Senin, 14 Mei 2012

Bab XI Kebo Iwa Masa Kini


Bab XI
Kebo Iwa Masa Kini

Banyak tokoh menggali keteladanan kisah hidup perjalanan Kebo Iwa, mulai dari aspek spiritual, ideologi, budaya, politik,sosial bahkan mitos mengupas sisi kehidupannya. Kebo Iwa termasuk tokoh Bali yang paling banyak dimitoskan. Selain mitos sebagai seorang raksasa bertubuh besar berasal dari hasil hubungan seorang pertapa dengan makhluk halus yang hidup di lereng Gunung Agung, lalu di asuh oleh Si Karang Buncing. Setelah besar membuat susah masyarakat Blahbatuh dalam menyiapkan makanan begitu banyak setiap hari. Akhirnya Desa Blahbatuh menjadi kekeringan karena semua hasil pertanian masyarakatnya habis dihaturkan kepada Kebo Iwa. Kebo Iwa lalu di bunuh oleh masyarakatnya sendiri.

Ada juga mitos, Kebo Iwa berawal dari Begawan Aji Nuk bersama permaisurinya yang berparas cantik berasal dari Rum (Romawi) Dewi Sucinek. Begawan Nuk mempunyai seorang putra Bagawan Sutasik yang kemudian bergelar Abra Sinuhun Pasir yang posturnya tinggi besar. Perilakunya seperti ikan besar dan santapannya pun ikan, yang diambil dari laut setiap tiga bulan sekali. Suatu saat Abra Sinuhun jatuh cinta dengan ulam (ikan) Dewi Kekasih yang berprilaku seperti manusia. Dewi Kekasih lantas hamil dan melahirkan seorang putra yang diberi nama Sri Mraja Kebo Iwa.

Serta mitos candi Gunung Kawi dibangun oleh Kebo Iwa dengan mempergunakan kuku mengukir tebing batu keras itu, serta mitosmitos yang lain yang semuanya sudah dijelaskan pada halaman diatas.

Kebo Iwa di Pasraman Yogadhiparamaguhya

Para pemimpin kini sulit memiliki jiwa senasionalis Kebo Iwa,seorang panglima Bali pada masa pemerintahan Sri Astasura Ratna Bumi Banten pada awal abad ke 14. Kebo Iwa merelakan nyawanya
pada Gajah Mada demi persatuan dan kesatuan nusantara. Hal itu terungkap dalam seminar Menggali Solidaritas Tokoh Kebo Iwa di Pasraman Yogadhiparamaguhya, Blahbatuh, Gianyar, Selasa,24 Februari 2009. Seminar menghadirkan tiga pemakalah yakni peneliti wawasan kebangsaan dari Universitas Udayana, Prof. Dr. I Gede Parimarta, Ketua Listibya Gianyar AA Rai, dan Ketua Umum Pasemetonan Sri Karang Buncing Dr. (Hc) Jro Karang T Suarshana MBA.

AA Rai mengatakan kini semangat wawasan kebangsaan warga Negara makin melemah, salah satunya akibat kelupaan sejarah negeri ini. Keluhuran nilai sejarah terabaikan oleh generasi muda karena perkembangan budaya egoistik. “Napas nasionalisme seperti dianut Kebo Iwa pantas menjadi inspirasi untuk meningkatkan wawasan kebangsaan ini” katanya. Rai menyatakan salut kepada Kebo Iwa yang rela mati demi cita-cita Gajah Mada mempersatukan nusantara.Bagi Kebo Iwa, betapa tak berarti jiwanya sendiri dibandingkan kepentingan bangsa yang lebih besar.

Parimarta menyatakan kekagumannya pada sikap bijak Kebo Iwa. Baginya Kebo Iwa adalah sosok inspirator di nusantara ini agar masyarakat memahami pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa.

Bupati Gianyar Dr. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati usai membuka seminar mengatakan, masyarakat Gianyar patut bangga memiliki pahlawan seperti Kebo Iwa. Namun yang paling penting kebanggaan itu dapat diimplimentasikan dengan langkah nyata, antara lain mempertahankan keutuhan NKRI, melestarikan keteladanan Kebo Iwa serta mengutamakan sikap menyama braya.

Ketua Umum Pasemetonan Sri Karang Buncing, Dr. Jro Karang T Suarshana memandang sikap Kebo Iwa menunjukkan keteladanan dan pengorbanan yang luar biasa dalam integrasi Bali ke dalam negara nasional. Karena itu, salah seorang tokoh Karang Buncing Kuta, I Made Supatra Karang, mengajak untuk meneladani sikap Kebo Iwa, ini bukan hanya untuk di Pasemetonan Sri Karang Buncing, tetapi juga untuk seluruh pemimpin dan masyarakat saat kini. “Sikap rela berkorban untuk kepentingan yang lebih besar kini
menjadi hal yang langka,” tandas Suparta.

Seminar tentang Kebo Iwa di Pasraman Yogadhiparamaguhya, Blahbatuh, Gianyar.

Kebo Iwa Putra dari Pertapa dengan Makhluk Halus

Forum studi Majapahit mengadakan sarasehan bertajuk “Gajah Mada dan Kebo Iwa dalam Perspektif Historis dan Spiritual Menuju Peneguhan NKRI.” Kegiatan ini diselenggarakan di Hotel Puri Saron, Seminyak pada 10 November 2010. Tampil sebagai pembicara, Langit Kresna Hariadi dari Yogyakarta, Dr. Nyoman Wijaya (Unud), dan Ida I Dewa Mardiana (penekun spiritual). 

Kemudian Langit menceritakan tentang silsilah perjalanan Gajah Mada yang sampai bertapa di Desa Sapih, dimana di tempat tersebut dijelaskan terdapat tujuh mata air terjun. Akibat tragedi yang terjadi di lapangan Bubat, kemudian terjadi disintegrasi yang memaksa Gajah Mada harus dipanggil kembali dari tempat pertapaan. Akan tetapi Gajah Mada tidak berkenan kembali dan akhirnya meninggal dunia karena penyakit diabetes. Gajah Mada meninggalkan banyak pertanyaan tanpa diketahui siapa Gajah Mada tersebut, dari mana asal usulnya dan siapa orang tuanya.

“Kita diajak untuk berada dalam sebuah mimpi bersama untuk mewujudkan sebuah buku mengenang tokoh Gajah Mada dan Kebo Iwa sebagai peletak dasar persatuan nusantara” sebut Nyoman Wijaya. Pemakalah selanjutnya Ida Idewa Ketut Mardiana mengatakan dalam sejarah Bali Kebo Iwa adalah manusia yang tak tertandingi, baik dari segi fisiknya seperti raksasa tinggi besar maupun kesaktiannya. Beliau juga seorang arsitek atau undagi yang 


 Pembicara kiri berdiri Dewa Mardiana, Langit Kresna, Nyoman Wijaya, Nyoman Baskara.


banyak meninggalkan peninggalan seperti bangunan tempat suci dan bangunan lainnya. Beliau sesungguhnya putra dari seorang pertapa di Gunung Tolangkir yang tergoda oleh kecantikan seorang lelembut, akhirnya melahirkan seorang anak yang sangat besar. Kemudian anak itu diserahkan kepada patih raja Bali yang bernama Arya Adikara atau Si Karang Buncing. Untuk menutup aib brahmana pertapa ini, maka dibuatlah kisah Kebo Iwa lahir dari api bara padipan di saat Sira Arya Adikara sembahyang. Setelah besar,Arya Adikara menyerahkannya kepada raja Astasura Ratna Bumi Banten dan kemudian diangkat menjadi patih andalan kerajaan Bali.Adapun ilmu andalannya disebut kebo sengilan.


Kebo Iwa Ikon Gianyar

Bupati Gianyar Cokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengatakan,mengingat Kebo Iwa adalah putra Gianyar, seoarang yang arif bijaksana, sakti, namun atas ketulusan dan kerelaannya mengorbankan diri untuk kepentingan yang lebih besar, yakni persatuan dan kesatuan Nusantara. Inilah yang mengilhami Bupati Gianyar untuk memilih Kebo Iwa sebagai maskot Daerah Gianyar.Pembangunan monument Kebo Iwa sebagai upaya untuk menghargai sikap ksatria mahapatih Bali itu. Bupati berharap Kebo Iwa bisa menjadi ikon Gianyar dan sikap ksatrianya bisa dijadikan tauladan oleh masyarakat. Disinggung soal wajah asli Kebo Iwa mengingat minimnya dokumen yang ada, untuk itu pihaknya sudah mencari masukan dari sejumlah pihak yakni keluarga Karang Buncing, tokoh agama, dan tokoh masyarakat 
Tetua warga Sri Karang Buncing saat bersilaturami dengan Bupati Gianyar
Kebo Iwa ‘Spirit of Inspiration’


Sosok Kebo Iwa seorang mahapatih yang patut dibanggakan,yang dimiliki Bali ketika Kerajaan Badahulu berkuasa di Bali. Dibalik ketokohan sang patih yang dikenal tegas, berani dan memiliki talenta kepemimpinan, ternyata banyak filosofi dan teladan yang bisa diambil dari seorang patih. “Kebo Iwa kita angkat sebagai spirit of Inspiration,” ujar I Made Supatra Karang, di tengah penggalangan amal pembangunan Wantilan Pura Kawitan yang kini berstana palinggih Kebo Iwa, minggu, 1 Februari 2009. Tidak saja nama besar, Kebo Iwa yang kini tengah diabadikan sebagai cagar budaya bernilai tinggi sebagai komoditi pariwisata Bali. Supatra Karang juga mengatakan Kebo Iwa adalah sosok yang memiliki spirit luar biasa,ia sosok pemimpin sarat membawa pesan untuk umat Hindu di Bali.

Kebo Iwa dan Gajah Mada di Pura Dalem Kretti Bhuana

Bali Post, Minggu, 24 April 2011, memberitakan bertepatan pada hari Sanghyang Aji Saraswati, Saniscara Umanis, Watugunung, Sabtu (23/4) kemarin di Pura Dalem Kretti Bhuana Kebo Iwa, kalinggihan tapel Kebo Iwa. Dengan berstananya tapel Kebo Iwa yang berlokasi di Jalan Kebo Iwa 63A Denpasar. Kini telah “bersanding” dua tapel tokoh besar sejarah nusantara di pura tersebut. Delapan tahun silam
Bupati BAdung AA. Gde Agung kiri) dengan Made Supatra Karang, dalam acara Bazar
Pasemetonan Sri Karang Buncing.



pada awal Bali TV mulai tayang, lebih dulu melinggih tapel Gajah Mada. Bersandingnya dua tapel yang disakralkan tersebut bertepatan pada piodalan yang di-puput Ida Peranda Gede Oka Karang, dari Geria Tegeh Karang, Lumintang, Denpasar.

Pimpinan KMB Satria Naradha menyatakan senang bisa menyandingkan kedua tapel tokoh besar Nusantara itu di Pura Dalem Kretti Bhuana Kebo Iwa. Figur Kebo Iwa merupakan tokoh yang sangat arif bijaksana. Keteladanannya dengan mengorbankan jiwa dan raganya demi kepentingan lebih luas Nusantara tercinta,merupakan spirit yang mesti diteladani. Spirit itu adalah adanya komitmen berkorban dalam kerangka menjadikan Bali dan Nusantara ini tetap ajeg, dinamis dan tetap kokoh pada visi dan misi NKRI.

Pada halaman lain, tapel Kebo Iwa dibuat oleh AA Gede Rai alias Gung Aji Mangku dan di-urip oleh Bupati Gianyar. Gung Aji Mangku tak hanya piawai melukis juga hebat membuat tapel-tapel sakral. Terbukti di tengah kesibukannya, lelaki berusia 80 tahun mampu menyelesaikan 3 tapel Kebo Iwa hanya dalam rentang

Bupati Gianyar Tjok Oka Artha Ardhana (kanan) menyerahkan tapel Kebo Iwa kepada
pimpinan Kelompok Media Bali Post, Satria Naradha.

waktu sebulan. Namun yang nyaloning atau mengurip tapel Kebo Iwa itu adalah Bupati Gianyar sendiri, Dr. Tjok. Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si.

Tapel Kebo Iwa itu dari material kayu pule, kayu kesayangan ibu Mahakali, yang katunas di Pura Pengukur Ukur, Desa Pejeng,Gianyar. Gung Aji membuat tiga tapel dari kayu pule, Konon,ada hal aneh dan ciri berbeda pada tiga tapel tersebut. Tapel yang diserahkan Bupati Gianyar kepada Satria Naradha, usai pentas
sendratari Kebo Iwa dan Gajah Mada di Lapangan Astina Gianyar beberpa waktu yang lalu, mengeluarkan air. Tapel yang kedua berat timbangannya melebihi berat yang lainnya, padahal komposisi dan ukurannya sama. Sedangkan tapel yang ketiga mengeluarkan minyak,rencananya akan diserahkan kepada warga Sri Karang Buncing

Keris Kebo Iwa


Dalam situs melajahngblog.blogspot.com, dikisahkan,menyambut Tahun Baru 2009 ada suatu kejadian 24 Nopember 2007. Kejadian ini sangat langka dan benar adanya. Dengan kejadian ini menjadikan kita lebih percaya dan lebih menghormati para leluhur atau pendahulu kita yang hebat dan satya dalam wacana,atau alam gaib atau juga kemahakuasaan Ida Hyang Widhi Wasa.


Suatu waktu Ida Dewa mendapat wangsit untuk mengambil keris pajenengan Ki Patih Kebo Iwa di Pantai Selatan yang disimpan oleh Ratu Kidul karena keris tersebut dibuang oleh Ki Patih Gajah Mada dengan maksud dapat mengalahkan Ki Patih Kebo Iwa. Ki Patih Kebo Iwa adalah keturunan Arya Karang Buncing di Blahbatuh,Gianyar yang lahir dari padipaan disaat sira Arya Karang Buncing memohon keturunan dihadapan Hyang Penguasa Alam Semesta,konon begitu lahir sudah mampu menyantap ketupat kelan (6 biji). Setelah dewasa Ki Kebo Iwa mempunyai tubuh yang sangat besar dan kekar diluar ukuran orang biasa (7 meter), dan memiliki kesaktian yang dimiliki dibawa dari lahir, kesaktian dan kekuatan tiada yang menyamai diseantero jagat.

Inilah yang menjadikan Maha Patih Gajah Mada memutar otak untuk mengatur siasat bagaimana cara memisahkan Ki Kebo Iwa dari Rajanya Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Kalau Ki Kebo Iwa dapat dipisahkan dari Rajanya sehingga mudah dapat mengalahkan Bali. Sampai saat itu Ki Kebo Iwa belum memiliki istri, tidak seorang pun putri di Bali yang menyamai bentuk tubuhnya. Hal inilah yang dipakai titik lemah Ki Kebo Iwa. Sang Ratu Raja Majapahit disuruh membuat sepucuk surat oleh Ki Patih Gajah Mada diperuntukkan Ki Kebo Iwa bahwa ada seorang putri yang cantik di tanah Jawa yang sepadan dengan Ki Kebo Iwa dan untuk dipersandingkan dengannya.

Ki Kebo Iwa sangat senang dan Kebo Iwa diharuskan menjemputnya ke Tanah Jawa. Ki Kebo Iwa mohon izin kepada Rajanya untuk pergi ke Jawa mengambil calon istri dan sang raja mengizinkannya.Sebelum menyeberang mengarungi lautan Ki Kebo Iwa semadi di Pura Luhur Uluwatu. Di Pura tersebut beliau sudah dilarang untuk pergi ke Jawa karena akan terjadi sesuatu, namun karena keinginan yang kuat mendapatkan istri, petunjuk itu tidak dihiraukan, bahkan ada batu besar yang menghadang, batu itu pun dibelahnya menjadi dua, satu ditaruh di Belah Batuh, satunya di bawa ke tanah Jawa (mungkin itu asal usul dari nama Desa Blah Batuh). Sampai di Jawa masyarakat takut dengan Ki Kebo Iwa karena tinggi besar membawa keris dan membawa batu. Muncul ide dari Ki Patih Gajah Mada untuk mengurangi kesaktian Ki Kebo Iwa. “Cening Kebo Iwa kenapa cening bawa keris dan batu ke sana sini, semua rakyatku jadi takut,mari kerisnya disimpan dulu.” Keris Ki Kebo Iwa diserahkan kepada Ki Patih Gajah Mada, bukannya disimpan, ternyata dibuang ke laut,dan diselamatkan serta disimpan oleh Ratu Kidul.



Berikutnya Ki Kebo Iwa disuruh membuat sumur oleh Gajah Mada untuk mandi calon istrinya. Setelah sumurnya dalam Kebo Iwa diurug dengan batu rame rame oleh rakyat Majapahit. Dengan kesaktiannya, batu-batu yang mengurugnya semua terpental ke angkasa. Gajah Mada sudah habis akal untuk melenyapkan Ki Kebo Iwa dari muka bumi, di suruhlah Ki Kebo Iwa pulang ke Bali karena istri yang dijanjikan itu sebenarnya tidak ada, "Itu hanya kiasan,"kata Gajah Mada. "Yang kami sebut Ni Gusti Lemah Tulis itu adalah sebuah gunung cantik yang namanya Gunung Batu Tulis."

"Saya tidak mau pulang ke Bali karena kami janji pada raja kami bahwa kami ke Jawa untuk mengambil istri. Bila kami tak membawa istri, kami akan sangat malu sekali pada sang Raja. Kami merasa di tipu daya, namun kami tak akan bisa mati dengan cara ini, lebih baik kami mati dengan secara satria. Kami bisa mati oleh siraman pamor bubuk, bunuhlah kami dengan itu, kami akan mati."

Kebo Iwa mengeluarkan pamor bubuk diserahkan kepada Patih Gajah Mada, lalu ditaburkan pamor bubuk itu oleh Gajah Mada,seketika itu Ki Kebo Iwa lenyap tanpa bekas (moksa).

Ida I Dewa Mardiana mendapat tugas mengambil keris itu di pantai selatan (Malang) dan pusaka tersebut sudah diberikan oleh Ratu Kidul dan kini disimpan di Kedatuan Kawista Belatungan,Tabanan.

Keris Pusaka Kebo Iwa











2 komentar:

Astungkara... kebesaran Dharna akan datang segera wahai krama Hindu

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More