Cover Buku Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing

Hasil Buruan 27 tahun,Untuk mengumpulkan data" Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing

Desa Adat Gamongan, Tiyingtali, Kecamatan Abang, Karangasem.

Foto Tahun 1992, bekas Pura Penataran Lempuyang

Pura Kuru Baya

Pura Kuru Baya terletak di barat Pura Gaduh, Blahbatuh. Pura ini tempat Ki Kbo Iwa mendapat wangsit bahaya akan terjadi firasat buruk yang akan menimpanya,Tapi karena satya wacana dan mengemban tugas raja beliau akhirnya berangkat juga, maka terjadilah kenyataan pirasat itu dan beliau menemui ajal di tanah Jawa.

Pura Kawitan Blahbatuh

Pura Kawitan Yang terletak di barat daya Kota Gianyar

Bale Panjang Kebo Iwa

Bale Panjang Kebo Iwa di Jaba Pura Puseh Beda Sudimara,Tabanan dikisahkan dalam Prasasti Maospahit bahwa bale ini dibuat untuk Kebo Iwa dimana dulunya sendi akhir berada jauh ke barat sekitar 300 meter

Simbol Penghulu Sri Karang Buncing

Simbol

Pak Made Lagi Jualan Buku

Pak made mempromosikan buku terbitan pertamanya

Pembuatan Tapel Kebo Iwa

Process pembuatan tapel Kebo Iwa berlokasi di gianyar oleh bapak Tjokorda

Kamis, 23 Januari 2020

III SARIN BWANA MASA LALU DAN KINI

III SARIN BWANA MASA LALU DAN KINI

PEMBAHASAN MASA LALU


PETUNJUK LONTAR
Mengungkap tabir keberadaan Pura Dalem Sarin Bwana tidak lepas dengan kehidupan Sri Batu Putih (Dalem Putih) di Jimbaran saudara kandung Sri Batu Ireng (Dalem Badhahulu, Sri Astasura Ratna Bumi Banten) bukanlah pekerjaan mudah untuk mendeskripsikan ke permukaan, apalagi masa kejadian telah tujuh abad berlalu. Kita hanya bisa membangun opini dari data tertulis yang ditinggal oleh para pendahulu baik berupa prasasti, purana, piagem, prakempa dan babad.Di samping secara lisan disampaikan turun temurun oleh para tetua maupun lewat poto pada masa lalu.
Photo 1987, pagar Arca baru mulai dibangun bersamaan Gedong Pajenengan atap semen
Karena ranah sejarah adalah pakta di lapangan (bumi) sedangkan ranah agama di atas awang-awang/ langit. Jika lima data yang disebutkan di atas tidak sinkron dengan di lapangan tentu hasilnya jauh panggang dari api. Antara pegangan klompok pura dengan pegangan klompok warga harus saling menceritakan, misalnya, bila pegangan klompok warga tertentu menyebutkan leluhurnya membangun Pura “A” tetapi di purana Pura “A” tidak tercantum nama leluhurnya, berarti data itu mengambang, begitupun bila tercantum nama leluhurnya di purana Pura “A” tetapi tidak tercantum namanya di prasasti yang dikeluarkan oleh raja/ penguasa pada zamannya sama juga mengambang atau perlu di analisa kembali, yang kadang-kadang angka tahun sama tetapi berbeda nama sebab nama keluarga akan berganti bila dinobatkan menjadi raja sesuai gelar diberikan oleh kerajaan dalam Prasasti yang dikeluarkan pada zaman itu. Begitupun setelah hidup suci gelar yang diberikan oleh kerajaan akan berganti pula sesuai gelar yang diberikan guru nabe.

Beberapa sumber yang menjadi rujukan dalam penulisan awal sejarah Pura atau Desa di Bali yaitu, 1) Bersumber dari catatan tertulis berupa prasasti, purana, piagem,prakempa dan babad yang menjadi milik pura atau catatan tertulis yang terdapat di lain tempat yang menerangkan asal usul desa atau tempat suci itu dan seluruh data tersebut mempunyai nilai yang berbeda. 2) Berdasarkan Tri Hita Karana yaitu tentang tata letak tempat antara parahyangan, pawongan dan palemahan atau dengan perkataan lain batas antara kawasan suci (parhyangan, ulu desa), kawasan pemerintahan/ penduduk (pawongan) dan kawasan kuburan (palemahan). Penduduk yang tinggal paling dekat dengan Pura Desa biasanya mempunyai hubungan historis langsung. Pada zaman dahulu tempat tinggal para penguasa di sekitarnya berdiri Pura Desa, Pura Puseh, Sekolah, Banjar, Pasar, dan fasilitas umum lainnya. Hubungan manusia dengan manusia yaitu hubungan manusia dengan kelompok pekerjaan akan muncul Bale Banjar, sekaa dan kelompok pekerjaan lainnya. Hubungan manusia dengan palemahan (kuburan) akan kelihatan di sisi sebelah mana keluarganya di kuburkan apakah di luwan atau di teben, sang penguasa posisi kuburannya di tempakan di luwanan atau mempunyai tradisi khusus bila keluarganya meninggal. 3) Berdasarkan nama-nama palinggih yang ada di halaman utama pura misalnya,di halaman pura berdiri palinggih atas nama leluhurnya atau di pura ada nama pura pasimpangan pura lain. 4) Berdasarkan pemangku yang secara turun temurun mengabdi di pura itu, kemungkinan tanah pura berasal dari keluarganya, atau leluhurnya sebagai penguasa awal di tempat itu. 5) Berdasarkan ragam hias atau relief yang menjadi ornament pura dan tinggalan artefak lain. 6) Berdasarkan jumlah kepala keluarga (KK), jumlah KK dalam merajan gede paling banyak tentu mereka yang lebih dahulu berada di tempat itu. 7) Berdasarkan hubungan abstrak ke pura yang lebih tinggi kedudukkannya dalam nunas tirta jika ada upacara pujawali, atau yang menjadi sadeg desa berasal dari keluarga leluhur pendiri tempat itu,

Photo Arca terakhir, detik-detik ekskavasi oleh Balar dan BPCB Bali, (1/12/2014)
Salah satu petunjuk terdekat untuk mengungkap masa lalu kehidupan Sri Batu Putih (Dalem Putih) di Jimbaran adalah Lontar Piagem Dukuh Gamongan dan Prasasti Dalem Putih Jimbaran, disamping beberapa lontar lainnya yang tentu ada keterkaitan dengan jejak-jejak perjalanan kehidupan dari kedua tokoh tersebut. Kedua petunjuk lontar tersebut ditulis pada zaman yang berbeda. Piagem Dukuh Gamongan diperkirakan ditulis tahun 1600 Masehi setelah kekuasaan Dalem Baturenggong hal ini diketahui dari silsilah keturunan akhir dari Dukuh Gamongan tercatat tiga generasi di bawahnya bernama Dukuh Karang. Piagem Dukuh Gamongan 21a, disebutkan Gelar Dukuh Gamongan diberikan oleh Danghyang Bawurawuh (Danghyang Nirartta) sebagai bagawanta Raja Sri Kresna Kepakisan Baturenggong. Dukuh Gamongan adalah putra pertama Sri Pasung Giri dari Desa Gamongan, Karangasem, Sedangkan Prasasti Dalem Putih Jimbaran diperkirakan ditulis setelah kekuasaan Kerajaan Mengwi, ini diketahui dari pembagian tugas untuk mengabdi menjadi pemangku di tiga tempat suci yang ada di Jimbaran yaitu Pura Dukuh, Pura Ulun Swi dan Pura Dalem Kahyangan.

Ketiga tempat suci itu dibangun oleh putra Dalem Putih Jimbaran bernama Dalem Petak Jingga berpuri di Pura Dukuh sebelah timur laut Banjar Perarudan. Setelah masuknya para Arya Majapahit, atau kemungkinan Dalem Petak Jingga tidak mempunyai keturunan, akhirnya pakubon (Pura Dukuh) terbengkelai tidak terurus. Di Piagem Dukuh Gamongan tidak muncul nama Dalem Putih begitu pun sebaliknya nama Sri Batu Ireng dan Sarin Bwana tidak muncul dalam Prasasti Dalem Putih Jimbaran.

Dalam Purana Pura Luhur Pucak Kembar, Babad Batu Aji, Prasasti Dalem Putih Jimbaran, Purana Pura Natar Bolong, Babad Batu Kuub, Dalem Putih dan Dalem Ireng adalah saudara kembar laki-laki. Oleh karena Sri Batu Putih (Dalem Putih) yang lahir lebih dahulu maka disebut kakak kandung oleh Dalem Ireng dalam Piagem Dukuh Gamongan.

Arca-arca tinggalan Dalem Putih dan busana hitam putih saat acara piodalan
Rangkuman dari beberapa lontar tersebut di atas dapat digambarkan, pada zaman dahulu kehidupan keluarga kerajaan, setiap kelahiran kembar laki-laki selalu dipisah kehidupannya oleh orang tuanya, hanya salah satu dari mereka yang menetap di kerajaan sebagai pengganti kelak sang raja, itu pun setelah mendapat petunjuk dari rohaniawan kerajaan.

Apabila ada kelahiran kembar buncing yaitu kelahiran laki dan perempuan dalam satu kandungan maka setelah dewasa akan dinikahkan oleh kedua orang tuanya misalnya,Sri Masula-Masuli yang disebut juga Prabu Buncing, Sri Karang Buncing orang tua Sri Kebo Iwa dan adik Kebo Iwa juga kelahiran buncing setelah dewasa dinikahkan oleh orang tuanya, hal tersebut dipertegas dalam Lontar Batur Kelawasan hanya keluarga raja yang boleh menikahkan putranya yang kelahiran buncing, sedangkan masyarakat biasa dilarang menirukan seperti itu.

Kembali pada kehidupan Dalem Putih dan Dalem Ireng di masa remaja. Menurut tradisi kerajaan yang semestinya pengganti Sri Masula – Masuli adalah anak tertua yaitu Dalem Putih Jimbaran (Sri Batu Putih), entah pertimbangan apa yang mendasari orang tuanya untuk tidak menjadikan Dalem Putih sebagai raja. Juga tidak dijelaskan secara rinci dalam Piagem Dukuh Gamongan tentang keberadaanya sampai di Desa Jimbaran, apakah begitu masih bayi ia dibawa ke Jimbaran, siapa yang merawatnya, apa yang dilakukan sehari-hari dan pertanyaan lainnya. Setelah Sri Batu Ireng dinobatkan menjadi raja disebut Sri Astasura Ratna Bumi Banten sekitar tahun 1330 Masehi di Kerajaan Batahanar yang belakangan dalam babad disebut Kerajaan Bedaulu atau Raja Berkepala babi, Dalem Ireng baru mengetahui dirinya mempunyai saudara kandung yang hidup di Jimbaran disamping mereka sama-sama tidak mengetahui wajah masing-masing.

Dalem Putih mengetahui dirinya tidak dipilih menjadi raja, sedih hatinya lalu terlunta lunta menyusuri pinggir laut sendirian menuju arah baratdaya desa, menyusuri hutan lebat masuk wilayah Luhur Uluwatu menemukan gugusan pohon bambu petung yang luas, di mana salah satu batang bambu itu besar dan tinggi sekali, yang ujungnya tembus ke langit akhirnya bambu itu di paripurna dan ditebang, potongan bambu yang atas melesat ke sorga sedangkan batang bawahnya muncul seorang anak perempuan. Karena tidak ada Ibu lalu sang bayi disusui oleh seekor kijang yang kelak dijadikan istri oleh Dalem Putih. Kemudian peristiwa itu dijadikan bhisama oleh Dalem Putih untuk sanak saudara agar tidak makan daging kijang dan memakai bambu sebagai alas tempat tidur. Dari larangan tersebut dapat digambarkan bahwa masa itu hewan kijang dan bambu dilindungi. Yang menjadi pertanyaan mungkinkah sebatang bambu ditebang lahir seorang wanita, mungkinkah kijang menyusui manusia dan kenapa tidak Dalem Putih yang merawatnya, apakah tidak kelamaan Dalem Putih menanti sang bayi sampai dewasa untuk dijadikan istri, ini contoh sebuah babad yang mengandung makna tertentu di balik kata-kata babad itu.

Setelah jabang bayi tumbuh dewasa dan dijadikan istri oleh Dalem Putih, mereka membangun sebuah taman atau perkebunan yang penuh dengan berbagai tanaman pala bungkah pala gantung dan tumbuhan lain sambil melakoni hidup suci menjalankan tapa, brata, yoga, semadi yang membuat betah hati Sang Dalem tinggal di mal (Penulis: dalam bahasa jimbaran kamel artinya pondok yang letak jauh dari pemukiman penduduk, tertutup oleh rimbunan pepohonan subur yang membuat betah siapa pun yang datang ke sana).

Pada suatu hari sang istri lama menunggu kedatangan suami dari kebun yang telah menyediakan makanan lezat, sampai matahari sorong ke barat Sang Dalem belum juga datang. Tak diduga datang seorang lelaki berbadan gede kekar, kulit hitam, rambut acak-acakan bagaikan raksasa, tanpa permisi langsung masuk dapur membuka hidangan yang telah disiapkan untuk Dalem Putih. Dan tamu yang baru datang menanyakan sang kakak Sri Batu Putih. Lalu sang istri menjawab Dalem Putih berada di Mal. Tanpa berkata sepatah pun Dalem Ireng pergi menuju Mal, sampai di sana dan memeriksa kebun sekitarnya ia terkagum-kagum dengan tempat itu, semua tumbuhan hidup dengan subur dan masari.Akhirnya tempat di mana Dalem Putih berkebun sambil melakukan pemujaan terhadap Hyang Pramawisesa oleh Dalem Ireng dinamakan Sarining Bwana, apan saking irika meletik ikang Sarin Bwana. (Penulis, Sarin Bwana artinya hadir Roh alam karena kekuatan tapa Dalem Putih, di lapangan setiap pujawali di Pura Dalem Sarin Bwana selalu terjadi phenomena kerauhan yang mengatasnamakan isi dunia, seperti, ngayah batu kitik,pangpang mal, ngayah leak barak, gregek tunggek, blego, penyu, pancung segara,I pekak dan sebagainya atau kemungkinan lain, Sarin Bwana artinya sebagai pusatkekuatan Roh alam).

Photo 1984, Gedong Pajenengan beratap alang-alang, tiang empat asal rehab tahun 1964

Lanjut cerita, karena tidak ketemu dengan kakaknya di Mal sudah pasti jalan yang dilalui berbeda, tidak lama Dalem Ireng pergi dari Puri, kemudian datang Dalem Putih dan kedapatan sang istri menagis lalu ditanya sebabnya, sambil sesenggukan Istri Dalem Putih menceritakan tingkah polah sang tamu yang baru saja pergi menuju Mal, akhirnya Dalem Putih sangat marah langsung mengambil senjata dan balik ke kebun. Sampai di kebun kedapatan Dalem Ireng yang lagi terkagum-kagum dengan tempat sekitarnya. Karena saling tidak mengenal mereka berdua, tanpa basa basi Dalem Putih langsung menyerang Dalem Ireng, akhirnya terjadi perkelahian sangat hebatnya mulai dari Sarin Buana menuju Batu Mabing, Batu Maguwung, Sekang, Muaya, Kali, Tambak, Unggan-unggan dan terakhir sampai di Gaing Mas, lalu mereka kepayahan dan tidak ada yang cedera sedikit pun. Sambil memijit-mijit kaki dan nafas ngos-ngosan Dalem Putih bertanya kepada sang tamu, “Hai kamu siapa, dari mana dan apa tujuan kamu datang ke sini, kenapa kamu tidak cedera sedikitpun” lalu dijawab oleh Dalem Ireng, Aku Sri Batu Ireng berasal dari Badhahulu, datang ke sini mau bertemu dengan kakak ku Sri Batu Putih, setelah berkata demikian, “Aku Sri Batu Putih” sahut Dalem Putih langsung memeluk Dalem Ireng karena saking bahagianya juga disambut gembira oleh rakyat Jimbaran. Kegembiraan itu sampai di depan pasar Jimbaran, berujar mereka berdua, semoga kelak disini dibangun pura yang namanya Ulun Swi, sebagai tonggak pertemuan sanak saudara. (Penulis: Ulun Swi disini apakah Ulun artinya sebutan ‘aku’ untuk sesama keluarga raja,karena mereka berdua baru menyadari bersaudara atau ‘saya’ untuk menyebutkan diri sendiri bagi orang biasa atau Ulun artinya Tuhan, dan Swi artinya bertemu, jadi tempat Tuhan bertemu hambanya).

Photo 1984, Kondisi Palinggih Papelik, Bale Panca Resi dan Pohon Kepah di kiri
Setelah perkelahian berakhir, Dalem Ireng diajak ke Puri sambil menikmati hidangan yang tadinya telah disediakan oleh sang Istri Dalem Putih. Tidak berapa lama Dalem Ireng mohon pamit kembali ke istana Badhahulu (Batahanar) dan setelah itu Dalem Putih pun hidup bahagia sambil menunggu kehamilan istrinya yang telah menginjak kelahiran anak pertamannya. Setelah umur kandungan, lahir seorang putra diberi nama Dalem Petak Jingga. Tidak disebutkan aktivitas yang dilakukan oleh Dalem Petak Jingga hingga ia menginjak dewasa.

Dalam Prasasti Dalem Putih Jimbaran disebutkan, dalem putih jimbaran lunga maring jawa bumi solo artinya Dalem Putih Jimbaran keluar jagat Jimbaran sendiri bukan ia pergi ke Solo Jawa, karena Kerajaan Solo keberadaannya sekitar tahun 1650 Masehi sedangkan keberadaan Dalem Putih tahun 1325 Masehi, jadi jeda waktu 200 tahun lebih sebelum kerajaan Solo berdiri. Diperkirakan setelah Dalem Petak Jingga membangun tiga pura, lalu Dalem Putih keluar jagat Jimbaran sendiri untuk melakukan perjalanan suci menuju arah Utara, sampai di Selatan Kuta, rakyat Jimbaran prasida ngiring Dalem Putih yang sekarang disebut Pura Sada. Dari Kuta Dalem Putih menuju arah utara sampai di Seminyak beliau meminyaki kakinya karena pegel, terus berlanjut ke utara menuju Batu Belig, Batu Bolong, terakhir di Pucak Kembar di sana beliau mencapai moksah.

Uraian tersebut di atas bahwa Dalem Petak Jingga membangun tiga pura tersebut sebelum ayahnya melakukan perjalanan suci mencapai moksah. Karena tidak ditemukan data yang jelas tentang pembangunan tiga pura yang dibangun oleh Dalem Petak Jingga, apakah dibangun sebelum meninggalnya Dalem Putih atau dibangun setelah moksahnya Dalem Putih untuk mengenang leluhurnya. Lalu siapakah keturunan Dalem Petak Jingga? Apakah Dalem Petak Jingga tidak punya keturunan atau gugur dalam pertempuran diserang oleh para Arya Majapahit bersama prajuritnya?

Photo 1987, Batang Pohon Kepah dan tembok Pura masih dari tumpukan Batu Bukit
Dalam pamancangah yang ada di Bali, setelah wafatnya Mahapatih Kebo Iwa yang kena pangindra jala (perangkap) oleh Mahapatih Gajah Mada, akhirnya pada tahun 1343 para Arya Majapahit menyerang pulau Bali, yang pada saat itu dijaga oleh para patih kerajaan Bhadahulu (Batahanar) antara lain, Ki Pasung Grigis di Tengkulak,Si Gudug Basur di Batur, Si Kala Gemet di Tangkas, Si Girimana di Ularan, Si Tunjung Tutur di Tenganan, Si Tunjung Biru di Tianyar, Ki Tambyak di Jimbaran, Ki Bwahan di Batur, Ki Kopang di Seraya, Ki Walung Singkal di Taro, Ki Agung Pemacekan sebagai Demung

Penyerangan terbagi menjadi tiga arah yang dibawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada menuju wilayah Bali Timur dibantu oleh para Patih dan para Arya lainnya mendarat di Tianyar. Arya Damar dan Arya Sentong, Arya Kutawaringin mendarat di Bali Utara. Dan Arya Kenceng, Arya Belog, Arya Pangalasan, Arya Kanuruhan, mendarat di pantai Bali Selatan dan menuju ke Kuta. Tidak diungkapkan dahsyatnya pertempuran pada ketiga wilayah tesebut. Pertanyaan penulis yang belum dapat jawaban secara faktual adalah apabila penyerangan Bali oleh para Arya Majapahit secara besar-besaran membawa ribuan pasukan kemudian Bali kalah, lalu sisa prajurit yang masih hidup dan menetap di Bali masuk soroh (klen) apakah mereka, di manakah Pura Kawitannya? Dalam pertempuran tentu ada prajurit Majapahit yang tewas lalu di manakah kuburan massalnya atau monument sebagai lambang untuk mengenang jasa jasa mereka?

Analisa penulis, penyerangan Bali oleh Majapahit bukan melalui pertempuran secara besar-besaran, dari kekuasaan Dalem Sagening sampai Dalem Baturenggong masyarakat Bali masih waspada dan menungu komando dari Ki Pasung Giri yang menjadi andalan Bali setelah wafatnya Kebo Iwa di Jawa. Para Arya Majapahit mempunyai upaya mempengaruhi rakyat Bali dengan mendekati Ki Pasung Giri dan berhasil, terjadi kesepakatan untuk mengangkat adiknya yang kedua bernama Sri Giri Ularan (Gusti Ularan) menjadi mahapatih Agung di kerajaan Dalem Baturenggong. Pengangkatan putra Sri Rigis dari Desa Gamongan ini untuk meredam kemarahan masyarakat Bali, paska transisi pemerintahan Bali ke Jawa.

Para Arya Majapahit melakukan pendekatan kepada tetua lokal Bali melalui utusan yang telah direkrut untuk disampaikan ke desa-desa yang disebut Pasek yang artinya paek, parek (orang biasa) yaitu masyarakat Bali yang dekat dengan penguasa, dalam Buku Custodians of the Sacred Mountains (Thomas Reuter, 2005 : 268) penyunting Drs. I Nyoman Dharma Putra disebutkan Pasek ada dua faksi yaitu Pasek yang loyal terhadap Kerajaan Gelgel dan Pasek yang loyal dengan Bali Mula. Pasek yang masih loyal dengan Bali Mula yang berpusat di Blahbatuh (Pura Gaduh). Pemujaan Kawitan semestinya nama leluhur (nama orang) yang pernah hidup pada zamannya dan mempunyai jasa untuk dikenang masa kini. Bendesa, Penyarikan, Kubayan, Pande, Dukuh, Juru Alas, Senapati dan lainnya adalah nama kelompok pekerjaan/ tugas yang diemban, bukan nama orang (kawitan).

Dengan pengangkatan tetua lokal menjadikan mereka sebagai penguasa di wilayah masing-masing, diangkat sebagai bendesa untuk desanya masing-masing, Kemudian wilayah Jimbaran setelah wafatnya Ki Tambyak seperti yang tertulis dalam Piagem Dukuh Gamongan halaman 17b -18a, diceritakan treh Sri Karang Buncing, di zaman pemerintahan Sri Kresna Kepakisan Baturenggong, menganugrahkan kepada Bandesa Karang Buncing Kuta, sebagai pucuk pimpinan mewilayahi sampai di Jimbaran, serta Bandesa Silabumi, Bandesa Seraya, Bandesa Sege, Bandesa Garbawana, Bandesa Ujung, Bandesa Tumbu, Bandesa Bugbug, Bandesa Asak, Bandesa Timrah, Bandesa Prasi, Bandesa Subagan, juga Bandesa Sibetan, memang keturunan Karang Buncing,merupakan wakil dari Kerajaan Batahanar (Badhahulu).
Pembangunan baru Gedong Pajenengan beratap semen dimulai tanggal 13 Juli 1987
SARIN BWANA MASA KINI

Sarin Bwana masa kini periode setelah wafatnya Ki Tambyak sebagai penguasa wilayah Jimbaran. Pada zaman dahulu Jimbaran termasuk salah satu Kota Kabupaten dibawah Kerajaan Badhahulu, berasal dari kata badha dan hulu, badha artinya istana dan hulu artinya raja, jadi Badhahulu artinya istana kerajaan/ Pusat Pemerintahan dengan rajanya bergelar Sri Astasura Ratna Bumi Banten (Asta=delapan, Sura=dewa,Ratna=permata, Bumi Banten=Tanah Bali) artinya raja yang membawahi delapan wilayah kekuasaan pemeritahan di jagat Bali pada era itu, yaitu; Jimbaran, Badung,Tabanan, Buleleng, Bangli, Karangasem, Kelungkung, Mengwi (Narendra Dev Pandit Shastri, Sejarah Bali Dwipa, 1963). 

Dari rujukan di atas, Kabupaten Gianyar dan Jembrana belum muncul, karena ulu/luwanan (kepala) jagat Bali adalah Gunung Lempuyang Gamongan, Karangasem,letaknya paling timur pulau Bali juga paling awal menemui Sang Surya (Matahari),sedangkan tebenan, palemahan (kaki) jagat Bali adalah Tabanan (Kabupaten Tabanan) karena letaknya paling barat saat itu, Kabupaten Jembrana masih merupakan hutan belantara atau belum terjadi perabasan hutan untuk persawahan atau pemukiman dan Pusat Pemerintahan (pawongan) di Batahanar (Blahbatuh) konsep Tri Hita Karana jagat Bali era itu. Dalam Salinan lontar Piagem Dukuh Gamongan,menyebutkan secara tersirat, Badhahulu artinya, maka hulu hulu banda desa sajagat Bangsul arti bebas, sebagai pusat pemerintahan dari masing-masing kepala desa yang ada di bumi Bali pada zaman itu.

Photo 2012, Kori Agung dengan Pohon Kepah masih berdiri dengan gagah

Kesepakatan yang telah dibangun oleh Dalem Baturenggong terhadap kerajaan Batahanar dengan mengangkat treh Karang Buncing sebagai Bendesa Kuta yang mewilayahi sampai di Jimbaran. Pengangkatan tetua lokal Bali untuk meredam gejolak ketidakpastian tetang Kebo Iwa di Jawa, yang sebelumnya rakyat Bali mengetahui Kebo Iwa mendapat undangan oleh Gajah Mada untuk dijodohkan dengan putri Majapahit. Rakyat Bali pun masih menunggu dan menunggu kepastian yang terjadi padanya. Entah apa jawaban para Arya bila rakyat Bali menanyakan tentang Kebo Iwa pergi ke Jawa. Dengan ditunjuknya tetua lokal sudah tentu masyarakat manut-manut dengan orang yang di tuakan karena ngekoh jak nak odah.

Peralihan kekuasaan dengan mendekati tetua lokal, pelan tapi pasti seluruh rakyat Bali pun dapat dikuasai, walaupun dengan waktu yang lama, puncaknya pada zaman Dalem Baturenggong, seluruh penyatuan sipirit penguasa Bali dan Jawa berpusat di Pura Besakih. Seiring berjalanya waktu peralihan kedua penguasa berlalu, dan Bali dipimpin oleh keturunan Dalem Baturenggong pergolakan pun terjadi.Bergolaknya keturunan para Arya Majapahit karena perebutan tahta kerajaan maupun masalah wanita, menjadi penyebab pecahnya Kerajaan Gelgel menjadi 9 (Sembilan) kerajaan kecil. Salah satunya Kerajaan Mengwi menjadi penguasa mewilayahi dari Gunung Mangu sampai Kuta. Dapat dibayangkan dari era Dalem Putih (1325) sampai era Kerajaan Mengwi (1650) interval waktu 225 tahun dari kedua penguasa, bagaimana kehidupan penduduk Jimbaran yang hanya terdiri beberapa rompok kecil di tengah desa era itu. Tinggalan Arca-arca ini tentu tidak ada terlintas di pikiran mereka untuk mengetahui lebih dekat makna dan fungsi dari tinggalan berupa puluhan Dewi ukuran besar dan kecil, apalagi masuk era penjahan asing.

Tempat pertapaan Dalem Putih letaknya jauh di tengah hutan dengan suasana tertutup oleh dua pohon kepah dan beberapa pohon besar lain sekitar semak belukar membuat kulit merinding bila harus melewati, hanya satu kata angker tersirat dalam kalbu, siapa pun berpikir dua kalilipat tinggal di sana. Kata pemangku Pura Dalem Sarin Bwana Jero Mangku INyoman Bagia mengatakan odah Gianyar yang awalnya memondok sekitar pura merupakan pengampu pura keturunan Sri Karang Buncing keluarga misan purusa dengan Dalem Putih berasal dari Sri Maha Sidhimantradewa,Buku Kebo Iwa (Bawa, 2011:254).
Photo 2014, Kori Agung dibangun tahun 2000, tanpa Pohon Kepah di kiri

Pada pemerintahan kerajaan Mengwi terjadi pembentukkan dan atau pemisahan wilayah yang dahulu Kuta mewilayahi dari Munggu sampai Bukit Jimbaran karena perkembangan penduduk kini terpisah, disamping muncul konsep baru tentang penataan bentuk palinggih dan nama Dewa yang di stanakan sebagai wujud bhakti kepada leluhur, dewa dan Hyang Widhi/ Tuhan. Arca-arca oleh Dalem Putih ditaruh di atas altar yang dibuat seadanya. Tidak ada bukti pondasi (bataran) dan penyerta lain sebagai alat bukti di lapangan sebagai wadah arca-arca itu. Karena Dalem Putih sejak muda taat menjalankan petunjuk agama sehingga mendapat penugrahan dari Roh Tertinggi alam sekitar berdampak kekuatan magis padanya. Sambil berkebun menjalankan isi hatinya sehari-hari melakukan pemujaan kepada Hyang Pramawisesa sehingga tanaman menjadi subur dan menimbulkan vibrasi saling menguntungkan antar manusia, alam dan Dewa. Arca yang tadinya terbengkelai tidak terurus karena permohonan warga terkabulkan berkat restu dari ida Bhatara sehingga mereka membayar kaul (sesaudan) ada yang membayar kaul lewat upakara dalam satu piodalan, ada membayar kaul melalui bahan bangunan bila kebetulan pura sedang dipugar dan sebagainya.

Penduduk Jimbaran yang beragama Hindu didasari oleh budaya saling mengunjungi sehingga tradisi yang awalnya Arca dan bangunan suci lain hanya sebagai pengayatan ditempat saja, tidak bisa diusung keluar, sehingga warga mensiasati membangun symbol pengganti dari ida Bhatara berbentuk pratima, prerai yang mudah di usung ke pantai tatkala ada upacara pemelastian, begitupun dengan palinggih Gunung Agung, genah semayangan, bale banten ke pengalasan, bale banten ke segara bila
tidak bisa datang ke tempat masing-masing sesuai dengan palinggih pasimpangan yang ada di pura, disamping pemujaan yang terdapat di genah semayangan wujud toleransi umat Hindu dan Budha.
Bhatari Sri, bentuk pratima Pura pada masa kini


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More