Cover Buku Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing

Hasil Buruan 27 tahun,Untuk mengumpulkan data" Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing

Poto Pak Made Masih Remaja

Poto tahun 1990, Bersama penglingsir Warga Sri Karang Buncing Jero Wayan Gede Oka (3 dari kiri) di depan "SUMUR UPAS" (dalam gubug), sumur diperkirakan dibuat oleh Ki Kebo Iwa oleh penduduk setempat disebut Kebo Suwo Yuwo.

Pura Lempuyang Madya Tempoe Doloe TH 1991

Pura Lempuyang Madya TH 1991

Pura Kuru Baya

Pura Kuru Baya terletak di barat Pura Gaduh, Blahbatuh. Pura ini tempat Ki Kbo Iwa mendapat wangsit bahaya, bahwasanya akan terjadi firasat buruk yang akan menimpanya. Tapi karena satya wacana dan mengemban tugas raja beliau akhirnya berangkat juga, maka terjadilah kenyataan pirasat itu dan beliau menemui ajal di tanah Jawa.

Pura Kawitan Blahbatuh

Pura Kawitan Yang terletak di barat daya Kota Gianyar

ARCA PANGULU MASUCIAN

empat hari (7/8/2011) sebelum pujawali di Pura Puseh Blahbatuh arca pangulu masucian dilakukan oleh panglingsir warga Jero Wayan Gede Oka dan Jero Mangku Puseh ,,,

Simbol Penghulu Sri Karang Buncing

Simbol

Pak Made Lagi Jualan Buku

Pak made mempromosikan buku terbitan pertamanya

Pak Made Lagi Meeting

Bedah Sampul Buku Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing Dalam Dinasti Raja-Raja Bali Kuno, di Villa Shanti Mandala, Batuan ,,,

Minggu, 13 Mei 2012

Bab X Treh Sri Karang Buncing Masa Kini


Bab X
Treh Sri Karang Buncing
Masa Kini

Transisi pemerintahan Bali Kuno ke Majapahit, tahun 1343 M sampai tahun 1350 M, telah terjadi 30 (tigapuluh) kali pemberontakan dengan perkataan lain Bali belum sepenuhnya ditundukkan oleh para Arya Majapahit. Dalam menengahi peralihan kekuasaan antara Bali dan Majapahit atau untuk mengisi kekosongan pemerintahan Bali tatkala itu, maka diangkatlah seseorang dan diberi jabatan Kiayi Agung Pasek Gelgel, sebelum ditunjuk raja baru dari Majapahit yaitu Sri Kresna Kepakisan (Dalem Samprangan) Isaka 1272/1350 Masehi.

Peralihan kekuasaan tentunya membawa dampak politik psikologis bagi masyarakat Bali Mula pada umumnya dan keturunan Sri Karang Buncing pada khususnya. Untuk menghindari pergolakan politik kekuasaan pada masa itu, masyarakat Bali menyiasati dengan berbagai cara, antara lain dengan nyineb wangsa (menutup asal usul),menyingkir (mengungsi) ke tempat yang lebih aman dari kejaran musuh, atau diangkat oleh pemerintahan selanjutnya untuk mengisi strukturisasi pemerintahan didalam meredam kemarahan masyarakat Bali Mula. Disamping saling kawin mengawini antar keturunan dua penguasa, atau keluarganya dihaturkan untuk mengabdi dalam kelompok berkasta lebih tinggi, Disamping keberadaan di tempat sekarang karena bencana alam dan alasan lainnya.

Konsep pemujaan Tuhan melalui pura kawitan, tempat suci leluhur warga (klen) belum muncul pada era Bali Kuno. Sistem catur warna masih konsisten diterapkan dalam menata kehidupan sosial di jagat Bali era itu. Catur warna, merupakan empat pembagian guna dan karma yang ditentukan oleh sifat (bakat) dan pekerjaan seseorang, bukan ditentukan oleh kelahirannya seperti dalam sistem soroh. Mengambil analogi dengan mitos kelahiran warna tersebut,dapat dikatakan setiap orang adalah Brahmana, Ksatria, Wesya, dan
Sudra. Hanya gradasi pekerjaannya kemudian yang membedakan dia lebih disebut sebagai Brahmana (kaum ulama), Ksatria (pertahanan dan pemerintahan), Waisya (petani dan pedagang),atau Sudra (pelayan dan buruh). Ketaatan warna sudra dengan warna Brahmana, misalnya, seolah-olah terjadi karena perbedaan kelas, bukan dilihat dari fungsi sosialnya di masyarakat Hindu.

Semenjak sistem warna perlahan-lahan berubah menjadi sistem wangsa atau sistem soroh yang dapat disebut sebagai sistem kasta khas Bali, kemudian dikelompokkan sebagai Ksatria dan Wesya dalam sistem kasta, sedangkan Danghyang Nirartha, kemudian bergelar Pedanda Sakti Wawu Rauh yang datang ke Bali tahun 1550 di zaman pemerintahan Raja Dalem Batur Enggong dan Danghyang Astapaka,menurunkan wangsa Brahmana, yang kemudian dikelompokkan ke dalam kasta Brahmana. Sementara keturunan para dang acarya (pendeta sekte siwa), dang upadyaya (pendeta sekte boddha),para brahmana, para Rsi, para pertapa raja-raja Bali Kuno, para senapati, para kubahyan, para samgat, para nayaka, dan masyarakat Bali Mula yang dikalahkan, nyaris tidak berhak menyandang ke tiga kasta tersebut, kecuali mereka yang diperlukan wibawanya dalam menjaga stabilitas pemerintahan yang baru, disebut arya, sedangkan yang lain dikelompokkan sebagai sudra yang kemudian menyebut diri sebagai “jaba” (luar), yang berarti diluar kasta Brahmana,Ksatria, dan Wesya. Apalagi pengelompokkan wangsa-wangsa di Bali dikukuhkan lagi dengan hukum adat, yang memberikan hak-hak istimewa kepada wangsa yang lebih tinggi. Dengan adanya hak-hak istimewa itu, yang melekat secara turun temurun, semakin kuatlah anggapan masyarakat bahwa Catur Warna itu sesungguhnya sama dengan soroh (clan).

Zaman Bali Kuna tempat pertapaan dan perabuan para raja Bali, serta spirit alam sekitarnya yang dicandikan sebagai media penghubung ke para dewa oleh keturunan dan masyarakat Hindu sekitarnya. Karena raja diyakini sebagai titisan dewa. Setelah pemerintahan Sri Masula-Masuli tahun 1324 muncul konsep Sapta Giri yaitu 7 gunung sebagai simbol stana suci para dewa (lontar aji murti siwa sasana). Perkembangan selanjutnya kiblat tujuh gunung tersebut di aplikasikan di desa desa dengan palinggih meru tumpang
pitu (tempat suci dengan beratap tujuh) yang terletak di Pura Puseh.Pasca kedatangan Danghyang Nirartta sekitar tahun 1550 muncul konsep pemujaan kawitan, stana suci para leluhur serta konsep istadewata yang berdiri mengitari Pulau Bali. Yang pada akhirnya membawa dampak kebingungan bagi masyarakat Bali Mula untuk menelusuri jejak-jejak leluhur mereka yang sudah ada, sebelum kedatangan Danghyang Nirartta di Bali. Dimanakah pura kawitan dan padharman masyarakat Bali Mula itu?

Kebingungan bagi keturunan Sri Karang Buncing dan keturunan Dukuh dalam menentukan asal usul leluhurnya didapat dari cerita yang diceritakan oleh orang tua, maupun kerabat dekat, ada pula mendapat petunjuk dari ‘niskala’ dan sebagainya. Sehingga beberapa kelompok keluarga keturunan Sri Karang Buncing dan keturunan Dukuh masuk clan/warga pasek, beberapa kelompok keluarga masuk warga dalem (arya), beberapa kelompok keluarga masuk warga bendesa, bahkan ada yang masih tetap menyandang turunan dukuh dan soroh karang.

Penyebaran mereka dalam satu kabupaten di Bali terjadi dalam periode yang berbeda beda. Beberapa kelompok penyebarannya melalui darat dan beberapa kelompok penyebarannya melalui laut. Materi yang penulis kumpulkan dari beberapa pengurus maupun dari para panglingsir warga, beberapa merupakan hasil
wawancara, maupun dari catatan tertulis yang telah ada di beberapa Pura Dadiya yang ada di desa tertentu. Inventarisasi dilakukan khususnya bagi kelompok warga yang memiliki pura dadya, artinya kelompok keluarga yang jumlah populasinya melebihi 20 KK. Dari pengumpulan data tersebut terdapat berbeda-beda identitas yang dijadikan momentum didalam mengenang roh suci leluhur mereka dimasa lalu, ada memakai identitas prabali karang buncing, arya karang buncing, gusti karang buncing, bendesa karang buncing, sri arya karang buncing, dukuh karang, si karang, kryan karang buncing,pasek karang buncing dan soroh karang lainnya.

Kemungkinan munculnya perbedaan identitas tersebut berdasarkan guna karma, atau tugas dan fungsi keturunan beliau saat itu. Tatkala keturunannya menjabat sebagai kepala desa, bendesa karang buncing sebutannya. Tatkala keturunannya mendapat tugas pemerintahan Dalem (Majapahit), arya karang buncing sebutannya.Sedangkan keturunan yang berasal dari pertapa raja raja Bali Kuno di Desa Gamongan, persebaranya warga dukuh sebutannya. Tatkala ada pengelompokan dalam penulisan babad antara nak jawa dan nak bali atau keturunan berasal dari Jawa dan orang Bali, prabali karang buncing disebutnya. Jika keturunannya mamarekan (mengabdi) di keluarga dalem atau yang berkasta lebih tinggi, pasek karang buncing disebutnya, dan sebagainya. Sesungguhnya kata-kata Karang Buncing yang berbeda itu berasal dari Sri Karang Buncing adik kandung Sri Kebo Iwa yang hidup pada masa peralihan pemerintahan Bali Kuno ke Majapahit. Beliau berdua adalah keturunan akhir raja-raja Bali Kuno dan misan mindon (sepupu) dengan Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Disamping kesepakatan warga dalam Mahasaba, nama Sri Karang Buncing yang dipakai momentum oleh keturunannya masa kini di dalam mendekatkan diri kepada Hyang Kawitan (leluhur) dan Hyang Widhi/Tuhan.

Jika yang menjadi acuan awal keberadaan dalam menentukan pura kawitan pasca pemerintahan Arya Majapahit, semestinya keturunan Sri Kesari Warmadewa masa kini memiliki 5 pura kawitan yaitu 

(1) Pura Kawitan Warga Dukuh berhulu di Desa Gamongan persebarannya ke desa desa di Bali masa kini.

(2) Kawitan Sri Karang Buncing yang berhulu di Blahbatuh menjadi watek karang yang ada masa kini. 

(3) Pura Kawitan keturunan Sri Batu Ireng (Sri Astasura Ratna Bumi Banten) di Batahanar (Bedulu) tidak jelas keturunannya masa kini.

 (4) Pura Kawitan Dalem Petak Jingga di Jimbaran putrakandung Sri Batu Putih juga tidak jelas siapakah keturunannya masa kini.
 (5) Pura Kawitan Jaya Katwang putra Sri Maha Sidhimantra Dewa di Jawa, juga tidak jelas siapa keturunannya masa kini.

Dari kumpulan naskah yang ditemukan hanya 2 (dua) cabang keturunan Sri Kesari Warmmadewa yang kelihatan sangat jelas yaitu bermuara ke Gamongan menurunkan para Dukuh persebarannya masih ada masa kini. Dan yang bermuara ke Blahbatuh, Sri Karang Buncing yang menurunkan watek karang. Konsep Tri Hita Karana yang menjadi pedoman pemerintahan era Bali Pertengahan, dimana Desa Gamongan yang membidangi parahyangan jagat bali diberikan kekuasaan penuh mengurus hubungan umat dengan Tuhannya
(uloning jagat bali atau siwaning jagat bali) Sedangkan bagian pawongan hubungan kerajaan dan masyarakatnya adalah Batahanar (Blahbatuh), maka tunggul i jagat bali artinya Blahbatuh merupakan pusat pemerintahan di Bali pada era itu. Dan Pura Gaduh maka gagaduhan prabhu bali, artinya Pura Gaduh merupakan tempat suci kerajaan Batahanar saat itu. Pura Gaduh merupakan pusat pemujaan Dewa Sapta Giri di stanakan pada palinggih meru tumpang 7 (stana suci beratap tujuh), kalau boleh dikatakan Pura Jagat Natha masa itu. Sedangkan masa pemerintahan Dalem Gelgel, yang menjadi kiblat adalah Gunung Agung, Pura Besakih maka uloning jagat bali,dan Kerajaan Gelgel sebagai pusat pemerintahan.

Mengacu dari transkrip Lontar Purana Pura Puseh Gaduh, Lontar Raja Purana Pura Lempuyang dan Piagem Dukuh Gamongan, Warga Sri Karang Buncing dan masyarakat Bali Mula yang hendak madiksa atau menapaki hidup suci semestinya mengikuti jejak leluhur terdahulu yaitu melakukan hidup suci (wanaprasta) ke Gunung Lempuyang, Desa Gamongan, karena Pura Lempuyang Gamongan maka siwaning jagat bali, sebagai simbolis lahirnya istilah maguru siwa yang dirintis oleh Hyang Gnijaya khususnya bagi umat yang ingin menapaki hidup kesucian menjadi dukuh (pendeta). Dengan perkataan lain setidaknya sang calon diksita treh Sri Karang Buncing wajib nunas tirta atau mohon restu ke Desa Gamongan. Disamping bhisama yang telah dicetuskan para leluhur dalam lontar usana bali milik pura kawitan dan Piagem Dukuh Gamongan untuk tidak melupakan tiga kahyangan yaitu Pura Kawitan Sri Karang Buncing,Pura Gaduh dan Pura Lempuyang Gamongan, Karangasem.

Karena keterbatasan waktu, penulis hanya mencantumkan beberapa kelompok keluarga yang memiliki pura dadya yang ada di desa tertentu, sebagai penanda bahwa keturunan raja raja Bali Kuno khususnya keturunan Sri Karang Buncing dan Keturunan Dukuh masih tetap eksis dan jelas keberadaannya masa kini.Penulis tidak menelusuri dimana letak pura dadya itu, serta benda arkeologi yang ditinggalkan, adakah kahyangan desa yang di-mong oleh warga Karang Buncing selain pura dadya milik warga. Yang terkadang catatan tertulis berada jauh dari letak pura. Maka, tentu hasilnya tidak memuaskan di dalam menguraikan perjalanan leluhur mereka sebelumnya. Tidak ditemukan catatan pasti menguraikan persebarannya, maka tidak semua pura dadya diunggah dalam naskah ini. Sesungguhnya penulis hanya memfokuskan materi sampai di Sri Karang Buncing dan Dukuh saja. Untuk mengetahui lebih jelas tentang nama dan alamat keturunan Sri Karang Buncing dan Dukuh persebarannya masa kini tercatat di Buku Besar Pasemetonan Sri
Karang Buncing di Pura Kawitan, Blahbatuh, Gianyar.

Penjelasan awal tentang nama, alamat anggota warga berasal dari Sekretaris Warga Sri Karang Buncing, I Nyoman Sudana SH,yang mengatakan jumlah anggota yang terdaftar dalam Buku Besar Pasemetonan di Pura Kawitan berkisar 1.800 KK. Disamping dalam buku kecil yang disusun oleh Pak Wul dengan judul Ngingetang Kadang Warga khusus warga Karang Buncing tertera nama dan alamat dusun persebarannya di beberapa desa di Bali. Berikut beberapa persebaran keturunan Sri Karang Buncing dan Dukuh yang ada di Bali:

Kabupaten Karangasem
Pura Lempuyang, Desa Adat Gamongan, Perbekel Tiyingtali
I Gede Wira, tetua warga, mengungkapkan, sebelum pengambilalihan Pura Lempuyang yang sekarang disebut Pura Lempuyang Madya, warga Desa Adat Gamongan pangamong beberapa pura yaitu Pura Pucak Bisbis, Pura Penataran Lempuyang, Pura Telaga Sawang, Pura Pajenengan Sri pasung Grigis, Merajan Sri Rigis, Merajan Dukuh Karang, Merajan Karang Semadi, Pura Pesimpenan.Jumlah pangamong yang ada di Desa Adat Gamongan 38 KK dan pengempon sebanyak 18 dadiya yang tersebar di luar Desa Gamongan.

Pura Penataran Gamongan, Desa Pakraman Muncan

Dalam buku Inventarisasi Pura Penataran Gamongan yang disusun oleh Jro Mangku Sugiri, dkk (2010:11) dijelaskan tentang sejarah Pura Penataran Gamongan di Desa Pakraman Muncan.Sebelum dipindah atau magingsir ke Dusun Pamuhunan di tempat sekarang, dulu berlokasi di Bukit Kucet/Dukuh dan diperkirakan pendiriannya setelah runtuhnya Kerajaan Batahanar. Berdasarkan Raja Purana Besakih dan Tata Ruang Kawasan Suci Pura Besakih,Desa Muncan termasuk kawasan suci Pura Besakih sampai Pura Pasar Agung di Gunung Agung, karena Desa Muncan sebagai pewaregan (dapur, lumbung) Pura Besakih dan di Desa Muncan juga terdapat tempat pamelastian dan nunas tirta ida bhatara-bhatari Pura Besakih dan Pura Pasar Agung, yaitu Pura Yeh Sah.

Dengan adanya penataan pemukiman penduduk Desa Muncan saat itu oleh Kerajaan Karangasem, maka panglingsir (tetua) yang dulu berada di Dukuh juga pindah ke tempat sekarang yaitu Dusun Pamuhunan. Menurut cerita tetua, bahwa Dusun Pamuhunan dulunya adalah tempat pembakaran jenazah atau tunon sehingga diberi nama Pamuhunan. Perpindahan pemukiman ini diperkuat adanya kemungkinan pola pertukaran kepemilikan lahan antara lahan yang ditempati sebagai pemukiman sekarang (Dusun Pamuhunan)
dengan lokasi kuburan desa yang sekarang. Mengingat lahan-lahan yang berada disekitar kuburan desa sekarang, baik sebelah utara,timur maupun sebelah barat atau sekitar Pura Dalem banyak dimiliki oleh panglingsir sejak jaman dahulu, yang mempunyai akses kedekatan lokasi Bukit Kucet.

Menurut tetua warga, lokasi Pura Penataran Gamongan sekarang memakai lahan bekas pekarangan Kumpi Kayun dan Kumpi Karang yang ahli warisnya tidak ada lagi atau camput. Disamping itu juga didasarkan atas posisi tanah untuk pembangunan tempat suci dipandang cukup baik. Pengempon Pura Penataran Gamongan adalah keluarga Sri Karang Buncing yang berada di Dusun Pamuhunan, Desa Muncan yang jumlahnya saat kini (2009) adalah sebanyak 85 KK, baik yang mengempon Pura Penataran Gamongan maupun Pura Dadya.

Pura Paibon Hyang Batuh, Desa Lusuh

Menurut tetua warga I Wayan Bawa asal usul persebaran warga yang ada di Desa Lusuh yang diceritakan oleh para tetua sebelumnya berawal dari tiga orang menetap di Desa Selat, di Prasana dan tetua Wayan Bawa sebagai pengempon paibon Hyang Batuh berkembang menjadi 45 KK. Awalnya semua kepengurusan pura dipegang oleh warga baleran (utara) pura, sedangkan keluarga tetua Bpk. Wayan Bawa yang tinggal satu pakarangan dengan Pura Paibon hanya sebagai pelaksana bila ada upacara di Paibon Hyang Batuh.

Pada suatu hari karena keadaan pura sangat rusak dan tetua Wayan Bawa bermaksud memperbaiki pura sehingga keluarga yang tinggal di utara pura pun diminta untuk membantu mengeluarkan iuran dalam memperbaiki pura tetapi apa yang terjadi mereka hanya bisa membayar dengan batu slebingkah (pecahan grabah) hal ini membuat ketegangan antar dua kelompok keluarga itu, sehingga terjadi pemisahan dengan mendirikan Paibon baru di keluarga yang bertempat tinggal di utara. Semenjak itu masing-masing kelompok warga memiliki pura tempat suci sebagai pemujaan leluhur. Dari seluruh kelompok keluarga yang bertempat tinggal di Desa Lusuh tetap datang menghaturkan sembah bakti maupun membayar iuran wajib ke Blahbatuh jika ada odalan di Pura kawitan demikian di informasikan oleh Ketua Paibon Hyang Batuh I Wayan Bawa.

Persebaran warga ke Dusun (Banjar, Br.) yang ada di Kabupaten Karangasem: Br. Gede Muncan Selat, Banjar Yang Api Muncan Selat, Banjar Lusuh Selat Duda, Banjar Saren Nongan Rendang, Br.Sengkidu Nyuh Tebel, Banjar Jasi Bugbug, Br Asak Kanginan, Desa Timbrah, Desa Bungaya, Br. Bukian Nongan, Br. Perasi Bugbug, Br Buitan Apit Yeh, Br. Kastala Ngis Manggis, Br. Yeh Pah Manggis,Br. Ngis Kelod, Br. Simpar Kawan Pidpid, Br. Lebuh Pura Ayu Abang, Br Perayu Tista Abang, Br. Tista Gede, Br. Kemuda, Br.Lingga Manik Tumbu, Br. Siladumi, Br Cucut Ban Kayu, Br. Kubu Karangasem, Br Bungkulan Seraya, Br. Kecicang, Br. Lebah Culik,Br. Gambang Seraya, Br. Peladung Tengah,

Kabupaten Bangli
Kecamatan Tembuku ada Tiga Pura Dadya
1) Dalem Karang Buncing sebagai panglingsir Jero Mangku Gede.Pura Dalem Gaduh sebagai panglingsir Jero Mangku Gaduh. Puri Karang dengan anggotanya dari Sukawana sebagai panglingsir Jro Gede Karang.

 2) Pura Dadya Karang Kubu sebagai panglingsir Jero Guru. 

3) Pura Dadya Karang Bunutin dan Guliang sebagai panglingsir Guru Bratha. Mrajan Ageng Karang Buncing Penatahan sebagai panglingsir Jro Mangku Puseh. Dadya Gaduh Karang Manuk sebagai panglingsir Guru Logam.

Di Desa Undisan jumlah kepala keluarga adalah 75 KK penyebaranya melalui Desa Gamongan sampai sekarang nunas tirta dan kajang ka Desa Gamongan. Panglingsir Jro Dasaran I Made Wijasa dan Jro Mangku Dadya : Dr Jro Mangku Ketut Dinamika,S.Sos. Nama Pura : Dalem Gaduh Sri Karang Buncing. Penyebaran dari Undisan ka Kintamani, Sukawana dan Bunutin Kintamani.

Pura dadya di Bunutin panglingsir Guru Beratha penyebaranya dari Lebih Gianyar. Jumlah anggota 10 KK. Dari Bunutin ada ke Guliang Kawan dan Kubu Bangli. Nama Pura : Dadya Karang Buncing. Dadya Manuk nama panglingsir Guru Wayan Logam.Penyebarannya dari Blahbatuh karena panglingsir di sana bernama Kaki Gaduh. Jumlah Anggota 10 KK. Dadya Karang Penatahan berjumlah KK 35 KK, 5 KK di Bengkulu, 2 KK di Negara.Penyebarannya mungkin melalui gamongan karena berdasarkan pralingga yang disungsung berupa dukuh. Tetapi salah satu panglingsir diberi nama panggilan pekak batuh karena dulu waktu mapinton siapa yang bisa membuka gelung kori di Pura Gaduh dia warih Karang Buncing. dan beliau lolos. Semeton Desa Penatahan dan Desa Undisan mulai pengabenan dan upacara dewa yadnya sudah memakai Ida Pandita Dukuh sebagai pamuput (pemimpin upacara) dari dulu sampai sekarang antara semeton Desa Penatahan dan Desa Undisan sudah terjalin ikatan keakraban. Peninggalan para pendahulu berupa benda sakral banyak tersimpan di Penatahan,Balean di Undisan Klian subak di Manuk. Demikian diinformasikan
oleh Gede Karang.

Persebaran warga di Kabupaten Bangli: Banjar Guliang Kawan,Banjar Bunutin, Banjar Penatahan, Banjar Undisan Tembuku, Banjar Kuwum Sukawana Kintamani, Banjar Kutuh Kintamani, Banjar Manuk Susut, Banjar Jaya Maruti Kintamani.

Kabupaten Klungkung
Pura Gaduh, Dusun Losan, Takmung
Tetua warga dari Banjar Losan, I Nyoman Wijana, mengatakan,dimana sebelum masuknya para Arya Majapahit ke Bali, leluhur mereka bertempat tinggal di Desa Takmung. Setelah pengambilalihan,leluhurnya pindah ke Desa Blega. Suatu saat terjadi konflik di Alas Blatung dan mereka lolos dalam pertikaian, karena lolos maka lama kelamaan tempat mereka tinggal diberi nama Losan, karena lolos dari pertikaian itu. Jumlah kepala keluarga 35 KK yang mengampu Pura Gaduh yang ada di Banjar Losan, Kelungkung.Persebaran warga di Dusun (Banjar) yang ada di Kabupaten Kelungkung: Banjar Sengguan, Banjar Cempaka Pikat Dawa, Banjar Tusan, Banjar Angkan, Banjar Selat, Dusun Kangin Bakas, Banjar Kutampi Nusa, Dusun Tegal Besar, Banjar Losan Takmung.


Kabupaten Gianyar
Prakempa Pura Dalem, Desa Celuk
Dijelaskan Sanghyang Sidhimantra beryoga lahir dari Widhi yaitu, Bhatara Uma, Bhatara Iswara, Bhatara Brahma, Bhatara Mahadewa, Bhatara Wisnu, Bhatara Siwa. Bhatara Brahma beryoga lahir Sanghyang Agnijaya, Danghyang Sidhimantra disebut juga Bhagawan Indra Cakru, Danghyang Mahadewa, dan Sira Kul Putih.

Bhagawan Indra Cakru mempunyai dua orang putra yaitu Sang Wijaya Katong dan Sira Arya Pasung Giri. Sang Wijaya Katong mempunyai seorang putra yaitu Arya Karang Buncing. Arya Karang Buncing melahirkan Si Kebo Waruga dan adiknya Arya Prabali Karang Buncing. Dan selanjutnya Arya Prabali Karang Buncing menurunkan Watek Karang,

Dijelaskan juga, wafat nya Kebo Iwa tahun candra sangkala yaitu caksu bhuta suku wong yang artinya Caka 1252/1340 Masehi. Watek Karang menyebar ke Desa Gamongan menjadi Dukuh Gamongan.Lahir di Blahbatuh keturunannya bernama Jro Gede Kadulu yang menggantikan ayahnya yang bernama Prabali Karang Buncing. Dan turunan yang lain bernama Jro Nyoman Karang Samping Jeruk.

Desa Pakraman Blahbatuh

Ketua pemaksan alit I Wayan Karang, dari Banjar Tubuh,Blahbatuh mengatakan warga Sri Karang Buncing yang bertempat tinggal di Desa Blahbatuh berjumlah 125 KK, dari seluruh kepala keluarga tersebut, beberapa KK pengempon yang mempunyai tanggung jawab terhadap: 

1) Pura Kawitan Sri Karang Buncing.


2) Pura Gaduh, Blahbatuh. 

3) Pura Kurubaya.

 4) Pura Batursari.

5) Pura Kumanak. 

6) Pura Dalem Tunon. 

7) Pura Penataran, Br Tubuh, Blahbatuh. 

8) Pura Ibu, Br Tubuh, Blahbatuh. 

9) Pura Melanting, Pasar Blahbatuh, Gianyar. 

10) Pura Beji.

Persebaran warga di Kabupaten Gianyar: Banjar (Br) Blangsinga Blahbatuh, Br. Bonbyu, Br. Banda, Br. Bona Kaja, Br. Tojan, Br.Blega, Br. Maspahit Keramas, Br. Medahan Keramas, Br. Sumampan Sukawati, Br. Gelulung, Br. Sakah Guwang, Br. Kubur Ketewel,Br. Mukti Singapadu, Br. Negari Singapadu, Br. Kuteri Singapadu,Br. Pekandelan Batuan, Br. Abasan, Br. Celuk Sukawati, Br.Pengambangan Batubulan, Br. Wanaya Bedulu, Br. Kederi, Br.Tarukan Mas, Br. Mawang Kaja, Br. Mawang Kelod, Br. Batuk Demayu Singakerta, Br. Kengetan Ubud, Br. Kutuh Kelod Petulu,Br. Tunon Demayu, Br. Padang Tegal Ubud, Br. Tengah Ubud, Br.Pupuan Tegalalang, Br. Perean Tegalalang, Br. Malet, Br. Timbul, Br.Tengah Triwangsa Manuaba, Br. Kebon Kedisan, Br. Peliatan KelusaPayangan, Br. Buntek Kerta, Br. Titiapi Pejeng, Br. Laplapan Pejeng,Br. Intaran, Br. Puseh, Br. Pande, Br. Pegembungan Pejeng, Br. Tegal Suci Tampaksiring, Br. Papadan Petak Bitera, Br Sumita Bitra, Br.Siladan Siangan, Br. Pas Dalem, Br. Pagesangan, Br. Kawan Babakan,Br. Serongga, Br. Cebang, Br. Lebih Kaja, Br. Tegal Tulikup, Br.Pinda Saba, Br. Basangambu, Br. Uma Kuta Pejeng Kangin.


Kabupaten Badung
Merajan Kubon Karang Buncing, Sibang Kaja
Dalam Lontar Prasasti Sira Arya Karang Buncing terdiri dari 14 lembar dialihaksara oleh Drs. I Nyoman Sukada (1989:6) dijelaskan,Bhatara Siwa beryoga lahir manusia Ki Prabali Karang, beliau berputra laki perempuan, beliau ini yang menurunkan Ki Prabali Karang Buncing sampai masa kini. I Prabali Karang Buncing yang tinggal di Bedugul memang milik I Prabali Gaduh di Gaduh, lahir seorang putra yang bernama Sri Kebo Teruna, sebagai mahapatih Dalem di Bali. Beliau I Gusti Karang Buncing banyak mempunyai hamba, banyak mempunyai putra, sampai I Gusti Bibi Aji Karang Kedi, banyak mempunyai putra, semua sudah menempati masing desa, semua dikasi para abdi, menjadi Prabali Karang dari dahulu sampai kini Anaknya I Gusti Karang Buncing bernama I Kebo Iwa sebagai mahapatih Dalem Bedahulu. Demikian asal mula I Gusti Karang Buncing, I Prabali Karang Buncing serta yang didharmakan I Gusti Pasung Rigih, dan I Gusti Pasung Giri menjadi mahapatih di Dalem Bedahulu.

Diceritakan keturunan I Gusti Karang Buncing, yang mengungsi di Desa Sibang, tiga anaknya yang satu bernama Si Gede Mangku Mica Gundil, berasrama di Srijati, putri beliau satu dihaturkan kepada Ida Pranda Sakti Manuaba, mempunyai putra seorang diri bernama Ida Pranda Teges, berasrama di Srijati merupakan guru spiritual (surya) Si Gede Mangku Mica Gundil, Si Abug Mahong berasrama di selatan Pura Dalem Denpasar, Si Gede Karang berasrama di utara Pura Dalem Denpasar di Sibang Kaleran. Semua mempunyai tempat masing-masing di sekitar Desa Sibang, selesai.

Setelah kalahnya Desa Sibang oleh I Gusti Agung Made Kamasan, serta I Gusti Gede Putu Mambal, Si Gede Mangku Mica Gundil membelot kepada I Gusti Agung Made Kamasan, Si Abug Mahong terus ngungsi ke Desa Tegal Narungan bersama seluruh keturunannya sampai sekarang. Si Gede Karang wafat di sebelah barat kayu kepuh besar. Keturunan Si Gede Karang dan putranya mengungsi ke Desa Peliatan, serta ada yang mengungsi mencari tempat lain, serta ada putranya masih tetap tinggal di Sahibang, yang tertua seperti Si Putu Gendu, Si Putu Gendu anak dari Kompyang Grudug, Si Made Nesa, Si Luh Nyoman Nesa, diambil oleh Puri Praupan, Si Ketut Nesa Loncing, Si Kompyang Grudug, mempunyai putra Si Wayan Kenak semua masih di Desa Sahibang, selesai.

Si Gede Bandesa Sahibang, yang mengungsi dari Desa Sahibang ke Desa Peliatan sejak tahun Saka 1392/1470 M, banyak putranya masih di Peliatan. Disamping itu ada yang mengungsi ke Manuaba,setelah lama menetap di Manuaba, ada putra beliau yang bernama I Karsa. I Karsa mempunyai dua orang putra laki laki bernama I Goyal, adiknya bernama I Jaya, dijadikan Pemangku di Pura  SaktiManuaba, setelah menjalani hidup suci, dan berguru di Geriya Ubud, mempunyai putra dan putri 8 orang.

Jumlah keturunannya yang mengampu Merajan Kubon Karang Buncing di Sibang Kaja tercatat 4 Oktober 1989 sebanyak 103 KK.


Pura Panti Karang Buncing Kuta

Ketua warga, I Made Sunarca, mengatakan persebaran keturunan Sri Karang Buncing dari Blahbatuh ke daerah Kuta tercantum dalam Lontar Piagem Dukuh Gamongan, berbunyi:

Mangke caritanen Treh nira Sri Karang Buncing, risapamadegan
nira Sri Kresna Kepakisan Baturenggong, anugrahaken desaparadesa
maring sira Bandesa Karang Buncing ndyata, Karang Buncing Kuta
ngamong pradesa Jimbaran, mwah Bandesa Silabumi, Bandesa Sraya,
Bandesa Sege, Bandesa Garbawana, Bandesa Ujung, Bandesa Tumbu,
Bandesa Bugbug, Bandesa Asak, Bandesa Timrah, Bandesa Prasi,
Bandesa Subagan, mwang Bandesa Sibetan, mula Treh Sri Karang
Buncing, mapalarasan saking Batahanyar.

[Berikut diceritakan treh beliau Sri Karang Buncing, di zaman
pemerintahan Baginda Sri Kresna Kepakisan Baturenggong,
menganugrahkan kepada Bandesa Karang Buncing, sebagai
pucuk pimpinan di desa desa, Karang Buncing Kuta, menjadi
pucuk pimpinan desa wilayah Jimbaran, serta Bandesa Silabumi,
Bandesa Seraya, Bandesa Sege, Bandesa Garbawana, Bandesa
Ujung, Bandesa Tumbu, Bandesa Bugbug, Bandesa Asak, Bandesa
Timrah, Bandesa Prasi, Bandesa Subagan, juga Bandesa Sibetan,
memang keturunan Karang Buncing, memang asalnya Batahanyar.
Dalam Usana Bali dijelaskan, kang panghulu kasinungan Jro Gede
Karang Dimade demikang juesta ring Sema Kuta Negara, artinya
adalah orang kepercayaan bernama Jro Gede Karang Dimade yang
utama bertempat tinggal di daerah suci Desa Kuta.

Yang dimaksud tempat suci di sini kemungkinan Pura Sarin Buwana, di Desa Jimbaran, Kuta Selatan. Pura Sarin Buwana termasuk Kahyangan Jagat Jimbaran bekas pertapaan Sri Batu Putih kakak kandung dari Sri Batu Ireng (Sri Astasura Ratna Bumi Banten) raja kerajaan Batahanar (Bedulu). Sejarah keberadaan Pura Sarin Buwana dan beberapa nama tempat yang ada di wilayah Jimbaran tertulis sangat jelas dalam Lontar Piagem Dukuh Gamongan. Benda tinggalan kuno yang terdapat di Pura Sarin Buwana berupa: lingga yoni jangkep, arca perwujudan dewa-dewi, arca siwa bhairawa, dan puluhan arca batu kecil. Pura Sarin Buwana di-mong oleh Warga Sri Karng Buncing yang ada di Jimbaran dan pangempon pura seluruh umat Hindu di Desa Jimbaran dan beberapa kelompok warga berasal dari luar Desa Jimbaran. Demikian dikatakan oleh kelian Pura Sarin Buwana, I Made Sudiarsa, Banjar Ubung, Jimbaran.

Setelah Ki Tambyak kalah sebagai penjaga keamanan wilayah Jimbaran serta keturunan Sri Batu Putih (Dalem Putih) yaitu Dalem Petak Jingga juga tidak jelas kehidupannya. Pasca peralihan kekuasaan masih terjadi kekacauan di desa-desa yang ada di Bali,untuk meredam kemarahan masyarakat Bali Mula oleh Sri Kresna Kepakisan Baturenggong maka diangkatlah keturunan Sri Karang Buncing sebagai kepala desa yang ada di Bali salah satunya Karang Buncing Kuta ngemong pradesa Jimbaran artinya Karang Buncing Kuta sebagai kepala desa yang mewilayahi dari Kuta sampai di Jimbaran. Dari Kuta persebarannya ke Desa Jimbaran, Munang Maning, Tainsiat, Denpasar, dengan jumlah kepala keluarga 150 KK, ikut mengampu Pura Panti Sri Karang Buncing yang terletak di Jalan Bunisari, Kuta.

Peninggalan kuno yang terdapat di Pura Panti Karang Buncing Kuta berupa batu kepelan kebo iwa (batu kepalan tangan Kebo Iwa) dengan diameter sekitar 60 cm, tinggi 125 cm yang distanakan di palinggih kepelan. Tinggalan batu ini termasuk salah satu peninggalan kuno yang dilindungi Dinas Kebudayaan di Wilayah Kecamatan Kuta. Sebelum dipindah ke Pura Panti tahun 1994, kepelan ini berada di muka halaman kelas SD 2 Kuta, sebelah Hotel Ida Beach Inn. Karena beberapa murid sakit tanpa sebab yang jelas sampai berminggu-minggu, lalu orang tuanya minta petunjuk dari paranormal untuk nunas tirta di palinggih batu akhirnya mereka berangsur pulih kembali. Sebelum batu kepelan itu dipindah dari halaman SD 2 Kuta, yang jaraknya sekitar 500 meter dari Pura Panti.

Memang dari dulu tetua warga mendengar cerita itu dari masyarakat sekitar, bahwa batu itu merupakan kepelan kebo iwa,.Karena tiada catatan yang pasti menyebutkan tentang keberadaan batu itu, maka tetua warga mengabaikannya. Pada suatu malam sehabis pujawali di Pura Panti, tetua dari Blahbatuh dan Desa Sesetan bersama beberapa warga mendatangi SD 2 itu, setelah upakara di haturkan di palinggih batu kepelan tidak begitu lama salah seorang tetua dari Sesetan kerauhan, dipinjam badan raganya dalam menyampaikan pesan dan kesan dari alam lain, diceritakan KeboI wa mengadakan perjalanan ke pantai selatan, wilayah Jimbaran,saat lagi air surut banyak muncul ceglongan (palung pasir kecil) yang masih berisi air di dalamnya lalu beliau mandi di salah satu palung kecil itu, karena saking larut dalam keheningan di palung pasir itu,tanpa disadari air pasang terjadi, karena beliau mempunyai suatu ajian tertentu sehingga Si Kebo Iwa tidak pernah tersentuh oleh air pasang itu, lalu turun sabda dari “ajik dewa brahma” untuk ingat
diri, kalau tidak Pulau Bali ini akan tenggelam.

Ketika Kebo Iwa sedang membendung daratan Kuta dan Jimbaran untuk menghubungkan Bali dengan Bukit Jimbaran di saat memindahkan dua bongkahan batu bukit dengan sebatang pohon kelor, batang kelor itu patah dan patahan batu itu jatuh di Pantai Bualu sekarang disebut Nusa Dua. Kebo Iwa mengepal tanah
bukit lalu dilempar dan jatuh di halaman SD 2 Kuta. Setelah adanya petunjuk tersebut beberapa hari kemudian batu kepelan di halaman SD 2 di-tuwur dan distanakan di Pura Panti saat kini.

Tetua warga yang diceritakan secara lisan oleh orang tuanya,mengungkapkan di samping selatan Pura Panti dulunya berdiri sebuah Bale Banjar yang disebut Banjar Gianyar. Karena perkembangan pemerintahan selanjutnya disamping populasi warga kian bertambah, maka tanah bale banjar itu dijadikan tempat tinggal oleh keturunannya. Demikian untuk warga Sri Karang Buncing yang ada wilayah Kuta dan Jimbaran, selain mengempon Pura Panti Karang Buncing, Kuta dan Pura Sarin Buwana, Jimbaran, juga mengempon di masing-masing merajan dewa hyang milik beberapa kelompok keluarga.

Pura Gaduh Bindu, Mekar Bhuana

Menurut tetua warga, I Ketut Seninnatha, dari cerita orang tuanya terdahulu, persebaran warga yang ada di Desa Adat Bindu berasal dari Blahbatuh, yang lama kelamaan mendirikan satu tempat suci yang disebut Pura Gaduh Bindu. Keturunan yang mengampu Pura Gaduh Bindu berjumlah 18 KK yang tersebar dalam beberapa Banjar yaitu Banjar Pane, Banjar Badung Sibang, Banjar Senggu Sibang, Banjar Bindu Mekar Bhuana.


Persebaran warga di wilayah Kabupaten Badung berikut: Banjar Tainsiat Denpasar, Banjar Belaluan, Br. Kaliungu Kelod, Br. Kayumas Kaja, Br. Pemeregan, Br. Tampak Gangsul, Br. Gemeh, Br. Kelandis,Br. Munang Maning, Br. Tegehe Tonja, Br. Sanglah, Br. Ambengan,Br. Pasekan, Jl Raya Sesetan No 67 Denpasar, Br. Jematang, Br.Pembetan Kapal, Br. Tangeb Kapal, Br. Uma Kapal, Br. Buruan Sanur, Br. Delod Peken Sanur, Br. Intaran Sanur, Br. Langon Sanur,Br. Ubung Jimbaran, Br. Tegal Kuta, Br. Benah Ubung Kaja, Br.Belusung Peguyangan, Br. Semaga Penatih, Br. Pohmanis Penatih,Br. Pasek Jagapati, Br. Jaba Jero Jagapati, Br. Kemulan Jagapati, Br.Angantaka, Br. Aseman Sedang, Br. Sigaran Mambal, Br. Taman Tegal Darmasaba, Br. Bindu Mambal, Br. Tamas, Br. Baturining Mambal, Br. Darmasaba, Br. Mengwi Sibang Gede, Br. Blumbang Penarungan, Br. Gulingan Tengah Mengwi, Br. Kuhum Mengwi,Br. Beringkit, Br. Gambang Mengwi, Br. Tinggan Pelaga.

Kabupaten Jembrana

Sekretaris Warga Sri Karang Buncing, Kabupaten Jembrana, I Wayan Suarma menjelaskan, secara pasti tak diketahui persebaran warga yang ada di wilayah Jembrana, hanya diperkirankan melalui darat dan ada persebaranya melalui laut. Begitu pun keberadaannya di tempat sekarang kedatangannya dalam periode yang berbedabeda.Turunya di Pelabuhan Perahu Lelateng menyebar ke 3 (tiga) lokasi yaitu,

 1) Kelurahan Banjar Tengah. Lama kelamaan dari Banjar Tengah membuat Dadiya di Melaya di Banjar Sari Kuning.
2) Kelurahan Baler Bale Agung, terletak sebelah selatan RS Negara.Dari Kelurahan Bale Agung lama kelamaan karena ada pembukaan hutan untuk dijadikan pertanian, lalu ada keluarga yang ikut dalam pembukaan hutan, yang lama kelamaan mendirikan Pura Dadiya di Desa Baluk. Dari Desa Baluk karena tranportasi lancar membuka Dadiya baru di Desa Tuwed. Masa kini Pura Dadiya yang dimiliki oleh Warga Sri Karang Buncing di Kabupaten Jembrana terletak di 9 (Sembilan) tempat yaitu: 

1) Dadiya Mendoyo. 2) Dadiya Berangbang. 3) Dadiya Kebon. 4) Dadiya Banjar Tengah. 5) Dadiya Baluk. 6) Dadiya Tuwed. 7) Dadiya Sari Kuning. 8) Dadiya Kedisan. 9) Dadiya Pergung. 10) Dadiya Berawan Tangi.
 Jumlah kepala keluarga keturunan Sri Karang Buncing yang ada di Kabupaten
Jembrana berjumlah 250 KK.


Dadiya Karang Buncing, Mendoyo Dangin Tukad

Menurut tetua warga I Ketut Meder, berdasarkan penuturan orang tua yang pernah diwawancarai, sekitar abad ke-18 ada tiga orang keluarga Tegal Mengkeb, Tabanan merantau ke Jembrana tepatnya di Desa Mendoyo Dangin Tukad. Saat itu penduduk Desa Mendoyo Dangin Tukad masih jarang, boleh dikatakan desa itu baru berdiri. Alamnya masih asri tetapi daerahnyaa rendah yang sering terendam banjir.

Setelah beberapa tahun bermukim di Mendoyo Dangi Tukad, dua orang tak betah dan mendengar kabar di Berangbang ada pembukaan hutan, lalu kedua orang itu pindah ke Berangbang mengadu nasib ikut membuka lahan pertanian. Karena daerah itu subur mereka etah tinggal di sana dan berkembang sampai sekarang menjadi puluhan keluarga, yang sekaligus meyakini penyungsungannya di Pura Kawitan Sri Karang Buncing, Blahbatuh, Gianyar.Dan yang masih tinggal di Mendoyo Dangin Tukad berkembang menjadi beberapa keluarga dan satu diantaranya pindah dan menetap di Desa Pergung Kecamatan Mendoyo yang juga bagian dari Warga Sri Karang Buncing.

Dadiya Kedisan Yeh Embang asal mulanya berasal dari Bangli persebaranya melalui darat. Sedangkan Dadiya Berawan Tangsi asal leluhurnya dari Karangasem (Tuwed) karena waktu Gunung Agung meletus lalu mengungsi ketempat sekarang.

Persebaran warga di Dusun (Banjar) untuk wilayah Kabupaten Jembrana: Banjar Kebon, Br. Banyubiru, Br. Satria, Br. Berangbang,Br. Mendoyo Dangin Tukad, Br. Yeh Embang Kedisan, Br. Yeh Buah,Br. Sari Kuning, Br. Baluk, Br. Tengah.

Kabupaten Buleleng
Pura Puseh Tingkih Kerep, Desa Pegadungan

Tetua warga, Jro Nyoman Tirta, bertempat tinggal di Dusun Asah Panji, Wanagiri, mengatakan, secara pasti memang tidak ditemukan keberadaan Pura Puseh Tingkih Kerep itu, namun menurut cerita tetua, asal mula leluhur dari Gamongan, Karangasem, mengungsi ke Pegadungan sebanyak tiga orang yaitu, I Tingkreb, I Gede Tangkas,dan I Gede Balon. Lama kelamaan keluarga mereka menyebar ke Dusun Taman Sari, Desa Padang Muliya, akhirnya mendirikan Pura Dadiya Kawitan Dukuh Gamongan. Dari Padang Mulia menyebar
ke beberapa desa antara lain, Desa Wanagiri, Desa Pancasari, Desa Lemukih, Desa Tegal Linggah, Desa Gitgit, Kota Singaraja, Desa Panji dan ke Desa Toli-Toli (Sulawesi Tengah).

Jumlah kepala keluarga turunan dari tiga nama leluhur tersebut di atas perkembangannya sampai sekarang berjumlah 350 KK. Dimana sebelumnya warga setempat bingung mencari identitas nama leluhur mereka yang patut di puja didalam mendekatkan diri kepada Hyang Kawitan (leluhur) dan Hyang Widhi. Selama 15 tahun terjadi perdebatan pencaharian jati diri warga dengan berbagai jalan ditempuh bahkan masuk bui pun di alami dalam proses pencaharian itu. Akhirnya ada beberapa kelompok keluarga masuk ke Warga Pasek, beberapa kepala keluarga masuk ke Warga Dalem (arya), dan beberapa kelompok keluarga masih meyakini turunan Dukuh. Belakangan sekitar tujuh tahunan baru menyadari Dadiya di Taman Sari ada keterkaitan ke Desa Gamongan. Karena tidak tahu ada keterkaitan antara Dukuh Gamongan dengan Pura Kawitan, Blahbatuh. Yang selama ini keluarganya belum pernah tangkil hatur sembah ke Pura Kawitan di Blahbatuh, hanya sampai di Desa Gamongan. “Mudah-mudahan dalam waktu dekat akan tangki hatur sembah” kata Jro Nyoman Tista, menyudahi informasi ini.

Menurut tetua warga Drs. I Ketut Sutarja, jumlah Dadiya yang ada di Kabupaten Buleleng sebanyak 55 Dadiya. Persebaran warga yang ada di Kabupaten Buleleng: Br. Tamblang Kubu, Br. Kubu Anyar, Br. Bulian Kubutambahan, Br. Cemara Bulian, Br. Siana Depaha, Br. Depaha, Br. Bila Kanginan, Br. Menasa Sinabun, Br.Menyali Sawan, Br. Sudaji, Br. Peken Sangsit, Br. Sema Sangsit, Br.Tamansari Padangmulia, Br. Longsegehe, Br. Katiasa Pegadungan,Br. Lebah Siung Panji Anom Sukasada, Br. Bubuan Seririt, Br. Uma Patemon, Seririt, Br. Galiran Bakti Seraga, Br. Penataran Buleleng,Kampung Widiasari, Br. Tamansari, Br. Jawa, Br. Jagaraga, Br. Sepang Busungbiu, Br. Yeh Panes, Br. Samirenteng, Br. Dauh Desa Tambak,Br. Kelodan Jineng Dalem, Br. Bukit Jineng Dalem, Br. Tejakula, Br Tejakula Kelodan, Br. Tejakula Tengah, Br. Les, Br. Depaha Tejakula,


Kabupaten Tabanan
Pura Dadiya Mandul, Banjar Mandul, Luwus
Nyoman Sada, tetua Warga Karang Buncing di Desa Mandul,mengungkapkan, leluhur mereka berasal dari Desa Kapal, daerah Pura Sada, lalu mengungsi ke tempat sekarang. Pertama datang dan menetap di Desa Mandul sebanyak 3 KK dan 2 KK tinggal di Banjar Palian, tetapi Dadiya nya tetap di Mandul, Luwus, Tabanan.Saat kini perkembangan populasi warga di Mandul berjumlah 15 KK. Dari dahulu keluarga besar di Mandul tetap mengampu Pura Kawitan Sri Karang Buncing di Blahbatuh dan Pura Lempuyang Gamongan.

Persebaran warga di Kabupaten Tabanan: Banjar Batu Tampik Kediri, Br. Mal Mundeh, Br. Tanjung Beraban, Br. Bukit Catu Baturiti, Br. Pemuteran, Br. Mandul Luwus, Br. Bangli Baturiti, Br.Jeruk Legi, Br. Lebe Perean, Br. Abian Luwang, Br. Apuan Baturiti,Br. Tegal Mengkeb Selemadeg, Br. Soka Senganan, Br. Klecung Selemadeg, Br. Bunyuh Perean Marga, Br. Penge Tua Marga, Br.Basang Be Marga, Br. Pajaan Pupuan, Br Tumagading Wanasari Penebel, Br. Jelijih Sanda Pupuan, Br. Selat Perean.

Bab IX Pertemuan Dua Saudara Kandung di Jimbaran


Bab IX
Pertemuan Dua Saudara
Kandung di Jimbaran

Gelar atau sebutan seorang raja serta keturunannya setelah masuknya para arya Majapahit menjadi kata Dalem misalnya,Dalem Selem, Dalem Samprangan, Dalem Putih Jimbaran,Dalem Sweta, Dalem Petak, Dalem Waturenggong, Dalem Kepakisan,Dalem Bekung, Dalem Sagening dan sebutan Dalem lainnya. Masa transisi pemerintahan dari kerajaan Bali-Kuno ke kerajaan Majapahit,secara parsial berakhir pula prasasti yang dikeluarkan oleh raja Bali-Kuno.Untuk mengenang kisah peristiwa yang telah lewat, muncul interpretasi yang ditulis di atas daun lontar, tentunya kekuatan daun lontar untuk masa yang datang menjadi pertimbangan, terlambat menyalinnya akan kehilangan peristiwa sejarah Bali.

Dalam Piagem Dukuh Gamongan, dijelaskan Sri Astasura Ratna Bumi Banten nama lain Sri Tapa Hulung, disebut demikian karena beliau taat dan teguh menjalani titah agama. Disebut Sri Batu Ireng karena teguh kukuh angamong jagat, kuat dan bijak dalam memerintah jagat. Dalam Piagem ini menjelaskan bahwa Sri Batu Putih adalah kakak kandung dari Sri Batu Ireng. Tidak disebutkan beliau berdua saudara kembar (laki laki) seperti yang disebutkan dalam, purana pura luhur pucak kembar,purana pura batu bolong, babad batu aji, prasasti dalem putih jimbaran beliau berdua disebut Dalem Selem dan Dalem Putih.



Piagem Dukuh Gamongan
Sri Batu Putih Kakak Kandung Sri Batu Ireng (Sri Astasura Ratna
Bumi Banten) dan Munculnya Nama-nama Tempat di Jimbaran,
Kuta Selatan.

..... risapamadeganira Sri Astasura Ratna Bumi Banten maring
Bhadahulu, kertharaharja ikang panagara Bangsul, apan sira stata
angambekaken tapa Brata semadhi sangkan rare, ika marmanyan

sira abhiseka Sri Tapahulung, kadi sanghyang wisnu nyalantara, teguh
kukuh ambekira ngamong jagat, ika matangnyan sira apasadnyan Sri
Batu Ireng, mwang kakangira apuspa

..... ta sira Sri Batu Putih, apan suci nirmala ambekira, amupu
maring Jimbarwana, anangun tapa brata semadhi, angulati ambek
kaparamarthan, samangkana subal, mangke caritanan sira Sri Batu
Putih, swe pasaha lawan sanakira, sang amrajaya maring Bhadahulu,
risampun swe ngamong rajya kadaton, menget pwa sira Sri Batu
Ireng maring kakangira, sang apasadnyan Sri Batu Putih, maring
Jimbarwana, ika matangnyan ngetut uri lampah sira kaka, neher
jumu .....

.....jug maring Jimbarwana, nanging sira maka rwa, pada tatan
wruha, maring tata wedana nira sang kalih, apan sangkan lawas palas
makarwa, risampun Sri Batu Ireng, prapta maring purinira Sri Batu
Putih, matemu lawan Stri nira Sri Batu Putih, mwang jumujug maring
parantenan, amungkah ikang bogapasajinira katur maring sira Sri
Batu Putih, risampun mangkana raris mapajar sira Sri Batu Ireng
ring wang pawastri, Ah, Ah, Kita wang pa….

..... westri, ulun atanya ring kita, ring ndhi kakangku Sri Batu Putih
mangke, dak warahen sangulun, apan sampun malawas ulun arep
atemu, sumawur sang pawestri, singgih sang wawu prapta, sira Sri
Batu Putih, hana maring mal anuriksakna punang tatanduran, riwawu
samangkana, tan pasamadana sira Sri Batu Ireng, neher jumujug
maring Mal, ri sampun sira nureksakna punang Mal, angob sira tumon
punang tatanduran, asing tinandur sar.....

.....wa mupu, mwang masari, ika matangnyan, ri genah nira Sri Batu
Putih ngastiti Hyang Pramawisesa, ingaranan Sarining Bwana, apan
sakeng irika pangastitinira meletik ikang Sarin Bwana, mangkana
ujar ira Sri Batu Ireng, rehning tan katemu kakangira maring Mal,
pastika sira nungsang palaku, apan tan aswe Sri Batu Ireng medal
sakeng puri, sira Sri Batu Putih sampun prapta maring Puri nira,
raris matur stri nira saha tawan ta.....

..... wan tangis, majaraken ri polah sang tamwi, agung aluhur,
ireng warnanira, krurakara kadi trapning danawa, amungkah ikang
boga pasaji nira maring prantenan, risamangkana atur nira sang
pawestri, tan lingen krodanira Sri Batu Putih, ngagem Gandewa
ngetut uri lampah sira Sri Batu Ireng, sang kasengguh danawa, apan
busananira ocak-ocakan, prapta maring jimbar wana, tan panantara

aprang sira kalih, aruket, pada pada jayeng rana, saling sudat, pada
tumitih, nanging tanana kacurnan, apan pada sakti pwa sira kalih,
asing malayu binuru, makliwesan sira Sri Batu Ireng, …

..... prapta maring lwah, jenek sira ingkana, apan maring abing sira
manyineb, mojar sira, mogiriastu lwah iki ingaranan Batumabing, tan
aswe kaburu sira dening Sri Batu Putih, aprang tan pegatan, melayu
pwa sira danawa, nyineb maring batu magwa, tan aswe prapta Sri
Batu Putih, melayu sira Sri Batu Ireng, mojar pwa sira Sri Batu
Putih, mogariastu ingke riwekasan kawangun pura mangaran Pura
Batumagwung, .....

..... risampun mangkana, rinebut sira Sang Danawa, dening kula
nira Sri Batu Putih, nanging prasida denya makilesan, mojar sira
Sri Batu Putih, mogariastu genah iki riwekasan mangaran Sekhang,
mapan sira Sri Batu Ireng rinebut dening wadwanira Sri Batu Putih
Jimbaran, nyutirupa sira Sri Danawa nanging Sri Batu Putih tatan
keneng ingapus, wruh pwa sira ring rupanya, ujar nira, mogariastu
ing kene kawangun pura ingaranan Pura Muaya, ri wus mangkana
kroda sira Sri Batu Ireng mwali prang tanding sira makarwa aprang
ocak-ocakan, sa….

..... ling sudat dada, cidra cinidra, aburburan punang lemah, pada
prawira ngantos lumah ngulasah maka rwa tanana alah, pada pada
makilesan, rehning prang tanding ika kadi pacepukaning sanghyang
kala kali, ri wekasan mogariastu genah iki mangaran Kali, risampun
matutupan sanghyang bayu maring angga sariranira Sri Batu Putih,
dauhaken punang bala nira, nambakaken laju nira sang danawa, raris
katemu pwa sira.....

..... sedeng amungkah cecepan, malih kaburu sira danawa, malayu
maring lisikaning awan, lesu angswol angswol ngunggahang, risampun
katemu genah masineb gaing gaingan angusap usap ikang pupu, mojar
sira Sri Batu Putih, jatasmat mogiriastu riwekasan, genah nambakaken
danawa manadi gumi mangaran Tambak, genah sira amungkah
cecepan mangaran Sesepan, ring angswol angswol munggahang ingaran
unggah unggahan, mwah ri genah angusap pupu…

..... ingaranan Gaing-gaingan, risampun lesu pwa sira maka rwa
alungguh pwa maring lemah mwang silihujar pwa sang kalih, ujarira
Sri Batu Putih, ih ta kita danawa, siapa kita, sakeng ndhi, sakti tan
paingan, tan kaprajayeng pwa ta kita, apa arep ta dateng marengke,
dhak warahen ulun, Om, Om, Om, sang maha sakti, ulun abhiseka

Sri Batu Ireng, sakeng Badhahulu, dateng marengke, arep atemu
lawang kakangku sang abhiseka Sri Batu Putih, Om, Om, Om, Uduh
Yayingku, .....

..... ulun Sri Batu Putih, risamangkana, kagyat nira kalih, apelukan
magulingan maring lemah, apan tan lingan garjita nira maka rwa,
raris kasiwi pahulunan de balapeka sedaya, maka rwa mojar pwa
sira, mogariastu ingkene kawangun pura ingaranan Ulun Swi, apan
pahulunan maswi lawan wang sanak, mangkana subal.
(Piagem Dukuh Gamongan, 12a-17b)



[Pada zaman pemerintahan Sri Astasura Ratna Bumi Banten
di Badhahulu, selamat sejahteralah Negara Bali. Karena ia selalu
menjalani tapa brata samadi sejak kecil, maka ia disebut Sri Tapa
Hulung, bagaikan sanghyang wisnu kenyataan, kuat dan taat
dalam memerintah, itu sebabnya ia diberi sebutan Sri Batu Ireng.
Kakaknya, bernama Sri Batu Putih, selalu menjalani hidup suci,
bertempat tinggal di Jimbarwana, menjalani tapa berata semadhi,
mencari kebenaran sesungguhnya, demikian selesai.

Selanjutnya diceritakan Sri Batu Putih, yang telah lama berpisah
dengan saudaranya, yang menjadi raja di Badhahulu. Setelah lama
memegang tahta kerajaan, Sri Batu Ireng ingat dengan kakaknya,
yang bernama Sri Batu Putih, di Jimbarwana (hutan luas). Oleh
sebab itu ia mengikuti jejak perjalanan kakaknya, lantas menuju
ke Jimbarwana, namun mereka berdua sama-sama tidak tahu akan
rupa wajahnya, karena saking lamanya mereka berpisah.

Setelah Sri Batu Ireng sampai di Puri Sri Batu Putih, ia bertemu
dengan istri Sri Batu Putih, dan langsung menuju dapur, membuka
persiapan hidangan untuk Sri Batu Putih. Setelah itu berkata Sri
Batu Ireng kepada si istri, “Ah, ah, kamu seorang istri, saya bertanya
kepadamu, dimana kakakku Sri Batu Putih sekarang, silahkan
beritahu aku, karena sudah lama aku tidak bertemu.”
Menjawab sang istri, “Baiklah, Sri Batu Putih, ada di kebun
sedang memeriksa tetanaman.”

Tanpa menyampaikan terimakasih, Sri Batu Ireng, terus menuju
kebun. Setelah melihat-lihat kebun itu, ia sangat kagum dengan
tanaman di sana, setiap tanaman tumbuh dengan subur, lebat.
Itu sebabnya, di tempat Sri Batu Putih ngastiti Hyang Pramawisesa,
bernama Sarining Bwana, karena dari tempat memohon


beliau muncul Sarin Bwana (isi dunia), begitu ujar beliau Sri Batu
Ireng.

Karena tidak bertemu dengan kakak beliau di kebun, ia yakin
telah lewat berlainan arah. Tidak lama setelah Sri Batu Ireng keluar
dari puri, Sri Batu Putih tiba di purinya, lantas istrinya berkata
sambil terisak, memberitahukan tingkah polah sang tamu, tinggi
besar, hitam warna kulitnya, acak-acakan bagaikan seorang raksasa,
membuka hidangan baginda di dapur. Demikian diberitahukan
oleh sang istri.

Tak disangka marah besar Sri Batu Putih, seraya mengambil
gandawa (busur) dan mencari Sri Batu Ireng, yang disebut raksasa
itu, karena pakaiannya urak-urakan, datang ke Jimbarwana. Tak
berapa lama berkelahilah beliau berdua, berkelahi habis-habisan,
sama-sama tangguh dalam perkelahian, saling seruduk, saling
menekan, namun tak ada sampai berdarah, karena sama-sama sakti
beliau berdua, saling kejar.

Sri Batu Ireng menyelinap, tiba di sungai, mengaso sesaat di sana.
Karena di tebing ia bersembunyi, berkatalah ia, “Semoga sungai ini

kelak bernama Batumabing.” Tak begitu lama ia dikejar oleh Sri
Batu Putih, lagi berkelahi tak henti-hentinya mereka. Lari si raksasa
sembunyi di goa batu, tak begitu lama datang Sri Batu Putih,
larilah Sri Batu Ireng. Berujar Sri Batu Putih, semoga kelak disini
di bangun pura bernama Pura Batumagwung, kemudian direbut
sang raksasa itu, oleh rakyat Sri Batu Putih, namun berhasil beliau
menyelinap, berkata beliau Sri Batu Putih, “Semoga kelak tempat
ini di kemudian hari bernama Sekhang.” Artinya Sri Batu Ireng
direbut oleh rakyatnya Sri Batu Putih Jimbaran. Menghilang wajah
sang danawa namun Sri Batu Putih tidak bisa dihapus, ketahuan
wajahnya, berkata beliau, semoga kelak di tempat ini dibangun
pura bernama Pura Muaya.

Seketika itu marah Sri Batu Ireng, kembali perang tanding
mereka berdua, dengan sangat dahsyat sekali, saling pukul dada,
sama-sama memakai tipuan, berhamburan tanahnya, sama-sama
perkasa sampai lemah lunglai mereka berdua, tak ada yang kalah,
sama-sama menyelinap, karena perang tanding itu bagaikan pergumulan
sanghyang kala-kali, di kemudian hari semoga tempat ini
bernama Kali.

Setelah dapat bernafas sejenak, Sri Batu Putih memerintahkan
pasukannya untuk menghadang langkah sang raksasa, akhirnya
ketemu beliau sedang membuka cecepan (tempat mako). Lagi
dikejar raksasa itu berjalan ke tengah kabut, lesu berangsur-angsur
nafasnya naik. Setelah ketemu di tempat dimana bersembunyi
memijit dan mengusap-usap kakinya, berkata Sri Batu Putih, kelak
semoga di kemudian hari, tempat menghadang si raksasa menjadi
tempat bernama Tambak, tempat dimana ia membuka tembakau
bernama sesepan, di tempat nafas tertatih-tatih keatas bernama
Unggah-unggahan, dan di tempat mengusap-usap kaki bernama
Gaing-gaingan.

Setelah payah mereka berdua dan duduk di tanah serta berujar
salah satunya, berkata Sri Batu Putih, “Hai kamu raksasa, siapa
kamu, dari mana, sakti tak tertandingi, tak bisa dikalahkan, apa
maksud kamu datang kemari, kasih tahu aku!”

“Om, Om, Om, sang maha sakti, aku bergelar Sri Batu Ireng,
dari Badhahulu, datang kemari, hendak bertemu dengan kakakku,
yang bernama Sri Batu Putih, Om, Om, Om.”
“Aduh adikku, aku Sri Batu Putih.”

Seketika itu, kaget mereka berdua, berpelukan, bergulingan di
tanah, karena saking bahagianya mereka berdua, dan disambut
oleh seluruh pasukan dan rakyatnya. Berujarlah mereka berdua,
“Semoga kelak di sini dibangun pura bernama Ulun Swi, sebagai
tonggak pertemuan dengan sanak saudara.”
Demikian selesai. ]



Prasasti Dalem Putih Jimbaran
Dalem Putih (Sri Batu Putih), Menurunkan Putra Dalem Petak
Jingga, Membangun Pura Ulunswi, Pura Kahyangan Pangulun Setra,
dan Pura Dukuh.


..... riwawu mangkana sumawur Dalem Bedahulu, duh ah ah ih ih
yan mangkana asanak pwa kita lawan ulun apan sira wijil sakeng watu
sira wijil sakeng toya, sumawur sang Dalem Putih Jimbaran yan tuhu
mangkana kadi wuwus ta dalan mangke sira mareng pakubwan nira,
anuli ta sidra atuntunan tangan pepareng lumaris ta sira ngranjing
ring pakubon, jumujug sira maring genahe soda rayunan nira tumuli
sira sareng alungguh sama nadah, antyan ta pada suka nira kalih, ri
wus sira nadah mojar pwa sira Dalem Bedahulu, duh sira yayi Putih
Jimbaran pakaryan ta sira ring pakubon ring kene kakanta mangke
amwit ring sira mantuka ring Bedahulu, agelis matinggal sira sang
dalem, tanucapan sira ring awan, tucapa mangke sira Dalem Putih
Jimbaran, garjita sira ring pakubon kunang stri nira meteng wus liwar
ring wolu lakwaning prataya mijil pwa ikang rare jalu paripurna
ingaranan sira Dalem Petak Jingga. . . .
..... mwah wuwus ta sira Dalem Petak Jingga, apan sira kaping
singgih dening wang Jimbaran sira angwangun paryangan setanan
bhatara meru tumpang welas ingaranan ta ya Ulun Swi, hana pwa
sentanan nira anglurah Tegeh Kori samawita ring Dalem Petak Jingga
sira ta amangkui malinggih Bhatara ring Ulun Swi mwah ta Dalem
Petak Jingga angwangun ta sira Kahyangan Pangulun Setra, hana ta
Santana nira I Gusti Anglurah Celuk ring Tabanan sira ta sumawita
ring Dalem Petak Jingga sira ta kinon nira mangku ring palungguh nira
ring bhatara ring kahyangan pangulun setra, mwah ta sira Dalem Petak
Jingga angwangun sentana Bhatara Meru Tumpang 3 saha paibon
ingaranan pwa ya Pura Dukuh, hana ta ya Pasek Saking Samba
Pura Dukuh awalnya Pura Paibon Dalem Putih dan Dalem Petak Jingga, terletak ditimur laut Banjar Perarudan, Desa Adat Jimbaran.



kasiasih aninggali pradesa nia angungsi desa Jimbaran sumawita
maring Dalem Petak Jingga sira ta kinon nira Mangku I palinggihan
nira bhtara ring Pura Dukuh .....
(Prasasti Dalem Putih Jimbaran)


[..... kemudian berkata Dalem Bedahulu, duh ah ah ih ih jika begitu bersaudara kita berdua karena beliau lahir dari batu dan juga beliau lahir dari air, berkata Dalem Putih Jimbaran. Tahu demikian seperti apa yang dikatakan lantas mengajak berjalan menuju ke pakubwan (pondok), saling berpegangan tangan, langsung menuju ke pondok beliau, menuju ke tempat hidangan dan duduk bersama-sama menikmati hidangan.

Berbahagilah mereka berdua, sehabis menikmati hidangan berkata beliau Dalem Bedahulu, “Duh adikku Putih Jimbaran berkaryalah di pakubwan, sekarang kakak akan meninggalkanmu dan kembali ke Bedahulu.” Lantas berjalan Sang Dalem menghilang dari bayangan.Dikisahkan sekarang Dalem Putih Jimbaran berbahagia sekalidi pondok, apalagi istri beliau setelah lewat delapan bulan lahir seorang anak laki-laki yang sangat rupawan bernama Dalem Petak Jingga ....

..... serta dikisahkan beliau Dalem Petak Jingga, karena beliau sangat dihormati oleh masyarakat Jimbaran beliau membangun tempat suci stana bhatara Meru tumpang 11 yang diberi nama Ulun Swi, adalah keturunan beliau Anglurah Tegeh Kori sepenanggungan terhadap Dalem Petak Jingga beliau memangku di tempat suci bhatara Ulun Swi, juga beliau Dalem Petak Jingga membangun Kahyangan Pangulun Setra, adalah keturunan beliau I Gusti Anglurah

Celuk dari Tabanan beliau juga sepenanggungan kepada Dalem Petak Jingga, beliau ditugaskan memangku di tempat suci beliau Bhatara Kahyangan Pangulun Setra, dan juga beliau Dalem Petak Jingga membangun stana bhatara Meru Tumpang 3 serta Paibon bernama Pura Dukuh, adalah Pasek dari Samba meninggalkan desanya dan mengungsi ke Jimbaran, beliau ditugaskan memangku tempat suci bhatara di Dukuh .....



Jejak-jejak Perjalanan Dalem Kembar


Perjalanan Dalem Ireng dan Dalem Sweta bisa kita lacak dalam beberapa purana, prasasti, babad, yakni dalam Purana Pura Luhur Pucak Kembar, Babad Batu Aji, Prasasti Dalem Putih Jimbaran,Purana Pura Natar Bolong, Dalem Putih dan Dalem Selem adalah Saudara Kembar. Jejak-jejak Perjalanan Dalem Putih dan Dalem Selem bisa ditelusuri dari nama-nama desa di Bali, yang memang mengabadikan dua tokoh tersebut sebagai nama-nama tempat atau wilayah.

Purana-purana tersebut isinya hampir sama, yang berbeda adalah judul dan bahasa yang dipakai. Ada yang memakai bahasa Jawa kuno,Jawa Tengahan, bahasa Bali kekinian dan bahasa Indonesia. Salah satu Purana Pura Luhur Pucak Kembar disalin dan diterjemahkan oleh I Ketut Sudarsana dan I Gusti Ngurah Oka Anom, Desa Adat Pacung, Baturiti, Tabanan, dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut:

Tersebutlah pada jaman dahulu saka 135 atau tahun 213 Masehi, Sanghyang Pasupati beryoga di Gunung Rajya, setelah yoganya mencapai tingkat kesempurnaan, makanya yoganya dilemparkan ke sebuah sungai yang berbatu, menyebabkan gempa yang sangat dahsyat secara terus menerus, kemudian dari batu yang ada di sungai lahirlah anak kecil kulitnya hitam legam, dan dari riak air yang mendidih lahir pula seorang bayi warna kulitnya putih.

Menurut purana, peristiwa tersebut terjadi di sungai Limpar dan menurut Kunalini Tattwa sungai Limpar adalah sungai Unda,disanalah bayi itu berdua hidup menikmati keindahan sungai dan semak belukarnya. Saking asyiknya bermain tidak dirasakan menyusup sampai ketengah semak belukar, yang dihuni oleh seekor Lembhu, seraya menyapa: “Ya tuanku berdua, siapakah gerangan orang tuamu?”

Anak kecil itu lalu menjawab, “Maafkan aku Lembhu, aku tidak tahu dengan bapak dan ibuku, aku tidak tahu dari mana asal usulku,demikian jawabnya.”

Ki Lembhu akhirnya memberi penjelasan, “Tuanku adalah putra Sanghyang Pasupati, tuanku bernama Dalem Kembar (Dalem Ireng dan Dalem Sweta), kisah tentang kelahiran tuanku berdua yaitu tuanku yang lahir dari batu disebut Dhalem Ireng, dan tuanku yang lahir dari buihnya air sungai disebut Dalem Sweta, itulah sebabnya paduka disebut Dalem Ireng dan Dalem Sweta, namun ijinkan saya memberikan nasehat kehadapan paduka berdua bahwasannya paduka berdua tidak seyoyanya memerintah bersama-sama, yang
patut memegang tapuk pemerintahan adalah paduka Dalem Ireng, sebab paduka adalah penjelmaan Sanghyang Wisnu sudah sewajarnya memegang pemerintahan,” demikian petuah Ki Lembhu.

Kedua Dalem itu bertanya, dimanakah seharusnya saya memegang tapuk pemerintahan? Ki Lembhu memberikan penjelasan: sebab paduka lahir dari batu, apabila ada batu berwarna mengkilap saat diterpa sinar matahari, di sanalah seharusnya paduka mendirikan pemerintahan, kemudian tempat itu berilah nama Batu Maklep,demikian hatur Ki Lembhu kehadapan Batu Ireng.

Sekarang diceritrakan Dalem Selem bersama Ki Lembhu berjalan menuju arah barat daya, dalam perjalanan Ki Lembu tak hentihentinya memberikan petunjuk, bahwa pada saatnya nanti sudah sampai pada tujuan ayahnda akan hadir, dan tempat itu berilah nama Taro dan sesungguhnya saya ini adalah Ki Lembhu Nandini,setelah demikian bertutur kata secara kasat mata Ki Lembu tidak
tampak lagi dari pandangan.

Setelah matahari tepat di atas khatulistiwa (tajeg surya) Dhalem Kembar tiba-tiba mendengar suara sayup-sayup (sabda mantra) yang mengisyaratkan: “Hai anakku Dhalem Sweta engkau tidak patut memegang pemerintahan, hanya engkau Dhalem Ireng yang seyogyanya memegang pemerintahan.”

Setelah Dhalem mendengar sabda demikian, lalu keduanya saling membuat perjanjian dengan berintikan yaitu: sebab aku dan engkau lahir menjadi saudara kembar, semoga tidak pernah berpisah dan semoga di kemudian hari bisa bertemu kembali, demikian perjanjian antara Dhalem Sweta dan Dhalem Ireng.

Dhalem Sweta mohon pamit dan melanjutkan perjalanan kea rah barat daya, menelusuri hutan rimba yang lebat, ditengah hutan belantara rasa haus, lapar dan dahaga tidak tertahankan, menyebabkan jasmaninya lemah lunglai tidak mampu lagi melanjutkan perjalanan,hingga Dhalem Sweta terduduk istirahat, seolah-olah ingat akan pesan Ki Lembhu, bahwa dirinya putra Hyang Pasupati.

Secara tiba-tiba pada tempat istirahat tersebut tersembur air jernih, dengan sigap air tersebut segera diminumnya, sehingga tenaganya pulih kembali. Karena keluarnya air tersebut dari batu selagi mengenang Sanghyang Pasupati, maka tempat itupun diberi nama Batu Hyang, mulai saat itulah banyak orang-orang Bali menghambakan diri pada Dhalem. Lalu Dhalem bersabda,“Hai kamu orang-orang Bali, karena kamu bhakti padaku dan karena engkau telah memahami hakekat bhakti kepadaku, maka sepantasnya tempat ini aku beri nama Batu Aji.” Setelah demikian akhirnya Dhalem melanjutkan perjalanan menuju arah barat.

Setelah sampai di tempat tujuan, disanalah ia melepaskan lelah bersenang-senang, kemudian disana ia mendirikan tempat pemukiman, lalu Dhalem bersabda, “Hai kamu para hamba sahajaku sekalian, mulai saat ini tempat ini aku beri nama Antiga,” dirasakan tempat itu sangat indah diterangi oleh sinarnya rembulan, yang menyebabkan hati beliau terpesona dengan keindahan alamnya.Kemudian nama Antiga diganti oleh beliau menjadi Batu Bulan.Lalu ia melanjutkan perjalanan menuju barat daya. Dalam perjalanan



yang sangat melelahkan itu, ia melihat serumpun bambu yang menjulang tinggi bagaikan menyundul langit. Pohon bambu itu lalu dikutuk menjadi tempat yang luhur (tinggi), yang dikemudian hari akan terwujud sebuah kahyangan bernama Ulu watu (nama watu disesuaikan dari kelahiran Dhalem berasal dari watu).

Sekarang kembali diceritrakan Dhalem Ireng, karena terlalu lama beliau memimpin pemerintahan, tiba-tiba beliau teringat dengan saudaranya Dhalem Sweta. Kata lubuk hatinya, apakah gunanya aku memegang pemerintahan, bila tidak mengetahui keberadaan saudaraku, niscaya kekuasaan tidak ada artinya, demikian kata hati beliau, sehingga hasrat dalam pikirannya memutuskan untuk pergi mencari kakaknya Dhalem Sweta, sehingga beliau menuju arah barat.

Tidak diceritrakan dalam perjalanan, akhirnya ia tiba pada suatu tempat dan bertemu dengan orang-orang desa, lalu Dhalem Ireng bertanya, “Apakah gerangan nama tempat ini?” Orang desa tersebut menjawab, “Ya, tempat ini bernama Batu Hyang, dulunya atas kutukan Dhalem Sweta,” demikian jawaban orang-orang desa tersebut.

“Dimanakah Dhalem Sweta sekarang?” demikian pertanyaan
Dhalem Ireng.

“Kalau tidak salah Dhalem Sweta berada di Batu Aji,” demikian
jawabannya.

Setelah mendengar jawaban yang demikian itu, dengan tergesagesa
ia pergi menuju desa Batu Aji, dengan harapan dapat bertemu
dengannya Dhalem Sweta.

Entah berapa lama perjalanan, sampailah pada tempat yang
dituju, dengan segera ia lalu bertanya: “Dimanakah gerangan
keberadaan Dhalem Sweta?”

“Tuanku, kiranya Dhalem Sweta kini berada di Desa Batu Bulan,”
demikian jawaban yang diperolehnya.

Akhirnya dari Desa Batu Aji ia menuju Batu Bulan, namun
sayang sekali Dhalem Sweta sudah meninggalkan Batu Bulan, dan
dari Batu Bulan terbetik berita bahwa Dhalem Sweta berada di desa
Sakyamuni (sekarang Sakenan).

Setelah sampai di Sakenan ia bertemu dengan Ki Dhukuh, lalu


bertanya, “Ya paman Dhukuh, dimanakah gerangan keberadaan
Dhalem Sweta?”

“Ya tuanku Dhalem Sweta sekarang berada di Desa Jimbaran,”
demikian jawaban Ki Dhukuh.

Sekarang diceritrakan Dhalem Ireng dengan segera menuju Desa Jimbaran. Pada saat yang baik itu beliau bertemu dengan hamba sahaja (dayang) Dhalem Sweta, dimana dayang tersebut sedang mempersiapkan santapan yang akan disuguhkan kepada majikannya Dhalem Sweta. Melihat santapan tersebut tiada tertahan nafsunya untuk menikmati, maka dengan lahapnya Dhalem Ireng menyantap hidangan tersebut.

Terkejutlah si dayang yang bernama Ni Pring Gading, lalu bertanya, “Siapakah gerangan tuan, hamba tidak mengenal tuan sebelumnya, mengapa tuan berani memakan santapan yang akan kami hidangkan untuk tuan hamba Dhalem Sweta?”Mendengar kata Ni Pring Gading yang demikian itu, mendadak Dhalem Ireng berhenti menyantapnya, lalu ia bertanya, “Hai dayang,dimanakah kini berada Dhalem Sweta?”

“Ya tuanku beliau kini berada di tempat pagagan (ladang padi
gaga),” demikian jawab si dayang.

Segera Dhalem Ireng berjalan menuju tempat pagagan, namun Dhalem Sweta tidak pula dijumpai, sebab Dhalem Sweta sudah kembali menuju Desa Jimbaran.

Dalam perjalanan pulang ia sempat menyinggahi ladang orang-orang kampung, namun setelah tibanya Dhalem Sweta di istana, dengan sangat hormat dayang Ni Pring Gading humatur,“Maafkan tuanku Bhatara Dhalem Sweta, ijinkan hamba melaporkan kehadapan duli tuanku, bahwasanya ada seorang yang datang dengan bentuk tubuh besar, tinggi kekar rupanya bagaikan setan, orang tersebut telah berani lancang membuka langsung menyantap santapan tuanku raja. Tiada tertahan takut hamba, dan lagi pula orang tersebut menanyakan paduka tuanku raja.”

Mendengar hatur si dayang yang demikian itu, sungguh tiada tertahan murkanya Bhatara Dhalem Sweta dan dengan segera kembali lagi ketempat pagagan. Setelah sampai di pagagan ia bertemu dengan Dhalem Ireng. Karena saking emosionalnya pertempuran kedua belah pihak tidak dapat dihindari, perang tandingp un terjadi,sama-sama bersenjata keris, salik tusuk, namun keduanya tidak ada terlukai karena sama-sama kebal.



Karena tiada yang terkalahkan, akhirnya kedua belah pihak samasama kepayahan, dalam pada itu beliau berdua saling tegur sapa.

“Siapakah gerangan Anda?”
Aku bernama Dhalem Ireng”
“Aku Dhalem Sweta.”
Setelah bertegur sapa, barulah menyadari tentang asal usul dan pesan Ki Lembhu Sanghyang Pasupati yang masing-masing membawa senjata yaitu: Dhalem Sweta bersenjatakan Keris Kala Katenggeng, dan Dhalem Ireng bersenjatakan Keris Miring Agung.Barulah keduanya menyadari bahwa yang diajak perang tanding adalah saudaranya sendiri, sehingga suasana berubah dari tegang menjadi terharu, sama-sama meceritrakan pengalaman masing-masing.

Akhirnya Dhalem Ireng berkata kepada kakaknya Dhalem Sweta,“Ya kakakku Dhalem Sweta, banyak sekali kakanda memberikan nama desa dan yang terakhir kanda berada di Desa Jimbaran,sudah seyogyanya kanda disebut Dhalem Putih Jimbaran. Sekarang ijinkanlah saya mohon pamit, sayapun juga berniat memberikan nama suatu tempat atau desa yang bercirikan watu, yang merupakan ciri bahwa aku pernah melintasi daerah tersebut. Dan ijinkan adinda menuju ke arah utara”

“Kalau demikian baiklah, namun kanda mohon tempat kita
berperang tadi kita namakan Bukit Kali.”

Kini diceritrakan Dhalem Ireng berjalan menuju ke utara, setelah lama berjalan, lalu ia menjumpai areal kebun kelapa, namun tibatiba air lautan menyemburkan gelombang, menyebabkan hatinya sangat marah. Dhalem Ireng, lalu mengutuk tempat itu, diberi nama Seseh. Dari Seseh ia melihat ke arah timur, terlihat warna tanah yang putih, tanah itu diungsikan oleh beliau, sampailah ia pada tanah yang berwarna putih dan ia terkejut pada saat menginjakkan kakinya pada sebuah batu, tiba-tiba batu tersebut berlobang, sehingga tempat itu ia kutuk bernama Batu Nyorong atau Batu Bolong.

Dari Batu Bolong Dhalem Ireng melanjutkan perjalanan menuju ke arah timur. Dalam perjalanan beliau melalui batu yang licin sehingga kakinya terpeleset ke dalam air, dengan segera pula memberikan kutukan, bahwa pada tempat ia terjatuh diberi nama Batu Belig. Dari Batu Belig ia melanjutkan perjalanan ke arah timur.Di tengah perjalanan yang melelahkan tiba-tiba beliau terjatuh terkulai (ulung = bahasa Bali). Maka tempat itu diberi nama Batu Tulung.



Dari Batu Tulung ia menempuh perjalanan cukup jauh sehingga rasa haus dan dahaga tiada tertahankan, akhirnya ia memuja kebesaran Tuhan memohon karunianya. Seketika itu tersemburlah air, lalu diminumnya, sehingga rasa haus dan dahaganya hilang,maka tempat itu diberi nama Batu Bedak (sekarang lebih dikenal
Batu Bidak).

Sekarang dikisahkan Dhalem Ireng dari Batu Bedak melanjutkan perjalanan ke utara dan sampailah ia di wilayah Bukit Asah. Dari ketinggian bukit itu melihat jurang yang dalam melihat dari mata batinnya, tempat itu sangat religius, di sanalah beliau beryoga semadi. Dalam alam yoganya muncullah Dhalem Bali, Panca Wisnu, Panca Dewata, lalu terdengar sabdha mantra yang sayupsayup bunyinya, “Hai, anakku Dhalem Ireng, aku ini adalah ayahmu Sanghyang Pasupati, aku juga disebut Sanghyang Lingga Bhuwana,ayahndamu ini berstana di Pucak Candi Purusada, tempat ini aku beri nama Batu Pucak Kembar. Semoga sepanjang jaman menjadi kahyangan, sebagai sarana umat manusia menghaturkan rasa syukur dan bhaktinya melakoni kehidupannya.

Hai, anakku Dhalem Ireng aku juga berkahyangan di Gunung Agung (Tohlangkir). Apabila aku berkahyangan di Gunung Watukaru, aku disebut Hyang Jaya Netra, apabila aku berkahyangan di Bukit Jati aku disebut Hyang Siwa Pasupati, bila aku berkahyangan di Gunung Trate Bang (trate= tunjung) dan (bang = merah), maka aku disebut Hyang Besa Warna, apabila aku berstana di Gunung Bratan aku disebut Hyang Danawa. Demikianlah agar kamu mengingat selalu.”

Lalu Dhalem Ireng bertanya, “Maafkan paduka Bhatara, apakah sebabnya tempat ini disebut Batu Pucak Kembar?” Kemudian dijawab oleh Paduka Hyang Lingga Bhuwana, yang berstana di Pucak Candi Purusada yang berlokasi di Desa Kapal, “Hai anakku Dhalem Ireng, karena engkau dilahirkan kembar, disini telah terwujud suatu bukti saksi dua buah batu, itulah sebabnya dinamakan Batu Pucak Kembar (batu tersebut kini berada di Taman Cakra).”



Demikian konon sabdha Sanghyang Pasupati kepada anaknya Bhatara Dhalem Ireng, pada saat itu menunjukkan tahun saka 322 atau tahun 400 Masehi, mulainya keberadaan Batu Pucak Kembar atas wara nugraha Sanghyang Lingga Bhuwana/Hyang Pasupati kepada Dhalem Ireng.

Pada saat itu kembali Sanghyang Pasupati memberikan titah kepada anaknya Dhalem Ireng, “Anakku Dhalem Ireng, berangkatlah dengan segera ke Bukit Uluwatu, setelah kamu sampai di sana berkemaslah untuk menyatukan pikiran dengan sarana beryoga semadhi, biar kamu cepat menyatu ke hadapan Sang Pencipta.”

Setelah mendengar petunjuk Sanghyang Pasupati yang demikian itu, lalu beliau bergegas pergi menuju Bukit Uluwatu. Disana Dhalem Ireng berkonsentrasi menyatukan bayu sabdha idhep dengan yoga semadhi. Tiada diceritakan yoganya berhasil, akhirnya Dhalem Ireng moksah menyatu k ehadapan Sanghyang Acintya. Demikian Purana Batu Pucak Kembar, keberadaanya di Bukit Asah.

Versi Lain Sri Tapa Hulung

Versi lain kehidupan Raja Sri Tapa Ulung, bisa diperoleh di Mandala Wisata Samuan Tiga, Bedahulu, Gianyar, Bali 1981, yang dituturkan sebagai berikut:

Syahdan setelah para Dewa, khususnya Bhatara Indra berhasil menewaskan Raja Mayadenawa, Pulau Bali menjadi aman, tentram dan teratur, tidak terkecuali di bidang keagamaan. Meski para dewa telah mengalahkan Raja Mayadenawa tersebut, namun para dewa tidak pernah melupakan kegagahan keberanian Raja tersebut,sebagai seorang kesatria di medan laga yang sangat dahsyat.

Terkesan dengan hal-hal tersebut, maka para dewa mengadakan perundingan, dimana diputuskan bahwa roh Raja Mayadenawa hendaknya dihargai dan dimuliakan. Berdasarkan kebijaksanaan tersebut maka abu jenazah Raja Mayadenawa diupacarakan di Pura Besakih. Pada hari yang dianggap baik oleh para dewa, abu jenazah Raja Mayadenawa yang ditempatkan di buah kelapa gading diusung ke Besakih.



Setiba di Besakih upacara besar-besaran dilakukan, tepat upacara selesai, terjadilah suatu kejadian yang penuh mukjisat dan mengagumkan. Buah kelapa gading dimana abu jenazah raja Mayadenawa ditempatkan, pecah. Dari dalamnya muncullah dua anak: 1 laki-laki dan 1 perempuan. Kedua anak tersebut kemudian diberi nama Masula dan Masuli.

Bertahun-tahun kemudian kedua anak tersebut telah dewasa, dan di saat itu keadaan Pulau Bali sedang luang, dimana tidak ada seorang raja pun yang bertahta. Oleh karena itu atas persetujuan para Dewa, Masula – Masuli dinobatkan menjadi raja di pulau Bali.Sebetulnya keputusan para Dewa untuk menobatkan Masula-Masuli sebagai Raja itu bertentangan dengan keinginan hati keduanya, karena Masula-Masuli berminat untuk hidup di sorga. Akan tetapi Sanghyang Pasupati tidak mengijinkan, maka Masula-Masuli menduduki singasananya di Batahanyar.

Setelah keduanya menjabat sebagai Raja, keadaan Pulau Bali tentram dan damai, karena kebijaksanaannya dalam memerintah,Kesuburan dan kemakmuran di mana-mana, rakyat benar-benar menikmati hidup tenang, lebih-lebih dalam hal-hal keagamaan,beliau sangat taat. Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sangat
kuat. Demikian juga ke Pura Besakih beliau sangat rajin beribadat.Kebiasaan-kebiasaan yang baik dari raja ini juga berpengaruh terhadap rakyatnya sehingga seluruh rakyat Bali pada waktu itu juga sangat taat menjalankan perintah keagamaan.

Setelah beberapa lama memangku jabatan, beliau kemudian menikah. Dari pernikahan itu lahir seorang putra yang bernama Sri Tapa Ulung. Setelah beliau meningkat dewasa, Sri Tapa Ulung dinobatkan sebagai raja menggantikan ayahnya dengan nama Sri Asta Asura Ratna Bumi Banten, yang artinya keturunan ke-8 dari
leluhur Sri Mayadenawa.

Dibawah pemerintahan beliau yang tak banyak berbeda dengan pemerintahan ayahnya, segala sesuatu berjalan lancar tanpa kurang suatu apa, lebih-lebih dengan didampingi oleh seorang mahapatih yang gagah perkasa bernama Ki Pasung Grigis tinggal di Tengkulak,dan seorang pembantunya Ki Kebo Iwa alias Kebo Taruna yang tinggal di Blahbatuh. Selain itu banyak lagi bawahan beliau yang bijaksana dan pemberani dalam melaksanakan roda pemerintahan.



Pada suatu hari, bertahun-tahun kemudian, beliau mengambil keputusan melakukan yoga semadi di Pucak Penulisan di Sukawana,Kintamani. Beliau berangkat diiringi Patih Ki Pasung Grigis. Karena ketekunan melakukan semadi, para dewa mengabulkan keinginan beliau agar menjadi seorang yang sakti, menguasai kekuatan gaib,tidak mempan senjata apapun. Di antara kesaktian anugrah dari para dewa itu ialah Raja Tapa Ulung bisa menghilangkan kepala beliau sewaktu-waktu bila ingin pergi ke sorga.

Pada suatu saat yang tak terduga, ketika kepala beliau tak kembali lagi sebagai mana biasanya, maka sang patih Ki Pasung Grigis menjadi sangat kaget dan cemas tak tahu apa yang mesti dilakukan.Namun Ki Pasung Grigis masih mencoba menunggu dengan tenang,tapi malang kepala sang raja tetap tidak muncul kembali sebagai biasanya. Patih Ki Pasung Grigis menjadi kehilangan akal.

Tidak selang berapa lama ada orang membawa seekor babi lewat di hadapanya, tanpa berpikir panjang, babi itu kemudian diminta olehnya dan kepalanya dipotong. Segera kepala babi tersebut dipasang di leher Sri Tapa Ulung. Syukurlah beliau hidup kembali,tapi berkepala babi. Beliau kemudian berkemas-kemas dengan patihnya untuk kembali pulang ke Bataanyar.

Sesampai di pinggir Danau Batur, tanpa sengaja Tapa Ulung melihat bayangannya di air danau itu. Betapa kecewanya setelah tahu kepalanya adalah kepala seekor babi. Perasaan putus asa dan menyesal menyebabkan ia enggan kembali ke Bataanyar. Tetapi, sang patih Pasung Grigis tak henti-hentinya membujuk dan menghibur beliau agar mau kembali ke istana di Bataanyar. Pasung Grigis berjanji akan membangun suatu tempat yang tinggi, sehingga manusia tidak akan bisa memandang Tapa Ulung.

Atas bujukan tersebut, Tapa Ulung bersedia kembali ke Bataanyar diiringi patih Ki Pasung Grigis. (Besar perkiraan bahwa sejak saat itu desa Bataanyar diberi julukan Desa Bedaulu, sebab rajanya berbeda kepala). Di sanalah, di tempat yang tinggi itu, ia bertempat tinggal tanpa seorang manusia pun yang bisa memandangnya. Selain itu,disebarkan pula suatu pengumuman ke seluruh Bali, barang siapa yang berani memandang wajah sang raja Sri Tapa Ulung, pasti akan dibunuh.

Demikianlah beliau bertahta di istana Bedaulu. Oleh karena beliau merasa mendapat anugrah kesaktian yang tidak ada seorang pun sanggup menandingi, dan juga melihat kenyataan seluruh rakyat Bali begitu patuh dan taat selama ini, maka timbulah sifatsifat keangkaramurkaan dan sifat takabur beliau. Rakyat dilarang melakukan ibadah keagamaan, dan beliau tidak mau patuh lagi pada perintah Majapahit. Baginda ingin lepas dari kekuasaan Majapahit.Lama kelamaan Majapahit merasa bahwa sikap Sri Tapa Ulung telah berubah. Akhirnya sikap Sri Tapa Ulung yang membangkang itu sampai ke telinga Raja Majapahit yang diperintah oleh Raja Sri Kala Gemet.

Majapahit menggelar rapat yang dihadiri oleh mentri-mentri,hulubalang-hulubalang, dan pemuka-pemuka rakyat. Dalam rapat itu diputuskan “perang” terhadap Raja Sri Tapa Ulung. Pada waktu itu Majapahit mempunyai seorang patih yang terkenal yaitu Patih Gajah Mada. Di bawah pimpinan Patih Gajah Mada diaturlah siasat untuk dapat menaklukkan Bali dan membunuh Raja Sri Tapa Ulung yang berkhianat tersebut. Siasat perang ini harus betul-betul cermat,karena disamping Raja Sri Tapa Ulung adalah raja yang terkenal kesaktiannya. Selain itu Raja Sri Tapa Ulung mempunyai patih yang sakti dan gagah berani, yaitu Kebo Iwa.

Disebutkan kemudian, Patih Gajah Mada menghadap Sri Tapa Ulung, untuk memohon Ki Kebo Iwa yang hendak dikawinkan dengan seorang putri. Ini termasuk salah satu siasat perang dari Patih Gajah Mada. Dalam perjalanan ke Bali, Gajah Mada dan pasukannya sampai di Desa Blahbatuh yang dikuasai oleh Ki Pasung Grigis. Di sana pasukan Majapahit diperkenalkan dengan Ki Karang Buncing dan Ki Kebo Iwa. Atas ikhtiar Ki Pasung Grigis, maka Gajah Mada akhirnya diperkenankan untuk menghadap Sri Tapa Ulung, tapi dengan syarat agar Gajah Mada tidak melihat dan memandang wajah Raja Tapa Ulung. Patih Gajah Mada juga mengajukan suatu permohonan yaitu agar diperkenankan menerima suguhan makanan berupa sayur paku liking, nasi sengauk (aron) dan minum air dengan kele. Semuanya ini akan diatur oleh Ki Pasung Grigis.

Sesampainya Gajah Mada di istana dengan segala hormat sebagai mana layaknya seorang bawahan yang menghadap raja, begitu pulalah sikap sikap Patih Gajah Mada dalam menghadap Raja Sri Tapa Ulung. Dalam kesempatan itulah Gajah Mada menghaturkan niatnya untuk memohon Ki Kebo Iwa yang hendak dikawinkan dengan seorang puteri (Lemah Tulis yang sudah terkenal cantiknya).Dengan alasan agar hubungan Majapahit dengan Bali lebih erat lagi.Oleh Baginda Raja Sri Tapa Ulung sedikit pun tidak menduga bahwa itu hanya tipu muslihat belaka, karena itu segera ia mengabulkan permohonan Gajah Mada dengan ikhlas.

Setelah acara pokok selesai, Gajah Mada bersantap dengan suguhan yang telah dimintanya. Dengan sendirinya untuk bersantap hidangan tersebut, wajah harus ditengadahkan sehingga terlihat jelas wajah Sri Tapa Ulung oleh Gajah Mada. Betapa kecewanya, marah dan malu baginda raja Sri Tapa Ulung mengetahui bahwa dengan akalnya Gajah Mada telah berhasil memandang wajah beliau. Pada waktu itu sebetulnya Baginda ingin segera membunuh Gajah Mada,namun peraturan yang berlaku yaitu membunuh utusan suatu kerajaan adalah dilarang keras apalagi utusan itu sedang makan.Karena itulah Baginda Raja tidak bisa berbuat apa-apa.

Selanjutnya atas perkenan Baginda Raja, Patih Gajah Mada membawa serta Ki Kebo Iwa ke Jawa. Pada akhirnya tercapailah tujuan Patih Gajah Mada untuk mengurangi kekuatan kerajaan Bali (Bedaulu), karena sampai di Pulau Jawa Ki Kebo Iwa terbunuh.

Betapa sedih dan duka Baginda Sri Tapa Ulung mendengar nasib yang menimpa patih kesayangannya, selain itu perasaan tertekan karena sangat malu sesudah Patih Gajah Mada berhasil memandang wajah Baginda. Segera beliau mengambil keputusan untuk melenyapkan diri dari muka bumi dengan jalan moksa. Itulah riwayat Baginda Raja Sri Tapa Ulung yang bertahta di kerajaan Bedaulu, Bali.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More