Jumat, 23 Desember 2011

Prakata Penulis


Barhisadah pitara uty arvag
ima vo havya cakrma jusadhvam,
ta a gata avasa samtamena
atha nah sam yor aravo dadhata
Rgveda X. 15. 4.

[Wahai para leluhur yang duduk bertebaran,
datanglah kemari dengan (membawa) pertolongan,
upacara (tulisan) ini kami persembahkan untuk anda,
semoga anda berbahagia,
Datanglah dengan pertolongan bermanfaat,
karuniailah kami kesehatan,
rahmat dan bebaskan dari keperihan.]

Om Swastyastu


Puji syukur ke hadapan Hyang Widhi serta roh suci para leluhur yang telah memberikan tuntunan dan kerahayuan kepada 
kami sekeluarga sehingga naskah buku ini berhasil dirampungkan.
Berawal dari upacara karya mamungkah dalam perubahan status dan 
fungsi dari pura ibu menjadi pura panti, di pura paibon warga Sri 
Karang Buncing yang ada di Kuta, sekitar bulan April 1984. Karena 
peruntukan fisik pura panti dihaturkan kepada para leluhur yang 
telah suci dan tidak kelihatan kasat mata/nisbi. Menjadi pertanyaan 
siapakah yang sepatutnya mengesahkan perubahan status pura 
ibu menjadi pura panti itu? Lain misalnya, dalam peresmian 
suatu kantor kelurahan atau balai banjar, yang mengabsahkan 
dan menandatangani prasasti tentu upati sebagai kepala pimpinan 
tertinggi di suatu wilayah kabupaten. Memang acara itu sangat 
langka dalam arti kejadian perubahan status dan fungsi pura, jarang terjadi di Kuta. Pada puncak acara disaksikan oleh para pemangku desa, panglingsir warga, serta undangan adat lainnya.

Detik-detik akhir acara, tetua warga kerauhan, badan raganya dipinjam oleh kekuatan lain sebagai media komunikasi dalam meminta petunjuk dari alam niskala (tak nyata) dan sebaliknya.Sehingga terjadi dialog yang di mediasi seorang jero mangku pura yang ada di Kuta dengan ‘sang roh’ (tetua warga). Ditanya oleh Jero Mangku “siapakah sang roh yang meminjam raga tetua kami”. Lalu dijawab oleh sang roh (tetua warga), “Dalem!”“Dalem siapa?” tanya Jero Mangku, dan dijawab “Dalem Petak,pura iki mapesengan Pura Panti Karang Buncing,” artinya, pura ini bernama Pura Panti Karang Buncing, lalu tetua kami siuman dan sadar diri bahwa beberapa saat ia tidak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya.

Dari sekelumit bahasa kerauhan tetua tersebut, menjadi batu loncatan dalam menelusuri jejak-jejak leluhur sebelumnya. Yang menjadi pertanyaan dalam diri, siapakah Dalem Petak, siapakah nama orang tuanya, dari manakah asalnya, kenapa Dalem Petak yang meresmikan perubahan status pura itu? Karena keingintahuan
mencari jejak tentang asal usul para leluhur, disamping pada era itu sedang gencar-gencarnya warga mencari jejak-jejak leluhur mereka yang ada di Bali.

Penulis hanyalah seorang pamupul mengumpulkan naskah yang ditinggalkan para leluhur, baik berupa salinan prasasti, purana,piagem, prakempa, babad yang telah dialihaksara dan diterjemahkan oleh pura setempat, Kantor Kebudayaan Bali, museum, balai arkeologi, griya, perpustakaan, di rumah penekun sastra atau dari
tetua warga, bahkan kliping koran pun kami kumpulkan. Setelah terkumpul seluruh salinan teks itu dan dirunut menurut angka tahun dan nama raja yang berkuasa akan kelihatan nama samar, beda nama tetapi orangnya satu. Dalam purana nama raja masih memakai nama keluarga sedangkan dalam prasasti akan berganti nama sesuai gelar yang diberikan oleh kerajaan. Sangat kontroversial naskah satu dengan naskah yang lain. Akhirnya yang dimaksud Dalem Petak adalah nama lain dari Sri Batu Putih, kakak kandung Sri Batu Ireng/Sri Astasura Ratna Bumi Banten, sebagai penguasa dan pertapa di wilayah Jimbaran pada masa Bali pertengahan, sebelum ekpansi Majapahit.

Beberapa data sekunder yang dipakai pedoman dalam penulisan buku ini dapat dibagi dalam beberapa klasifikasi, sebagai berikut:

1) Prasasti, adalah aturan resmi yang dikeluarkan oleh raja pada zamannya sendiri disaksikan strukturisasi pemerintahanya. Teks prasasti jarang menjelaskan tentang asal usul keturunan para raja itu. Prasasti umumnya ditulis diatas tembaga, batu, perunggu, tahan ribuan tahun, sangat disucikan dan di stanakan di pura. 

2) Purana,isinya menceritakan kejadian yang telah lewat tentang kisah para raja serta keturunannya dan dikaitkan dengan mitos para dewa yang berstana di gunung sekitarnya. Purana ditulis diatas daun lontar menjadi pedoman untuk kelanjutan dari pangemong dan pangempon pura itu. Dalam purana tercatat nama leluhur warga yang merintis keberadaan sejarah pura. Purana pun disimpan di pura. 

3) Piagem, adalah pegangan dari kelompok warga (klen) yang isinya menceritakan kisah leluhur mereka terdahulu dan keterkaitan dengan keberadaan purana dan prasasti dari pura tertentu.

 4)Prakempa, adalah pegangan dari klompok warga (klen) yang isinya menceritakan sekelumit jejak leluhur mereka yang hanya ada di desa setempat.

 5) Babad adalah cerita yang didengar, dari mulut ke mulut,bisa bersumber dari nak kerauhan (trance) atau hasil perenungan seseorang lalu ditulis dan dikait-kaitkan dengan nama tertentu, tanpa sumber sejarah yang jelas, menjadi milik pribadi.

 6) Hasil deskripsi seseorang dalam persyaratan memperoleh gelar kesarjanaan di perguruan tinggi. Ironisnya jika para akademisi memakai acuan babad dalam menulis suatu karya ilmiah lalu dijadikan pedoman oleh umat kebanyakan maka hasilnya bertentangan dengan apa yang tercantum dalam prasasti dan purana.

Walaupun mempunyai data awal berupa piagem, prakempa, babad sebagai pedoman kelompok warga tetapi tidak tercantum kisah leluhurnya terdahulu dalam purana dan prasasti yang ada di pura,maka isi naskah itu diragukan kebenarannya alias mengambang.Begitupun sebaliknya bila prasasti tembaga dan prasasti batu yang dikeluarkan oleh raja pada zamannya, dan menjadi pedoman pura tetapi tidak tertulis namanya dalam purana dan piagem maka teks itu perlu dianalisis keberadaannya. Dan yang terakhir bila mempunyai purana sebagai data awal keberadaan sejarah pura dan mengisahkan nama-nama raja dan turunannya, tetapi tidak muncul namanya dalam prasasti yang dikeluarkan sebagaimana raja-raja yang lain, serta tidak tercantum nama leluhur warga dalam purana,mengakibatkan kebingungan dalam menguraikan tinggalan naskah itu. Dengan demikian naskah satu dengan naskah yang lain mesti saling menceritakan antara teks prasasti dan purana milik pura tertentu dengan piagem, prakempa, babad milik suatu kelompok warga. Bila tidak terdapat saling keterkaitan dan berdiri sendiri atau saling tumpang tindih isi naskah satu dengan naskah lain maka dapat menimbulkan pembelokan sejarah. Disamping menjadi acuan munculnya palinggih atau pura baru.

Skema perjalanan leluhur Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing tercantum dalam prasasti, purana, piagem, prakempa, babad berhulu dari Sri Ksari Warmadewa dan bermuara menjadi lima cabang.Berhulu dari Sri Kesari Warmmadewa, Sri Ugrasena, Sri Jaya Singha Warmmadewa, Sri Udayana, Sri Aji Hungsu, Sri Jayasakti.Setelah Sri Jayasakti menurunkan lima orang putra, Sri Gnijaya,Sri Maha Sidhimantradewa, Sri Mahadewa Pu Witadharma, Sri Maha Kulya Kul Putih dan Ratu di Jawa Madura: 1) Satu cabang Sri Maha Sidhimatra menurunkan Jaya Katwang di Jawa. 2) Cabang yang ke dua dari Sri Gnijaya menurunkan Sri Jaya Pangus, Sri Hekajaya dan Sri Adi Kuti Ketana (putus). 3) Cabang yang ke tiga dari Sri Maha Sidhimantradewa beristrikan dari Desa Gamongan,menurunkan Sri Dewa Lancana, Sri Taruna Jaya, Sri Masula Masuli,Sri Astasura Ratna Bumi Banten sebagai raja terakhir kerajaan Bali Kuno yang terletak di Batahanar (Bedulu). 4) Cabang yang ke empat Sri Jayasakti yang merintis pedharman (pertapaan) di Gunung Lempuyang dan diteruskan oleh keturunannya yaitu;Sri Gnijaya, Sri Maha Sidhimantradewa, Sri Indracakru, Sri Pasung Grigis, Sri Rigis, Sri Pasung Giri, Dukuh Sakti Gamongan,menurunkan para Dukuh yang berada di Desa Adat Gamongan dan Bali pada umumnya. 5) Cabang yang kelima, mulai dari Sri Maha Sidhimantradewa, Sri Indracakru, Sri Jayakatong, Sri Karang Buncing, menurunkan 3 putra Sri Kbo Iwa dan Sri Karang Buncing di Blahbatuh, menurunkan watek karang buncing yang ada saat kini.

Yang menjadi pertanyaan, putra kandung yang lain dari Sri Jayasakti yaitu, Sri Mahadewa Pu Withadarma, Sri Maha Kulya Kulputih, dan Ratu di Jawa, Madura, tidak jelas kisah peristiwa apa yang terjadi pada beliau dan siapa keturunan beliau saat kini. Mungkinkah Sri Maha Kulya Kulputih identik dengan Sangkul Putih pendiri Pura Besakih, atau Sri Mahadewa Pu Withadarma identik dengan Mpu Withadharma asal muasal leluhur Panca Resi dan Sapta Resi yang menurunkan Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Resi (MGPSSR) yang ada saat kini. Disamping itu kisah putra kandung Sri Maha Sidhimantra yang menikahi adik Kebo Ijo di Jawa dan melahirkan seorang putra bernama Jaya Katwang menundukkan Raja Kertanegara (Singosari), juga tidak jelas kisah kehidupannya dan siapa keturunannya masa kini.

Buku ini tidak akan terwujud tanpa dukungan dari berbagai pihak, terutama sembah terimakasih dihaturkan kepada sang dewata Ida Pandita Dukuh Dhaksa Dharma Yoga (alm) dari Padukuhan Karang Buncing, Carangsari, Petang, Badung. Sebelum madiksa (pentasbihan pendeta), beliau adalah seorang padasar (sadeg), di Pura Panti. Jiwa raganya sewaktu-waktu dipinjam oleh kekuatan lain sebagai media komunikasi antara roh leluhur yang disucikan dengan keturunannya dalam memberikan pesan dan kesan dari alam dewata, dikala pujawali dilaksanakan di Pura Panti Karang Buncing, Kuta dan Pura Sarin Bwana, Jimbaran era itu. Semenjak mendapat titah ngiring pakayunan ratu gede kebo iwa atau dengan perkataan lain “Kebo Iwa” sebagai guru pembimbing niskala atau guru spiritual tak nyata. Secara tidak langsung jiwa raganya sebagai pengejawantahan dari spirit Kebo Iwa dan mengarahkan tahapantahapan yang mesti dilakukannya sebelum menjadi seorang Dukuh (pendeta). Berani menolak dan melawan dari kekuatan-Nya secara otomatis mengakibatkan sakit, kaku ditempat, kerauhan dan perasaan yang tidak menyenangkan lainnya, bahkan nyawa pun taruhannya.Proses pencaharian kesucian diri dilakoninya bertahun-tahun.Penulis hanyalah sebagai pendamping atau menjaga badan raganya dikala detik-detik siuman dari kerauhan (trance), agar badannya terhindar dari benturan benda keras. Perjalanan spiritualnya sangat unik, menarik dan berjenjang padahal beliau tanpa berguru kepada seseorang.

Sembah terimakasih kepada Ida Pandita Dukuh Acharya Dhaksa, dari Pedukuhan Samiaga, Penatih, Denpasar teah banyak memberikan referensi materi buku ini.Juga hatur terimakasih kepada putra ida dukuh yaitu Wayan Suwenda Karang (alm) dan sekeluarga, telah tulus iklas membiayai seluruh aktivitas penulis mulai dari proses awal pengumpulan naskah sampai menjadi sebuah buku.Ucapan terimakasih kepada tetua kami Bapak Drs. Wayan Gede Bargawa, dari Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Beliau telah susah payah, mencari, menggali, mengalihaksara dan menterjemahkan naskah kuno yang menceritakan tentang leluhur terdahulu seperti Piagem Dukuh Gamongan, lontar milik Griya Tegeh Budakeling,Karangasem, Purana Pura Puseh Gaduh, lontar milik Pura Puseh,Desa Adat Blahbatuh, Lontar Aji Murti Siwasana, milik Desa Adat Gamongan, Karangasem dan beberapa lontar lainnya. Penulis hanya meneruskan apa yang telah diuraikannya dalam kalender yang diterbitkan beberapa tahun yang lalu. Naskah Piagem Dukuh Gamongan merupakan ‘missing link’ atau penyambung perjalanan asal usul leluhur Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing sebelumnya dengan keturunannya masa kini.

Terimakasih setinggi-tingginya kepada guru pembimbing kami di Kampus IHDN Denpasar yth, Bapak Dr. Redig, Bapak Prof.Dr. I Made Suastika, SU, dan Prof. Dr. I Gede Semadi Astra, yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penulisan buku ini.Juga kepada Bapak Drs. Putu Budiastra, dkk (Museum Bali), Balai Arkeologi dan seluruh budayawan yang telah banyak mengalihaksara dan menterjemahkan prasasti, purana, piagem, prekempa, babad yang ada di Bali.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Tim Silsilah dalam kepanitiaan Warga Sri Karang Buncing, serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan, tidak henti-hentinya memberikan semangat dan bantuan materi lainnya demi kelancaran naskah buku ini.

Tentunya naskah ini tidaklah sempurna sebab penulis tidak menyaksikan peristiwa sejarah masa lampau dan sangat kontradiktif dengan kenyataan yang ada di lapangan. Tergantung para penulis hendak menguraikan kisah kehidupannya dari sisi yang mana,apakah kisah kehidupannya (Kebo Iwa) hendak didongengkan,disucikan, dibudayakan, atau dipolitisir, tentunya membawa dampak bagi generasi tentang sejarah Bali, di masa mendatang. Penulis dengan senang hati menerima segala bentuk kritik demi perbaikan
buku ini, yang tentunya kritik tersebut diwujudkan dalam bentuk buku, sehingga menambah wawasan ilmu pengetahuan.

Kepada Gde Aryantha Soethama, yang meluangkan banyak waktu untuk menyunting naskah awal sampai dirancang menjadi sebuah buku, penulis sampaikan banyak terimakasih. Peran Aryantha sangat besar dan menentukan dalam mengatur, menata, merapikan naskah, yang awalnya terpisah dan terpenggal, untuk dirunut menjadi satu kesatuan utuh sebuah buku seperti pembaca pegang sekarang. Berkali-kali dan berhari-hari saya dan Aryantha berdebat untuk sampai pada kesepakatan mengenai hal-hal mendasar dan teknis menyangkut buku ini. Perbincangan-perbincangan tersebut telah memperkaya dan memperdalam pengetahuan saya tentang buku. Suksma dahat, Bli Gde. Kendati banyak pihak yang terlibat melahirkan buku ini, namun tanggungjawab tetap pada diri saya sebagai penyusun dan penulis.

Akhir kata, penulis mohon maaf atas keterbatasan yang dimiliki dalam menguraikan sejarah perjalanan leluhur Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing. Semoga amal baik semua pihak dalam membantu kelancaran penerbitan buku ini mendapat sinar suci-Nya.

Semoga buku ini bermanfaat.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Kuta, 15 Juli 2011
Made Bawa






0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More