Cover Buku Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing

Hasil Buruan 27 tahun,Untuk mengumpulkan data" Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing

Desa Adat Gamongan, Tiyingtali, Kecamatan Abang, Karangasem.

Foto Tahun 1992, bekas Pura Penataran Lempuyang

Pura Kuru Baya

Pura Kuru Baya terletak di barat Pura Gaduh, Blahbatuh. Pura ini tempat Ki Kbo Iwa mendapat wangsit bahaya akan terjadi firasat buruk yang akan menimpanya,Tapi karena satya wacana dan mengemban tugas raja beliau akhirnya berangkat juga, maka terjadilah kenyataan pirasat itu dan beliau menemui ajal di tanah Jawa.

Pura Kawitan Blahbatuh

Pura Kawitan Yang terletak di barat daya Kota Gianyar

Bale Panjang Kebo Iwa

Bale Panjang Kebo Iwa di Jaba Pura Puseh Beda Sudimara,Tabanan dikisahkan dalam Prasasti Maospahit bahwa bale ini dibuat untuk Kebo Iwa dimana dulunya sendi akhir berada jauh ke barat sekitar 300 meter

Simbol Penghulu Sri Karang Buncing

Simbol

Pak Made Lagi Jualan Buku

Pak made mempromosikan buku terbitan pertamanya

Pembuatan Tapel Kebo Iwa

Process pembuatan tapel Kebo Iwa berlokasi di gianyar oleh bapak Tjokorda

Jumat, 31 Januari 2020

VI DEWA AYU MASOLAH ALIT

VI
DEWA AYU
MASOLAH ALIT

PEMENTASAN BARONG DAN RANGDA
SEJARAH DEWA AYU

Dewa Ayu adalah sebutan lain dari pelawatan Barong oleh masyarakat Hindu di Desa Adat Jimbaran dan hanya satu pelawatan di empon oleh seluruh warga Jimbaran.Menurut keterangan para informan, sejarah munculnya kesenian Barong dan Rangda yang ada di Desa Adat Jimbaran, secara tertulis belum ditemukan. Para tetua mereka menceritakan secara lisan dan turun temurun kepada generasi selanjutnya. Dahulu keinginan para leluhur untuk membentuk tarian Barong akhirnya meminjam Barong uruk-urukan (Barong latihan) di Taman, Sanur. Lalu diijinkan Barong paurukan itu untuk dipinjam dan dipakai latihan di Desa Jimbaran. Masyarakat Jimbaran merasa senang sekali karenanya, dan berkeinginan untuk membentuk suatu sekaa sesolahan Barong (Perkumpulan seni). Berselang beberapa lama Barong paurukan itu diminta kembali oleh yang punya dari Taman, Sanur, atau mungkin sudah selesai latihannya.
Penari Sandar (Sang Dadari) sedang diganggu oleh Ameng-ameng Jagat
Akhirnya masyarakat Jimbaran sedih dan bingung, sangat menginginkan biar ada Barong, di desanya. Kemudian leluhur Bapak Wayan Sada nangun yasa (memohon) kearah selatan dari pusat Desa Jimbaran dan beliau meninggalkan pesan “kalau lewat dari 42 hari saya belum datang berarti saya sudah meninggal”, akhirnya sebelum 42 hari beliau sudah datang dan mendapatkan petunjuk niskala, disuruh mencari kayu pole untuk bakal tapel yang ada di kuburan. Wayan Sada (Wawancara tanggal 28 Juli 2009) menjelaskan bahwa pada kenyataan di kuburan Desa Adat Jimbaran tidak ada tumbuh pohon pole, yang ada pohon kepah dan kepuh (pohon randu), lagi tetua mereka menghaturkan banten pejati dan seketika itu ada kayu dijalan mula (kedapatan ada ditempat), lalu dibentuklah kayu tersebut oleh tetua mereka, tapel yang selesai pertama kali adalah tapel jero luh (rangda dengan mata kaca).

Cemung dan Sobrat sedang duduk santai menunggu giliran pentas
Kemungkinan karena baru pertama kali membuat tapel, ada keluarga yang mencampakkan hasil pahatannya, ditaruh begitu saja di suatu tempat, tidak dihiraukan,akhirnya tetua mereka lagi membuat tapel yang baru yaitu tapel Barong, tapel Dewa Prabhu (Rangda), dan tapel Rarung (Rangda) Karena keluarga besar tak ada sama pemikirannya, pada suatu saat ada yang mengambil tapel diselipkan di celana dan dibawa pergi nonton Jaged Bumbung di Desa Tuban, maksud dari keluarganya membawa tapel itu untuk dipakai jikalau dijawat (ditunjuk) oleh penari Joged Bumbung. Tapi apa yang terjadi sebelum sampai di Desa Tuban yang jaraknya 3 kilometer dari Jimbaran, dengan berjalan kaki, merasa ada yang menggigit-gigit perutnya, lalu tapel itu dibuang di rawa-rawa. Setelah selesai menonton Joged Bumbung dan balik kerumah, kedapatan tapel tersebut sudah berada ditempat semula, dan selanjutnya tapel dibuang ke tengah laut, juga kedapatan sudah berada ditempat semula, akhirnya tapel di pasupati di Pura Dalem yang kini menjadi sungsungan umat Hindu disamping berfungsi sebagai bhatara tedung jagat (dewa pelindung desa) Jimbaran.

Ketua sekaa Barong A A Ngurah Oka (wawancara tanggal 19 Agustus 2009) sejarah keberadaan Barong dan Rangda, yang ada di Desa Adat Jimbaran tidak diketahui secara pasti karena tidak ditemukannya catatan tertulis, tetapi diperkirakan keberadaanya sekitar 500 tahun yang lalu dengan mengambil analog setelah runtuhnya kerajaan Bali Kuno dan tapuk pemerintahan diambil alih oleh para arya kerajaan Majapahit, semenjak itulah terjadi penataan pemerintahan yang baru, baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi, agama, kebudayaan termasuk seni tari Barong dan Rangda. Arti kata Barong adalah bareng-bareng karena penarinya dua orang dan berbarengan. Sejarah keberadaan tapel Barong dan Rangda yang ada di Desa Adat Jimbaran sama seperti yang tersebut diatas. Hanya saja tapel Barong yang disungsung oleh masyarakat Hindu Desa Jimbaran ada 2 (dua) yaitu: Tapel Barong
Duwuran dan Tapel Barong Alitan.

• Tapel Barong Duwuran (keberadaan duluan) milik Pura Dalem Kahyangan,berasal dari kayu mundeh yang ditebang di setra (kuburan) sampai ceking tak rebah dan pada malam hari banyak yang mendengar ada orang menangis,berasal dari mana kayu tersebut berada, dan besoknya pohon kayu itu
kembali ke semula, seolah-olah tidak ada bekas penebangan pada pohon tersebut, lagi menghaturkan upakara di bawah pohon itu dan akhirnya pohon kayu itu bisa ditebang lalu dibentuk tapel Barong dan Rangda oleh seorang Ida Bagus yang ada di Sanur. lelontek Poleng selalu mengikuti jika lagi masolah atau mapajar 
• Tapel Barong Alitan (keberadaan belakangan) milik Pura Ulun Swi, Desa Adat Jimbaran berasal dari pohon kayu Pole dusun Bena didapat dari kerauhan tetua desa untuk mencari kayu tersebut disana. lelontek Putih selalu mengikuti jika sedang masolah gede Keseluruhan tapel Barong dan Rangda disimpan di Pura Parerepan yang terletak beberapa meter dari Pura Ulun Swi, jalan Uluwatu, Jimbaran.
Puncak Acara Mapinton, Dewa Ayu di Jeroan Pura Sarin Bwana
Masyarakat desa adat Jimbaran tidak tahu secara pasti kapan muncul dan apa makna dari pementasan, serta fisafat masing-masing tari tesebut, serta aspek-aspek dari pementasan dengan adanya kerauhan oleh puluhan orang, terjadi kejar-kejaran antara Rangda dan pepatih serta menusuk-nusuk dirinya dengan keris, sulit dipecahkan akal sehat manusia.

Dalam Buku Sekala Niskala oleh Fred B. Eiseman (1990 : 294) disebutkan bahwa kedua ‘Ibu’ Barong itu berasal dari Pura Sarin Bwana atau dengan perkataan lain taksu (spirit) dari Barong dan Rangda berasal dari Pura Sarin Bwana, karena fungsi dari Pura Sarin Bwana adalah tempat ngastiti hyang pramawisesa (tempat memohon terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa). Dikaitkan buku Sekala Niskala di atas dengan pesan leluhur Bpk Wayan Sada memohon petunjuk kearah selatan agar mempunyai plawatan Barong, apakah arah selatan yang dimaksud adalah Sarin Bwana?

BARONG

Dalam catatan tertulis, interpretasi tentang Barong tidak secara tegas menyebutkan arti kata Barong, masing-masing mempunyai pandangan yang berbeda-beda,secara etimologi kata, Barong berasal dari bahasa sanskerta yaitu kata Bhairawa,(Zoetmulder, P.J, Kamus Jawa Kuna-Indonesia) artinya menakutkan, mengerikan,dasyat, luar biasa, bentuk Siwa yang mengerikan, penganut aliran Bhairawa, karena pengaruh warisan bahasa yang dipakai di daerah tertentu yang membedakan bahasa
yang dipakai disatu tempat dengan bahasa yang dipakai di tempat lain walaupun varian-variannya berasal dari satu bahasa, menjadi Brerong.

Penari Rangda (Jero Luh) Masolah Gede Jaba Pura Parerepan, Jimbaran
Ada Pura Dalem Brerong terletak Br.Taman Sari, Desa Adat Mengwitani dan ada orang yang kerauhan (trance) dalam suatu upacara keagamaan di Pura Dalem Sarin Bwana,Pura Ulun Swi dan Kahyangan Desa Adat Jimbaran, pepatih menyebut diri Waduk Brerong. Secara filosopis Waduk Bererong berasal dari kata Waduk dan Brerong, Waduk (perut, dunia) dan Brerong mengerikan, menakutkan, sadis, dahsyat. Jadi waduk brerong artinya; isi dunia yang penuh mengerikan dan menakutkan yang dipenuhi oleh sifatsifat kebinatangan seperti keangkara murkaan, ketamakan, kebuasan, kedahsyatan, dan sifat kebatilan lainnya. Sebagai pemersatu dari semua sifat ini diwakili oleh pralingga Barong yang berwujud binatang sesuai prarencang tertinggi dari suatu wilayah. Karena pengaruh evolusi bahasa dari satu tempat ke tempat lain dan perubahan bahasa dari tahun ke tahun kata Bhairawa yang di ucapkan berulang-ulang menjadi Berawa // lafal kata Berawa yang diucakan sesuai dengan bahasa setempat menjadi Berawo // lafal huruf O diucapkan, ditegaskan berulang-ulang tersirat mendapat konsonan ng diakhir ucapan menjadi Brerong, // dari kata Brerong menjadi Barong.

Rarung dan Dewa Ayu Masolah Gede di Jaba Pura Parerepan, Jimbaran
Wujud Barong tidak lebih sebagai binatang mythology yang juga sering kita jumpai dalam cerita tantri. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa semua jenis pertunjukan yang menggunakaan Barong sama sekali tidak sesuai dengan apa yang sesungguhnya dimaksud dengan perkataan Barong, malahan beberapa jenis pertujukan sama sekali tidak ada unsur binatangnya disebut Barong juga (Barong Landung yang menyerupai manusia, Barong Kedingkling yang menyerupai wayang orang, Barong Memedi,Barong Brutuk), ada juga yang mengartikan kalau Barong berasal dari kata “Ba-ruang”dalam bahasa Indonesia huruf u dan a berasimilasi menjadi o, sehingga ru dan a (ng) menjadi ro (ng) yang berarti dua. “rong” mengandung makna ruang, jadi dua rong yang dimaksud adalah dua ruang sebagai tempat penarinya/ pemundut Barong. Dalam susastra Hindu tidak ada menyebutkan beruang sebagai hewan suci yang dikeramatkan maupun sebagai wahana para dewa jaman dahulu, maupun dari bahasa Tiongkok tidak ada menyebutkan kata Barong Sae, yang ada adalah Liong Sae yang artinya tarian naga dan singa (informan Putu Berata, dari Kepala Vihara Dharmayana, Kuta)

Purana Pura Luhur Pucak Padang Dawa disalin dan diterjemahkan oleh Ketut Sudarsana (2001:16) yang hanya menyebutkan munculnya istilah Barong, dan bertemu dengan Sanghyang Wulaka dengan perawakan hitam kemerah-merahan,rambutnya ikal agak kemerah-merahan, bersenjatakan pedang dangastra dengan mata mendelik bagaikan singa lapar, yang kemungkinan pada perkembangan menjadi tari omang-omang (sobrat, telek, jauk, cemung). Dalam Purana tidak ada menyebutkan munculnya istilah Rangda, dan munculnya atraksi kejar-kejaran antara Pepatih (orang kerasukan kekuatan lain) dengan Rangda. Dewa Gede Kebo Iwa merangsuk Buddha Berawa merubah wujud menjadi Barong, pada zaman itu memang terdapat sekte Bhairawa dan Pedang Dangastra kemungkinan menjadi nama Padang Dawa,dengan hadirnya ratusan Barong dan Rangda disaat hari pujawali berasal dari beberapa kabupaten yang ada di Bali.

RANGDA

Secara etimologi kata Rangda berasal dari urat kata Ra dan Anda. Ra adalah kependekan dari Raditya atau Api. Anda adalah bola dunia atau telur. Jadi Rangda adalah Dunia Api/Bola Api/panas. Dalam lontar siwa tatwa, Dewi Durga berubah wujud menjadi Rangda dengan gelar Sang Hyang Berawi sebagai Dewi Pemuhun /dewi pembakar, Secara filosofis mengandung arti sebagai pelebur atau pemrelina sifat-sifat kebinatangan sebelum menuju kealam Siwa / Tuhan.

Dalam kamus Jawa-Kuna, oleh Zoetmulder, Rangda berarti laki-laki yang wafat tanpa keturunan laki-laki, pohon yang gundul, kata cacian untuk menyapa wanita, duda,janda tua dalam rumah tangga istana, penghianat, berarti Rangda disebut janda/duda artinya tidak ada keturunan atau tidak produktif lagi, tidak ada keterikatan, tidak ada kehidupan di api, semua habis di bakar oleh api, makanya kerawuhan Rangda akan mengeluarkan suara bagaikan Air ngerodok (mendidih) kalau ilustrasikan setiap berludah mengeluarkan ludah api, setiap nafas, nafas api, makanan pun api, istana Api, orang yang kerauhan Rangda akan minta api lalu dikulum sebagai penyeimbang tubuhnya, juga terdapat simbol-simbol api di tubuhnya.

Penari keris kalau ditanya setelah bebas dari kerauhan mengatakan; begitu dia mengejar Rangda dengan kemarahan yang luar biasa, setelah Rangda berbalik berhadap-hadapan, seolah-olah api yang menyambar dihadapannya makanya penonton melihat pepatih lari tunggang langgang. Tatkala Rangda berbalik, pepatih pun berbalik bersamaan tanpa ada melukai pepatih lain didepannya, begitu agresifnya,jarak pepatih dengan Rangda tak pernah tersentuh dan bagi yang melanggar berakibat fatal sampai berhari-hari nginap tanpa makan dan minum di Pura.

Orang kerauhan Rangda adalah sangat diistimewakan, karena dalam meminta petunjuk yang ada keterkaitan dengan parahyangan, pawongan, dan palemahan,orang yang Kerauhan Rangda diminta petunjuk, orang yang dipinjam badan raganya sebagai mediator (penghubung) ke alam niskala adalah orang-orang pilihan sesuai persyaratan tertentu dari kekuatan alam yang menguasai wilayah tersebut dan tidak lepas dari sejarah keberadaan tempat tersebut. Kalau dikaitkan dengan perkembangan pemahaman di masyarakat, orang yang bisa Ngleyak (Ilmu Magik) yang berubah wujud jadi Rangda dengan pralingga Rangda yang ada di pura, apakah Rangda dipura itu leyak, dalam arti jelek, mengapa memuja yang jelek, dibuatkan upacara yang menghabiskan dana tidak sedikit dengan tunjangan SDM yang berpendidikan tinggi, yang belum tentu membuat sejahtera setelah upacara selesai. Didalam suatu pementasan, Rangda akan berucap-ucap kata leak-leak itu artinya memanggil seluruh kejelekan-kejelekan dari segala arah, yang akan diprelina melalui kekuatan api, agar terjadi keseimbangan di alam makrokosmos, rangda ini yang justru simbol dari kebenaran/ kebaikan karena ketidak terikat dengan duniawi (Wawancara dengan Jero Mangku Teja Kandel, tanggal 11 Juli 2007).

Puluhan penari keris sedang kejar-kejaran dengan Rangda
PEMENTASAN

Makna dari pementasan Barong & Rangda disini adalah pertunjukan atau pendramaan Barong & Rangda dimuka umum sesuai dengan alur cerita yang membuat pertunjukan itu menjadi menarik dan mengesankan serta mengandung nilai filosopis magis yang sangat menarik dan bermakna bagi kehidupan ini.

Jika Dewa Ayu matangi pementasan Barong dan Rangda selalu di pentaskan di halaman jaba tengah Pura Sarin Bwana hanya sebatas masolah alit tanpa dipentaskan ke tiga Rangda yang terdiri dari dewa prabhu, jero luh, rarung,sebab akan memerlukan lapangan yang luas dalam setiap masolah gede.Pementasan dalam bahasa masyarakat setempat disebut masolah, mapajar,matangi, medal

Penabuh gambelan membuka acara dengan tabuh babarongan, selanjutnya ratun sandar, diikuti para penari sandar lainnya berjumlah tujuh orang menuju jaba tengah pura Dalem Sarin Bwana, semua penampilan penari sandar sama dan serupa satu dengan yang lain, mata sayu, hidung mancung, warna
kulit putih, mulut tersenyum, bibir merah, bermahkota pagoda warna emas,menari lemah gemulai bagaikan seorang bidadari turun dari sorga, menari menghadap selatan, setelah menari beberapa saat, lalu penari omang yang terdiri dari 1 telek, 3 jauk, 1 cemung, 2 sobrat, yang berpenampilan kasar,urak-urakan, kuku panjang, mata melotot, gigi tongos, disamping ada juga berpenampilan bagaikan seorang raja alim dan bijak menghadap utara berlawanan arah dengan penari sandar.

Penari cemung pertama menari sesuai agem-agem (sifat dan karakter tapel) mendekati penari sandar dikiaskan sedang mengganggu sandar, setelah balik dalam perjalanan bertemu dengan dua penari sobrat, lalu sobrat pun ikut mengganggu sandar, diceritakan banyak sandar yang jatuh sakit dan pingsan ditempat, setelah sobrat balik dalam perjalanan bertemu dengan panglembar (jauk), panglembar juga mengganggu sandar, banyak sandar jatuh pingsan karena diganggu oleh para penari omang, dilanjutkan oleh penari ngiuk kendang (jauk) dalam perjalanan diganggu oleh suara gambelan yang sebelumnya bermaksud mengganggu sandar, lalu penari ngiuk kendang menuju arah penabuh kendang terjadi keributan antara penabuh dengan penari ngiuk kendang dengan mematikan suara kendang, diikuti oleh penari ngematiang sandar (jauk) menyandera penari sandar dan bermaksud membunuhnya.

Karena diketahui oleh penari sandar yang lain, lalu dipanah penari ngematiang sandar tersebut, dan ditolong oleh penari omang yang lain, kemudian dirangkul penari ngemating sandar sambil memanggil penari omang yang lain, kemudian datang penari telek yang berpenampilan bagaikan seorang raja, bermahkota pagoda, kulit hitam, kumis putih, alim bijaksana, menanyakan duduk permasalahannya dan telek menari menuju sandar mendamaikan perkelahian antara sandar (sang dadari) dengan ameng-ameng jagat (penari omang). Penari Barong siap masolah menari jingkrak jingkrak dengan penari omang dan pementasan selesai, dilanjutkan prosesi puncak mapinton di jeroan pura.

Selesai para pemangku mempersembahkan upakara mapinton selalu terjadi kerauhan oleh puluhan orang penari keris maupun histeris para remaja putri. Penari akan melaporkan utusan mana yang telah hadir didepan gedong Pajenengan maupun didepan Arca-arca kuna. Roh mana yang merasuki tubuhnya, misalnya,ngayah bojog putih, ngayah leak barak, ngayah geregek tunggek, ngayah putih jimbaran, ngayah pancung segara, ngayah gerobag besi, ngayah cerucuk kuning,ngayah kupu-kupu harum, ngayah macan gading, ngayah pongpong mal,ngayah gagak ghora, ngayah batu kitik, ngayah kakul putih, ngayah penyu,ngayah waduk brerong, ngayah kobar api, ngayah beluncat, ngayah belego,ngayah titiran, mungkin ratusan yang belum terwakili, kadang-kadang seorang pepatih mewakili lebih dari tiga rencangan, setelah menyebut diri, pepatih ngurek menusuk dirinya dengan sebilah keris bahkan lebih dari satu, dengan sekuat tenaga menusuk diri berkali-kali pada titik tubuh yang terasa gatal,Setelah ngurek beberapa saat, lalu pepatih minta upah balu makurenan (arak berem), beberapa minta upah sesuai dengan sifat dan fungsi rencang mana yang merasuki tubuhnya, upah akan di ayab sesuai kiblat atau arah asalnya,misalnya, bojog putih diberikan buah-buahan dari lungsuran banten yang dihaturkan umat, upah buah-buahan itu akan di ayab (dihaturkan) ke arah selatan, arah Pura Luhur Uluwatu, karena disana memang hidup komunitas kera, lalu memakan pun seperti tingkah laku kera, makan buah sambil menggaruk-garuk badannya, kalau penyu yang merasuki tubuhnya akan minta bulung (rumput laut) dan cara memakannya pun seperti penyu rebah telungkup ditanah dengan lidah dijulur-julur keluar meraih rumput laut tersebut, kalau rencang belego (timun gantung) yang merasuki babuten menusuk dirinya berguling-guling di tanah, kalau rencang buta siu yang merasuki menusuk keris ke daerah mata, kalau pongpong mal yang merasuki pepatih akan memanjat pohon kelapa (kalau ada) mengupas kelapa dengan giginya, kalau gerobak besi meminta keris lebih dari tiga atau sebanyak bisa digenggam oleh tangannya lalu menusuk diri sekuat-kuatnya, dan sebagainya.Setelah diberikan upah atau blabaran (sarma) babuten sekali lagi minta taji (keris) lalu berjalan menuju kehadapan Gedong atau Arca mengucapkan pamit kembali sesuai dengan rencang atau babutan mana yang meminjam badan raga tadi, misalnya, pamit bojog putih, pamit macan gading, pamit leak barak, pamit gregek tunggek dan sebagainya, sekali lagi menusuk-nusuk diri beberapa kali sampai lemas lunglai dan diperciki tirtha oleh jero mangku dan sibuh sebatok kelapa berisi toya (air) lalu diminumnya sampai habis,ngaturan sajeng (arak berem) sedikit tos ketanah lalu diminumnya, setelah menghentak-hentakkan kaki beberapa kali ke tanah, nyakupan tangan dan pepatih sadar kembali, lega, bebas, tanpa bekas.

Terkecuali pepatih dalam keadaan cemer, sebel (kotor), sangat riskan untuk ngaturan ngayah berakibat patal, keris bisa tembus melukai tubuhnya atau mategul tanpa tali, kaki dan tangan bagaikan dirantai sulit dilepaskan oleh orang lain, mereka akan sadar setelah dinetralisir oleh jero mangku dengan sedikit kumat-kamit dan dupa dikibas-kibaskan ke tangan dan kaki pepatih sadar kembali, bagi yang mempunyai kesalahan yang sangat patal keris bisa tembus ke tubuh dikala sedang ngurek dan menginap berhari-hari di pura dalam keadaan mategul tanpa tali tanpa makan tanpa minum.Makna filosofis atraksi kejar kejaran antara puluhan papatih dengan Rangda adalah terjadinya pergolakan di dunia ini antara dunia nyata dengan dunia maya, atau antara aspek air dengan aspek api. Aspek air adalah sumber kehidupan dan akan ada kehidupan, yang memunculkan sifat-sifat kebatilan yang penuh keangkaramurkaan, kebuasan, kebrutalan, dan sifat keterikatan dunia nyata lainnya, dipakai symbol pemersatu adalah Barong. Sedangkan aspek api adalah tidak ada kehidupan didalam api, dalam arti hidup penuh pantanganpantangan dan tidak keterikatan dunia materi, eksesnya akan menimbulkan ketenangan, kesabaran, kebenaran, Rangda simbolisme sifat ini. Sedangkan papatih (penari keris) disimbolkan keterikatan duniawi, mengejar Rangda disimbolkan sebagai pembakar atau pelebur keterikatan duniawi sebelum menuju ke alam Siwa/Tuhan. Adalah suatu konsep peleburan atau pengembalian unsur-unsur Panca Tan Matra (lima zat halus yang belum berukuran) dengan Panca Maha Bhuta (lima materi pokok dunia) yang saling berhubungan dan lebur menyatu. Mulai dari pertiwi (benda padat) kembali ke apah (benda cair), dari benda cair kembali ke teja (benda panas), dari benda panas kembali ke vayu (udara, angin), dari udara kembali ke akasa (suara, bunyi,sabda Tuhan). Sedangkan makna filosofis dari papatih (babuten) menusuk dirinya adalah sebagai simbol bunuhlah sifat keterikatan duniawi yang ada dalam diri, dalam proses pencaharian jati diri terhadap Hyang Widhi/Tuhan Dengan pemuasan jasmani akan terjadi ketergantungan satu dengan yang lain,terjadi saling tarik menarik dalam lingkaran dosa, mengakibatkan kelahiran kembali. Ibarat air akan selalu mengalir ke bawah karena ditarik oleh beratnya dosa-dosa dimasa kehidupan yang lalu. Sedangkan dengan pengekangan indera hawa nafsu dari keterikatan duniawi tubuh akan semakin ringan ibarat api akan selalu naik melambung keatas menyatu dengan Hyang Widhi/Tuhan.

Karena keris terbatas, berdiri kiri meringis nunggu giliran dapat taji (keris)








V SEKILAS UPACARA PIODALAN

V
SEKILAS UPACARA
PIODALAN

Upacara yang dilaksanakan di Pura Dalem Sarin Bwana ada yang insidental dan ada yang bersifat rutin, seperti yang disebutkan oleh Jero Mangku INyoman Bagia dan Kelian Pangamong Pura I Made Sudiarsa (wawancara tanggal 13 Maret 2015) persembahan insidental (aci panyabran) yang dimaksud adalah upacara yang dilaksanakan setiap bulan, enam bulan dan setiap tahun sekali. Persembahan yang dilaksanakan setiap bulan yang jatuh pada hari Soma Pon, Persembahan yang dilaksanakan setian enam bulan pada hari Sugiyan Bali, Galungan, Kuningan, dan persembahan yang dilaksanakan setahun sekali yaitu Ngusaba Nini di hari Purnama bulan kelima di Pura Muaya, Jimbaran.
Saat acara pamendakan Ida Bhatara dilakukan di jaba tengah

Sedangkan upacara rutin yang disebut piodalan alit dilaksanakan setiap enam bulan pada hari Soma Pon wuku Sinta, mulai tujuh hari sebelum puncak piodalan para pangempon pura sudah mulai mempersiapkan perlengkapan upakara, membersihkan semak belukar untuk tempat parkir kendaraan, mempersiapkan jajanan di dapur,busana pura diturunkan dari pasimpenan kemudian dibersihkan debu-debu yang melekat dalam busana dan ayahan lain untuk menunjang kelancaran piodalan. Jika piodalan gede masa persiapan dilakukan satu bulan sebelum puncak acara, piodalan gede dilakukan setelah dua tahun sekali.
Genah Semayangan, Jero Mangku sedang menghaturkan upakara
Sehari sebelum puncak piodalan simbul-simbul suci pralingga ida bhatara yang juga disebut Ampilan berjumlah tiga Ampilan berupa Gagak Ora, prerai Sanghyang Giripati, Dewi Sri akan diusung dari gedong parerepan yang letaknya di sebelah utara Banjar Menega, Jimbaran berjalan kaki lewat candi obag-abig Jalan Pemelisan Agung ke barat menyusuri pinggiran pantai menuju depan Pura Muaya lewat Jalan Bukit Permai kini Jalan Karang Mas Sejahtera menuju Jalan Sarin Bwana di tempatkan di bale panca resi.Esok hari Soma Pon Sinta di pagi hari tiga Ampilan dan runtutannya dibersihkan, di hias di bale panca resi di sucikan dengan persembahkan upakara prayascita, pejati,biyakaon, japit dan runutannya. Setelah selesai menghias pralingga ida bhatara lalu distanakan di Gedong Pajenengan kemudian perlengkapan lain rantasan,penyeneng, panastan, pengenteg ditempatkan di palinggih tajuk. Bila uapacara piodalan gede menghias ida bhatara dilakukan setelah pralingga ida sampai di pura, dihias dan disucikan kemudian esok hari lagi disucikan oleh pemangku pura,dan seluruh Ampilan di usung ke jaba tengah depan bale panggung dihaturkan upakara pamendakan oleh pemangku Pura Sarin Bwana serta jero mangku desa.Makna dari upacara ini menyambut kedatangan ida bhatara dan seluruh simbul suci yang berkaitan, untuk berkenan duduk di payogan yang telah disediakan di utama mandala. Setelah ampilan distanakan di gedong pajenengan dilanjutkan dengan upakara pamendakan yang dilakukan oleh para penari laki perempuan dan beberapa penari membawa upakara yang nantinya dipersembahkan ke masing-masing tempat suci yang ada di Pura Dalem Sarin Bwana.
Persiapan Acara Padatengan depan Gedong Pajenengan, penutup piodalan
Upacara piodalan gede dan piodalan madya mapulagembal akan dipimpin oleh sulinggih sedangkan piodalan alit dijalankan oleh pemangku desa serta diiringi oleh pemangku Pura Dalem Sarin Bwana. Hampir berjalan bersamaan begitu ida sulinggih mulai memakai busana para sekaa santi sudah melantunkan kidung suci,penabuh gambelan menyuarakan lagu pembukaan yang biasa ditabuh, penari masih menari lemah gemulai menarikan pamendakan berlanjut kaitan ke piodalan, suara kulkul bertalu-talu, tabuh rah juga tidak ketinggalan dilaksanakan di jeroan pura sebanyak tiga saet serta acara yang ada berkaitan dengan piodalan.

Para sutri dan tukang banten membantu ida sulinggih menjalankan eteh-eteh upakara piodalan, ngayab upakara dilanjutkan dengan persembahyangan bersama dan upacara selesai dipimpin oleh ida sulinggih sekitar pukul satu siang. Acara berhenti sejenak menunggu waktu berlalu sambil duduk di area dagang dadakan yang menjajakan dagangannya di jaba sisi. Jika palawatan Dewa Ayu matangi sekitar pukul empat sore sudah hadir di pura diikuti kerauhan para pepatih dan melakukan prosesi yang biasa dilaksanakan yaitu masolah alit di jaba tengah.

Sekitar pukul tujuh malam dilajutkan acara ilen-ilen desa yang dipimpin oleh pemangku desa dan pemangku pura yaitu dimulai persembahan upakara di genah pasamayangan, para sadeg dan pangemong pura ikut menyaksikan. Ciri khas upacara di genah semayangan ini yaitu para sutri menari mengitari tempat ini sebanyak tiga kali, yang digambarkan membawa persembahan untuk para leluhur yang beragama Budha dari seberang laut seperti lilin, uang kertas cina, jajanan, kelapa muda,buah-buahan tertentu, khas lain acara ini, suara gambelan yang dilagukan namanya madayung atau nendang bahasa lokal setempat. Setelah jero mangku mendoakan upakara lalu sebagian upakara dibakar seperti; uang kertas Cina, perahu-perahuan,dan beberapa upakara lain ditaruh di tanah sebelah utara genah semayangan Kadang kadang prosesi upacara di sini diikiuti oleh kerauhan seseorang dengan bahasa Cina.
“Ngayah Waduk Brerong” kata pepatih Ketut Sartika, di depan Arca Kuno
Setelah persembahan di genah semayangan selesai dilanjutkan sebagian pemangku menghaturkan persembahan upakara yang ada di bale panca resi yang ditujukan untuk ida bhatara di segara (laut) dan sebagian pemangku memnghaturkan upakara yang telah disediakan di bale pengaruman untuk ida bhatara yang bestana di pangalasan (hutan) dan setelah pemangku selesai mendoakan seluruh upakara akan di larung ke pantai dan untuk upakara yang di alas akan dibawa ke suatu tempat tidak jauh dari pura di samping pohon pole. Prosesi terakhir yaitu acara pedatengan dan pengeluaran yang dilakukan didepan gedong pajenengan yang diikuti oleh seluruh umat Hindu yang hadir. Dalam prosesi ini selalu diakhiri dengan tradisi kerauhan oleh puluhan sadeg dan pepatih, baik tua muda, laki prempuan yang memang raganya sebagai mediasi oleh Roh alam sekitarnya. Esok hari seluruh simbul suci ida bhatara dikembalikan ke tempat parerepan semula.


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More