Jumat, 23 Maret 2012

Bab II Asal Usul Treh Sri Karang Buncing


Bab II
Asal Usul Treh
Sri Karang Buncing


Menelusuri jejak keberadaan Tuhan merupakan suatu kemustahilan, menelusuri jejak para leluhur ibarat mencari sebatang jarum di tengah padang rumput yang sangat luas. Kadang-kadang gelap, kadang samar, terputus-putus dan membingungkan, sehingga membuat seseorang menjadi penasaran untuk terus mencari sampai titik kebenaran. 


Pada zaman Bali-Kuno, prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja yang berkuasa, umumnya distanakan di suatu tempat suci (dalam goa yang banyak lebah, di atas pohon besar, di pura), terbuat dari bahan; batu, tembaga, perunggu, besi, yang tahan sampai ribuan tahun. Dalam prasasti tercatat hari, tanggal, tahun prasasti yang dikeluarkan oleh raja yang berkuasa. Saat prasasti ditulis disaksikan oleh bawahan raja seperti; para senapati (mahapatih), para dang acharrya (pendeta siwa), dang upadhyaya (pendeta budha), para samgat (sang pemutus), para caksu (pengawas), para kubhayan (rohaniawan desa), dan para juru lainnya. Prasasti berisi ketetapan pemerintah yang telah disepakati bersama yang dikeluarkan oleh raja untuk desa, atau untuk perseorangan. Isinya menyangkut tentang perluasan wilayah desa, tentang pajak, tentang batas wilayah, tentang perubahan status tempat, misalnya, dari hutan lindung menjadi desa pakraman atau menjadi tempat pemujaan, atau hadiah dari raja untuk seseorang dan aturan-aturan lainnya.

Sebelum disosialisasikan ke masyarakat, prasasti itu akan di supata (pasupati) terlebih dahulu di hadapan ida bhatara/dewa yang berstana di suatu pura, memohon spirit dari kekuatan alam semesta agar menyatu dengan prasasti yang disucikan. Disamping alam sebagai saksi, menurut keyakinan masyarakat Hindu, bahwa alam akan menghukum bagi masyarakat yang tidak mengindahkan aturan tersebut, karena prasasti umumnya berisi kutukan yang dimohonkan hukuman datangnya dari segala arah. Kutukan inilah yang sangat ditakuti oleh masyarakat Hindu sekitarnya.

Menelusuri Jejak

Kadang-kadang kita kesulitan untuk mengetahui tahun berapa prasasti tersebut ditulis dan di zaman pemerintahan siapa dikeluarkan, maka seseorang kemudian cuma menebak-nebak dengan memainkan perasaan dan akal sehat, memainkan huruf perhuruf dalam kata, memainkan kata perkata dalam kalimat, sehingga hasil perenungan seseorang memunculkan banyak dugaan, banyak nama samar, banyak nama tempat sama, banyak nama pura sama. Tapi, karena pendapat itu tidak didukung data sejarah, orang cendrung meragukan dan mengabaikannya. Karena tiada data sejarah itulah muncul kemudian nama-nama samar yang belum tentu orangnya sama. Riwayat berdasarkan babad, jejak yang sesungguhnya dikait-kaitkan satu dengan yang lain, dirunut berdasarkan potongan-potongan ingatan, disampaikan dari mulut ke mulut, bisa saja muncul pendapat lain, sehingga terjadi silang sengketa beberapa versi, beda judul isi sama, atau tergantung dari aspek batiniah si penulis. Secara rasional, melalui bahasa semestinya prasasti tersebut akan diketahui keberadaannya, apakah memakai bahasa Bali-Kuno, bahasa Bali-Pertengahan, atau bahasa Bali-Kekinian.

Kadang-kadang data ditemukan di tempat lain, yang menyebutkan tentang keberadaan tempat tersebut. Juga benda-benda arkeologi yang setempat dianggap sebagai pembenar dan disinergikan dengan benda yang ada di lain tempat dan akhirnya ditafsir sezaman dengannya. Nama-nama dewa/bhatara yang berstana pada setiap palinggih yang ada dalam suatu pura dan tradisi turun temurun,akan sedikit diketahui tentang keberadaan suatu tempat atau pura tersebut. Kadang-kadang data atau referensi didapat bersumber dari hasil kerasukan atau kerauhan seseorang yang dipinjam badan raganya oleh kekuatan lain dalam penyampaian pesan dan kesan dari alam niskala (alam tak nyata). Hipotesa dari hasil yang didapat disastrakan, baik lewat kidung-kidung suci, maupun catatan tertulis lainnya dalam menghormati dan mengenang kisah kehidupan para leluhur, alam, dan dewa sekitarnya.

Disamping melalui konsepsi tri hita karana (konsep tata letak tempat dalam suatu wilayah atau desa), yang telah diwariskan para leluhur, yaitu tentang parahyangan, pawongan, palemahan, terbukti pangemong dan pangempon (penanggung dan pemelihara) pasti hidup di lingkungan terdekat pura tersebut. Bagaimana mungkin menghaturkan yadnya sehari-hari dengan lancar dan khusuk, jika pangemong bertempat tinggal jauh dari wilayah desa. Analogi ini kita ambil contoh; sanggar kamulan (tempat suci rumah tangga) dimana pemuja dan pemelihara pasti hidup berdampingan atau menyatu di dalam rumah tangga, tidak mungkin sanggar kamulan itu dipuja oleh tetangga sebelah kecuali hidup dalam satu batih keluarga di satu pekarangan rumah.
Pura Desa Kuta misalnya, tidak mungkin di-mong dan di-mpon oleh masyarakat Desa Adat Jimbaran.

Naskah sejarah Bali-Kuno dimulai dari ditemukannya data awal catatan tertulis berupa prasasti tembaga yang ada di Desa Sukawana zaman pemerintahan Raja Sri Ksari Warmadewa tahun Saka 804/882 Masehi. Sedangkan data lebih awal dari tahun tersebut tidak ditemukan catatan tertulis yang menunjukkan angka tahun yang pasti, hanya berupa “meterai cap” dari tanah liat yang diperkirakan dibuat oleh para bhiksu Budha pada awal sejarah Bali-Kuno.

Prasasti, disamping untuk mengenang kebersamaan warga pada zaman dahulu, juga sebagai dasar data utama penulisan awal sejarah Bali. Dari isi prasasti dapat diraba keadaan sosial masyarakat,struktur pemerintahan, perkembangan perekonomian, agama yang berkembang pada era itu, hubungan satu kerajaan dengan dunia luar serta beberapa aspek lain yang tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat. Jadi, akurasi yang didapat dari prasasti yang dikeluarkan raja saat itu adalah fakta sejarah, sebab prasasti suatu catatan resmi dari raja. Setelah pemerintahan para raja Bali berlalu, untuk mengenang kisah para raja serta keturunannya, dikaitkan dengan perkembangan pemerintahan yang berkuasa di era selanjutnya,menjadi catatan tertulis yang disebut purana.

Purana umumnya ditulis di atas lontar dan distanakan di suatu pura yang menjadi junjungan umat Hindu sekitar yang merasa ikut sepenanggungan dengan sejarah berdirinya pura tersebut.Tidak secara tegas tertulis zaman pemerintahan siapa purana itu dikeluarkan, dan dalam purana penulisan angka tahun memakai candra sangkala.

Isi purana sebagian mengandung sejarah, sebagian mitos para penguasa dikaitkan dengan konsep para dewa yang berstana pada gunung-gunung sekitarnya, yang menjadi simbol manifestasi Tuhan pada zaman itu. Dengan demikian turunan dari prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Bali terdahulu menjadi beberapa catatan tertulis disebut; purana, piagem, prakempa, babad, pamancangah,yang tersebar di daerah Bali.

Konsep pemujaan Tuhan melalui bhatara hyang kawitan setelah kedatangan Danghyang Nirartha di Bali, sezaman dengan keberadaan beberapa generasi setelah era Sri Karang Buncing, adik kandung dari Sri Kebo Iwa yang hidup sekitar tahun 1324 Masehi. Nama Sri Karang Buncing dijadikan momentum untuk mengenang para leluhur (kawitan) oleh para warga dan dipertegas kembali dalam Anggaran Rumah Tangga Sri Karang Buncing, pasal 21, pada Mahasabha hari Senin, 2 Pebruari 2004, di Nusa Mandala Tohpati, Denpasar. Karena nyineb wangsa (menutup asal usul), warga Karang Buncing di masyarakat ada menyebut diri prabali karang buncing, arya karang buncing, gusti karang buncing, sri karang buncing, bendesa karang buncing, pasek karang buncing, soroh karang Sri Arya Karang Buncing, karang gaduh dan sebutan lain sesuai tugas dan jabatan pada masa itu.

Keberadaan Pura Kawitan Sri Karang Buncing tertulis dalam lontar Usana Bali dialih aksara oleh Jero Mangku Nengah Swena dan Jero Gede Karang Tangkid Suarsana, menjelaskan Pura Kawitan Sri Karang Buncing yang terletak sekitar seratus meter ke utara Pura Gaduh, atau Jalan Dharmawangsa, Desa Pakraman Blahbatuh,Gianyar, dibangun oleh I Gusti Karang Buncing. Karena saling kawin mengawini antara dua keluarga penguasa di Wadwasila (Blahbatuh) yaitu antara keturunan Sri Paduka Agung Made Jambe (Raja Agung Tengah) putra mahkota dinasti Dalem Kepakisan dengan keturunan I Gusti Karang Buncing, treh akhir raja-raja Bali-Kuno.

Peralihan kekuasaan tentu membawa dampak politik psikologis bagi masyarakat sekitar. Pura Gaduh yang awalnya sebagai tempat suci para raja Bali akhirnya menjadi monumen kebersamaan dari dua dinasti antara Hindu Bali dan Hindu Majapahit. Demikian pula halnya dengan status dan fungsi Pura Gaduh menjadi Pura Puseh,junjungan umat Hindu Desa Pakraman Blahbatuh.

Untuk menyiasati agar warga tidak tercerai berai beralih ke kelompok warga lain, atau kemungkinan aturan baru dari pemerintah, diwajibkan untuk mendirikan tempat pemujaan roh suci para leluhur dari masing-masing kelompok warga, sehingga I Gusti Karang Buncing membangun pura kawitan yang ada saat kini.Disamping itu, pura kawitan berfungsi sebagai tempat berinteraksi antarwarga Sri Karang Buncing dan seluruh warih (keturunan) dari Sri Ksari Warmadewa. Masa peralihan ini berdampak kepada pura lain, misalnya, Pura Dukuh di Desa Adat Jimbaran dibangun oleh Dalem Petak Jingga putra Sri Batu Putih sebagai tempat suci keluarga Dalem, setelah masa peralihan kekuasaan, kini Pura Dukuh di-among dan di-empon oleh keluarga Pasek yang berasal dari Desa Kusamba (prasasti Dalem Putih Jimbaran).

Begitu pula dengan Pura Lempuyang Gamongan yang sebelumnya di-emong oleh Desa Adat Gamongan, dan di-empon oleh desa adat yang ada di sekitar Desa Adat Gamongan, sejak tanggal 11 April 2003 tanggung jawabnya diambil alih oleh Desa Abang (Bali Post, 12 April 2003).

Berhulu pada Sri Kesari Warmadewa 

Dalam buku-buku babad, titik awal penulisan sejarah leluhur mereka di Bali, umumnya dimulai pada zaman pemerintahan Sri Astasuraratna Bumi Banten yang hidup se zaman dengan Kebo Iwa,Pasung Giri, Ki Karang Buncing, serta masa transisi pemerintahan oleh para Arya Majapahit di bawah pimipinan Mahapatih Gajah Mada. Karena sebelum era itu konsep pemujaan bhatara hyang kawitan belum ada.

Skema perjalanan silsilah warga (genealogy tree) dari Sri Karang Buncing berhulu dari Sri Ksari Warmadewa dan bermuara menjadi cabang, setelah Sri Jaya Sakti menurunkan lima orang putra.Satu cabang Sri Maha Sidhimatra menurunkan Jaya Katwang di Jawa.Cabang yang kedua dari Sri Gnijaya menurunkan Sri Jaya Pangus, Sri Hekajaya dan Sri Adi Kuti Ketana. Cabang ketiga dari Sidhimantradewa beristrikan dari Desa Gamongan, Sri Dewa Lancana, Sri Taruna Jaya, Sri Masula Masuli menurunkan Sri Astasura Ratna Bumi Banten sebagai raja kerajaan di Badhahulu.Cabang yang keempat menurunkan para Dukuh yang ada di Gamongan.Cabang yang kelima Sri Karang Buncing adik dari Sri Kebo Iwa, di Blahbatuh.

Yang menjadi pertanyaan, putra kandung yang lain dari Sri Jaya Sakti yaitu, Sri Mahadewa Pu Withadarma, Sri Maha Kulya Kulputih, dan Ratu di Jawa, Madura, tidak jelas kisah peristiwa apa yang terjadi pada beliau dan siapa keturunan beliau saat kini.Mungkinkah Sri Maha Kulya Kulputih identik dengan Sangkul Putih pendiri Pura Besakih, atau Sri Mahadewa Pu Withadarma identik dengan Mpu Withadharma asal muasal leluhur Panca Resi dan Sapta Resi yang menurunkan Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Resi (MGPSSR) yang ada saat kini.

Leluhur lelangit treh Sri Karang Buncing berhulu pada Sri Kesari Warmadewa. Data ini muncul dalam Purana Pura Luhur Batukaru serta data pendukung lainya, yaitu Purana Bali Dwipa dicocokan dengan data sejarah yang dikeluarkan oleh raja yang berkuasa.Siapakah orang tua Sri Kesari Warmadewa, dan dari manakah asal muasalnya? Karena tiada data sejarah yang pasti tentang keberadaannya, akhirnya berbagai interpretasi muncul dari penekun sastra dan para sejarawan mengenai asal usul Raja Sri Kesari Warmadewa.

Ada yang berpendapat Sri Kesari Warmadewa berasal dari keturunan Sanjaya dari kerajaan Mataram yang memenangkan perang melawan Maya Denawa yang menganut sekte Buddha melawan Dewa Indra yang menganut sekte Indra. Ada juga yang berpendapat Sri Kesari Warmadewa berasal dari dinasti Warmadewa,seketurunan dengan raja-raja di Semenanjung Malaya seperti Raja Maulana Bhuana Warmadewa, Raja Sundamani Warmadewa di Negeri Kamboja, Raja Bhada Warman, Raja Jaya Warman, Manoratha Warman di Negeri Thailand.

Beberapa salinan babad dan purana, memunculkan nama Maya Danawa, sementara naskah lain tidak menampakkan nama itu.Menurut babad, Maya Danawa muncul dalam tiga periode, yaitu awal pemerintahan Sri Ksari Warmadewa, zaman Sri Jaya Pangus,dan zaman Majapahit. Sesungguhnya kita tidak menyaksikan peristiwa sejarah, sehingga mungkin saja Maya Danawa adalah seorang raksasa maya nan sakti sebagai penguasa awal sebelum Bali ditundukkan oleh Sri Ksari Warmadewa.

Umat Hindu di Bali zaman dahulu memuja Hyang Danawa artinya Dewa Danau. Dengan demikian Maya Danawa artinya orang yang tidak jelas identitasnya dan bertempat tinggal di daerah danau (danawa) sebagai penguasa awal Pulau Bali. Tidak ada data sejarah ditemukan, bahwa terjadi pertempuran antara Maya Danawa dengan Sri Ksari Warmadewa. Kesusasteraan di Bali berkembang pesat dan bebas setelah masa pemerintahan Dalem Batur Enggong sekitar abad ke-16.

Dari prasasti-prasasti yang ber-angka tahun 804 hingga 864 Saka keraton Sri Kesari Warmadewa dan Sri Ugrasena bernama Singhamandawa. Bila diperhatikan kata Singa=Kesari, dan Mandawa berasal dari kata Mandapa yang artinya istana, keraton, atau lebih tepatnya pendapa istana, Singhamandawa berarti Keraton Singa atau Keraton Kesari. Sayang sekali dalam prasasti-prasasti tidak disebutkan dimana letak pusat kerajaan dimaksud. Mungkinkah kata Singhamandawa ada kaitannya dengan Singaraja, ibukota Kabupaten Buleleng saat kini? Sebab sama-sama memakai lafal kata Singa. Karena Singa=Ksari sedangkan yang menjadi raja pada awal sejarah Bali saat itu bernama Ksari, maka tak salah analisa kota Singaraja sebutan lain dari Raja Ksari Warmadewa.

Dalam sejarah sering dijumpai nama seseorang dipakai juga untuk keratonnya. Atau nama tempat, misalnya, Denpasar berasal dari nama I Gusti Ngurah Denpasar, Desa Tonja berasal dari nama Sri Katon Jaya, Nama Gianyar berasal dari nama kerajaan Batahanyar,Kabupaten Jembrana berasal dari kata Jimbaran, karena para nelayan Jimbaran awalnya menetap di Jembrana. Bandanaraja menjadi nama Badung, Desa Jimbaran berasal dari kata Jimbarwana, Karangasem berasal dari kata Karang Sma (tempat suci, tempat semadhi). Jejak perjalanan Sri Batu Putih dan Sri Batu Ireng, menjadi nama-nama tempat dengan nama Batu huruf depannya, misalnya Batu Bulan,Batu Bolong, Batu Hyang, Batu Belig, dan lain-lain.

Raja-raja Bali-Kuno Sebelum Ekspansi Majapahit 

Prasasti adalah ketetapan resmi yang dikeluarkan oleh para raja Bali-Kuno. Prasasti menjelaskan tentang aturan yang telah disepakati bersama. Teks prasasti jarang menjelaskan tentang asal usul keturunan para raja itu. Karena tidak dijumpai secara pasti nama keturunannya, juga secara parsial terputus tahun prasasti yang dikeluarkan dari raja satu ke raja yang lain, maka menimbulkan berbagai macam penafsiran tentang kisah peristiwa apa yang telah terjadi dalam kehidupan mereka terdahulu.
Adakah hubungan kekerabatan antara raja satu dengan raja sebelumnya, berapa lama mereka berkuasa, tahun berapa mereka meninggal dan dimana dicandikan? Adakah terjadi pengambilalihan kekuasaan secara paksa dari kerabat dekat raja maupun dari orang luar?

Sejarah pemerintahan raja-raja Bali-Kuno, tidak ditemukan peralihan kekuasaan dengan cara paksa, dalam arti jika sang raja meninggal, tapuk pemerintahan akan digantikan oleh istri dan atau anaknya. Apabila sang anak masih kecil, belum cukup umur untuk berkuasa, maka akan digantikan oleh sang paman atau kerabat dekat raja yang lain. Apabila ‘buntu’ tak ada yang mau menggantikan,maka akan dipakai metode yang lain, melaui jalan ‘niskala’, dengan jalan minta petunjuk “nedunang ida bhatara” Hal seperti ini terlihat dalam teks Purana Pura Puseh Gaduh, Blahbatuh, dimana Sri Pasung Grigis, seorang nyuklabrahmacari (tidak kawin seumur hidup), untuk mencari penggantinya sebagai orang suci di Pura Lempuyang, Gamongan, Karangasem.

Setelah terkumpul salinan naskah-naskah kuna itu, lalu kita telisik,prasasti satu dengan yang lain dirunut menurut angka tahun dan nama raja yang mengeluarkan prasasti itu. Kadang-kadang terlihat nama samar, dengan perkataan lain, beda nama tetapi orangnya satu, misalnya, antara Raja Sri Jayasakti, Sri Gnijaya Sakti, Sri Gnijaya dan Sri Ragajaya. Masa pemerintahan ke empat nama raja ini, menurut tahun prasasti dan purana, yang dikeluarkan berkisar tahun 1119–1177 Masehi. Dalam prasasti nama Sri Gnijaya Sakti dan Sri Gnijaya tidak muncul, jadi tidak ada prasasti yang dikeluarkan,sebagaimana umumnya raja raja yang lain. Begitu pula dengan raja Sri Ragajaya, hanya mengeluarkan satu prasasti yang disebut Prasasti Tejakula, tahun Isaka 1077/1155 Masehi. Sedangkan Raja Sri Jaya Sakti mengeluarkan prasasti terakhir pada tahun Isaka 1072/1150 Masehi, yang disebut Prasasti Sading Kapal. (Poeger, 1964:105).Tetapi dalam naskah Purana Bali Dwipa, Piagem Dukuh Gamongan,Prasasti Pura Puseh, Sading, Kapal, Purana Pura Batu Karu, Purana Pura Pucak Bukit Gede, dan beberapa naskah lainnya, akan terlihat jelas kisah kehidupan para raja Bali-Kuno itu. Disamping itu, dalam purana tidak disebutkan prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh para raja.

Teks Piagem Dukuh Gamongan dan Prasasti Pura Puseh Sading,Kapal, nama raja Sri Jaya Sakti identik dengan Sri Gnijaya Sakti,begitu juga putranya diberi nama sama dengan ayah kandung Sri Gnijaya juga (tanpa ident sakti di belakang namanya). Dalam Piagem Dukuh Gamongan, Sri Gnijaya menjadi raja Bali Isaka 1051/1129 Masehi. Purana Bali Dwipa, Sri Jaya Sakti meninggal dunia Isaka 1072/1150 Masehi. Sedangkan nama Sri Ragajaya tidak muncul dalam purana manapun, Dalam kamus Jawa Kuna (Zoetmulder,
1994:899), kata raga artinya warna merah, Warna merah identik dengan warna Api atau Gni. Dari analisis ini raja Sri Ragajaya adalah nama lain dari Sri Gnijaya, raja ini banyak menjadi titik awal dalam penulisan piagem, purana, babad, prakempa, pamancangah lainnya yang ada di Bali masa kini.

Demikian pula setelah Raja Sri Aji Hungsu berkuasa muncul nama Sri Walaprabhu yang menggantikannya. Raja Walaprabhu mengeluarkan tiga prasasti yang disebut Prasasti Babahan, Klandis,Babi A, menjadi raja Bali tahun 1079–1088 Masehi (Semadi Astra,1977:21).

Dalam purana, raja Sri Walaprabhu tidak muncul nama itu,yang muncul menggantikan Sri Aji Hungsu adalah Sri Sakalindu Kirana, anak dari Sri Aji Hungsu yang beribu bangsawan. Hanya satu prasasti yang dikeluarkan raja Sri Sakalindu Kirana yang disebut prasasti Pengotan, Isaka 1010/1088 Masehi. Padahal dalam Purana Bali Dwipa, Purana Pura Pucak Bukit Gede, Raja Sri Sakalindu Kirana berkuasa selama 20 tahun dan digantikan oleh adiknya Sri Suradipa yang berkuasa selama 15 tahun.

Dengan demikian Walaprabhu diperkirakan seorang janda yang menjadi raja, kemungkinan setelah Sri Aji Hungsu meninggal, kemudian tapuk pemerintahan diganti oleh sang permaisuri yang seorang janda, maka disebut Waluprabu dalam buku Mengenal Pura Sad Kahyangan dan Kahyangan Jagat oleh Tim (2008:211) istri Sri Aji Hungsu disebut bhatari mandul di-pratista atau dicandikan di Pura Penulisan. Atau analisis lain, dalam Kamus Jawa Kuna, kata walaprabhu berasal dari bahasa sanskerta, dari urat kata wala dan prabhu. Wala artinya muda, kekanakan, tidak tumbuh atau belum berkembang penuh, muncul baru, tolol, junior. Prabhu artinya raja, Jadi walaprabhu artinya raja muda, raja junior. Dengan demikian setelah Sri Aji Hungsu meninggal tapuk pemerintahan digantikan oleh permaisuri bersama putri mahkota yang masih kecil, bersamasama menjadi penguasa Bali pada era itu.

Tetapi kebalikkan dari purana ini yaitu dalam prasasti yang dikeluarkan oleh Sri Aji Hungsu selalu menyebutkan, paduka haji anak wungsu kalih bhatari lumah ing burwan, bhatara lumah ing banu wka, artinya, raja Sri Aji Hungsu setiap mengeluarkan prasasti selalu mencantumkan almarhumah ibunya yang dicandikan di Buruwan,dan almarhumah ayah yang dicandikan di Banyu Wka. Sedangkan dalam purana tidak muncul nama Sri Aji Hungsu mengatasnamakan almarhum kedua orangtuanya yang dikebumikan di Bhurwan dan Banu Wka. Yang dicandikan di Buruwan adalah Ibunda Sri Mahendradatta dan di Banu Wka (Gunung Kawi) dicandikan ayahnda yaitu Sri Udayana.

Demikian pula dengan nama raja Sri Ajnadewi yang berkuasa setelah Sri Udayana. Hanya satu prasasti dikeluarkan oleh raja Sri Ajnadewi yang disebut prasasti Sembiran, tahun Isaka 938/1016 Masehi. Pertanyaannya siapakah Sri Ajnadewi? Di dalam Purana Bali Dwipa, Sri Udayana meninggal dunia Isaka 940/1018 Masehi,dicandikan di Banu Wka. Sri Ajnadewi tidak muncul dalam purana mana pun. Begitu pula dalam teks Purana Bali Dwipa, tertulis Sri Marakata berkuasa bersama-sama ibunya sebagai penguasa Bali
pada era itu. Dalam Purana Pura Luhur Batukaru dijelaskan Raja Sri Marakata menjadi raja Bali Isaka 944/1022 Masehi.

Sedangkan dalam prasasti yang dikeluarkan tidak kelihatan bahwa raja Sri Marakata berkuasa bersama ibunya. Kalau boleh diartikan secara bebas, Sang Ajnadewi artinya seorang dewi yang mahir dalam bidang ilmu waskita. Dalam dongeng serat calonarang yang ada di Bali, permaisuri Sri Udayana yang bernama Sri Mahendratta Gunaprya Dharmapatni sering dihubungkan ahli dalam ilmu mistis.Raja ini dimakamkan di Buruwan, dikuburanya terlukis arca Durga Mahisasura Wardhini. Arca ini menguatkan dugaan orang bahwa Mahendradatta sebagai penganut ajaran-ajaran ilmu gaib dan Dewi Durgalah yang menganugrahinya kesaktian. Jadi Sri Ajnadewi nama lain dari Sri Mahendratta Gunapriya Dharmapatni.

Begitu pula Raja Patih Kebo Parud dengan Raja Patih Sri Jayakatong adik kandung dari Sri Pasung Gerigis. Dalam prasasti Pengotan, tahun Caka 1218/1296 Masehi dan prasasti Sukawana,tahun Caka 1222/1300 Masehi, yang dikeluarkan oleh Raja Patih Makakasir Kebo Parud, berisikan persoalan Desa Kedisan dan
Desa Sukawana yang terletak di perbatasan Balingkang. Sedangkan menurut buku Negarakertagama dikatakan bahwa pada tahun 1284 raja Kertanegara telah menyerang Bali dan rajanya ditawan. Sayang sekali dalam buku Negara Kertagama tidak disebutkan siapa nama raja Bali itu. Dalam Purana Bali Dwipa dijelaskan raja Kertanegara ingin mengusai Bali yang tatkala itu menjadi senapati Bali adalah Raja Patih Kebo Parud. Dalam Piagem Dukuh Gamongan dijelaskan tahun Caka 1238/1318 Masehi, Sri Jayakatong sebagai penguasa di kerajaan Batahanar dan mendirikan Pura Gaduh, Blahbatuh. Setelah raja patih Sri Jaya Katong yang menjadi raja adalah Sri Taruna Jaya,Sri Masula-Masuli dan Sri Astasura Ratna Bumi Banten, raja akhir Bali Kuno.

Dari acuan di atas secara tegas menyebutkan yang menjadi pimpinan pemerintahan saat itu seorang Patih atau seorang Senapati bawahan raja yang mewakili dikeluarkannya prasasti tersebut. Dalam skema silsilah Sri Karang Buncing bahwa Raja Patih Kebo Parud menjadi pucuk pimpinan setelah raja Sri Indracakru yang disebut juga Sri Sidhimatra, nama sama dengan sang ayah setelah menjalani hidup suci. Raja Sri Indracakru menggantikan kakaknya yaitu Sri Dewa Lancana. Dimana putra dari Sri Dewa Lencana yaitu Sri
Taruna Jaya masih kecil yang semestinya menggantikan ayahnya.

Karena kesenangan Sri Indracakru (Sri Sidhimantra) melakukan hidup suci mengikuti jejak para leluhur sebelumnya. Untuk menjalani roda pemerintahan diwakili oleh putranya yang nomor dua yaitu Sri Jaya Katong. Yang kemungkinan tatkala menduduki tapuk pemerintahan Sri Jaya Katong diberi gelar Raja Patih Makakasir Kebo Parud. Setelah Sri Taruna Jaya cukup umur untuk menjadi raja maka Sri Jaya Katong pun melakukan hidup suci dengan mendirikan Pura Gaduh di Blahbatuh. Sri Jaya Katong merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan baru yang disebut Batahanar artinya istana baru, dimana sebelumnya kerajaan Bali Kuno masih berada di Bali Utara, disebut kerajaan Singamandawa, sekarang menjadi nama kota Singaraja.

Perkembangan selanjutnya pusat kerajaan menyebar ke selatan daerah Pejeng, Bedulu dan Blahbatuh. Argumentasi lain pada era Kebo Parud muncul nama Kebo Iwa merupakan anak didik dari Sri Jaya Katong. Jadi Kebo Parud bukan seorang patih dari Jawa.Dimana beberapa penekun sastra menafsirkan Kebo Parud seorang patih dari kerajaan Singosari. Yang dipengaruhi oleh Kerajaan Singasari terhadap Bali adalah penyebaran paham baru yang disebut agama Bhairawa. Peninggalan paham Bhairawa sangat kentara pada masa kini dengan adanya peninggalan Patung Bhima di Pura Kebo Edan, Pejeng dan Patung Arca Pangulu (patung kepala) di Pura Puseh Gaduh, Blahbatuh dan beberapa tinggalan lain yang tersebar di wilayah Gianyar. Dalam Piagem Dukuh Gamongan disebutkan Arca Pangulu maka lingganira hyang wawudateng artinya patung kepala merupakan simbol suci tuhan ajaran baru era itu.

Begitu pula dengan nama Sri Taruna Jaya identik dengan Sri Jayasunu. Catatan prasasti tembaga di Banjar Srokodan, Perbekel Abuan, Susut, Bangli, dialih aksara dan diterjemahkan oleh Putu Budiastra, disebut prasasti Srokodan (Bhatara Guru), satusatunya prasasti yang dikeluarkan oleh Sri Taruna Jaya, tahun Isaka
1246/1324 Masehi untuk desa Hyang Putih dan sekitarnya.Tetapi dalam Piagem Dukuh Gamongan, Sri Dewa Lancana menurunkan putra Sri Taruna Jaya. Tidak muncul Sri Taruna Jaya menurunkan putra buncing (kembar laki perempuan) Sri Masula dan Sri Masuli. Dalam Purana Bali Dwipa muncul Sri Jayasunu mempunyai putra buncing bernama Sri Masula dan Sri Masuli setelah menjadi raja diberi gelar Sri Bhatara Mahaguru Dharmotungga Warmadewa, gelar ini identik dalam prasasti Tumbu Isaka 1247/1325 Masehi.

Tetapi Sri Jayasunu satupun tidak ada mengeluarkan prasasti sebagai mana raja yang lain. Sedangkan dalam salinan lontar Aji Murti Siwasasana ning Bwana Rwa, milik Desa Pakraman Gamongan,muncul nama Sri Jayasunu yang mengeluarkan pedoman itu disaat rapat besar di Majapahit. Dan beberapa purana lain muncul nama Sri Jayasunu yang menjadi pedoman awal dalam penulisan.

Salinan lontar Aji Murti Siwa Sasana dan Purana Bali Dwipa tersebut diatas tidak secara tegas tahun berapa naskah itu ditulis,siapa yang dimaksud dengan Sri Jayasunu? Siapakah orang tua Sri Jayasunu? Kamus Jawa Kuna, oleh P.J. Zoetmulder (1994:1147),sunu artinya putra, anak, keturunan. Jadi Sri Jayasunu artinya raja keturunan Jaya. Tidak terdapatnya prasasti-prasasti Bali yang dikeluarkan oleh raja Sri Jayasunu, membuat kekaburan perjalanan sejarah keturunan raja-raja Bali-Kuno. Yang dimaksud keturunan Jayasunu (turunan jaya) disini adalah turunan dari Sri Jaya Sakti nama lain Sri Gnijaya Sakti yang menjadi raja Bali pada tahun Isaka 1041/1119 Masehi, yang menurunkan 5 putra. Putra ke dua dari Sri Jaya Sakti bernama Sri Maha Sidhimantradewa, menurunkan putra bernama Sri Dewa Lancana, menurunkan putra Sri Taruna tiga generasi setelah Sri Jaya Sakti. Dari analisis ini Sri Jayasunu adalah turunan Jaya versi purana, identik dengan Sri Taruna Jaya turunan Jaya versi Prasasti Srokodan dan Piagem Dukuh Gamongan.

Begitu pula dengan keberadaan Sri Batu Ireng identik dengan Sri Astasura Ratna Bumi Banten, raja Bali tahun 1337 Masehi. Dalam prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Bali Kuno, satu pun tidak tercatat nama raja Sri Batu Ireng. Setelah menjadi raja diberi gelar Sri Astasura Ratna Bumi Banten Demikian juga dengan Sri Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing.Dalam mitologi yang dikenal masyarakat Bali hingga kini, Kebo Iwa adalah seorang patih sakti pada masa akhir Bali-Kuno. Ia digambarkan seorang lelaki bertubuh besar, tinggi, gagah perkasa serta sakti. Kebo Iwa disebut-sebut bertempat tinggal di Blahbatuh,sebelah baratdaya kota Gianyar. Selain sebagai patih sakti, Kebo Iwa dikenal juga sebagai seorang arsitek (undagi). Banyak bangunanbangunan kuno sebagai hasil karyanya. Tetapi dalam prasasti yang dikeluarkan Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten, satu pun tidak muncul nama Kebo Iwa sebagai mahapatih kerajaan Badhahulu dan kisah kehidupannya.

Secara administratif, dalam Prasasti Langgahan, Isaka 1259/1337 Masehi, yang dikeluarkan oleh Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten, terdapat beberapa senapati (mahapatih) kerajaan yang menyaksikan dikeluarkannya prasasti di kala itu, antara lain, senapati kuturan makakasir mabasa sinom (sang mahapatih di wilayah kuturan bernama makakasir mabasa sinom), sang senapati sarbwa makakasir candri lengis, sang senapati wrasanten makakasir jagatrang,sang senapati dinganga makakasir gagak lpas, dan beberapa senapati lainnya.

Kebo Iwa hanyalah sebagai penjaga pos keamanan untuk daerah Batahanyar dan Blahbatuh, Ki Tambyak penjaga pos keamanan di Jimbaran, Ki Bwahan di Batur, Si Tunjung Tutur di Tenganan, Ki Pasung Grigis di Tengkulak, serta para ksatria lainnya yang menyebar di jagat Bali. Sedangkan dalam purana, prakempa,babad, pamancangah, lainnya Kebo Iwa adalah mahapatih kerajaan Badhahulu. Sedangkan dalam Purana Pura Luhur Pucak Padang Dawa, Kebo Iwa diberi sebutan bhatara amurbeng rat, dewa gede kebo iwa, bhatara gede sakti, bhatara guru, dan sebagainya.

Demikian juga dengan Sri Karang Buncing, karena nyineb wangsa (menutup asal usul), sehingga dalam kehidupan sosial di masyarakat ada menyebut, arya karang buncing, gusti karang buncing, prabali karang buncing, pasek karang buncing, sri arya karang buncing, karang gaduh, bendesa karang buncing, arya kedi dan soroh karang lainnya.

Sekilas dapat disimpulkan, bila penulisan awal sejarah Bali hanya bersumber dari prasasti prasasti yang dikeluarkan oleh raja yang bersangkutan, akan terlihat mereka berkuasa sangat pendek, ini terlihat berdasarkan awal dan akhir tahun prasasti yang dikeluarkan.Dalam prasasti tidak tertulis hubungan kekerabatan raja satu dengan raja yang lainnya, dan tidak kelihatan kisah kehidupan mereka.Sedangkan dalam purana kadang-kadang mereka berkuasa melebihi dari prasasti-prasasti yang dikeluarkan, serta asal asul dan kisah peristiwa yang terjadi kepadanya sangat jelas. Sedangkan apabila hanya purana, piagem, babad, prakempa, pemancangah yang dipakai pedoman dalam penulisan awal sejarah Bali tanpa didukung data sejarah yang dikeluarkan pada zaman orangnya sendiri maka teks itu akan mengambang dalam arti masih diragukan kebenarannya.Hanya orang-orang penting yang berkuasa pada zamannya akan tercatat dalam buku sejarah Bali.

Sri Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing banyak mempunyai nama samar, tergantung masyarakat hendak menggambarkan beliau itu dari sisi yang mana, apakah kisah kehidupannya mau dimitoskan,dilecehkan, dipolitisir, dibudayakan, disucikan, atau dihilangkan dan sebagainya, tentunya akan berdampak mendoktrin pikiran generasi selanjutnya tentang perjalanan sejarah Bali.

Runutan nama raja yang berkuasa di Bali, bersumber dari Prasasti,Purana, Piagem, Babad, Prakempa dan Pamancangah lainnya, adalah
sebagai berikut:
1. Sri Kesari Warmadewa (isaka 804-837)
2. Sri Ugrasena (isaka 837-864).
3. Sri Haji Tabanendra Warmadewa (877-889).
4. Sri Jaya Singa Warmadewa (isaka 892).
5. Sri Janasadhu Warmadewa (isaka 897).
6. Sri Maharaja Cri Wijaya Mahadewi (isaka 905).
7. Sri Dharmodayana + Mahendradata (isaka 911-933).
8. Sri Sang Ajnadewi (isaka 938).
9. Sri Wardana Marakata (isaka 944-948).
10. Sri Haji Hungsu (isaka 971-999).
11. Sri Walaprabu (isaka 1001-1010).
12. Sri Sakalindu Kirana (isaka 1010-1023).
13. Sri Suradhipa (isaka 1024-1041).
14. Sri Jaya Sakti (isaka 1055-1072).
15. Sri Gnijaya (isaka 1072-1077).
16. Sri Ragajaya (isaka 1077-1099).
17. Sri Maharaja Haji Jaya Pangus (isaka 1099-1103).
18. Sri Hekajaya Lancana (isaka 1103-1122).
19. Sri Adi Kuti Ketana (isaka 1122-1126).
20. Sri Adi Dewa Lancana (isaka 1126-1172).
21. Sri Indra Cakru (isaka 1172).
22. Rajapatih Kebo Parud (1206-1222).
23. Rajapatih Sri Jaya Katong (isaka 1222-1238).
24. Sri Taruna Jaya (isaka 1238-1246).
25. Sri Masula-Masuli (isaka1246-1250).
26. Sri Astasura Ratna Bumi Banten (isaka 1259-1265).
27. Kyayi Agung Pasek Gelgel (isaka 1265-1272).
28. Dalem Samprangan (isaka 1272).
29. Dalem Gelgel/Sri Kresna Kepakisan (isaka1302).
30. Dalem Waturenggong (isaka 1382).

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More