapak Tjokorda

Jumat, 23 Desember 2011

Bab I Berbagai Upaya Mencari Hakikat Tuhan

Bab I
Berbagai Upaya
Mencari Hakikat Tuhan

Kerinduan umat beragama bertemu Tuhan, adalah suatu kemustahilan. Sesungguhnya umat beragama tidak bisa menghadirkan Tuhan dalam setiap upacara keagamaan yang dilakukan pada setiap saat dan di setiap tempat di dunia ini.Mungkinkah Tuhan akan menampakkan diri?

Sebagai wujud syukur atas karunia dan kerahasiaan Tuhan,seseorang hanya bisa meyakini dan memvisualisasikan Tuhan dalam pikiran, dan diaplikasikan wujud ketulus-ikhlasan dengan berbagai jalan dan budaya yang dihasilkan. Kenyataannya, Tuhan tetap tidak pernah tampak nyata dan sama rupa.

Kitab-kitab Upanisad menyatakan tidak ada definisi yang tepat untuk-Nya, Neti-Neti (Na+ iti, na+ iti), bukan ini, bukan ini. Dan masih banyak susastra agama-agama maupun aliran-alirannya yang memberikan interpretasi berbeda-beda dalam mencari hakikat ketuhanan.

Tuhan, Dewa, atau Hyang/Bhatara 

Di dalam mewujudnyatakan hakikat ketuhanan yang penuh rahasia ini, agama Hindu telah menguraikan tentang ketuhanan dalam kitab suci Veda. Di dalam kitab suci Veda, Tuhan Yang Maha Esa disebut dewa atau dewata. Kata ini berarti: cahaya, berkilau,sinar gemerlapan, yang semuanya itu ditujukan kepada manifestasi-Nya, juga ditujukan kepada matahari, langit, bulan, angin, api, petir,air, planet dan seluruh alam semesta, sebagai objek atau media penghubung kepada-Nya. Pengertian tentang Tuhan Yang Maha Esa, yang dikemukakan oleh Maha Rsi Vyasa, dikenal dengan nama Badarayana, dalam bukunya berjudul Brahmasutra (I.1.2) menyebutkan: Janmadyasya yatah yang diterjemahkan oleh Swami Siwananda sebagai berikut: Brahman adalah asal muasal dari alam semesta dan segala isinya (janmadi = asal, awal, penjelmaan dan sebagainya, asya = dunia/alam semesta ini, yatah = dari padanya).Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Brahman ini merupakan asal mula segalanya.

Dalam kitab suci Chandogya Upanisad IV.2 Ekam Eva Advitiyam Brahman artinya Tuhan satu tidak ada duanya, para bijaklah yang memberi nama atau abhisekanama yang berbeda-beda, seperti: Agni, Indra, Vayu, Apah, Yama, Aditya, Varuna, Prajapati, Om, dan sebutan dewata lainnya; seperti yang dinyatakan dalam kitab suci Rg Veda I.164.46. berikut ini:

Mereka menyebut-Nya dengan Indra, Mitra, Varuna dan Agni, Ia yang bersayap keemasan Garuda, Ia adalah Esa,para maharsi (viprah) memberinya banyak nama,mereka menyebut Indra, Yama, Matarisvan.

Lebih jauh disebutkan dalam kitab suci Yajurveda XXXII.1:

Sesungguhnya 
Ia adalah Agni, 
Ia adalah Aditya,
Ia adalah Vayu, 
Ia adalah Candrama, 
Ia adalah Sukra,
Ia adalah Apah, 
Ia yang Esa itu adalah Prajapati

Petikan dari mantram Yajurveda berikut mendukung pandangan bahwa Tuhan Yang Maha Esa memancarkan sendiri sinar-Nya,Yajurveda XL 17:

Spirit yang terdapat di matahari, 
Itu adalah Aku. Om (nama-Ku) memenuhi seluruh alam semesta ini. 

Dapat pula ditambahkan penjelasan tentang dewa tersebut diatas, yakni adanya empat dewa seperti yang disebutkan dalam kitab Taittiriya Upanisad sebagai berikut: 

Seorang ibu adalah dewa, seorang bapak adalah dewa,seorang guru adalah juga dewa dan para tamu pun adalah dewa.

Berkaitan dengan Istadevata dan Murtipuja, seorang penyembah yang tekun melakukan pemujaan kepada-Nya dengan menyembah dewata pujaannya dengan sarana arca yang disebut Adhikara. Kata Adhikara yang mempunyai pengertian yang sangat luas, diantaranya: yang berwenang, pemerintah, gelar, hak istimewa, pembenaran dan lain-lain adalah kebebasan untuk memilih disiplin dan jalan tertentu sesuai dengan kemampuan dan bakat atau kesenangannya, sesuai dengan sabda Sri Krsna dalam 

Bhagavadgita IV. 11:

Dengan jalan apapun ditempuh oleh umat manusia, semuanya menuju Aku, semuanya Aku terima, dari mana semua mereka menuju jalan-Ku, Oh Partha.

Bila kita mengkaji lebih jauh wujud dewa-dewa tersebut, dalam kitab suci Veda, dewa-dewa atau dewata itu digambarkan dalam berbagai wujud yang menampakkan sebagai “Yang Berpribadi” dan “Yang Tidak Berpribadi”. “Yang Berpribadi” aspeknya kita dapat amati, sentuh dan rasakan dari keterangan tentang dewa Indra, Vayu,Surya, Garutman, Ansa yang terbang di angkasa, dan sebagainya.Sedang “Yang Tidak Berpribadi”, antara lain sebagai Om (Omkara/Pranawa), Sat, Tat, dan lain-lain.

Kini timbul pertanyaan, bila dewa-dewa dan dewi-dewi demikian rupa, bagaimana halnya dengan bhattara dan bhattari dan avataraavatara-Nya yang sangat populer di Bali? Kata bhattara dalam bahasa Sanskerta berasal dari kata batta (bhattr) yang artinya yang melindungi, tuan, raja. Jadi istilah atau nama dewa-dewi dan bhattara-bhattari sebenarnya identik, karena fungsi dari dewa-dewi adalah untuk melindungi umat.

Dalam sejarah Bali-Kuno, istilah Bhatara dan Hyang muncul dalam prasasti Trunyan A1, tahun Saka 813/891 Masehi zaman pemerintahan Sri Ksari Warmadewa meyebutkan bhatara da tonta.prasasti Sembiran A1, tahun Saka 844/922 Masehi, dizaman pemerintahan Sri Ugrasena, menyebutkan bhatara punta hyang (Goris R, 1954:56,67); serta prasasti Pengotan tahun Saka 991/1069 Masehi, di zaman pemerintahan Sri Haji Anak Wungsu menyebutkan: paduka haji anak wungsu kalih bhatari lumah ing burwan, bhatara lumah ing banu wka, yang berarti raja Anak Wungsu serta Bhatari yang dicandikan di Burwan dan Bhatara yang dicandikan di Air Wka/Gunung Kawi (Budiastra, Putu. Museum Bali, 1978).

Kata Hyang berasal dari bahasa Jawa-Kuno (Zoetmulder, P.J., 1984:373) berarti dewa, dewi, yang dipuja sebagai dewa, Tuhan,dewa yang khusus bertalian dengan tempat. Istilah hyang muncul dalam prasati-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Bali-Kuno,berisi supata (sumpah) yang ditujukan di hadapan Hyang Api (dewa api), Puntha Hyang (dewa resi), Hyang Danawa (dewa danau),Hyang Gunung (dewa gunung), Hyang Bukit Tunggal (dewa bukit tunggal), Hyang Tegeh (dewa puncak penulisan), Hyang Karimana (dewa karimana), Hyang Da Tonta (Ratu Sakti Pancering Jagat),adalah sebutan dewa tertinggi yang diyakini berkuasa di wilayah sekitarnya.

Sebelum piagem (prasasti) tersebut disosialisasikan ke masyarakat, umumnya prasasti itu akan di-supata di hadapan ida bhatara/dewa yang berstana di pura tersebut, serta dihadiri para pendeta siwa, buda, kubahyan, senapati, samgat, caksu, para nayaka, dan para juru lainnya. Supata kemungkinan menjadi pasupati adalah suatu prosesi magis memohon spirit/roh dari kekuatan alam untuk menyatu dengan benda yang akan disucikan, sebagai simbol kebersamaan yang dilakukan saat itu. Dalam piagem selain berisi aturan-aturan yang telah disepakati bersama, juga berisi kutukan yang dimohonkan hukuman yang datangnya dari segala arah bagi yang tidak mengindahkannya. Menurut keyakinan masyarakat Hindu, kutukan ini sangat ditakuti dan dihormati sampai saat kini.

Beberapa Media Penghubung

Beberapa konsep yang dipakai oleh umat Hindu di Bali sebagai media penghubung dalam mencari hakikat Tuhan Yang Maha Esa/ Hyang Widhi Wasa antara lain:

Memuja langsung alam semesta

Perkembangan peradaban manusia yang pada awalnya meyakini alam semesta dan hasil ciptaan-Nya, seperti: Aditya (dewa matahari),Agni (dewa api), Apah (dewa air), Candra (dewa bulan), Yama (dewa maut), Varuna (dewa langit), Sukra (dewa planet venus),Indra (dewa penguasa), Vayu (dewa angin), Maruta (dewa angin),Soma (dewa bulan), Om (aksara suci), serta manifestasi lain adalah sebagai media penghubung dalam pencaharian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang diucapkan oleh orang-orang suci pada zaman dahulu.

Yang dipuja bukan benda atau alat itu, tapi misteri/spirit yang ada dibalik benda itu, yaitu: ada asal muasal, ada kehidupan, ada keindahan, ada kekuatan, ada keajaiban, ada manfaat, dan ada unsur-unsur lain yang mengikuti. Orang-orang bijak memberikan patokan hari-hari tertentu sebagai wujud syukur dan terimakasih umat kepada-Nya, misalnya: tumpek wariga, adalah hari memuliakan Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa sangkara, sebagai dewa tumbuh-tumbuhan yang sangat bermanfaat dalam kehidupan ini.

Kita tidak tahu dari mana asal muasal keberadaannya, kapan dan siapa yang menciptakan keanekaragaman, tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia dan seluruh isi alam semesta ini. Umat Hindu di Bali, dalam upacara persembahyangan memakai sarana bunga, memuja Aditya/Raditya (matahari), manifestasi Tuhan sebagai Dewa Surya adalah aspek Tuhan sebagai saksi, pemberi penerangan di kegelapan, disamping memberikan spirit (roh) ke alam semesta ini.

Melalui arca, ‘pratima’, gambar, upakara 

Seseorang disamping memuja langsung hasil ciptaan-Nya, juga menggunakan nyasa/simbol-simbol tertentu. Simbolisme religius akan menghasilkan kreatifitas seni dan budaya yang religius pula. Benda-benda alam sebagai manifestasi perwujudan-Nya, yang disucikan, diupacarai, dan dipuja-puji, diyakini bisa menghasilkan nilai magis/gaib yang tidak bisa dipecahkan oleh akal sehat dari pikiran manusia.

Para Maha Rsi Hindu zaman dahulu bersifat konsisten melakoni kehidupan wanaprasta, yaitu menjalani kehidupan dengan melepaskan keterikatan-keterikatan pemuasan jasmani dalam proses pencaharian jati diri terhadap Tuhan, sehingga hasil perenungan para resi zaman dahulu, diwujud-nyatakan ke dalam bentuk seni dan diaplikasikan sifat dan fungsi Tuhan dalam bentuk; arca, gambar, pratima, upakara, bahasa, tari wali. Yang mempunyai nilai estetis, nilai simbolis, dan nilai spiritual. Seperti apa yang telah diwariskan oleh para leluhur kita terdahulu, misalnya; sifat dan fungsi Tuhan sebagai pembasmi kejahatan tampak tangan arca disimbolkan membawa kapak, fungsi Tuhan sebagai asal ilmu pengetahuan tampak tangan arca disimbolkan membawa lontar, sifat Tuhan sebagai penyejuk tampak tangan arca membawa sibuh (tempat tirta), serta diwujudkan dan digambarkan dengan banyak tangan sesuai fungsi dan kebesaran-Nya.

Demikian pula simbol-simbol yang terdapat dalam upakara bebantenan misalnya; daksina lambang stana Ida Hyang Widhi/Tuhan. Sedangkan banten guru piduka adalah mengandung nilai permohonan maaf umatnya. Banten porosan yang terdiri dari pinang yang berwarna merah simbol Dewa Brahma, daun sirih yang berwarna hijau simbol Dewa Wisnu, dan kapur yang berwarna putih simbol Dewa Siwa. Dengan demikian alam semesta sebagai hasil ciptaan-Nya adalah sakti-Nya Tuhan. Melalui ajaran agama atau sekte dijabarkan tentang hakikat ketuhanan tersebut. Kata sekte/agama adalah kelompok orang yang mempunyai kepercayaan akan pandangan agama yang sama, yang berbeda dari pandangan agama yang lazim diterima oleh para penganut agama tersebut, misalnya: sekte siwa, sekte bhuda, sekte waisnawa, sekte sakta, sekte indra,sekte bhairawa, sekte surya dan lain-lain. Yang mempunyai jalan dan identitas diri masing-masing, yaitu; ada istadewata (dewa pujaan),ada kitab suci, tempat ibadah, orang-orang suci, hari-hari suci, sarana yang dipakai, dan ada pengikutnya.

Dengan demikian seseorang yang ingin mengetahui hakikat dan kebesaran Tuhan ialah dengan jalan menjadi pengikut dari salah satu sekte/agama yang dianggap resmi oleh pemerintahan disaat itu yang diyakini menjadi penuntun dalam kehidupan ini. Dimana para Brahmana dari sekte tersebut dipercaya sebagai penerima wahyu atau sebagai penghubung dari alam niskala ke sekala begitu pun sebaliknya. Disamping sebagai pengajar dan menyebarkan agama Hindu dalam rangka pembinaan mental spiritual, juga peranan tokoh agama dalam bidang pemerintahan khususnya sebagai guru spiritual yang memberikan nasehat kepada raja, baik tentang ilmu pemerintahan, ilmu dialektika, ilmu tentang atman dan lain-lain

Melalui animisme dan dinamisme

Setelah agama Hindu masuk di Bali, para penyebar (misionaris) agama Hindu sebegitu jauh hanya berhasil meng-Hindu-kan agama orang-orang Bali-Aga (aga = gunung, orang Bali yang tinggal di pegunungan) dan Bali-Mula (orang Bali yang hidup sebelum masuknya agama Hindu), namun belum secara tuntas mengubah keyakinan penduduknya. Hal itu disebabkan sampai saat kini keyakinan masyarakat setempat lebih berdasarkan kepada kepercayaan lokal (local genius) yang telah diwariskan oleh para tetua mereka terdahulu, yaitu percaya dengan adanya roh/atma (butir ke 2 dari Panca Sradha) dan kekuatan alam sekitarnya, yang menjadikan mereka tunduk dan taat padanya.

Dalam filsafat ketuhanan disebut animisme dan dinamisme, adalah suatu keyakinan segala sesuatu di alam semesta ini didiami dan dikuasai oleh roh (asal kata rauh) yang berbeda-beda. Dan mempunyai kekuatan alami dari masing-masing benda itu, baik roh para dewa, roh leluhur, roh hewan, dan roh seluruh benda yang bergerak dan tidak bergerak, bahkan dengan perkataan lain, semua benda berjiwa.

Melalui tari wali Barong dan Rangda 

Dalam pementasan tari wali Barong dan Rangda, terjadi kejarkejaran antara rangda dengan puluhan pepatih (orang yang kerasukan kelompok bhuta) yang menghunus sebilah. Secara filosofis artinya terjadi pergolakan didunia ini, antara dunia nyata dengan dunia maya atau antara aspek air dengan aspek api.

Aspek air adalah sumber kehidupan dan akan ada kehidupan,memunculkan sifat-sifat kebatilan, yang penuh keangkara-murkaan,kebuasan, kerakusan, keberutalan dan sifat keterikatan dunia nyata lainnya, yang dipakai simbol pemersatu adalah Barong.

Kata barong berasal dari bahasa sanskerta yaitu dari kata Bhairawa (Zoetmulder, PJ. 1994:123), artinya menakutkan, mengerikan,penganut aliran bhairawa, bentuk Siwa yang mengerikan. Akibat pengaruh evolusi bahasa dari satu tempat ke tempat lain, kata bhairawa diucapkan berulang-ulang sesuai dengan bahasa setempat menjadi berawo // lafal huruf “O” diucapkan, ditegaskan tersirat mendapat konsonan “ng” diakhir ucapan menjadi brerong (raja hutan) // dari kata brerong diucapkan berulang-ulang sesuai dengan bahasa setempat menjadi barong, dalam arti, isi dunia yang penuh mengerikan dan menakutkan yang dipenuhi sifat-sifat kebinatangan,seperti keangkaramurkaan, kebuasan, ketamakan, kedahsyatan, dan sifat kebatilan lainnya. Di daerah Mengwi terdapat sebuah pura yang namanya pura Dalem Brerong dan di daerah Jimbaran, Kuta Selatan,seseorang yang kerauhan menyebut diri ngayah Waduk Brerong,disamping kerauhan lain seperti tersebut diatas. Wujud Barong tidak lebih sebagai binatang mithologi yang dikaitkan dengan wahana dari aspek manifestasi Tuhan.

Sedangkan aspek api adalah tidak ada kehidupan atau tak ada bentuk di dalam api, dalam arti, hidup penuh pantangan-pantangan,eksesnya, akan menimbulkan ketenangan, kesabaran, kebenaran dan tidak keterikatan dunia materi, Rangda simbol sifat ini. Kata Rangda berasal dari bahasa sanskerta yaitu randa. Dalam pengucapan kata randa, huruf ‘N’ tersirat diikuti konsonan ‘Ng’ diakhir pengucapan menjadi Rangda. Secara etimologi kata Randa, berasal dari urat kata Ra dan anda. Ra singkatan dari Raditya artinya Matahari,api, panas. Anda adalah bola dunia, telur. Jadi arti Rangda adalah dunia api/bola api/panas Makanya suara tari Rangda bagaikan air ‘ngerodok’ (air panas yang lagi mendidih). Karena tubuh manusia sebagai mediator ke alam kosmis yang sebagian besar tergantung dengan air (kelompok bhuta), lalu dipinjam badan raganya oleh api (kelompok dewa), pertemuan antara air dan api menjadi mendidih (Bahasa Bali: ngerodok) dan menguap menyatu dengan udara, terus ke Akasa/Tuhan. Orang yang kerauhan Rangda pasti minta api lalu dikulum sebagai penyeimbang tubuhnya. Juga ornament atau simbol api banyak terdapat pada tari Rangda. Kata Rangda dalam kamus Jawa Kuna oleh Zoetmulder (1994:918) berarti: laki-laki yang wafat tanpa keturunan laki-laki, duda, janda tua dalam rumah tangga istana, pengkhianat, kata cacian untuk menyapa wanita, pohon randu. Dalam penggambaran seseorang, bahwa roh manusia itu akan menjadi bermacam-macam wujud rangda, leak barak, leak poleng, gregek tunggek, lelendi dan lain-lain yang menyerupai manusia.

Pengalaman seseorang sehabis kerauhan bhuta (penari keris) mengatakan, dengan kemarahan yang sulit dikendalikan, mengejar Rangda dan begitu berbalik menghadang penari keris, seolah-olah api menyambar dihadapannya, bagaikan disambar petir. Dalam kehidupan sehari-hari memaknainya dengan jalan pitra yadnya, resi yadnya padiksan, tapa brata yoga semadi, japa mantra nama-nama Tuhan, dan menjalani ajaran agama dengan taat, ikhlas, dan tepat.

Sedangkan pepatih (penari keris) disimbolkan keterikatan nafsu indriawi, mengejar Rangda disimbolkan sebagai pembakar atau pelebur keterikatan duniawi sebelum menuju ke alam Siwa/Tuhan. Atau dengan perkataan lain binatang itu harus berinkarnasi menjadi manusia terlebih dahulu baru bisa menuju alam Tuhan.
Makanya ada idiom di masyarakat tentang manusia itu dewa ya, bhuta ya. Adalah suatu konsep peleburan atau pengembalian unsurunsur panca tan matra (lima zat halus yang belum berukuran) yang menyatu dengan panca maha bhuta (lima materi pokok dunia) yang saling keterikatan dan lebur menyatu, mulai dari pertiwi (benda padat) kembali ke apah (benda cair), dari apah kembali ke teja (benda panas), dari teja kembali ke vayu (udara, angin), dan dari vayu kembali ke akasa (suara, bunyi, sabda Tuhan) dan kebalikkan dari akasa, vayu, teja, apah, pertiwi, adalah proses penciptaan Tuhan (Donder, 2007:137).

Makna kerauhan bhuta (penari keris) menusuk dirinya sebagai simbol ‘bunuhlah’ sifat keterikatan yang ada dalam diri kita, dalam proses pencarian jati diri. Dengan pemuasan jasmani akan terjadi ketergantungan antara jiwa yang satu dengan jiwa yang lain, dan saling tarik menarik, mengakibatkan karma/dosa, akhirnya terjadi reinkarnasi/kelahiran berulang-ulang, ibarat air akan selalu mengalir ke bawah karena ditarik oleh beratnya dosa-dosa yang dilakukan di masa kehidupan lalu. Sedangkan dengan pengekangan indria hawa nafsu, lepas dari keterikatan duniawi, tubuh akan semakin ringan,ibarat api akan selalu naik ke atas menyatu dengan Tuhan/Hyang Widhi, Bawa (dalam Skripsi 2009:31).

Melalui organ gerak yang ada dalam tubuh

Pencarian terhadap Tuhan juga bisa dilakukan ke dalam diri,ibarat Tuhan ada dalam diri manusia itu sendiri, yaitu dengan menarik suatu kesimpulan dari penggabungan panca tan matra (lima zat halus) dengan panca maha bhuta (lima materi pokok) yang berhubungan dengan lima organ gerak yang ada dalam tubuh manusia yaitu:
(1) Ganda Tan Matra menghasilkan Pertiwi (Dewa Bumi) atau benda padat pada panca maha bhuta yang berhubungan dengan bau yaitu “hidung” pada organ tubuh manusia.

(2) Rasa Tan Matra menghasilkan Apah (Dewa Air) atau benda cair berhubungan dengan cicip yaitu “mulut” pada tubuh manusia.Air akan menghasilkan berbagai rasa yang ditimbulkan oleh tanah, berupa hasil bumi menjadi makanan yang mengandung rasa asin, pedas, pahit, manis, dan sebagainya.

(3) Rupa Tan Matra menghasilkan teja (Dewa Agni/Api) atau cahaya, yang berhubungan dengan “mata” pada manusia.Pengalaman seseorang, suatu saat melihat siluet ada kehidupan di suatu tempat, melihat ada pasar, ada puri, atau penampakan dan tanda-tanda alam lainnya yang tidak dapat dipecahkan oleh akal sehat.

(4) Sparsa Tan Matra yang menghasilkan vayu (Dewa Angin) atau udara, berhubungan dengan “kulit” pada organ tubuh manusia.Para pencari pencerahan rohani akan merasakan bulu kuduk berdiri, tubuh terasa dingin, bisa sampai menangis, bergetar,kalau tak kuasa diri bisa kerauhan (trance).

(5) Sabda Tan Matra yang menghasilkan akasa (Dewa Langit) atau suara, ether, gas yang berhubungan dengan “telinga” pada organ manusia adalah “metode tertinggi” yang dicari oleh para Maha Rsi Hindu zaman dahulu yaitu Sabda Tuhan (Bahasa Bali: pawisik), sumber dari kitab suci Veda.

Melalui pendekatan pertapaan para raja 

Raja-raja Bali setelah akhir masa pemerintahanya melakukan kehidupan wanaprasta. Pertapaan mereka dicandikan, sangat disucikan oleh umat Hindu. Seorang raja diyakini sebagai titisan dewa. Rakyat meyakini seorang raja akan meniru sebagian kebajikan sifat dewa-dewa. Disamping vibrasi/spirit dari para raja yang masih terasa di saat upacara keagamaan melalui kerauhan tetua warga,dalam  penyampaian pesan dan kesan dari roh raja yang merintis jejak awal keberadaan suatu tempat suci tersebut.

Sistem pemerintahan pada masa Bali-Kuno, maupun pada masa Bali Pertengahan, seorang raja memiliki kekuasaan mutlak dan tidak terbatas, yang semula bersifat demokratis paternalistis, menjadi otokratis, menjamin tegaknya otoritas seseorang untuk menjadi penguasa turun temurun. Pada masa itu hanya kaum Brahmana dan kaum Ksatria yang berhak mempelajari isi kitab suci Weda, sedangkan rakyat jelata yang tidak termasuk dalam “keluarga berkasta” atau “berkasta tinggi” diperlakukan kurang adil,segala miliknya, yaitu pribadi, anak-anaknya, jiwa dan tenaganya,adalah milik raja. Begitu lahir, mereka sudah langsung menyandang nasibnya sebagai “sudra”, orang yang berkasta rendah. Bhagavadgita (IV.13) secara tegas menyebutkan:

Catur varnyam maya sristam
guna karma vibhagasah
tasya kartaram api mamm
Viddhy akartaram avyayam.

[Catur warna Aku ciptakan, menurut pembagian guna dan karma (sifat dan pekerjaan), Tetapi ketahuilah, meskipun Aku penciptanya,Aku mengatasi gerak dan perobahan.]

Dengan demikian pembagian warna sesungguhnya ditentukan oleh sifat (bakat) dan pekerjaan seseorang, bukan oleh kelahirannya seperti dalam sistem kasta. Mengambil analogi dengan mitos kelahiran warna tersebut, dapat pula dikatakan setiap orang adalah Brahmana, Ksatria, Wesya, dan Sudra. Hanya gradasi pekerjaannya kemudian yang membedakan dia lebih disebut sebagai Brahmana (kaum ulama), Ksatria (pertahanan dan pemerintahan), Waisya (petani dan pedagang), atau Sudra (pelayan dan buruh). Catur warna dalam kitab-kitab sejarah sering dicampur-adukkan dengan pengertian kasta. Ketaatan warna sudra dengan warna Brahmana,misalnya, seolah-olah terjadi karena perbedaan kelas, bukan dilihat dari fungsi sosialnya di masyarakat Hindu (Ketut Wiana, dkk.1993).

Setelah Kerajaan Badhahulu dengan rajanya yang bergelar Sri Astasura Ratna Bumi Banten, dikalahkan pada tahun 1343 M oleh kerajaan Majapahit, dan tapuk pemerintahan di Bali setelah itu dipimpin raja Sri Kresna Kepakisan bersama para Arya Majapahit, semenjak itulah sistem warna perlahan-lahan berubah menjadi sistem wangsa-wangsa yang secara umum dapat disebut sebagai sistem kasta khas Bali, kemudian dikelompokkan sebagai Ksatria dan Wesya dalam sistem kasta.

Danghyang Nirartha, yang datang ke Bali tahun 1550 di zaman pemerintahan Raja Dalem Batur Enggong dan Danghyang Astapaka, menurunkan wangsa Brahmana, yang kemudian juga dikelompokkan ke dalam kasta Brahmana. Sementara keturunan raja-raja Bali-Kuno dan kesatria Bali-Aga atau Bali-Mula yang dikalahkan, nyaris tidak berhak menyandang ketiga kasta tersebut, kecuali mereka yang diperlukan wibawanya dalam menjaga stabilitas pemerintahan yang baru, disebut arya. Yang lain dikelompokkan sebagai sudra yang kemudian menyebut diri sebagai “jaba” (luar), yang berarti diluar kasta Brahmana, Ksatria, dan Wesya.

Sebelumnya sebutan seorang raja memakai gelar nama-nama dewa dan setelah Bali ditaklukkan, nama-nama dewa diganti menjadi nama-nama wangsa/keturunan. Begitu pula dengan keyakinan umat, yang pada awalnya bekas peninggalan para resi dan para raja yang dicandikan serta prasasti-prasasti yang dihasilkan diyakini sebagai tempat penghayatan terhadap Tuhan.

Candi-candi dibangun untuk menghormati arwah para raja,istri dan anak-anaknya yang sudah meninggal. Misalnya untuk menghormati arwah raja Sri Ugrasena Warmadewa dicandikan di Ermadatu, Raja Sri Dharmodayana Warmadewa dicandikan  Banyu Wka. Raja Sri Marakata dicandikan di Camara. Sri Aji
Hungsu dicandikan di Jalu (Gunung Kawi), Tampaksiring. Istri raja Sri Aji Hungsu yang disebut Bhatari Mandul dicandikan di Gunung Penulisan. Sri Mahendradatta Gunapriyadharmapatni,permaisuri Sri Dharmodayana dicandikan di Pura Durga Kutri,Buruan, Blahbatuh. Raja Sri Jaya Pangus dicandikan di pertapaan Dharma Anyar, sekarang disebut Pura Pengukur-ukuran, di Desa Sawah Gunung, Pejeng, Gianyar.

Dan Pura Sarin Bwana adalah bekas pertapaan Sri Batu Putih (Dalem Putih) saudara kandung Sri Batu Ireng (Dalem Selem, Sri Astasura Ratna Bumi Banten, Sri Tapa Hulung) yang terletak di Desa Adat Jimbaran, Kuta Selatan, Badung. Disamping itu, sumbersumber prasasti sering menyebut nama-nama tempat suci tetapi belum jelas siapa yang dimakamkan atau dicandikan disana, seperti sang lumah ri Bwah rangga, ri Banu Palasa, ri Candri Manik, I Air Talaga, sang lumah ing Guha.

Sedangkan Pura Lempuyang yang terletak di Desa Adat Gamongan, Tiyingtali, Karangasem, sekarang disebut Pura Lempuyang Madya adalah bekas tempat pertapaan raja Sri Jaya Sakti, menjadi raja Bali tahun Saka 1055/1133 Masehi. Setelah akhir masa pemerintahan, ia melakukan wanaprasta atau mendirikan pedharman (tempat suci) di Gunung Lempuyang sesuai tertulis dalam Prasasti Pura Puseh Sading, Kapal, Badung. Kenyataan ini didukung oleh salinan Lontar Piagem Dukuh Gamongan, milik Ida Padanda Gede Jelantik Sugata dari Griya Tegeh Budakeling,Karangasem – alih aksara oleh I Wayan Gede Bargawa – dan
beberapa lontar lain milik Desa Adat Gamongan, menjelaskan:

Pada tahun Saka 1072/1150 Masehi, bulan Hindu kesembilan, pada tanggal duabelas bulan paro terang, wuku julungpujut, pada hari itulah saatnya Sri Paduka Sri Maharaja Jaya Sakti menyidangkan para senapati, terutama para rakyan Mahapatih dan para Tandra Mantri di balai istana raja untuk memperbincangkan hasrat baginda Sri Maharaja Jaya Sakti bersama permaisurinda, hendak beranjangsana ke desa-desa di Bali yang ada di Gunung Karang, adapun minat baginda datang kesana, oleh karena melaksanakan tugas perintah dari ayahanda yaitu Sanghyang Guru, yang hendaknya supaya mendirikan Tempat Suci (pedharman) di Gunung Lempuyang. Dan setelah itu, pertapaan dilanjutkan oleh anaknya yang pertama yaitu Sri Gnijaya, menjadi raja di Bali tahun 1150-1155, dilanjutkan oleh adiknya Sri Gnijaya yaitu Sri Maha Sidhimantra Dewa, dan dilanjutkan oleh anaknya Sri Maha Sidhimantra Dewa yaitu Sri Indra Cakru, menjadi raja Bali tahun 1250. Pertapaan dilanjutkan oleh anaknya Sri Indra Cakru yaitu Sri Pasung Grigis. Karena ia tidak menikah (nyukla brahmacari) dan tidak mempunyai keturunan, diangkatlah keponakannya, yaitu Sri Rigis (anak Sri Jaya Katong) untuk ngamong (bertanggung jawab) di Desa Gamongan, Gunung Lempuyang. Sri Rigis selanjutnya diganti oleh anaknya yaitu Sri Pasung Giri. Anak Pasung Giri, yaitu Dukuh Sakti Gamongan meneruskan pertapaan ini.

Candi-candi bekas peninggalan para raja Bali, pada perkembangan selanjutnya beralih fungsi menjadi sebuah pura yang menjadi sungsungan umat Hindu di Bali.

Dalam data sejarah terdapat beberapa interpretasi yang berbeda mengenai pendiri awal Pura Lempuyang Madya, antara Mpu Gnijaya dengan Sri Gnijaya. Mpu Gnijaya adalah seorang rohaniwan dari Jawa, tiba di Bali tahun 1049 Masehi, sedangkan Sri Gnijaya adalah seorang raja Bali tahun 1150 Masehi. Karena sama-sama menyandang nama Gnijaya, akhirnya keduanya mengklaim sebagai pendiri Pura Lempuyang Madya.

Muncul pula argumentasi lain yang bertentangan antara Mpu Kuturan dengan Senapati Kuturan. Menurut babad, Mpu Kuturan adik kandung Mpu Gnijaya tiba di Bali zaman pemerintahan Sri Udayana tahun Isaka 923/1001 Masehi dan ia datang lebih awal dari kakaknya Mpu Gnijaya tahun Isaka 971/1049 Masehi. Jadi
tenggang waktu 48 tahun Mpu Gnijaya baru tiba di Bali.

Mpu Kuturan adalah seorang brahmana berasal dari Jawa,sedangkan Senapati Kuturan adalah jabatan mahapatih kerajaan Bali-Kuno yang bertanggung jawab di wilayah Kuturan, bukan nama yang menjabat. Misalnya, sang senapati kuturan mpu wahita artinya sang mahapatih di wilayah kuturan yang terhormat bernama Wahita.Terdapat beberapa jabatan senapati (mahapatih, punggawa) yang dikenal pada masa pemerintahan Bali-Kuno antara lain: Senapati Kuturan, Senapati Balembunut, Senapati Dinganga, Senapati Denda,Senapati Sarbwa, Senapati Waransi, Senapati Mahiringin, Senapati Wrasanten. Kuturan adalah nama wilayah/daerah sudah tentu nama pejabatnya pun berbeda-beda sesuai zamannya.

Di zaman pemerintahan raja-raja Bali-Kuno terdapat 18 Senapati Kuturan dengan berlainan nama pejabat, mulai zaman pemerintahan raja Sri Udayana tahun Isaka 915/993 Masehi (Prasasti Serai) sampai zaman pemerintahan raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten tahun Isaka 1259/1337 Masehi (Prasasti Langgahan). Jadi selama 344 tahun istilah jabatan Senapati Kuturan masih dipergunakan dalam sistem pemerintahan raja-raja Bali-Kuno dengan berbagai nama yang menjabat. Beberapa perbedaan versi ini akan disajikan pada halaman lain dalam tulisan ini.

Memuja Tuhan Melalui Leluhur 

Kerajaan Badhahulu yang tertulis selama ini menjadi beda hulu (berselisih dengan pusat/Majapahit) dan beda muka (raja berkepala babi) oleh para penekun sastra dan para sejarawan, membawa dampak kebingungan bagi generasi muda Hindu yang ada di Bali. Dengan menyatunya Hindu Majapahit dengan Hindu Bali yang dimediasi oleh Danghyang Nirartha memperkokoh kemBali-Agama dan budaya Hindu yang pernah berjaya di bumi Nusantara ini.

 Dalam kitab Nagara Kretagama oleh Slamet Mulyana, pupuh nomor 14 dan 79, Negara Kertagama oleh Megandaru W. Kawuryan (2006:184), serta salinan lontar Piagem Dukuh Gamongan, milik Ida Pedanda Gede Jelantik Sugata, Griya Tegeh Budakeling, dialih aksara oleh I Wayan Gede Bargawa, halaman 12, secara jelas tertulis Badhahulu. Tapi para alih aksara dan penterjemah lain, sengaja mengganti huruf ”a” awal diganti dengan huruf ”e”, sehingga menimbulkan beda arti dari para pembaca (Riana, 2009:100,377).

Badhahulu berasal dari bahasa Jawa-Kuno, badha dan hulu. Badha artinya tempat, rumah, istana. Hulu artinya kepala, raja, pusat pemerintahan. Jadi Badhahulu adalah istana raja, pusat pemerintahan, dengan rajanya bergelar Sri Astasura Ratna Bumi Banten (Asta=delapan, Sura=dewa, Ratna=permata, Bumi Banten=Tanah Bali) artinya raja yang membawahi delapan wilayah kekuasaan pemeritahan di jagat Bali pada era itu, yaitu; Jimbaran,Badung, Tabanan, Buleleng, Bangli, Karangasem, Kelungkung,Mengwi (Narendra Dev Pandit Shastri, Sejarah Bali Dwipa, 1963). Salinan lontar Piagem Dukuh Gamongan, menyebutkan secara tersirat, Badhahulu artinya, maka hulu hulu banda desa sajagat Bangsul artinya, sebagai kepala/pusat pemerintahan dari masingmasing kepala desa yang ada di bumi Bali pada zaman itu.

Dalam salinan lontar Piagem Dukuh Gamongan, Purana Bali Dwipa, Mandala Wisata Samuan Tiga, Blahbatuh, Gianyar, serta Usana Bali, secara tegas menyebutkan bahwa pusat kraton raja patih Sri Jaya Katong, Raja Masula-Masuli sampai Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten terletak di daerah Batahanyar (istana baru) yang diduga kemudian menjadi nama Kabupaten Gianyar. Di Batahanyar sekarang tempat ini berdiri sebuah pura dengan nama Pura Samuan Tiga di Desa Bedulu, Gianyar. Orang-orang dari Jawa menyebut Badhahulu kemungkinan karena tidak tahu nama desa tempat kerajaan Astasura Ratna Bumi Banten, Raja akhir Bali-Kuno pada saat itu.

Dalam prasasti-prasasti Bali-Kuno tidak ditemukan Raja Astasura Ratna Bumi Banten dengan maha patih kerajaan bergelar Kebo Iwa berselisih paham (Bedahulu) dengan kerajaan Majapahit dengan maha patih kerajaan Gajah Mada. Seandainya kerajaan Badhahulu berselisih paham dengan kerajaan Majapahit, mungkinkah Kebo Iwa mau datang ke Jawa? Prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten, secara administratif Senapati (mahapatih) kerajaan Batahanyar pada era itu adalah Senapati Kuturan Makakasir Mabasa Sinom (prasasti Langgahan Saka 1259/1337 Masehi). Skema silsilah Sri Karang Buncing, Sri Kebo Iwa misan mindon dengan Sri Astasura Ratna Bumi Banten berasal dari turunan Sri Maha Sidhimantradewa. Sri Kebo Iwa tapeng dada kerajaan Batahanyar yang mewilayahi Blahbatuh, desa paling dekat dengan pusat pemerintahan, disamping dibantu oleh para senapati Bali lainnya.

Dalam pamancangah dari Bali, setelah Mahapatih Kebo Iwa wafat karena kena pangindra jala (perangkap) oleh Mahapatih Gajah Mada, akhirnya pada tahun 1343 para Arya Majapahit menyerang pulau Bali, yang saat itu dijaga oleh para patih kerajaan Bhadahulu antara lain, Ki Pasung Grigis di Tengkulak, Si Gudug Basur di Batur, Si Kala Gemet di Tangkas, Si Girimana di Ularan, Si Tunjung Tutur di Tenganan, Si Tunjung Biru di Tianyar, Ki Tambyak di Jimbaran, Ki Bwahan di Batur, Ki Kopang di Seraya, Ki Walung Singkal di Taro, Ki Agung Pemacekan sebagai Demung

Penyerangan terbagi menjadi tiga arah: dibawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada menuju wilayah Bali Timur dibantu oleh para patih dan para arya lainnya mendarat di Tianyar. Arya Damar dan Arya Sentong, Arya Kutawaringin mendarat di Bali Utara. Arya Kenceng, Arya Belog, Arya Pangalasan, Arya Kanuruhan, mendarat di pantai Bali Selatan dan menuju ke Kuta. Tidak diungkapkan dahsyatnya pertempuran pada ketiga wilayah tesebut.

 Dalam masa transisi pemerintahan dari kerajaan Bhadahulu ke kerajaan Majapahit, dari tahun 1343 sampai tahun 1352 masih terjadi pemberontakan. Orang-orang Bali-Kuno masih melakukan perlawanan. Selama sembilan tahun masa transisi pemerintahan terjadi 30 kali pemberontakan, tersebar di Pulau Bali. Untuk menengahi atau mengisi kekosongan pemerintahan, sebelum ditunjuk raja baru yaitu Sri Kresna Kepakisan, maka diangkatlah seseorang dan diberi anugrah jabatan Kyayi Agung Pasek Gelgel. Yang menjadi pertanyaan, siapakah Kyayi Agung Pasek Gelgel? Mungkinkah ia berasal dari Jawa untuk menengahi perselisihan antara Bali dengan Majapahit?

 Dalam Kamus Jawa-Kuno oleh Zoetmulder (1995:786), kata Pasek berarti, pemberian, anugrah, hadiah. Seandainya Kyayi Agung Pasek Gelgel itu berasal dari Jawa semestinya ia disebut Arya, karena ia berperan penting menjadi pemimpin di dalam menengahi konflik transisi pemerintahan akhir Bali-Kuno. Setelah Danghyang Nirartha datang, sebutan Arya dikenal menjadi Gusti dan berubah sebutan setelah datangnya penjajahan Belanda.

Dengan adanya konsep pemujaan Tuhan melalui leluhur Bhatara Hyang Kawitan sehingga banyak orang-orang Bali-Mula masuk dalam satu garis keturunan Warga Pasek, misalnya: kubahyan, tangkas, bendesa, karang buncing dan warga Bali-Mula lainnya. Warga Bali-Mula yang diperlukan wibawanya dalam menjaga stabilitas pemerintahan yang baru disebut arya. Misalnya,Sri Giri Ularan Putra dari Sri Rigis menjadi mahapatih (senapati) di kerajaan Dalem Batur Enggong menjadi Arya Ularan (Gusti Ularan), Keturunan Sri Karang Buncing menjadi Arya Karang Buncing, Gusti Karang Buncing. Sri Rigis menjadi Arya Rigis, Sri Pasung Giri menjadi Arya Pasung Giri, Si Tunjung Tutur menjadi Arya Tunjung Tutur, Si Tunjung Biru menjadi Arya Tunjung Biru. 

Pertanyaan lainnya, apa interelasi spiritual antara Gotra Pasek (Kyayi Agung Pasek Gelgel) dengan Catur Lawa yaitu 4 (empat) kelompok tugas yang bertanggung jawab terhadap kelancaran upacara di Pura Penataran Besakih yaitu Dukuh, Pasek, Pande,Penyarikan, mungkinkah mereka ini keturunan Bali-Kuno? Pada era itu sistem pemerintahan ditentukan oleh fungsi (bakat) dan pekerjaan seseorang bukan ditentukan oleh kelahirannya seperti dalam sistem soroh (klen, kasta). Ada bagian yang mengurus tentang surat menyurat, bagian perlengkapan upakara, bagian yang berwenang tentang simbol suci Tuhan atau pendeta yang memimpin upacara dan bagian lainnya. Pasek dalam hal ini bukanlah sebuah treh,soroh, gotra, wangsa, klen (kelompok warga).Pasek adalah sebuah istilah, jabatan atau bagian yang bertugas membantu mensukseskan jalannya upakara dan upacara yang ada di Pura Penataran Besakih.Pura Pande menata segala peralatannya yang terbuat dari benda logam dan rangka peralatan lain. Pura Penyarikan bertugas menata segala kebutuhan tata usaha administrasi agar segala sesuatu berjalan dengan teratur (Gobyah, I Ketut. Bali Post, 30 April 2008).

Dalam satu kelompok seksi/tugas tentu anggotanya terdiri dari beberapa orang yang bisa saja berasal dari kelompok warga lain. Istilah Dukuh berasal dari turunan Dukuh Gamongan dari Desa Gamongan, Tiyingtali, Karangasem, yang melahirkan para Dukuh yang ada di jagat Bali.Kemudian ditegaskan kembali oleh Danghyang Nirarta adalah suatu anugrah gelar Dukuh (pendeta) yang diberikan untuk warga Bali-Mula dan Bali-Kuno, walaupun dari keturunan wangsa apa pun mereka. Dukuh adalah sebuah jabatan yang bertugas sebagai pemimpin upacara keagamaan di Pura Besakih. Munculnya Brahmana Dukuh akan disampaikan di halaman lain dalam tulisan ini.

Jadi pendeta Dukuh yang memimpin upacara dan upakara di Bali pada era itu, sebelum datangnya para Brahmana Majapahit dari Jawa. Pada zaman Gelgel datang ke Bali dua pendeta Siwa dan Buddha dari Majapahit ialah Danghyang Nirartha dan Danghyang Astapaka memperkuat hubungan Majapahit dan Bali. Pada waktu itu didirikan pedharman Raja/Dalem Samprangan dan Dalem Gelgel berupa meru-meru terletak di belakang Pura Catur Lawa. Tentunya pendirian pedharman-pedharman itu juga melalui nyadnya craddha. Dr. Martha A. Muuses mengidentifikasikan yadnya craddha dengan upacara mamukur di Bali yaitu upacara mengembalikan atma ke unsur asalnya yakni paratma.Dengan demikian Pura Catur Lawa merupakan kumpulan orang-orang Bali-Mula yang mendapat tugas sebagai cikal bakal untuk ngamong (bertanggung jawab) terhadap kelancaran upacara di Pura Penataran Besakih, simbol stana suci Ida Bhatara gunung Agung/Tolangkir. Pura Besakih merupakan lambang satu kesatuan antara Hindu Bali dan Hindu Majapahit. 

Setelah kekalahan Badhahulu oleh Majapahit, terjadi dua terapan relegi yang dianut oleh masyarakat Bali saat kini, yaitu adanya sebagian warga atau desa yang mengikuti relegi sejarah Bali-Kuno,dan ada sebagian warga atau desa yang mengikuti relegi sejarah Majapahit, bahkan masyarakat bisa menjalani kedua konsep tersebut,mengikuti aturan para pimpinan yang berkuasa pada saat itu.Berikut komparasi antara, yaitu adanya Sugiyan Jawa dan Sugiyan Bali.

Usana Jawa menyebutkan, sisa tentara Majapahit yang masih hidup dan menetap di Bali, sudah mempunyai anak cucu, saling kawin mengawinkan berbaur, silih pinang meminang antara wanita Bali, namun ada tanda-tandanya. Jika setiap hari raya Kamis Wage Sungsang yang disebut Sugiyan Jawa, rakyat Majapahit yang mempunyai bagian menyelenggarakan yadnya. Jika setiap hari Jumat Kliwon Sungsang yang disebut Sugiyan Bali, rakyat Bali asli yang mempunyai bagian menyelenggarakan yadnya. Juga adanya tonggak piodalan yang satu mengikuti sasih (bulan) dan yang satu lagi mengikuti wuku (minggu). Acara pamelastian yang satu mengikuti sasih kasanga (bulan ke-9) dan satu lagi mengikuti sasih kadasa (bulan ke-10). Disamping hari penyepian di sawah, di segara,di tegalan, di pura, terdapat perbedaan sesuai dengan dresta desa,kala, patra setempat. Juga dalam acara resi yadnya padiksan dalam pengesahan seorang pendeta, yang satu mengikuti melalui napak wakul bhatara kawitan, dan satu lagi mengikuti napak kaki guru nabe.

Semenjak itu perlahan-lahan terjadi penataan pemerintahan yang baru, baik dalam bidang agama, sosial, politik, ekonomi, maupun kesusastraan, dan lainnya dalam menyatukan paham Bali-Kuno dengan paham Majapahit. Yang dulunya seorang pendeta mewakili sekte/agama yang dianut, walaupun dari kelompok keturunan manapun beliau, misalnya;dang acharya sebutan pendeta sekte Siwa,dang upadhyaya gelar pendeta untuk sekte Budha, Rsi Bhujangga gelar pendeta sekte Waisnawa, Pitamaha gelar pendeta sekte Brahma, Bhagawan gelar pendeta sekte Bhairawa, dan sebagainya.Sekarang masing-masing kelompok warga diberikan gelar pendeta dan identitas sosial lain dalam kehidupan bermasyarakat, misalnya:Dukuh gelar pendeta bagi warga Bali-Kuno, Ida Pedanda gelar pendeta bagi warga Ida Bagus, Sri Mpu gelar pendeta bagi warga Pasek, Rsi Bhagawan gelar pendeta untuk warga para Gusti, Rsi Bhujangga gelar pendeta bagi warga Sengguhu, Sira Mpu gelar pendeta bagi warga Pande, dan seterusnya, lengkap dengan aturan atiwa-tiwa/pitra yadnya dan atribut lainnya. Pertanyaannya adalah mengikuti paham manakah pendeta para gotra (kelompok warga) itu,apakah mengikuti paham Siwa, Boddha, Waisnawa, Bhairawa,Sora, Sakta, Sambu, Rsi atau yang lain?

Para Arya Majapahit yang telah berjasa menaklukkan rakyat Bali,lalu dicandikan di suatu tempat untuk memuja roh leluhur yang telah suci yang ada di Jawa sebagai penghayatan atau media terdekat dengan leluhur disebut Pura Kawitan (stana suci para leluhur). Dalam Kamus Bali-Indonesia (Tim : 801) menyebutkan kata kawitan artinya leluhur, asal mula (warga, wangsa, treh, gotra).

Dengan munculnya konsep penataan pemujaan melalui roh suci leluhur Bhatara Hyang Kawitan membawa dampak kebingungan bagi masyarakat Bali-Mula untuk menelusuri jejak-jejak para leluhur mereka sebelum kedatangan sang Danghyang Nirartha.Para raja dan ksatria Bali-Kuno, dan jabatan pemerintah bawahan seperti para senapati, para pendeta, samgat, caksu, kubayan, Si Tunjung Biru, Si Kalung Singkal, Ki Tambyak, Ki Tunjung Tutur,Ki Kopang, Ki Bwahan, Si Pangeran Tangkas, Ki Pasung Grigis,dan leluhur masyarakat Bali-Aga dan Bali-Mula yang lain,pada saat kini dimanakah Pura Kawitan mereka? Dan dimanakah padharman mereka?

Dengan adanya reformasi pemerintahan oleh Raja Dalem Batur Enggong dibantu pendeta kerajaan Danghyang Nirartha muncullah konsep yang sangat cemerlang untuk menyatukan warga agar tidak tercerai berai beralih ke agama/sekte/paham lain. Konsep tersebut adalah dengan memuja Tuhan melalui Bhatara Hyang Kawitan, roh suci para leluhur.

Pemujaan seperti ini sesuai dengan sloka Taittiriya Upanisad yang menyebutkan, “Seorang ibu adalah dewa, seorang bapak adalah dewa, seorang guru adalah dewa, dan para tamu pun adalah dewa”. Dengan demikian, keturunanya akan memuja Tuhan ‘lewat’ roh suci bapak dan ibu, kakek nenek, leluhur dan seterusnya, yang pada akhirnya akan sampai juga pada Tuhan. Para leluhur hanya sebatas menyaksikan dan ‘mengantarkan’ doa, maksud, dan tujuan kepada Tuhan atau kepada dewa.

Para leluhur adalah asal muasal kita sebagai manusia. Semenjak masih janin dalam kandungan Ibu, manusia sudah terhubung dengan-Nya (ibu) yaitu melalui tali pusar (ari-ari). Tali pusar, penghubung kehidupan dalam kandungan antara sang janin dengan sang ibu. Dalam penerapan keagamaan sehari-hari ‘mungkin’ ari-ari (tali pusar) ini disimbolkan menjadi selempot (senteng), karena selalu melekat menutupi tali pusar umat Hindu di Bali dalam setiap menghadap-Nya Selain sebagai pengikat panca budhiindria dan panca karmenindria, simbol mengekang sepuluh lobang yang ada dalam tubuh pada saat seseorang berkehendak melakukan puja dan puji terhadap Tuhan.

 Walau seseorang memakai celana panjang, jika sudah memakai senteng/selempot akan diizinkan masuk ke pura. Senteng/selempot hanyalah sebuah simbol atau sebuah peraturan. Bukankah sebuah simbol mengandung makna tertentu dibalik simbol-simbol itu.Sama dengan seseorang harus memiliki KTP, paspor, dan identitas lain sebagai simbol pengganti dari seseorang jika ingin mengetahui identitas lebih lengkap tentang dirinya. Demikian juga dengan senteng (selempot) yang mengandung makna sebagai penghubung ke para leluhur warga, dan para leluhur akan membahasakan doa,maksud, dan upacara umat kepada Hyang Widhi. Sesungguhnya kita tidak tahu bahasa apa yang dipakai oleh para dewa dalam berkomunikasi antara dewa dan dewa itu sendiri.

Prakata Penulis


Barhisadah pitara uty arvag
ima vo havya cakrma jusadhvam,
ta a gata avasa samtamena
atha nah sam yor aravo dadhata
Rgveda X. 15. 4.

[Wahai para leluhur yang duduk bertebaran,
datanglah kemari dengan (membawa) pertolongan,
upacara (tulisan) ini kami persembahkan untuk anda,
semoga anda berbahagia,
Datanglah dengan pertolongan bermanfaat,
karuniailah kami kesehatan,
rahmat dan bebaskan dari keperihan.]

Om Swastyastu


Puji syukur ke hadapan Hyang Widhi serta roh suci para leluhur yang telah memberikan tuntunan dan kerahayuan kepada 
kami sekeluarga sehingga naskah buku ini berhasil dirampungkan.
Berawal dari upacara karya mamungkah dalam perubahan status dan 
fungsi dari pura ibu menjadi pura panti, di pura paibon warga Sri 
Karang Buncing yang ada di Kuta, sekitar bulan April 1984. Karena 
peruntukan fisik pura panti dihaturkan kepada para leluhur yang 
telah suci dan tidak kelihatan kasat mata/nisbi. Menjadi pertanyaan 
siapakah yang sepatutnya mengesahkan perubahan status pura 
ibu menjadi pura panti itu? Lain misalnya, dalam peresmian 
suatu kantor kelurahan atau balai banjar, yang mengabsahkan 
dan menandatangani prasasti tentu upati sebagai kepala pimpinan 
tertinggi di suatu wilayah kabupaten. Memang acara itu sangat 
langka dalam arti kejadian perubahan status dan fungsi pura, jarang terjadi di Kuta. Pada puncak acara disaksikan oleh para pemangku desa, panglingsir warga, serta undangan adat lainnya.

Detik-detik akhir acara, tetua warga kerauhan, badan raganya dipinjam oleh kekuatan lain sebagai media komunikasi dalam meminta petunjuk dari alam niskala (tak nyata) dan sebaliknya.Sehingga terjadi dialog yang di mediasi seorang jero mangku pura yang ada di Kuta dengan ‘sang roh’ (tetua warga). Ditanya oleh Jero Mangku “siapakah sang roh yang meminjam raga tetua kami”. Lalu dijawab oleh sang roh (tetua warga), “Dalem!”“Dalem siapa?” tanya Jero Mangku, dan dijawab “Dalem Petak,pura iki mapesengan Pura Panti Karang Buncing,” artinya, pura ini bernama Pura Panti Karang Buncing, lalu tetua kami siuman dan sadar diri bahwa beberapa saat ia tidak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya.

Dari sekelumit bahasa kerauhan tetua tersebut, menjadi batu loncatan dalam menelusuri jejak-jejak leluhur sebelumnya. Yang menjadi pertanyaan dalam diri, siapakah Dalem Petak, siapakah nama orang tuanya, dari manakah asalnya, kenapa Dalem Petak yang meresmikan perubahan status pura itu? Karena keingintahuan
mencari jejak tentang asal usul para leluhur, disamping pada era itu sedang gencar-gencarnya warga mencari jejak-jejak leluhur mereka yang ada di Bali.

Penulis hanyalah seorang pamupul mengumpulkan naskah yang ditinggalkan para leluhur, baik berupa salinan prasasti, purana,piagem, prakempa, babad yang telah dialihaksara dan diterjemahkan oleh pura setempat, Kantor Kebudayaan Bali, museum, balai arkeologi, griya, perpustakaan, di rumah penekun sastra atau dari
tetua warga, bahkan kliping koran pun kami kumpulkan. Setelah terkumpul seluruh salinan teks itu dan dirunut menurut angka tahun dan nama raja yang berkuasa akan kelihatan nama samar, beda nama tetapi orangnya satu. Dalam purana nama raja masih memakai nama keluarga sedangkan dalam prasasti akan berganti nama sesuai gelar yang diberikan oleh kerajaan. Sangat kontroversial naskah satu dengan naskah yang lain. Akhirnya yang dimaksud Dalem Petak adalah nama lain dari Sri Batu Putih, kakak kandung Sri Batu Ireng/Sri Astasura Ratna Bumi Banten, sebagai penguasa dan pertapa di wilayah Jimbaran pada masa Bali pertengahan, sebelum ekpansi Majapahit.

Beberapa data sekunder yang dipakai pedoman dalam penulisan buku ini dapat dibagi dalam beberapa klasifikasi, sebagai berikut:

1) Prasasti, adalah aturan resmi yang dikeluarkan oleh raja pada zamannya sendiri disaksikan strukturisasi pemerintahanya. Teks prasasti jarang menjelaskan tentang asal usul keturunan para raja itu. Prasasti umumnya ditulis diatas tembaga, batu, perunggu, tahan ribuan tahun, sangat disucikan dan di stanakan di pura. 

2) Purana,isinya menceritakan kejadian yang telah lewat tentang kisah para raja serta keturunannya dan dikaitkan dengan mitos para dewa yang berstana di gunung sekitarnya. Purana ditulis diatas daun lontar menjadi pedoman untuk kelanjutan dari pangemong dan pangempon pura itu. Dalam purana tercatat nama leluhur warga yang merintis keberadaan sejarah pura. Purana pun disimpan di pura. 

3) Piagem, adalah pegangan dari kelompok warga (klen) yang isinya menceritakan kisah leluhur mereka terdahulu dan keterkaitan dengan keberadaan purana dan prasasti dari pura tertentu.

 4)Prakempa, adalah pegangan dari klompok warga (klen) yang isinya menceritakan sekelumit jejak leluhur mereka yang hanya ada di desa setempat.

 5) Babad adalah cerita yang didengar, dari mulut ke mulut,bisa bersumber dari nak kerauhan (trance) atau hasil perenungan seseorang lalu ditulis dan dikait-kaitkan dengan nama tertentu, tanpa sumber sejarah yang jelas, menjadi milik pribadi.

 6) Hasil deskripsi seseorang dalam persyaratan memperoleh gelar kesarjanaan di perguruan tinggi. Ironisnya jika para akademisi memakai acuan babad dalam menulis suatu karya ilmiah lalu dijadikan pedoman oleh umat kebanyakan maka hasilnya bertentangan dengan apa yang tercantum dalam prasasti dan purana.

Walaupun mempunyai data awal berupa piagem, prakempa, babad sebagai pedoman kelompok warga tetapi tidak tercantum kisah leluhurnya terdahulu dalam purana dan prasasti yang ada di pura,maka isi naskah itu diragukan kebenarannya alias mengambang.Begitupun sebaliknya bila prasasti tembaga dan prasasti batu yang dikeluarkan oleh raja pada zamannya, dan menjadi pedoman pura tetapi tidak tertulis namanya dalam purana dan piagem maka teks itu perlu dianalisis keberadaannya. Dan yang terakhir bila mempunyai purana sebagai data awal keberadaan sejarah pura dan mengisahkan nama-nama raja dan turunannya, tetapi tidak muncul namanya dalam prasasti yang dikeluarkan sebagaimana raja-raja yang lain, serta tidak tercantum nama leluhur warga dalam purana,mengakibatkan kebingungan dalam menguraikan tinggalan naskah itu. Dengan demikian naskah satu dengan naskah yang lain mesti saling menceritakan antara teks prasasti dan purana milik pura tertentu dengan piagem, prakempa, babad milik suatu kelompok warga. Bila tidak terdapat saling keterkaitan dan berdiri sendiri atau saling tumpang tindih isi naskah satu dengan naskah lain maka dapat menimbulkan pembelokan sejarah. Disamping menjadi acuan munculnya palinggih atau pura baru.

Skema perjalanan leluhur Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing tercantum dalam prasasti, purana, piagem, prakempa, babad berhulu dari Sri Ksari Warmadewa dan bermuara menjadi lima cabang.Berhulu dari Sri Kesari Warmmadewa, Sri Ugrasena, Sri Jaya Singha Warmmadewa, Sri Udayana, Sri Aji Hungsu, Sri Jayasakti.Setelah Sri Jayasakti menurunkan lima orang putra, Sri Gnijaya,Sri Maha Sidhimantradewa, Sri Mahadewa Pu Witadharma, Sri Maha Kulya Kul Putih dan Ratu di Jawa Madura: 1) Satu cabang Sri Maha Sidhimatra menurunkan Jaya Katwang di Jawa. 2) Cabang yang ke dua dari Sri Gnijaya menurunkan Sri Jaya Pangus, Sri Hekajaya dan Sri Adi Kuti Ketana (putus). 3) Cabang yang ke tiga dari Sri Maha Sidhimantradewa beristrikan dari Desa Gamongan,menurunkan Sri Dewa Lancana, Sri Taruna Jaya, Sri Masula Masuli,Sri Astasura Ratna Bumi Banten sebagai raja terakhir kerajaan Bali Kuno yang terletak di Batahanar (Bedulu). 4) Cabang yang ke empat Sri Jayasakti yang merintis pedharman (pertapaan) di Gunung Lempuyang dan diteruskan oleh keturunannya yaitu;Sri Gnijaya, Sri Maha Sidhimantradewa, Sri Indracakru, Sri Pasung Grigis, Sri Rigis, Sri Pasung Giri, Dukuh Sakti Gamongan,menurunkan para Dukuh yang berada di Desa Adat Gamongan dan Bali pada umumnya. 5) Cabang yang kelima, mulai dari Sri Maha Sidhimantradewa, Sri Indracakru, Sri Jayakatong, Sri Karang Buncing, menurunkan 3 putra Sri Kbo Iwa dan Sri Karang Buncing di Blahbatuh, menurunkan watek karang buncing yang ada saat kini.

Yang menjadi pertanyaan, putra kandung yang lain dari Sri Jayasakti yaitu, Sri Mahadewa Pu Withadarma, Sri Maha Kulya Kulputih, dan Ratu di Jawa, Madura, tidak jelas kisah peristiwa apa yang terjadi pada beliau dan siapa keturunan beliau saat kini. Mungkinkah Sri Maha Kulya Kulputih identik dengan Sangkul Putih pendiri Pura Besakih, atau Sri Mahadewa Pu Withadarma identik dengan Mpu Withadharma asal muasal leluhur Panca Resi dan Sapta Resi yang menurunkan Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Resi (MGPSSR) yang ada saat kini. Disamping itu kisah putra kandung Sri Maha Sidhimantra yang menikahi adik Kebo Ijo di Jawa dan melahirkan seorang putra bernama Jaya Katwang menundukkan Raja Kertanegara (Singosari), juga tidak jelas kisah kehidupannya dan siapa keturunannya masa kini.

Buku ini tidak akan terwujud tanpa dukungan dari berbagai pihak, terutama sembah terimakasih dihaturkan kepada sang dewata Ida Pandita Dukuh Dhaksa Dharma Yoga (alm) dari Padukuhan Karang Buncing, Carangsari, Petang, Badung. Sebelum madiksa (pentasbihan pendeta), beliau adalah seorang padasar (sadeg), di Pura Panti. Jiwa raganya sewaktu-waktu dipinjam oleh kekuatan lain sebagai media komunikasi antara roh leluhur yang disucikan dengan keturunannya dalam memberikan pesan dan kesan dari alam dewata, dikala pujawali dilaksanakan di Pura Panti Karang Buncing, Kuta dan Pura Sarin Bwana, Jimbaran era itu. Semenjak mendapat titah ngiring pakayunan ratu gede kebo iwa atau dengan perkataan lain “Kebo Iwa” sebagai guru pembimbing niskala atau guru spiritual tak nyata. Secara tidak langsung jiwa raganya sebagai pengejawantahan dari spirit Kebo Iwa dan mengarahkan tahapantahapan yang mesti dilakukannya sebelum menjadi seorang Dukuh (pendeta). Berani menolak dan melawan dari kekuatan-Nya secara otomatis mengakibatkan sakit, kaku ditempat, kerauhan dan perasaan yang tidak menyenangkan lainnya, bahkan nyawa pun taruhannya.Proses pencaharian kesucian diri dilakoninya bertahun-tahun.Penulis hanyalah sebagai pendamping atau menjaga badan raganya dikala detik-detik siuman dari kerauhan (trance), agar badannya terhindar dari benturan benda keras. Perjalanan spiritualnya sangat unik, menarik dan berjenjang padahal beliau tanpa berguru kepada seseorang.

Sembah terimakasih kepada Ida Pandita Dukuh Acharya Dhaksa, dari Pedukuhan Samiaga, Penatih, Denpasar teah banyak memberikan referensi materi buku ini.Juga hatur terimakasih kepada putra ida dukuh yaitu Wayan Suwenda Karang (alm) dan sekeluarga, telah tulus iklas membiayai seluruh aktivitas penulis mulai dari proses awal pengumpulan naskah sampai menjadi sebuah buku.Ucapan terimakasih kepada tetua kami Bapak Drs. Wayan Gede Bargawa, dari Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Beliau telah susah payah, mencari, menggali, mengalihaksara dan menterjemahkan naskah kuno yang menceritakan tentang leluhur terdahulu seperti Piagem Dukuh Gamongan, lontar milik Griya Tegeh Budakeling,Karangasem, Purana Pura Puseh Gaduh, lontar milik Pura Puseh,Desa Adat Blahbatuh, Lontar Aji Murti Siwasana, milik Desa Adat Gamongan, Karangasem dan beberapa lontar lainnya. Penulis hanya meneruskan apa yang telah diuraikannya dalam kalender yang diterbitkan beberapa tahun yang lalu. Naskah Piagem Dukuh Gamongan merupakan ‘missing link’ atau penyambung perjalanan asal usul leluhur Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing sebelumnya dengan keturunannya masa kini.

Terimakasih setinggi-tingginya kepada guru pembimbing kami di Kampus IHDN Denpasar yth, Bapak Dr. Redig, Bapak Prof.Dr. I Made Suastika, SU, dan Prof. Dr. I Gede Semadi Astra, yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penulisan buku ini.Juga kepada Bapak Drs. Putu Budiastra, dkk (Museum Bali), Balai Arkeologi dan seluruh budayawan yang telah banyak mengalihaksara dan menterjemahkan prasasti, purana, piagem, prekempa, babad yang ada di Bali.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Tim Silsilah dalam kepanitiaan Warga Sri Karang Buncing, serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan, tidak henti-hentinya memberikan semangat dan bantuan materi lainnya demi kelancaran naskah buku ini.

Tentunya naskah ini tidaklah sempurna sebab penulis tidak menyaksikan peristiwa sejarah masa lampau dan sangat kontradiktif dengan kenyataan yang ada di lapangan. Tergantung para penulis hendak menguraikan kisah kehidupannya dari sisi yang mana,apakah kisah kehidupannya (Kebo Iwa) hendak didongengkan,disucikan, dibudayakan, atau dipolitisir, tentunya membawa dampak bagi generasi tentang sejarah Bali, di masa mendatang. Penulis dengan senang hati menerima segala bentuk kritik demi perbaikan
buku ini, yang tentunya kritik tersebut diwujudkan dalam bentuk buku, sehingga menambah wawasan ilmu pengetahuan.

Kepada Gde Aryantha Soethama, yang meluangkan banyak waktu untuk menyunting naskah awal sampai dirancang menjadi sebuah buku, penulis sampaikan banyak terimakasih. Peran Aryantha sangat besar dan menentukan dalam mengatur, menata, merapikan naskah, yang awalnya terpisah dan terpenggal, untuk dirunut menjadi satu kesatuan utuh sebuah buku seperti pembaca pegang sekarang. Berkali-kali dan berhari-hari saya dan Aryantha berdebat untuk sampai pada kesepakatan mengenai hal-hal mendasar dan teknis menyangkut buku ini. Perbincangan-perbincangan tersebut telah memperkaya dan memperdalam pengetahuan saya tentang buku. Suksma dahat, Bli Gde. Kendati banyak pihak yang terlibat melahirkan buku ini, namun tanggungjawab tetap pada diri saya sebagai penyusun dan penulis.

Akhir kata, penulis mohon maaf atas keterbatasan yang dimiliki dalam menguraikan sejarah perjalanan leluhur Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing. Semoga amal baik semua pihak dalam membantu kelancaran penerbitan buku ini mendapat sinar suci-Nya.

Semoga buku ini bermanfaat.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Kuta, 15 Juli 2011
Made Bawa






Kata Sambutan




Om Swastiastu

Kami mengucapkan selamat dan syukur serta menyambut gembira dan merasa senang terbitnya buku berjudul Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing dalam Dinasti Raja-Raja Bali Kuno karangan I Made Bawa.Buku ini sangat penting dalam khazanah kesusastraan dan kebudayaan Bali, karena berisi berbagai nilai budaya, genealogi (silsilah), sastra dan religious. Sehingga dapat disebut buku, ini membuktikan keseriusan penulis dalam mengumpulkan teks-teks Bali dari berbagai sumber tulis dan lisan, dan disusun kembali dalam sejumlah bab, sehingga dapat menambah khazanah kebudayaan Bali. Kami yakin dengan terbitnya buku karangan I Made Bawa diharapkan membuka cakrawala bagi pembaca yang haus terhadap bacaan dan dapat memberikan suasana lain dalam bidang mitos, sejarah, dan nilai pendidikan yang selama ini sedang dicari oleh
masyarakat Bali, yang semakin terpelajar dan berwawasan ke depan. Bagi kalangan yang ingin mencari nilai-nilai dan khazanah kesejarahan Bali masa lalu dapat mengambil nilai yang tersurat dalam karya ini.Semoga dengan terbitnya buku ini bermanfaat bagi siapa saja yang ingin menambah khazanah kebudayaan Bali masa lalu dan kami ucapkan selamat, semoga pemikiran baik datang dari segala arah.

Om Santi, Santi, Santi Om

Prof. Dr. I Made Suastika, S.U.

Ketua Program Doktor (S3)

Kajian Budaya Unud.

Sambutan Pengelingsir Pasemetonan Sri Karang Buncing

Sambutan Pengelingsir
Pasemetonan Sri Karang Buncing
Om Suastyastu
Angayubagia kami haturkan ke hadapan Ida Sanghyang Widhi 
Wasa dan Ida Bhatara Kawitan, karena atas asung kerta wara 
nugraha-Nya sebuah buku yang menguraikan keterkaitan 
para leluhur warga Sri Karang Buncing dalam perjalanan sejarah 
raja-raja Bali-Kuno, dilengkapi silsilah atau lelintihan Sri Karang 
Buncing, berhasil diwujudkan.

Penyusunan lelintihan (silsilah) Sri Karang Buncing telah dirintis
sejak tahun 1937 dalam suatu paruman di Pura Kawitan Karang 
Buncing Belahbatuh, Gianyar. Setelah melalui jeda waktu cukup 
lama, gagasan atau pokok-pokok pemikiran penyusunan lelintihan 
yang dihasilkan pada pertemuan tersebut dilanjutkan lagi tahun 
1991, dalam sebuah paruman di Pura Dadia Karang Buncing Desa 
Celuk, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar.
Dalam paruman di Celuk tersebut dibentuk sebuah tim dipimpin 
Wayan Gede Bargawa dengan anggota Jro Mangku Suwena Karang 
dan Wayan Suwenda Karang, untuk meneruskan penyusunan silsilah 
yang telah dirintis sebelumnya. Tim tersebut berhasil menyusun 
sebuah buku lelintihan yang dikenal di kalangan warga Sri Karang 
Buncing dengan nama Buku Kuning.
Penyempurnaan silsilah terus menerus dilakukan oleh Wayan Gede Bargawa dan hasil karyanya yang berjudul ”Tatwa Lelintihan Buncing Belah Batuh” telah dimuat dalam Kalender Sri Karang Buncing tahun 2004. Kami melihat silsilah atau lelintihan yang susunan Wayan Gede Bargawa telah memberi inspirasi dan menjadiacuan dalam penyusunan buku berjudul Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing dalam Dinasti Raja Raja Bali Kuno yang disusun Made Bawa ini, disamping sumber-sumber lain yang cukup kuat sebagai suatu referensi penulisan buku.

Mudah-mudahan upaya-upaya yang cukup gigih dari Made Bawa, S. Fil. H. dapat memenuhi harapan masyarakat pemerhati sejarah Bali pada umumnya dan warga Sri Karang Buncing khususnya, yang keberadaannya telah diungkap secara lebih jelas dalam buku ini. Kelak buku ini akan menjadi catatan dan acuan yang sangat penting dan amat bermanfaat tidak saja bagi warga Sri Karang Buncing, tetapi juga bagi Bali dan dunia yang berniat mengetahui dan menekuni sejarah keberadaan Bali. Karena itu kami menyampaikan penghargaan yang tinggi dan terimakasih kepada Made Bawa, penyusun buku ini. Ketekunannya menelusuri dokumentasi, prasasti, piagem, dan kesabarannya mengumpulkan bermacam data, telah membuahkan hasil berupa buku yang sangat penting dan bermanfaat ini. Terimakasih dan penghargaan juga kami sampaikan kepada semua pihak yang telah memberi bantuan hingga buku ini berhasil diterbitkan.


Om Awignam Astu Namo Siddham
Om Shanti Shanti Shanti Om


Blahbatuh, Juli 2011
Pengelingsir Pasemetonan Sri Karang Buncing
Jero Wayan Gede Oka


Sambutan Pasemetonan Sri Karang Buncing


PENGURUS PUSAT PASEMETONAN SRI KARANG BUNCING
Sekretariat: Wantilan Suartur, Jalan By Pass Ngurah Rai No.32 Tohpati
Denpasar Bali, Tlp. 0361.462037, Fax. 0361.462636

Sambutan Pasemetonan
Sri Karang Buncing


Om Suastyastu
Pengurus Pusat Pasemetonan Sri Karang Buncing mengucapkan syukur dan angayubagia kepada Sang Hyang Parama Kawi atas terbitnya buku dengan judul Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing dalam Dinasti Raja-Raja Bali Kuno yang menguraikan secara lebih lengkap, dengan acuan referensi yang cukup luas, tentang perjalanan sejarah dari dinasti raja-raja Bali-Kuno dan keterkaitannya dengan leluhur warga Sri Karang Buncing.
Penelusuran jejak-jejak leluhur dan kajian atas perjalanan sejarah Leluhur pada hemat kami perlu terus menerus dilakakukan agar generasi penerus dapat mewarisi spirit dari keagungan pemikiran wacana serta karya para leluhur khususnya dalam membangun dasar bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang harmonis bermartabat dan lebih sejahtera.
Kami memberikan apresiasi yang tinggi kepada Sdr I Made Bawa,S.Fil. H, editor dan penerbit yang telah bekerja keras hingga berhasil mewujudkan buku yang mengungkapkan keterkaitan dinasti raja-raja Bali Kuno dengan Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing.
Budaya Bali dibangun atau dibentuk melalui perjalanan sejarah yang cukup panjang mulai dari zaman Prasejarah, Bali Kuno, Bali Pertengahan dan Bali Modern. Semua dinasti yang pernah berkuasa di Bali dan para tokoh panutan dari generasi ke generasi, mempunyai peran dan kontribusi besar dalam membentuk peradaban Bali yang adi luhung sebagaimana diwarisi oleh masyarakat Bali saat ini.
Dalam perspektif ke depan kami mengajak semua komponen masyarakat Bali mengambil peran untuk mewujudkan Bali yang jagadhita dengan mewarisi spirit dari para tokoh panutan di masa lampau. Diperlukan keberanian para tokoh masyarakat, agama dan pemerintah untuk mengoreksi dan meninggalkan segala sesuatu yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan warga Bali.Semua itu dapat dilakukan apabila pikiran kita terbuka untuk menerima kebenaran atau dharma dari susastra Weda.
Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberi dukungan dan bantuan untuk mewujudkan buku ini. Secara khusus kami ucapkan terimakasih kepada Made Rory Suwenda Karang yang dengan rasa bhakti tulus bersedia menjadi penyandang dana untuk penerbitan perdana buku ini. Sumbangsih ini merupakan wujud nyata, betapa perpaduan idealisme, intelektualitas, teknologi dan materi, sanggup meningkatkan kejelasan dan kepastian sejarah demi kejujuran, keadilan, dan kesejahteraan.

Om Ano Badrah Kratawo Yantu Wiswatah
Semoga pikiran-pikiran mulia datang dari segala penjuru

Om Shanti, Shanti, Shanti Om
Denpasar, Juli 2011
Pengurus Pusat Pasemetonan Sri Karang Buncing
I Nyoman Sudana, S.H
Sekjen
Dr (Hc) Jro Gede Karang T. Suarshana, MBA.
Ketua Umum



Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More