Cover Buku Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing

Hasil Buruan 27 tahun,Untuk mengumpulkan data" Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing

Desa Adat Gamongan, Tiyingtali, Kecamatan Abang, Karangasem.

Foto Tahun 1992, bekas Pura Penataran Lempuyang

Pura Kuru Baya

Pura Kuru Baya terletak di barat Pura Gaduh, Blahbatuh. Pura ini tempat Ki Kbo Iwa mendapat wangsit bahaya akan terjadi firasat buruk yang akan menimpanya,Tapi karena satya wacana dan mengemban tugas raja beliau akhirnya berangkat juga, maka terjadilah kenyataan pirasat itu dan beliau menemui ajal di tanah Jawa.

Pura Kawitan Blahbatuh

Pura Kawitan Yang terletak di barat daya Kota Gianyar

Bale Panjang Kebo Iwa

Bale Panjang Kebo Iwa di Jaba Pura Puseh Beda Sudimara,Tabanan dikisahkan dalam Prasasti Maospahit bahwa bale ini dibuat untuk Kebo Iwa dimana dulunya sendi akhir berada jauh ke barat sekitar 300 meter

Simbol Penghulu Sri Karang Buncing

Simbol

Pak Made Lagi Jualan Buku

Pak made mempromosikan buku terbitan pertamanya

Pembuatan Tapel Kebo Iwa

Process pembuatan tapel Kebo Iwa berlokasi di gianyar oleh bapak Tjokorda

Jumat, 21 Februari 2020

X SILSILAH DALEM PUTIH & DALEM IRENG

X
SILSILAH
DALEM PUTIH & DALEM IRENG

Prasasti adalah ketetapan resmi yang dikeluarkan oleh para raja Bali Kuno. Prasasti menjelaskan tentang aturan yang telah disepakati bersama. Teks prasasti jarang menjelaskan tentang asal usul keturunan para raja itu. Karena tidak dijumpai secara pasti nama keturunannya, juga secara parsial terputus tahun prasasti yang dikeluarkan dari raja satu ke raja yang lain, maka menimbulkan berbagai macam penafsiran tentang kisah peristiwa apa yang telah terjadi dalam kehidupan mereka terdahulu. Adakah hubungan kekerabatan antara raja satu dengan raja sebelumnya, berapa lama mereka berkuasa, tahun berapa mereka meninggal dan dimana dicandikan?Adakah terjadi pengambilalihan kekuasaan secara paksa dari kerabat dekat raja maupun dari orang luar?

Sejarah pemerintahan raja-raja Bali Kuno, tidak ditemukan peralihan kekuasaan dengan cara paksa, dalam arti jika sang raja meninggal, tapuk pemerintahan akan digantikan oleh istri dan atau anaknya. Apabila sang anak masih kecil, belum cukup umur untuk berkuasa, maka akan digantikan oleh sang paman atau kerabat dekat raja yang lain. Apabila ‘buntu’ tak ada yang mau menggantikan, maka akan dipakai metode yang lain, melaui jalan ‘niskala’, dengan jalan minta petunjuk “nedunang ida bhatara” Hal seperti ini terlihat dalam teks Purana Pura Puseh Gaduh, Blahbatuh,dimana Sri Pasung Gerigis, seorang nyuklabrahmacari (tidak kawin seumur hidup),untuk mencari penggantinya sebagai orang suci di Pura Lempuyang, Gamongan,Karangasem.

Setelah terkumpul salinan naskah-naskah kuna itu, lalu kita telisik, prasasti satu dengan yang lain dirunut menurut angka tahun dan nama raja yang mengeluarkan prasasti itu. Kadang-kadang terlihat nama samar, dengan perkataan lain, beda nama tetapi orangnya satu, misalnya, antara Raja Sri Jayasakti, Sri Gnijaya Sakti, Sri Gnijaya dan Sri Ragajaya. Masa pemerintahan ke empat nama raja ini, menurut tahun Prasasti dan Purana, yang dikeluarkan berkisar tahun 1119–1177 Masehi.Dalam prasasti nama Sri Gnijaya Sakti dan Sri Gnijaya tidak muncul, jadi tidak ada prasasti yang dikeluarkan, sebagaimana umumnya raja raja yang lain. Begitu pula dengan raja Sri Ragajaya, hanya mengeluarkan satu prasasti yang disebut Prasasti Tejakula, tahun Isaka 1077/1155 Masehi. Sedangkan Raja Sri Jayasakti mengeluarkan prasasti terakhir pada tahun Isaka 1072/1150 Masehi, yang disebut Prasasti Sading Kapal. (Poeger, 1964:105). Tetapi dalam naskah Purana Bali Dwipa, Piagem Dukuh Gamongan, Prasasti Pura Puseh, Sading, Kapal, Purana Pura Batu Karu, Purana Pura
Pucak Bukit Gede, dan beberapa naskah lainnya, akan terlihat jelas kisah kehidupan para raja Bali Kuna itu. Tinggal disinkronkan dengan tahun Prasasti yang dikeluarkan pada zamannya, ada tidak kesamaan, kadang tahun sama tetapi nama berbeda setelah dinobatkan menjadi raja yang tercatat.

Teks Piagem Dukuh Gamongan dan Prasasti Pura Puseh Sading, Kapal, nama raja Sri Jayasakti identik dengan Sri Gnijaya Sakti, begitu juga putranya diberi nama sama dengan ayah kandung Sri Gnijaya juga, nama sama dengan sang ayahnda saat melakukan wanaprasta, dikala dinobatkan menjadi raja disebut Sri Ragajaya. Dalam Piagem Dukuh Gamongan, Sri Gnijaya menjadi raja Bali Isaka 1051/1129 Masehi.Purana Bali Dwipa, Sri Jayasakti meninggal dunia Isaka 1072/1150 Masehi. Sedangkan nama Sri Ragajaya tidak muncul dalam purana manapun, Dalam kamus Jawa Kuna (Zoetmulder, 1994:899), kata raga artinya warna merah, Warna merah identik dengan warna Api atau Gni. Dari analisis ini raja Sri Ragajaya adalah nama lain dari Sri Gnijaya julukan sama dengan ayah, nama raja ini banyak menjadi titik awal dalam penulisan piagem, purana, babad, prakempa, pamancangah lainnya yang ada di Bali masa kini.

Demikian pula setelah Raja Sri Aji Hungsu berkuasa muncul nama Sri Walaprabhu yang menggantikannya. Raja Walaprabhu mengeluarkan tiga prasasti yang disebut prasasti Babahan, Klandis, Babi A, menjadi raja Bali tahun 1079–1088 Masehi (Semadi Astra, 1977:21).

Dalam purana, raja Sri Walaprabhu tidak muncul nama itu, yang muncul menggantikan Sri Aji Hungsu adalah Sri Sakalindu Kirana, anak dari Sri Aji Hungsu yang beribu bangsawan. Hanya satu prasasti yang dikeluarkan raja Sri Sakalindu Kirana yang disebut prasasti Pengotan, Isaka 1010/1088 Masehi. Padahal dalam Purana Bali Dwipa, Purana Pura Pucak Bukit Gede, raja Sri Sakalindu Kirana berkuasa selama 20 tahun dan digantikan oleh adiknya Sri Suradipa yang berkuasa selama 15 tahun.

Dengan demikian Walaprabhu diperkirakan seorang janda yang menjadi raja,kemungkinan setelah Sri Aji Hungsu meninggal, kemudian tapuk pemerintahan diganti oleh sang permaisuri yang seorang janda, maka disebut Waluprabu dalam buku Mengenal Pura Sad Kahyangan & Kahyangan Jagat oleh Tim (2008:211) istri Sri Aji Hungsu disebut bhatari mandul di-pratista atau dicandikan di Pura Penulisan.Atau analisis lain, dalam Kamus Jawa Kuna, kata walaprabhu berasal dari bahasa sanskerta, dari urat kata wala dan prabhu, Wala artinya muda, kekanakan, tidak tumbuh atau belum berkembang penuh, muncul baru, tolol, junior. Prabhu artinya raja, Jadi walaprabhu artinya raja muda, raja junior. Dengan demikian setelah Sri Aji Hungsu meninggal tapuk pemerintahan digantikan oleh permaisuri bersama putri mahkota yang masih kecil, bersama-sama menjadi penguasa Bali pada era itu.Tetapi lawan dari purana ini yaitu dalam prasasti yang dikeluarkan oleh Sri Aji Hungsu selalu menyebutkan, paduka haji anak wungsu kalih bhatari lumah ing burwan,bhatara lumah ing banu wka, artinya, raja Sri Aji Hungsu setiap mengeluarkan prasasti selalu mencantumkan almarhumah ibunya yang dicandikan di Buruwan,dan almarhumah ayah yang dicandikan di Banyu Wka. Sedangkan dalam purana tidak muncul nama Sri Aji Hungsu mengatasnamakan almarhum kedua orangtuanya yang dikebumikan di Bhurwan dan Banu Wka. Yang dicandikan di Buruwan adalah Ibunda Sri Mahendradatta dan di Banu Wka (Gunung Kawi) dicandikan ayahnda yaitu Sri Udayana.

Demikian pula dengan nama raja Sri Ajnadewi yang berkuasa setelah Sri Udayana.Hanya satu prasasti dikeluarkan oleh raja Sri Ajnadewi yang disebut prasasti Sembiran, tahun Isaka 938/1016 Masehi. Pertanyaannya siapakah Sri Ajnadewi? Di dalam Purana Bali Dwipa, Sri Udayana meninggal dunia Isaka 940/1018 Masehi, dicandikan di Banu Wka. Sri Ajnadewi tidak muncul dalam purana mana pun. Begitu pula dalam teks Purana Bali Dwipa, tertulis Sri Marakata berkuasa bersama-sama ibunya sebagai penguasa Bali pada era itu. Dalam Purana Pura Luhur Batukaru dijelaskan Raja Sri Marakata menjadi raja Bali Isaka 944/1022 Masehi.

Sedangkan dalam prasasti yang dikeluarkan tidak kelihatan bahwa raja Sri Marakata berkuasa bersama ibunya. Kalau boleh diartikan secara bebas, Sang Ajnadewi artinya seorang dewi yang mahir dalam bidang ilmu waskita. Dalam dongeng serat calonarang yang ada di Bali, permaisuri Sri Udayana yang bernama Sri Mahendratta Gunaprya Dharmapatni sering dihubungkan ahli dalam ilmu mistis. Raja ini dimakamkan di Buruwan, dikuburanya terlukis arca Durga Mahisasura Wardhini.Arca ini menguatkan dugaan orang bahwa Mahendradatta sebagai penganut ajaranajaran ilmu gaib dan Dewi Durga lah yang menganugrahinya kesaktian. Jadi Sri Ajnadewi nama lain dari Sri Mahendratta Gunapriya Dharmapatni.

Setelah Adi Kuti Ketana menjadi raja digantikan oleh keluarga misan purusa Sri Dewa Lencana setelah wafat, kerena putra masih belum umur, maka diganti oleh adiknya Sri Indra Cakru. Karena kesenangan Indra Cakru menjalani hidup suci dan tapuk pemerintahan dijalani oleh putra kedua diberi gelar Rajapatih Makakasir Kebo Parud. Dalam prasasti Pengotan, tahun Caka 1218/1296 Masehi dan prasasti Sukawana, tahun Caka 1222/1300 Masehi, yang dikeluarkan oleh Raja Patih Makakasir Kebo Parud, berisikan persoalan Desa Kedisan dan Desa Sukawana yang terletak di perbatasan Balingkang.Sedangkan menurut buku Negarakertagama dikatakan bahwa pada tahun 1284 raja Kertanegara telah menyerang Bali dan rajanya ditawan. Sayang sekali dalam buku Negara Kertagama tidak disebutkan siapa nama raja Bali itu. Dalam Purana Bali Dwipa dijelaskan raja Kertanegara “ingin” mengusai Bali yang tatkala itu menjadi senapati Bali adalah Raja Patih Kebo Parud. Dalam Piagem Dukuh Gamongan dijelaskan tahun Caka 1238/1318 Masehi, Sri Jayakatong sebagai penguasa di kerajaan Batahanar dan mendirikan Pura Gaduh, Blahbatuh.Setelah putra Dewa Lancana yaitu Sri Jayasunu dewasa lalu Kebo Parud hidup suci di Pura Gaduh Blahbatuh disebut Sri Jaya Katong.

Setelah Sri Taruna Jaya cukup umur untuk menjadi raja maka Sri Jaya Katong pun melakukan hidup suci dengan mendirikan Pura Gaduh di Blahbatuh. Sri Jaya Katong merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan baru yang disebut Batahanar artinya istana baru, dimana sebelumnya kerajaan Bali Kuno masih berada di Bali Utara, disebut kerajaan Singamandawa, sekarang menjadi kota Singaraja.

Perkembangan selanjutnya pusat kerajaan menyebar ke selatan daerah Pejeng, Bedulu dan Blahbatuh. Argumentasi lain pada era Kebo Parud muncul nama Kebo Iwa merupakan anak didik dari Sri Jaya Katong. Jadi Kebo Parud bukan seorang patih dari Jawa. Dimana beberapa penekun sastra menafsirkan Kebo Parud seorang patih dari kerajaan Singosari. Yang dipengaruhi oleh Kerajaan Singasari terhadap Bali adalah penyebaran paham baru yang disebut agama Bhairawa. Peninggalan paham Bhairawa sangat kentara pada masa kini dengan adanya peninggalan Patung Bhima di Pura Kebo Edan, Pejeng dan Patung Arca Pangulu (patung kepala) di Pura Puseh Gaduh, Blahbatuh dan beberapa tinggalan lain yang tersebar di wilayah Gianyar.

Sekarang disebutkan dengan Sri Taruna Jaya identik dengan Sri Jayasunu. Catatan prasasti tembaga di Banjar Srokodan, Perbekel Abuan, Susut, Bangli, dialih aksara dan diterjemahkan oleh Putu Budiastra, disebut prasasti Srokodan (Bhatara Guru),satu-satunya prasasti yang dikeluarkan oleh Sri Taruna Jaya, tahun Isaka 1246/1324 Masehi untuk desa Hyang Putih dan sekitarnya.

Tetapi dalam Piagem Dukuh Gamongan, Sri Dewa Lencana menurunkan putra Sri Taruna Jaya. Tidak muncul menurunkan putra buncing (kembar laki perempuan) Sri Masula dan Sri Masuli. Dalam Purana Bali Dwipa muncul Sri Jayasunu mempunyai putra buncing bernama Sri Masula dan Sri Masuli setelah menjadi raja diberi gelar Sri Bhatara Mahaguru Dharmotungga Warmmadewa, gelar ini identik dalam prasasti Tumbu Isaka 1247/1325 Masehi.

Tetapi Sri Jayasunu satupun tidak ada mengeluarkan prasasti sebagai mana rajayang lain. Sedangkan dalam salinan lontar Aji Murti Siwasasana ning Bwana Rwa,milik Desa Pakraman Gamongan, muncul nama Sri Jayasunu yang mengeluarkan pedoman itu disaat rapat besar di Majapahit. Dan beberapa purana lain muncul nama Sri Jayasunu yang menjadi pedoman awal dalam penulisan.

Salinan lontar Aji Murti Siwa Sasana dan Purana Bali Dwipa tersebut diatas tidak secara tegas tahun berapa naskah itu ditulis, siapa yang dimaksud dengan Sri Jayasunu? Siapakah orang tua Sri Jayasunu? Kamus Jawa Kuna, oleh P.J. Zoetmulder (1994:1147), sunu artinya putra, anak, keturunan. Jadi Sri Jayasunu artinya raja keturunan Jaya. Tidak terdapatnya prasasti-prasasti Bali yang dikeluarkan oleh raja Sri Jayasunu, membuat kekaburan perjalanan sejarah keturunan raja-raja Bali Kuno. Yang dimaksud keturunan Jayasunu (turunan jaya) disini adalah keturunan dari Sri Jayasakti nama lain Sri Gnijaya Sakti yang menjadi raja Bali pada tahun Isaka 1041/1119 Masehi, yang menurunkan 5 putra. Putra ke dua dari Sri Jaya Sakti bernama Sri Maha Sidhimantradewa, menurunkan putra bernama Sri Dewa Lencana,menurunkan putra Sri Taruna Jaya. Dengan demikian Sri Taruna Jaya adalah turunan Jaya juga, tiga generasi setelah Sri Jaya Sakti. Dari analisis ini Sri Jayasunu adalah turunan Jaya versi purana, identik dengan Sri Taruna Jaya turunan Jaya versi Prasasti
Srokodan dan Piagem Dukuh Gamongan.

Demikian juga dengan putra dari Sri Jayasunu yaitu Sri Masula-Sri Masuli, dalam prasasti satu pun tidak ada disebutkan atas nama Sri Masula-Sri Masuli, dalam purana Bali Dwipa setelah menjadi raja beliau disebut Bhatara Mahaguru Dharma Hutungga Warmmadewa, karena dinikahkan dengan adik disebut juga Prabu Buncing, berputra kembar laki-laki bernama Sri Batu Putih dan Sri Batu Ireng atau Dalem Kembar,Sri Batu Ireng setelah menjadi raja diberi gelar kerajaan bernama Sri Astasura Ratna Bumi Banten dan kakaknya Sri Batu Putih di Jimbaran disebut Dalem Putih Jimbaran, sebutan bahasa kerauhan Dalem Petak, di wilayah Tabanan, purana Pura Luhur Pucak Kembar, Babad Batu Aji, purana Pura Natar Bolong beliau disebut Dalem Sweta. Dalem Putih mempunyai seorang putra bernama Dalem Petak Jingga.

Silsilah Dalem Putih Jimbaran dibawah ini dikutip dari Silsilah Sri Karang Buncing dalam Buku Kebo Iwa (Bawa, 2011:254) ditarik hierarki ke atas berasal dari Sri Maha Sidhimantradewa.

IX JEJAK-JEJAK DALEM SWETA DAN DALEM IRENG

IX
JEJAK-JEJAK
DALEM SWETA DAN DALEM IRENG
DALAM PURANA DAN BABAD
Purana Pura Luhur Pucak Kembar, Babad Dalem Batu Kuub, Babad Batu Aji, Prasasti Dalem Putih Jimbaran, Purana Pura Natar Bolong, Dalem Putih dan Dalem Ireng adalah Saudara Kembar dan Jejak-Jejak Perjalanan Dalem Putih dan Dalem Ireng menjadi nama-nama desa di Bali.

Salinan purana-purana tersebut diatas penulis dapati isinya hampir sama, yang berbeda adalah judul dan bahasa yang dipakai, ada memakai Bahasa Jawa kuno, Jawa Tengahan, Bahasa Bali kekinian dan Bahasa Indonesia. Salah satu Purana Pura Luhur Pucak Kembar disalin dan diterjemahkan oleh I Ketut Sudarsana dan I Gusti Ngurah Oka Anom, Desa Adat Pacung, Baturiti, Tabanan, dalam Bahasa Indonesia berikut:

Tersebutlah pada jaman dahulu saka 135 atau tahun 213 Masehi, Sanghyang Pasupati beryoga di Gunung Rajya, setelah yoganya mencapai tingkat kesempurnaan, makanya yoganya dilemparkan ke sebuah sungai yang berbatu, menyebabkan gempa yang sangat dahsyat secara terus menerus, kemudian dari batu yang ada di sungai lahirlah anak kecil kulitnya hitam legam, dan dari riak air yang mendidih lahir pula seorang bayi warna kulitnya putih. Menurut purana peristiwa tersebut terjadi di sungai Limpar dan menurut Kunalini Tattwa sungai Limpar adalah sungai Unda, disanalah bayi itu berdua hidup menikmati keindahan sungai dan semak belukarnya.

Saking asyiknya bermain tidak dirasakan menyusup sampai ketengah semak belukar,yang dihuni oleh seekor Lembhu, seraya menyapa: Ya tuanku berdua, siapakah gerangan orang tuamu? Anak kecil itu lalu menjawab, maafkan aku Lembhu, aku tidak tahu dengan bapak dan ibuku, aku tidak tahu dari mana asal usulku, demikian jawabnya. Ki Lembhu akhirnya memberikan penjelasan, bahwasannya tuanku adalah putra Sanghyang Pasupati, tuanku bernama Dalem Kembar (Dalem Ireng dan Dalem Sweta), kisah tentang kelahiran tuanku berdua yaitu tuanku yang lahir dari batu disebut Dhalem Ireng, dan tuanku yang lahir dari buihnya air sungai disebut Dalem Sweta, itulah sebabnya paduka disebut Dalem Ireng dan Dalem Sweta,namun ijinkan saya memberikan nasehat kehadapan paduka berdua bahwasannya paduka berdua tidak seyoyanya memerintah bersama-sama, yang patut memegang tapuk pemerintahan adalah paduka Dalem Ireng, sebab paduka adalah penjelmaan Sanghyang Wisnu sudah sewajarnya memegang pemerintahan, demikian petuah Ki Lembhu. Kedua Dalem itu bertanya, dimanakah seharusnya saya memegang tapuk pemerintahan? Ki Lembhu memberikan penjelasan: sebab paduka lahir dari batu, apabila ada batu berwarna mengkilap saat diterpa sinar matahari, disanalah seharusnya paduka mendirikan pemerintahan, kemudian tempat itu berilah nama Batu Maklep, demikian hatur Ki Lembhu kehadapan Batu Ireng.

Sekarang diceritrakan Dalem Selem bersama Ki Lembhu berjalan menuju arah barat daya, dalam perjalanan Ki Lembu tak henti-hentinya memberikan petunjuk, bahwa pada saatnya nanti sudah sampai pada tujuan ayahnda akan hadir, dan tempat itu berilah nama Taro dan sesungguhnya saya ini adalah Ki Lembhu Nandini, setelah demikian bertutur kata secara kasat mata Ki Lembu tidak tampak lagi dari pandangan.

Setelah matahari tepat berada diatas khatulistiwa (tajeg surya) Dhalem Kembar secara tiba-tiba mendengar suara sayup-sayup (sabda) yang mengisyaratkan: “Hai anakku Dhalem Sweta engkau tidak patut memegang pemerintahan, hanya engkau Dhalem Ireng yang seyogyanya memegang pemerintahan”. Setelah Dhalem mendengar sabda yang demikian itu, lalu keduanya saling membuat perjanjian dengan berintikan yaitu: sebab aku dan engkau lahir menjadi saudara kembar, semoga tidak pernah berpisah dan semoga dikemudian hari bisa bertemu kembali, demikian perjanjian antara Dhalem Sweta dan Dhalem Ireng.

Hal kian Dhalem Sweta mohon pamit dan melanjutkan perjalanan kearah barat daya,menelusuri hutan rimba yang lebat, ditengah hutan belantara rasa haus, lapar dan dahaga tidak tertahankan, menyebabkan jasmaninya lemah lunglai tidak mampu lagi melanjutkan perjalanan, hingga Dhalem Sweta terduduk istirahat, seolah-olah ingat akan pesan Ki Lembhu, bahwa dirinya putra Hyang Pasupati, namun secara tiba-tiba pada tempat istirahat tersebut tersembur air jernih, dengan sigap air tersebut segera diminumnya, sehingga tenaganya pulih kembali, karena keluarnya air tersebut dari batu selagi mengenang Sanghyang Pasupati, maka tempat itupun diberi nama Batu Hyang, mulai saat itulah banyak orang-orang Bali menghambakan diri pada Dhalem,lalu Dhalem bersabda: Hai kamu orang-orang Bali, karena kamu bhakti padaku dan karena engkau telah memahami hakekat bhakti kepadaku, maka sepantasnya tempat ini aku beri nama Batu Aji, setelah demikian akhirnya Dhalem melanjutkan perjalanan menuju arah barat, setelah sampai ditempat tujuan, disanalah beliau melepaskan lelah bersenang-senang, kemudian disana beliau mendirikan tempat pemukiman, lalu Dhalem bersabda: Hai kamu para hamba sahajaku sekalian, mulai saat ini tempat ini aku beri nama Antiga, dirasakan tempat itu sangat indah diterangi oleh sinarnya rembulan, yang menyebabkan hati beliau terpesona dengan keindahan alamnya, kemudian nama Antiga diganti oleh beliau menjadi Batu Bulan, kemudian beliau melanjutkan perjalanan menuju barat daya, dalam perjalanan yang sangat melelahkan itu, beliau melihat serumpun bambu yang menjulang tinggi bagaikan menyundul langit, pohon bambu itulalu dikutuk menjadi tempat yang luhur (tinggi),yang dikemudian hari akan terwujud sebuah kahyangan bernama Ulu watu (nama watu disesuaikan dari kelahiran Dhalem berasal dari watu).

Sekarang kembali diceritrakan Dhalem Ireng, karena terlalu lama beliau memimpin pemerintahan, tiba-tiba beliau teringat dengan saudaranya Dhalem Sweta, kata lubuk hatinya, apakah gunanya aku memegang pemerintahan, bila tidak mengetahui keberadaan saudaraku, niscaya kekuasaan tidak ada artinya, demikian kata hati beliau,sehingga hasrat dalam pikirannya memutuskan untuk pergi mencari kakaknya Dhalem Sweta, sehingga beliau menuju arah barat. Tidak diceritrakan dalam perjalanan,akhirnya beliau tiba pada suatu tempat dan bertemu dengan orang-orang desa, lalu Dhalem Ireng bertanya: apakah gerangan nama tempat ini ?, orang desa tersebut menjawab, ya tempat ini bernama Batu Hyang, dulunya atas kutukan Dhalem Sweta,demikian jawaban orang-orang desa tersebut, dimanakah Dhalem Sweta sekarang,demikian pertanyaan Dhalem Ireng, kalau tidak salah Dhalem Sweta berada di Batu Aji, demikian jawabannya.

Setelah mendengar jawaban yang demikian itu, dengan tergesa-gesa pergi menuju desa Batu Aji, dengan harapan dapat bertemu dengannya Dhalem Sweta, entah berapa lama perjalanan beliau, sampailah pada tempat yang dituju, dengan segera beliau lalu bertanya: dimanakah gerangan keberadaan Dhalem Sweta, tuanku kiranya Dhalem Sweta kini berada di desa Batu Bulan, demikian jawaban yang diperolehnya, akhirnya dari desa Batu Aji beliau menuju desa Batu Bulan, namun sayang sekali Dhalem Sweta sudah meninggalkan desa Batu Bulan, dan dari desa Batu Bulan terbetik berita bahwa Dhalem Sweta berada di desa Sakyamuni (sekarang Sakenan), setelah sampai di Sakenan beliau bertemu dengan Ki Dhukuh, lalu bertanya, ya paman Dhukuh,dimanakah gerangan keberadaan Dhalem Sweta?, ya tuanku Dhalem Sweta sekarang berada di desa Jimbaran, demikian jawaban Ki Dhukuh.

Sekarang diceritrakan Dhalem Ireng dengan segera menuju desa Jimbaran, pada saat yang baik itu beliau bertemu dengan hamba sahaja (dayang) Dhalem Sweta,dimana dayang tersebut sedang mempersiapkan santapan yang akan disuguhkan kepada majikannya Dhalem Sweta, dengan melihat santapan tersebut tiada tertahan nafsunya untuk menikmati, maka dengan lahapnya Dhalem Ireng menyantap hidangan tersebut, terkejutlah si dayang yang bernama Ni Pring Gading, lalu bertanya: siapakah gerangan tuan, hamba tidak mengenal tuan sebelumnya, mengapa tuan berani memakan santapan yang akan kami hidangkan untuk tuan hamba Dhalem Sweta, mendengar kata Ni Pring Gading yang demikian itu, mendadak Dhalem Ireng berhenti menyantapnya, lalu beliau bertanya: Hai dayang dimanakah kini berada Dhalem Sweta, ya tuanku beliau kini berada di tempat pagagan (ladang padi gaga),demikian jawab si dayang, dengan segera Dhalem Ireng berjalan menuju tempat pagagan, namun Dhalem Sweta tidak pula dijumpai, sebab Dhalem Sweta sudah kembali menuju desa Jimbaran, dalam perjalanan pulang beliau sempat menyinggahi ladang orang-orang kampung, namun setelah tibanya Dhalem Sweta di istana, dengan sangat hormat dayang Ni Pring Gading humatur, maafkan tuanku Bhatara Dhalem Sweta, ijinkan hamba melaporkan kehadapan duli tuanku, bahwasanya ada seorang yang datang dengan bentuk tubuh besar, tinggi kekar rupanya bagaikan setan, orang tersebut telah berani lancang membuka langsung menyantap santapan tuanku raja,tiada tertahan takut hamba, dan lagi pula orang tersebut menanyakan paduka tuanku raja, mendengar hatur si dayang yang demikian itu, sungguh tiada tertahan murkanya Bhatara Dhalem Sweta dan dengan segera kembali lagi ketempat pagagan, hal kian sampailah pada tempat pagagan dan bertemu dengan Dhalem Ireng.

Karena saking emosionalnya pertempuran kedua belah pihak tidak dapat dihindari,perang tandingpun terjadi, sama-sama bersenjata keris, salik tusuk, namun keduanya tidak ada terlukai karena sama-sama kebal, karena tiada yang terkalahkan, akhirnya kedua belah pihak sama-sama kepayahan, dalam pada itu beliau berdua saling tegur sapa, Siapakah gerangan anda, aku bernama Dhalem Ireng, aku Dhalem Sweta,setelah bertegur sapa, barulah menyadari tentang asal usul dan pesan Ki Lembhu Sanghyang Pasupati yang masing-masing membawa senjata yaitu: Dhalem Sweta bersenjatakan Keris Kala Katenggeng, dan Dhalem Ireng bersenjatakan Keris Miring Agung, barulah beliau menyadari bahwa yang diajak perang tanding adalah saudaranya sendiri, sehingga suasana berubah dari tegang menjadi terharu, samasama meceritrakan pengalaman masing-masing. Akhirnya Dhalem Ireng berkata kepada kakaknya Dhalem Sweta. Ya kakakku Dhalem Sweta, banyak sekali kakanda memberikan nama desa dan yang terakhir kanda berada di desa Jimbaran, sudah seyogyanya kanda disebut Dhalem Putih Jimbaran, sekarang ijinkanlah saya mohon pamit, sayapun juga berniat memberikan nama suatu tempat atau desa yang bercirikan watu, yang merupakan ciri bahwa aku pernah melintasi daerah tersebut. Dan ijinkan adinda menuju kearah utara, kalau demikian baiklah, namun kanda mohon tempat kita berperang tadi kita namakan Bukit Kali.

Kini diceritrakan Dhalem Ireng berjalan menuju kearah utara, setelah lama berjalan, lalu beliau menjumpai areal kebun kelapa, namun tiba-tiba air lautan menyemburkan gelombang, menyebabkan hatinya sangat marah. Dhalem Ireng, lalu tempat itu dikutuk diberi nama Seseh, dari Seseh beliau melihat kearah timur, terlihat warna tanah yang putih, tanah itu diungsikan oleh beliau, sampailah beliau pada tanah yang berwarna putih dan beliau terkejut pada saat menginjakkan kakinya pada sebuah batu, tiba-tiba batu tersebut berlobang, sehingga tempat itu beliau kutuk bernama Batu Nyorong atau Batu Bolong, dari Batu Bolong Dhalem Ireng lagi melanjutkan perjalanan menuju kearah timur, dalam perjalanan beliau melalui batu yang licin sehingga kakinya terpeleset ke dalam air, dengan segera pula memberikan kutukan,bahwa pada tempat beliau terjatuh diberi nama Batu Belig, dari Batu Belig lagi beliau melanjutkan perjalanan kearah timur, ditengah perjalanan yang melelahkan tiba-tiba beliau terjatuh terkulai (ulung=Bhs. Bali). Maka tempat itu diberi nama Batu Tulung.

Dari Batu Tulung beliau menempuh perjalanan yang cukup jauh sehingga rasa haus dan dahaga tiada tertahankan, akhirnya beliau memuja kebesaran Tuhan memohon karunianya, seketika itu tersemburlah air, lalu diminumnya, sehingga rasa haus dan dahaganya hilang, maka tempat itu diberi nama Batu Bedak (sekarang lebih dikenal Batu Bidak).

Sekarang dikisahkan beliau Dhalem Ireng dari Batu Bedak melanjutkan perjalanan menuju ke utara dan sampailah beliau di wilayah Bukit Asah, dari ketinggian bukit itu melihat jurang yang dalam melihat dari mata batinnya, tempat itu sangat religius, disanalah beliau beryoga semadi, dalam alam yoganya muncullah Dhalem Bali, Panca Wisnu, Panca Dewata, lalu terdengar sabdha mantra yang sayup-sayup bunyinya: Hai, anakku Dhalem Ireng, aku ini adalah ayahmu Sanghyang Pasupati,aku juga disebut Sanghyang Lingga Bhuwana, ayahndamu ini berstana di Pucak Candi Purusada, tempat ini aku beri nama Batu Pucak Kembar, semoga sepanjang jaman menjadi kahyangan, sebagai sarana umat manusia menghaturkan rasa syukur dan bhaktinya melakoni kehidupannya.

Hai, anakku Dhalem Ireng aku juga berkahyangan di Gunung Agung (Tohlangkir).Apabila aku berkahyangan di Gunung Watukaru, aku disebut Hyang Jaya Netra,apabila aku berkahyangan di Bukit Jati aku disebut Hyang Siwa Pasupati, bila aku berkahyangan di Gunung Trate Bang (trate= tunjung) dan (Bang=merah), maka aku disebut Hyang Besa Warna, apabila aku berstana di Gunung Bratan aku disebut Hyang Danawa, demikianlah agar kamu mengingat selalu, lalu Dhalem Ireng bertanya:Maafkan paduka Bhatara, apakah sebabnya tempat ini disebut Batu Pucak Kembar?Demikian pertanyaan Dalem Ireng, kemudian dijawab oleh Paduka Hyang Lingga Bhuwana, yang berstana di Pucak Candi Purusada yang berlokasi di desa Kapal, hai anakku Dhalem Ireng, karena engkau dilahirkan kembar, disini telah terwujud suatu bukti saksi dua buah batu, itulah sebabnya dinamakan Batu Pucak Kembar (batu tersebut kini berada di Taman Cakra. Pent). Demikian konon sabdha Sanghyang Pasupati kepada anaknya Bhatara Dhalem Ireng, pada saat itu menunjukkan tahun
saka 322 atau tahun 400 Masehi, mulainya keberadaan Batu Pucak Kembar atas wara nugraha Sanghyang Lingga Bhuwana/Hyang Pasupati kepada Dhalem Ireng,pada saat itu kembali Sanghyang Pasupati memberikan titah kepada anaknya Dhalem Ireng, anakku Dhalem Ireng, berangkatlah dengan segera ke Bukit Uluwatu, setelah kamu sampai disana berkemaslah untuk menyatukan pikiran dengan sarana beryoga semadhi, biar kamu cepat menyatu kehadapan Sang Pencipta, setelah mendengar petunjuk Sanghyang Pasupati yang demikian itu, lalu beliau bergegas pergi menuju Bukit Uluwatu, disana Dhalem Ireng berkonsentrasi menyatukan bayu sabdha idhep dengan yoga semadhi, tiada diceritakan yoganya berhasil, akhirnya Dhalem Ireng moksah menyatu kehadapan Sanghyang Acintya, Demikian Purana Batu Pucak Kembar, keberadaanya di Bukit Asah.

MANDALA WISATA SAMUAN TIGA, GIANYAR
Syahdan setelah para Dewa, khususnya Bhatara Indra berhasil menewaskan Raja Mayadenawa, Pulau Bali menjadi aman, tentram dan teratur disegala bidang tidak terkecuali dibidang keagamaan. Meskipun para Dewa telah mengalahkan Raja Mayadenawa tersebut, namun para Dewa tidak pernah melupakan kegagahan keberanian Raja tersebut, sebagai seorang kesatria dimedan laga yang sangat dahsyat.Terkesan dengan hal-hal tersebut diatas, maka para Dewa mengadakan perundingan dimana diputuskan bahwa roh Raja Mayadenawa hendaknya dihargai dan dimuliakan.

Berdasarkan kebijaksanaan tersebut maka abu jenazah Raja Mayadenawa diupacarakan di Pura Besakih. Pada hari yang dianggap baik oleh para Dewa, abu jenazah Raja Mayadenawa yang ditempatkan di buah kelapa gading diusung ke Besakih. Setiba di Besakih dimana upacara besar-besaran dilakukan, tepat upacara selesai, terjadilah suatu kejadian yang penuh mukjisat dan mengagumkan. Buah kelapa gading dimana abu jenazah raja Mayadenawa ditempatkan, Pecah !. Dari
dalamnya muncullah dua anak: 1 laki-laki dan 1 perempuan, kedua anak tersebut kemudian diberi nama Masula-Masuli.

Bertahun-tahun kemudian kedua anak tersebut telah dewasa, dan disaat itu keadaan Pulau Bali sedang luang, dimana tidak ada seorang Raja pun yang bertahta, oleh karena itu atas persetujuan para Dewa, Masula – Masuli dinobatkan menjadi Raja di pulau Bali. Sebetulnya keputusan para Dewa untuk menobatkan Massula-masuli sebagai Raja itu bertentangan dengan keinginan hati keduanya, karena Masula-Masuli berminat untuk hidup di sorga. Akan tetapi Sanghyang Pasupati tidak mengijinkan,maka Masula-Masuli menduduki singasananya di Batahanyar. Setelah keduanya menjabat sebagai Raja, keadaan Pulau Bali sangat tentram dan damai, karena kebijaksanaan beliau dalam memerintah, Kesuburan dan kemakmuran mereka dimana-mana, rakyat benar-benar menikmati kehidupan yang tenang, lebih-lebih dalam hal-hal keagamaan, beliau sangat taat. Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sangat kuat. Demikian juga ke Pura Besakih beliau sangat rajin beribadat.Kebiasaan-kebiasaan yang baik dari Raja ini juga berpengaruh terhadap rakyatnya sehingga seluruh rakyat Bali pada waktu itu juga sangat taat menjalankan perintah keagamaan. Setelah beberapa lama memangku jabatan, beliau kemudian menikah.

Dari pernikahan itu lahirlah seorang putra yang bernama Sri Tapa Ulung, setelah beliau meningkat dewasa, Sri Tapa Ulung dinobatkan sebagai Raja menggantikan ayahnya dengan nama Sri Asta Asura Ratna Bumi Banten, yang artinya keturunan ke 8 dari leluhur Sri Mayadenawa. Dibawah pemerintahan beliau yang tak banyak berbeda dengan pemerintahan ayahnya, segala sesuatunya berjalan lancar tanpa kurang suatu apa, lebih-lebih dengan didampingi oleh seorang mahapatih yang gagah perkasa bernama Ki Pasung Gerigis tinggal di Tengkulak dan seorang pembantunya Ki Kebo Iwa alias Kebo Taruna yang tinggal di desa Blahbatuh.

Selain itu banyak lagi bawahan-bawahan beliau yang semuanya bijaksana dan pemberani dalam melaksanakan roda pemerintahan. Pada suatu hari bertahun-tahun kemudian beliau mengambil suatu keputusan untuk melakukan yoga semadi di Pucak Penulisan di Sukawana, Kintamani. Beliau berangkat dengan diiringi oleh Patih Ki Pasung Gerigis, karena ketekunan beliau dalam melakukan semadi tersebut,maka para Dewa mengabulkan keinginan beliau agar menjadi seorang yang sakti,menguasai kekuatan gaib, tidak mempan dengan senjata apapun.

Diantara kesaktian anugrah dari para Dewa itu ialah Raja Tapa Ulung bisa menghilangkan kepala beliau sewaktu-waktu bila ingin pergi ke sorga. Pada suatu saat yang tak terduga, ketika kepala beliau tak kembali lagi sebagai mana biasanya,maka sang patih Ki Pasung Gerigis menjadi sangat kaget dan cemas tak tahu apa yang mesti dilakukan. Namun Ki Pasung Gerigis masih mencoba menunggu dengan tenang, tapi malang kepala sang raja tetap tidak muncul kembali sebagai biasanya.Patih Ki Pasung Gerigis menjadi kehilangan akal, tidak selang berapa lama ada orang membawa seekor babi lewat dihadapanya, tanpa berpikir panjang, babi itu kemudian diminta olehnya dan kepalanya dipotong. Segera kepala babi tersebut dipasang dileher Sri Tapa Ulung.

Syukurlah beliau hidup kembali, tapi berkepala babi. Beliau kemudian berkemaskemas dengan patihnya untuk kembali pulang ke Bataanyar. Sesampai di pinggir danau Batur, tanpa sengaja beliau melihat bayangannya di air danau itu. Betapa kecewanya setelah tahu bahwa kepala beliau adalah kepala seekor babi. Perasaan putus asa dan menyesal menyebabkan beliau enggan kembali ke Bataanyar. Tetapi sang patih Pasung Gerigis tak henti-hentinya membujuk dan menghibur beliau agar
mau kembali ke Istana di Bataanyar. Dan di Istana nanti akan dibuatkan suatu tempat yang tinggi, dimana manusia tidak akan bisa memandangnya. Atas bujukan tersebut,akhirnya beliau bersedia kembali ke Bataanyar dengan diiringi oleh patih Ki Pasung Gerigis. (Besar perkiraan bahwa sejak saat itu desa Bataanyar diberi julukan desa Bedaulu, sebab Rajanya berbeda kepala).

Disanalah di tempat yang tinggi itu beliau bertempat tinggal tanpa seorang manusiapun yang bisa memandangnya.Selain itu disebarkan pula suatu pengumuman keseluruh Bali, bahwa barang siapa yang berani memandang wajah sang raja Sri Tapa Ulung, pasti akan dibunuh. Demikianlah beliau bertahta di Istana Bedaulu. Oleh karena beliau merasa mendapat anugrah kesaktian yang tidak ada seorangpun yang menandinginya dan juga melihat kenyataan bahwa seluruh rakyat Bali begitu patuh
dan taat selama ini, maka timbulah sifat-sifat keangkaramurkaan dan sifat takabur beliau. Rakyat dilarang melakukan ibadah keagamaan, dan beliau tidak mau patuh lagi pada perintah Majapahit. Baginda ingin terlepas dari kekuasaan Majapahit.

Lama kelamaan Majapahit merasa bahwa sikap Sri Tapa Ulung telah berubah.Akhirnya sikap Sri Tapa Ulung yang membangkang itu sampai ke telinga Raja Majapahit yang lalu itu diperintah oleh Raja Sri Kala Gemet. Karena itu di Majapahit diadakan rapat yang dihadiri oleh mentri-mentri, hulubalang-hulubalang, dan pemuka-pemuka rakyat. Dalam rapat itu diputuskan “perang” dengan Raja Sri Tapa Ulung. Pada waktu itu Majapahit mempunyai seorang patih yang terkenal yaitu Patih Gajah Mada.

Dibawah pimpinan Patih Gajah Mada diaturlah siasat untuk dapat menaklukkan Pulau Bali dan membunuh Raja Sri Tapa Ulung yang berkhianat tersebut. Siasat perang ini harus betul-betul cermat, karena disamping Raja Sri Tapa Ulung adalah raja yang terkenal kesaktiannya, juga Raja Sri Tapa Ulung mempunyai patih yang sakti dan gagah berani, yaitu Kebo Iwa. Disebutkan kemudian bahwa Patih Gajah Mada menghadap Sri Tapa Ulung, untuk memohon Ki Kebo Iwa yang hendak dikawinkan dengan seorang putri. Ini termasuk salah satu siasat perang dari Patih Gajah Mada.Dalam perjalanan ke Bali, Gajah Mada dan pasukannya sampai didesa Blahbatuh yang dipegang oleh Ki Pasung Gerigis.

Disana diperkenalkan dengan Ki Karang Buncing dan Ki Kebo Iwa.Atas ikhtiar Ki Pasung Gerigis, maka Gajah Mada akhirnya diperkenankan untuk menghadap Sri Tapa Ulung, tapi dengan syarat agar Gajah Mada tidak melihat dan memandang wajah Raja Tapa Ulung. Dan Patih Gajah Mada juga mengajukan suatu permohonan yaitu agar diperkenankan menerima suguhan makanan berupa sayur paku liking, nasi sengauk (aron) dan minum air dengan kele. Semuanya ini akan diatur oleh Ki Pasung Gerigis.Sesampainya Gajah Mada di istana dengan segala hormat sebagai mana layaknya
seorang bawahan yang menghadap Raja, begitu pulalah sikap sikap Patih Gajah Mada dalam menghadap Raja Sri Tapa Ulung. Dan didalam kesempatan itulah Gajah Mada menghaturkan niatnya untuk memohon Ki Kebo Iwa yang hendak dikawinkan dengan seorang puteri (Lemah Tulis yang sudah terkenal cantiknya). Dengan alasan agar hubungan Majapahit dengan Bali lebih erat lagi. Oleh Baginda Raja Sri Tapa Ulung sedikitpun tidak menduga bahwa itu hanya tipu muslihat belaka, karena itu segera beliau mengabulkan permohonan Gajah Mada dengan ikhlas. Setelah acara pokok selesai,

Gajah Mada kemudian bersantap dengan suguhan yang telah dimintanya. Dengan sendirinya untuk bersantap hidangan tersebut, wajah harus ditengadahkan sehingga terlihat jelas wajah Sri Tapa Ulung oleh Gajah Mada. Betapa kecewanya, marah dan malu baginda raja Sri Tapa Ulung mengetahui bahwa dengan akalnya Gajah Mada telah berhasil memandang wajah beliau. Pada waktu itu sebetulnya Baginda ingin segera membunuh Gajah Mada, namun peraturan yang berlaku yaitu membunuh utusan suatu kerajaan adalah dilarang keras apalagi utusan itu sedang makan. Karena itulah Baginda Raja tidak bisa berbuat apa-apa.

Selanjutnya atas perkenan Baginda Raja, Patih Gajah Mada membawa serta Ki Kebo Iwa ke Jawa. Pada akhirnya tercapailah tujuan Patih Gajah Mada untuk mengurangi kekuatan kerajaan Bali (Bedaulu), karena sampai di Pulau Jawa Ki Kebo Iwa terbunuh. Betapa sedih dan duka Baginda Sri Tapa Ulung mendengar nasib yang menimpa patih kesayangannya, selain itu perasaan tertekan karena sangat malu sesudah Patih Gajah Mada berhasil memandang wajah Baginda. Segera beliau mengambil keputusan untuk melenyapkan diri dari muka bumi dengan jalan Moksa.Itulah riwayat Baginda Raja Sri Tapa Ulung yang bertahta di kerajaan Bedaulu, Bali.

SARIN BWANA DI MONOGRAFI DARMASABA
Asal usul nama Darmasaba tertuang dalam Lontar Usaha Bali, seperti yang tertulis dalam Monografi Desa Darmasaba tahun 1980 silam, nama darmasaba berkaitan dengan keturunan danghyang Nirarta diceritakan, sang kawi-wiku asal Daha (Jawa Timur) itu memiliki cucu bernama Ida Pedanda Sakti Manuaba yang tinggal di Desa Kendran Tegalalang Gianyar.

Merasa tidak disenangi sang ayah, Ida Pandita Manuaba pergi mengembara bersama dua orang pengiringnya, pengembaraan sang pendeta sampai di Pura Sarin Buana di Jimbaran, saat mengadakan semadi tapa yoga ditempat ini sang pendeta melihat sinar api yang sangat jauh di utara timbul keinginan beliau, Ida Pandita Manuaba untuk mengunjungi tempat itu, sampailah beliau di Pura Batan Bila, Peguyangan, disini Ida Pandita Manuaba singgah menghadap Ida Pandita Budha yang tinggal disana.

Selanjutnya kedua Pandita bersama-sama menuju arah utara dan singgah di Taman Ceng Ana, sebuah taman milik Arya Lanang Blusung. Ditempat ini kedua Pandita bersama-sama melaksanakan Tapa Yoga Semadi dan menetap sementara waktu.Kedatangan kedua Pandita ini didengar oleh Bendesa Aban, sang Bendasa pun menghadap kedua pandita, namun karena tidak berani menghadap lengsung, Bendesa Aban hanya memperhatikan dari kejauhan secara seksama, dalam bahasa bali, memperhatikan dari jarak jauh berarti “Nenjo” sehingga tempat itu dikenal sebagai “Peninjoan” yang sekarang menjadi nama banjar.

Setelah mendapat petunjuk barulah Bendesa Aban menghadap kedua pendeta itu.Setelah itu Ida Pandita Manuaba dan Ida Pandita Budha kembali melanjutkan perjalanan dan bertemu dengan seorang bendasa, dan tempat itu kini dinamai Menesa sampai sekarang menjadi nama banjar.

Melalui Bendesa ini diadakan pendekatan untuk datang ke sebuah pura yang saat Ida Pandita bertapa semedi di Pura Sarin Buana di Jimbaran keliatan Sinar Api yang sangat terang dan begitu besar serta agungnya. Tempat pura yang terdapat sinar tersebut kini disebut Pura Hyang Api yang terletak di wilayah Banjar Menesa.

Kedua Pandita dan Ki Bendesa mengadakan pertemuan di Pura Budha Manis,sebuah pura yang dibangun oleh Kebo Iwa, untuk mengingatkan bahwa tempat itu pernah dilaksanakan pertemuan penting untuk membicarakan ke dharmaan (kesucian) kemudian tempat itu diberi nama Darmasaba (dharma-kesucian dan Sabha- pertemuan), usai pertemuan itu, Bendesa Aban mohon pamit pulang, karena hari sudah sore Ki Bendesa Aban mempercepat perjalanan, dalam Bahasa Bali mempercepat jalan itu disebut “Cabe” dan selanjutnya dipakai nama Banjar Cabe sampai saat ini.

Berselang beberapa lama, Desa Aban yang diperintah oleh Ki Bendesa Aban diserang malapetaka yaitu serangan binatang semut, sehingga masyarakatnya banyak yang meninggalkan desanya, sebagian masyarakat ada yang tinggal di daerah perkebunan disebelah selatan Desa Aban, dan lama kelamaan mereka menetap disana, dan tempat baru itu diberi nama “Tegal” dan selanjutnya dijadikan sebutan sebuah Desa Adat yakni Desa Adat Tegal.

Dari sejarah kepemimpinan Desa Darmasaba, Perbekel sejak zaman penjajahan telah beberapa kali mengalami pergantian Perbekel dengan sebutan sesuai zaman serta peraturan yang mengaturnya dan kesemua pemimpin desa tersebut telah melaksanakan tugas, fungsi, wewenang, dan tanggung jawabnya untuk membangun desa sesuai kondisi yang ada pada saat itu.

VIII PALINGGIH BENTUK DAN NAMA DEWA

VIII
PALINGGIH
BENTUK DAN NAMA DEWA
BENTUK PALINGGIH

NAMA STHANA DEWATA

Peradaban masyarakat Bali pada awalnya percaya dengan adanya Animisme dan Dinamisme yaitu percaya dengan adanya roh dan kekuatan alam sekitar sebagai penguasa alam sebelum ditempati oleh manusia. Roh dan kekuatan alam yang tidak kelihatan kasat mata dan asal usul keberadaannya sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari umat manusia, bisa bersifat menguntungkan dan menyengsarakan. Terjadi kejadian-kejadian aneh yang tidak bisa dipecahkan akal sehat seperti luput dari bencana atau tertimpa musibah,dikarenakan dahulu pernah merusak alam sekitar tanpa pemberitahuan sebelumnya. Melalui fenomena kerauhan yang terjadi diketahui sebab akibat yang diterima sekarang. Lewat para tetua desa atau para pertapa yang diyakini bisa berkomunikasi dengan roh alam penguasa tersebut untuk menghaturkan upakara umat sebagai bukti permohonan maaf dan simbol keharmonisan manusia dengan penguasa alam lain.Tempat upakara dibuatkan seadanya bisa berupa batu, kayu, bambu bahkan bisa sebatang pohon tertentu sebagai stana para roh tersebut lalu dibusanakan ala manusia. Akhirnya terjadi keterikatan antara manusia dengan roh atau kekuatan alam
sekitarnya. Karena diyakini mendapat keselamatan atau petunjuk berguna dalam kehidupan ini, akhirnya mereka membayar sesaudan/ kaul sesuai yang diucapkan,baik berupa palinggih, bale pesayuban, upakara dan lain-lain. Perkembangannya tempat yang awalnya sebatang pohon atau batu, kini berdiri sebuah pura yang sangat megah, lengkap dengan tri mandala, tiga halaman pura.Yang awalnya masyarakat Bali pemuja Alam beserta isinya secara langsung pada perkembangannya disatukan menjadi satu tempat dalam suatu desa dan jagat,dibangun personifikasi dari wujud ida bhatara seperti prerai, pratima, arca dan bentuk sthana, palinggih lengkap dengan parerepan, bale panca resi, bale pengaruman sebagai bentuk kebersamaan dalam kehidupan di dunia ini.Dibawah ini ditampilkan bentuk palinggih dan nama ista dewata yang di stanakan maupun fungsi bale upakara dan penunjang lain di Pura Dalem Sarin Bwana:

I MANDALA UTTAMA
terdiri dari: 






II MADYA MANDALA
terdiri dari beberapa bangunan suci berikut:



III KANISTA MANDALA
terdiri beberapa bangunan suci berikut:






VII INVENTARISASI BALAR DAN BPCB, BALI

VII
INVENTARISASI
BALAR DAN BPCB, BALI

NUNTUN, INVENTARISASI & KONSERVASI

Hampir sepuluh tahun berlalu dari nunas bawos di malam karya memungkah tanggal 25 Juli 2005 keinginan jero mangku Pura baru terwujud untuk mengangkat Arca-arca peninggalan Dalem Putih, dibangun palinggih baru agar arca terhindar dari hujan dan terik matahari. Melalui surat permohonan bertanggal 21 Nopember 2014 kepada Balai Arkeologi (Balar) Denpasar dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Gianyar,Wilayah Kerja Bali, NTB, NTT berkenan untuk meneliti, imventarisasi dan proses selanjutnya agar Arca kembali ke semula.
Acara Nuntun, detik-detik akhir gambar tempat Arca-arca di tanah

Acara nuntun melalui upakara, permohonan pengampunan dari aspek niskala agar terhindar dari hal yang tidak di ingini selama proses pemugaran dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 30 Nopember 2015 disaksikan oleh petugas peneliti di atas.Petugas lapangan dari Balar dipimpin oleh Drs. A.A. Gede Oka Astawa, M.Hum dan anggota, Drs. I Wayan Suantika, Dra. Ni Komang Yudari, I Putu Yuda Haribuana,ST, dan Ni Putu Eka Juliawati, SS, M.Si, melihat, mengambil gambar, meneliti dan keterkaitan motif dan bentuk se zaman dengan tinggalan yang ada di tempat lain.Begitu pula petugas BPCB Gianyar yang hadir I Gusti Ngurah Agung Wiratemaja dan Ketut Alit Amerta, SS.
Inventarisasi oleh Petugas Balar dan BPCB, Bali, NTB, NTT
Konservasi di hari kedua tanggal 1 Desember 2014 membersihkan arca dari lumut yang melekat,potongan yang lain dicarikan pecahan yang kira-kira tepat berserak disampingnya. Memakan makan waktu cukup lama membersihkan arca yang terdiri dari puluhan itu. Setelah selesai melakukan tindakan inventarisi dilanjutkan dengan tindakan konservasi oleh petuga BPCB.
Konservasi Arca oleh Petugas BPCB, Bali, NTB, NTT.


Jumat, 31 Januari 2020

VI DEWA AYU MASOLAH ALIT

VI
DEWA AYU
MASOLAH ALIT

PEMENTASAN BARONG DAN RANGDA
SEJARAH DEWA AYU

Dewa Ayu adalah sebutan lain dari pelawatan Barong oleh masyarakat Hindu di Desa Adat Jimbaran dan hanya satu pelawatan di empon oleh seluruh warga Jimbaran.Menurut keterangan para informan, sejarah munculnya kesenian Barong dan Rangda yang ada di Desa Adat Jimbaran, secara tertulis belum ditemukan. Para tetua mereka menceritakan secara lisan dan turun temurun kepada generasi selanjutnya. Dahulu keinginan para leluhur untuk membentuk tarian Barong akhirnya meminjam Barong uruk-urukan (Barong latihan) di Taman, Sanur. Lalu diijinkan Barong paurukan itu untuk dipinjam dan dipakai latihan di Desa Jimbaran. Masyarakat Jimbaran merasa senang sekali karenanya, dan berkeinginan untuk membentuk suatu sekaa sesolahan Barong (Perkumpulan seni). Berselang beberapa lama Barong paurukan itu diminta kembali oleh yang punya dari Taman, Sanur, atau mungkin sudah selesai latihannya.
Penari Sandar (Sang Dadari) sedang diganggu oleh Ameng-ameng Jagat
Akhirnya masyarakat Jimbaran sedih dan bingung, sangat menginginkan biar ada Barong, di desanya. Kemudian leluhur Bapak Wayan Sada nangun yasa (memohon) kearah selatan dari pusat Desa Jimbaran dan beliau meninggalkan pesan “kalau lewat dari 42 hari saya belum datang berarti saya sudah meninggal”, akhirnya sebelum 42 hari beliau sudah datang dan mendapatkan petunjuk niskala, disuruh mencari kayu pole untuk bakal tapel yang ada di kuburan. Wayan Sada (Wawancara tanggal 28 Juli 2009) menjelaskan bahwa pada kenyataan di kuburan Desa Adat Jimbaran tidak ada tumbuh pohon pole, yang ada pohon kepah dan kepuh (pohon randu), lagi tetua mereka menghaturkan banten pejati dan seketika itu ada kayu dijalan mula (kedapatan ada ditempat), lalu dibentuklah kayu tersebut oleh tetua mereka, tapel yang selesai pertama kali adalah tapel jero luh (rangda dengan mata kaca).

Cemung dan Sobrat sedang duduk santai menunggu giliran pentas
Kemungkinan karena baru pertama kali membuat tapel, ada keluarga yang mencampakkan hasil pahatannya, ditaruh begitu saja di suatu tempat, tidak dihiraukan,akhirnya tetua mereka lagi membuat tapel yang baru yaitu tapel Barong, tapel Dewa Prabhu (Rangda), dan tapel Rarung (Rangda) Karena keluarga besar tak ada sama pemikirannya, pada suatu saat ada yang mengambil tapel diselipkan di celana dan dibawa pergi nonton Jaged Bumbung di Desa Tuban, maksud dari keluarganya membawa tapel itu untuk dipakai jikalau dijawat (ditunjuk) oleh penari Joged Bumbung. Tapi apa yang terjadi sebelum sampai di Desa Tuban yang jaraknya 3 kilometer dari Jimbaran, dengan berjalan kaki, merasa ada yang menggigit-gigit perutnya, lalu tapel itu dibuang di rawa-rawa. Setelah selesai menonton Joged Bumbung dan balik kerumah, kedapatan tapel tersebut sudah berada ditempat semula, dan selanjutnya tapel dibuang ke tengah laut, juga kedapatan sudah berada ditempat semula, akhirnya tapel di pasupati di Pura Dalem yang kini menjadi sungsungan umat Hindu disamping berfungsi sebagai bhatara tedung jagat (dewa pelindung desa) Jimbaran.

Ketua sekaa Barong A A Ngurah Oka (wawancara tanggal 19 Agustus 2009) sejarah keberadaan Barong dan Rangda, yang ada di Desa Adat Jimbaran tidak diketahui secara pasti karena tidak ditemukannya catatan tertulis, tetapi diperkirakan keberadaanya sekitar 500 tahun yang lalu dengan mengambil analog setelah runtuhnya kerajaan Bali Kuno dan tapuk pemerintahan diambil alih oleh para arya kerajaan Majapahit, semenjak itulah terjadi penataan pemerintahan yang baru, baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi, agama, kebudayaan termasuk seni tari Barong dan Rangda. Arti kata Barong adalah bareng-bareng karena penarinya dua orang dan berbarengan. Sejarah keberadaan tapel Barong dan Rangda yang ada di Desa Adat Jimbaran sama seperti yang tersebut diatas. Hanya saja tapel Barong yang disungsung oleh masyarakat Hindu Desa Jimbaran ada 2 (dua) yaitu: Tapel Barong
Duwuran dan Tapel Barong Alitan.

• Tapel Barong Duwuran (keberadaan duluan) milik Pura Dalem Kahyangan,berasal dari kayu mundeh yang ditebang di setra (kuburan) sampai ceking tak rebah dan pada malam hari banyak yang mendengar ada orang menangis,berasal dari mana kayu tersebut berada, dan besoknya pohon kayu itu
kembali ke semula, seolah-olah tidak ada bekas penebangan pada pohon tersebut, lagi menghaturkan upakara di bawah pohon itu dan akhirnya pohon kayu itu bisa ditebang lalu dibentuk tapel Barong dan Rangda oleh seorang Ida Bagus yang ada di Sanur. lelontek Poleng selalu mengikuti jika lagi masolah atau mapajar 
• Tapel Barong Alitan (keberadaan belakangan) milik Pura Ulun Swi, Desa Adat Jimbaran berasal dari pohon kayu Pole dusun Bena didapat dari kerauhan tetua desa untuk mencari kayu tersebut disana. lelontek Putih selalu mengikuti jika sedang masolah gede Keseluruhan tapel Barong dan Rangda disimpan di Pura Parerepan yang terletak beberapa meter dari Pura Ulun Swi, jalan Uluwatu, Jimbaran.
Puncak Acara Mapinton, Dewa Ayu di Jeroan Pura Sarin Bwana
Masyarakat desa adat Jimbaran tidak tahu secara pasti kapan muncul dan apa makna dari pementasan, serta fisafat masing-masing tari tesebut, serta aspek-aspek dari pementasan dengan adanya kerauhan oleh puluhan orang, terjadi kejar-kejaran antara Rangda dan pepatih serta menusuk-nusuk dirinya dengan keris, sulit dipecahkan akal sehat manusia.

Dalam Buku Sekala Niskala oleh Fred B. Eiseman (1990 : 294) disebutkan bahwa kedua ‘Ibu’ Barong itu berasal dari Pura Sarin Bwana atau dengan perkataan lain taksu (spirit) dari Barong dan Rangda berasal dari Pura Sarin Bwana, karena fungsi dari Pura Sarin Bwana adalah tempat ngastiti hyang pramawisesa (tempat memohon terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa). Dikaitkan buku Sekala Niskala di atas dengan pesan leluhur Bpk Wayan Sada memohon petunjuk kearah selatan agar mempunyai plawatan Barong, apakah arah selatan yang dimaksud adalah Sarin Bwana?

BARONG

Dalam catatan tertulis, interpretasi tentang Barong tidak secara tegas menyebutkan arti kata Barong, masing-masing mempunyai pandangan yang berbeda-beda,secara etimologi kata, Barong berasal dari bahasa sanskerta yaitu kata Bhairawa,(Zoetmulder, P.J, Kamus Jawa Kuna-Indonesia) artinya menakutkan, mengerikan,dasyat, luar biasa, bentuk Siwa yang mengerikan, penganut aliran Bhairawa, karena pengaruh warisan bahasa yang dipakai di daerah tertentu yang membedakan bahasa
yang dipakai disatu tempat dengan bahasa yang dipakai di tempat lain walaupun varian-variannya berasal dari satu bahasa, menjadi Brerong.

Penari Rangda (Jero Luh) Masolah Gede Jaba Pura Parerepan, Jimbaran
Ada Pura Dalem Brerong terletak Br.Taman Sari, Desa Adat Mengwitani dan ada orang yang kerauhan (trance) dalam suatu upacara keagamaan di Pura Dalem Sarin Bwana,Pura Ulun Swi dan Kahyangan Desa Adat Jimbaran, pepatih menyebut diri Waduk Brerong. Secara filosopis Waduk Bererong berasal dari kata Waduk dan Brerong, Waduk (perut, dunia) dan Brerong mengerikan, menakutkan, sadis, dahsyat. Jadi waduk brerong artinya; isi dunia yang penuh mengerikan dan menakutkan yang dipenuhi oleh sifatsifat kebinatangan seperti keangkara murkaan, ketamakan, kebuasan, kedahsyatan, dan sifat kebatilan lainnya. Sebagai pemersatu dari semua sifat ini diwakili oleh pralingga Barong yang berwujud binatang sesuai prarencang tertinggi dari suatu wilayah. Karena pengaruh evolusi bahasa dari satu tempat ke tempat lain dan perubahan bahasa dari tahun ke tahun kata Bhairawa yang di ucapkan berulang-ulang menjadi Berawa // lafal kata Berawa yang diucakan sesuai dengan bahasa setempat menjadi Berawo // lafal huruf O diucapkan, ditegaskan berulang-ulang tersirat mendapat konsonan ng diakhir ucapan menjadi Brerong, // dari kata Brerong menjadi Barong.

Rarung dan Dewa Ayu Masolah Gede di Jaba Pura Parerepan, Jimbaran
Wujud Barong tidak lebih sebagai binatang mythology yang juga sering kita jumpai dalam cerita tantri. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa semua jenis pertunjukan yang menggunakaan Barong sama sekali tidak sesuai dengan apa yang sesungguhnya dimaksud dengan perkataan Barong, malahan beberapa jenis pertujukan sama sekali tidak ada unsur binatangnya disebut Barong juga (Barong Landung yang menyerupai manusia, Barong Kedingkling yang menyerupai wayang orang, Barong Memedi,Barong Brutuk), ada juga yang mengartikan kalau Barong berasal dari kata “Ba-ruang”dalam bahasa Indonesia huruf u dan a berasimilasi menjadi o, sehingga ru dan a (ng) menjadi ro (ng) yang berarti dua. “rong” mengandung makna ruang, jadi dua rong yang dimaksud adalah dua ruang sebagai tempat penarinya/ pemundut Barong. Dalam susastra Hindu tidak ada menyebutkan beruang sebagai hewan suci yang dikeramatkan maupun sebagai wahana para dewa jaman dahulu, maupun dari bahasa Tiongkok tidak ada menyebutkan kata Barong Sae, yang ada adalah Liong Sae yang artinya tarian naga dan singa (informan Putu Berata, dari Kepala Vihara Dharmayana, Kuta)

Purana Pura Luhur Pucak Padang Dawa disalin dan diterjemahkan oleh Ketut Sudarsana (2001:16) yang hanya menyebutkan munculnya istilah Barong, dan bertemu dengan Sanghyang Wulaka dengan perawakan hitam kemerah-merahan,rambutnya ikal agak kemerah-merahan, bersenjatakan pedang dangastra dengan mata mendelik bagaikan singa lapar, yang kemungkinan pada perkembangan menjadi tari omang-omang (sobrat, telek, jauk, cemung). Dalam Purana tidak ada menyebutkan munculnya istilah Rangda, dan munculnya atraksi kejar-kejaran antara Pepatih (orang kerasukan kekuatan lain) dengan Rangda. Dewa Gede Kebo Iwa merangsuk Buddha Berawa merubah wujud menjadi Barong, pada zaman itu memang terdapat sekte Bhairawa dan Pedang Dangastra kemungkinan menjadi nama Padang Dawa,dengan hadirnya ratusan Barong dan Rangda disaat hari pujawali berasal dari beberapa kabupaten yang ada di Bali.

RANGDA

Secara etimologi kata Rangda berasal dari urat kata Ra dan Anda. Ra adalah kependekan dari Raditya atau Api. Anda adalah bola dunia atau telur. Jadi Rangda adalah Dunia Api/Bola Api/panas. Dalam lontar siwa tatwa, Dewi Durga berubah wujud menjadi Rangda dengan gelar Sang Hyang Berawi sebagai Dewi Pemuhun /dewi pembakar, Secara filosofis mengandung arti sebagai pelebur atau pemrelina sifat-sifat kebinatangan sebelum menuju kealam Siwa / Tuhan.

Dalam kamus Jawa-Kuna, oleh Zoetmulder, Rangda berarti laki-laki yang wafat tanpa keturunan laki-laki, pohon yang gundul, kata cacian untuk menyapa wanita, duda,janda tua dalam rumah tangga istana, penghianat, berarti Rangda disebut janda/duda artinya tidak ada keturunan atau tidak produktif lagi, tidak ada keterikatan, tidak ada kehidupan di api, semua habis di bakar oleh api, makanya kerawuhan Rangda akan mengeluarkan suara bagaikan Air ngerodok (mendidih) kalau ilustrasikan setiap berludah mengeluarkan ludah api, setiap nafas, nafas api, makanan pun api, istana Api, orang yang kerauhan Rangda akan minta api lalu dikulum sebagai penyeimbang tubuhnya, juga terdapat simbol-simbol api di tubuhnya.

Penari keris kalau ditanya setelah bebas dari kerauhan mengatakan; begitu dia mengejar Rangda dengan kemarahan yang luar biasa, setelah Rangda berbalik berhadap-hadapan, seolah-olah api yang menyambar dihadapannya makanya penonton melihat pepatih lari tunggang langgang. Tatkala Rangda berbalik, pepatih pun berbalik bersamaan tanpa ada melukai pepatih lain didepannya, begitu agresifnya,jarak pepatih dengan Rangda tak pernah tersentuh dan bagi yang melanggar berakibat fatal sampai berhari-hari nginap tanpa makan dan minum di Pura.

Orang kerauhan Rangda adalah sangat diistimewakan, karena dalam meminta petunjuk yang ada keterkaitan dengan parahyangan, pawongan, dan palemahan,orang yang Kerauhan Rangda diminta petunjuk, orang yang dipinjam badan raganya sebagai mediator (penghubung) ke alam niskala adalah orang-orang pilihan sesuai persyaratan tertentu dari kekuatan alam yang menguasai wilayah tersebut dan tidak lepas dari sejarah keberadaan tempat tersebut. Kalau dikaitkan dengan perkembangan pemahaman di masyarakat, orang yang bisa Ngleyak (Ilmu Magik) yang berubah wujud jadi Rangda dengan pralingga Rangda yang ada di pura, apakah Rangda dipura itu leyak, dalam arti jelek, mengapa memuja yang jelek, dibuatkan upacara yang menghabiskan dana tidak sedikit dengan tunjangan SDM yang berpendidikan tinggi, yang belum tentu membuat sejahtera setelah upacara selesai. Didalam suatu pementasan, Rangda akan berucap-ucap kata leak-leak itu artinya memanggil seluruh kejelekan-kejelekan dari segala arah, yang akan diprelina melalui kekuatan api, agar terjadi keseimbangan di alam makrokosmos, rangda ini yang justru simbol dari kebenaran/ kebaikan karena ketidak terikat dengan duniawi (Wawancara dengan Jero Mangku Teja Kandel, tanggal 11 Juli 2007).

Puluhan penari keris sedang kejar-kejaran dengan Rangda
PEMENTASAN

Makna dari pementasan Barong & Rangda disini adalah pertunjukan atau pendramaan Barong & Rangda dimuka umum sesuai dengan alur cerita yang membuat pertunjukan itu menjadi menarik dan mengesankan serta mengandung nilai filosopis magis yang sangat menarik dan bermakna bagi kehidupan ini.

Jika Dewa Ayu matangi pementasan Barong dan Rangda selalu di pentaskan di halaman jaba tengah Pura Sarin Bwana hanya sebatas masolah alit tanpa dipentaskan ke tiga Rangda yang terdiri dari dewa prabhu, jero luh, rarung,sebab akan memerlukan lapangan yang luas dalam setiap masolah gede.Pementasan dalam bahasa masyarakat setempat disebut masolah, mapajar,matangi, medal

Penabuh gambelan membuka acara dengan tabuh babarongan, selanjutnya ratun sandar, diikuti para penari sandar lainnya berjumlah tujuh orang menuju jaba tengah pura Dalem Sarin Bwana, semua penampilan penari sandar sama dan serupa satu dengan yang lain, mata sayu, hidung mancung, warna
kulit putih, mulut tersenyum, bibir merah, bermahkota pagoda warna emas,menari lemah gemulai bagaikan seorang bidadari turun dari sorga, menari menghadap selatan, setelah menari beberapa saat, lalu penari omang yang terdiri dari 1 telek, 3 jauk, 1 cemung, 2 sobrat, yang berpenampilan kasar,urak-urakan, kuku panjang, mata melotot, gigi tongos, disamping ada juga berpenampilan bagaikan seorang raja alim dan bijak menghadap utara berlawanan arah dengan penari sandar.

Penari cemung pertama menari sesuai agem-agem (sifat dan karakter tapel) mendekati penari sandar dikiaskan sedang mengganggu sandar, setelah balik dalam perjalanan bertemu dengan dua penari sobrat, lalu sobrat pun ikut mengganggu sandar, diceritakan banyak sandar yang jatuh sakit dan pingsan ditempat, setelah sobrat balik dalam perjalanan bertemu dengan panglembar (jauk), panglembar juga mengganggu sandar, banyak sandar jatuh pingsan karena diganggu oleh para penari omang, dilanjutkan oleh penari ngiuk kendang (jauk) dalam perjalanan diganggu oleh suara gambelan yang sebelumnya bermaksud mengganggu sandar, lalu penari ngiuk kendang menuju arah penabuh kendang terjadi keributan antara penabuh dengan penari ngiuk kendang dengan mematikan suara kendang, diikuti oleh penari ngematiang sandar (jauk) menyandera penari sandar dan bermaksud membunuhnya.

Karena diketahui oleh penari sandar yang lain, lalu dipanah penari ngematiang sandar tersebut, dan ditolong oleh penari omang yang lain, kemudian dirangkul penari ngemating sandar sambil memanggil penari omang yang lain, kemudian datang penari telek yang berpenampilan bagaikan seorang raja, bermahkota pagoda, kulit hitam, kumis putih, alim bijaksana, menanyakan duduk permasalahannya dan telek menari menuju sandar mendamaikan perkelahian antara sandar (sang dadari) dengan ameng-ameng jagat (penari omang). Penari Barong siap masolah menari jingkrak jingkrak dengan penari omang dan pementasan selesai, dilanjutkan prosesi puncak mapinton di jeroan pura.

Selesai para pemangku mempersembahkan upakara mapinton selalu terjadi kerauhan oleh puluhan orang penari keris maupun histeris para remaja putri. Penari akan melaporkan utusan mana yang telah hadir didepan gedong Pajenengan maupun didepan Arca-arca kuna. Roh mana yang merasuki tubuhnya, misalnya,ngayah bojog putih, ngayah leak barak, ngayah geregek tunggek, ngayah putih jimbaran, ngayah pancung segara, ngayah gerobag besi, ngayah cerucuk kuning,ngayah kupu-kupu harum, ngayah macan gading, ngayah pongpong mal,ngayah gagak ghora, ngayah batu kitik, ngayah kakul putih, ngayah penyu,ngayah waduk brerong, ngayah kobar api, ngayah beluncat, ngayah belego,ngayah titiran, mungkin ratusan yang belum terwakili, kadang-kadang seorang pepatih mewakili lebih dari tiga rencangan, setelah menyebut diri, pepatih ngurek menusuk dirinya dengan sebilah keris bahkan lebih dari satu, dengan sekuat tenaga menusuk diri berkali-kali pada titik tubuh yang terasa gatal,Setelah ngurek beberapa saat, lalu pepatih minta upah balu makurenan (arak berem), beberapa minta upah sesuai dengan sifat dan fungsi rencang mana yang merasuki tubuhnya, upah akan di ayab sesuai kiblat atau arah asalnya,misalnya, bojog putih diberikan buah-buahan dari lungsuran banten yang dihaturkan umat, upah buah-buahan itu akan di ayab (dihaturkan) ke arah selatan, arah Pura Luhur Uluwatu, karena disana memang hidup komunitas kera, lalu memakan pun seperti tingkah laku kera, makan buah sambil menggaruk-garuk badannya, kalau penyu yang merasuki tubuhnya akan minta bulung (rumput laut) dan cara memakannya pun seperti penyu rebah telungkup ditanah dengan lidah dijulur-julur keluar meraih rumput laut tersebut, kalau rencang belego (timun gantung) yang merasuki babuten menusuk dirinya berguling-guling di tanah, kalau rencang buta siu yang merasuki menusuk keris ke daerah mata, kalau pongpong mal yang merasuki pepatih akan memanjat pohon kelapa (kalau ada) mengupas kelapa dengan giginya, kalau gerobak besi meminta keris lebih dari tiga atau sebanyak bisa digenggam oleh tangannya lalu menusuk diri sekuat-kuatnya, dan sebagainya.Setelah diberikan upah atau blabaran (sarma) babuten sekali lagi minta taji (keris) lalu berjalan menuju kehadapan Gedong atau Arca mengucapkan pamit kembali sesuai dengan rencang atau babutan mana yang meminjam badan raga tadi, misalnya, pamit bojog putih, pamit macan gading, pamit leak barak, pamit gregek tunggek dan sebagainya, sekali lagi menusuk-nusuk diri beberapa kali sampai lemas lunglai dan diperciki tirtha oleh jero mangku dan sibuh sebatok kelapa berisi toya (air) lalu diminumnya sampai habis,ngaturan sajeng (arak berem) sedikit tos ketanah lalu diminumnya, setelah menghentak-hentakkan kaki beberapa kali ke tanah, nyakupan tangan dan pepatih sadar kembali, lega, bebas, tanpa bekas.

Terkecuali pepatih dalam keadaan cemer, sebel (kotor), sangat riskan untuk ngaturan ngayah berakibat patal, keris bisa tembus melukai tubuhnya atau mategul tanpa tali, kaki dan tangan bagaikan dirantai sulit dilepaskan oleh orang lain, mereka akan sadar setelah dinetralisir oleh jero mangku dengan sedikit kumat-kamit dan dupa dikibas-kibaskan ke tangan dan kaki pepatih sadar kembali, bagi yang mempunyai kesalahan yang sangat patal keris bisa tembus ke tubuh dikala sedang ngurek dan menginap berhari-hari di pura dalam keadaan mategul tanpa tali tanpa makan tanpa minum.Makna filosofis atraksi kejar kejaran antara puluhan papatih dengan Rangda adalah terjadinya pergolakan di dunia ini antara dunia nyata dengan dunia maya, atau antara aspek air dengan aspek api. Aspek air adalah sumber kehidupan dan akan ada kehidupan, yang memunculkan sifat-sifat kebatilan yang penuh keangkaramurkaan, kebuasan, kebrutalan, dan sifat keterikatan dunia nyata lainnya, dipakai symbol pemersatu adalah Barong. Sedangkan aspek api adalah tidak ada kehidupan didalam api, dalam arti hidup penuh pantanganpantangan dan tidak keterikatan dunia materi, eksesnya akan menimbulkan ketenangan, kesabaran, kebenaran, Rangda simbolisme sifat ini. Sedangkan papatih (penari keris) disimbolkan keterikatan duniawi, mengejar Rangda disimbolkan sebagai pembakar atau pelebur keterikatan duniawi sebelum menuju ke alam Siwa/Tuhan. Adalah suatu konsep peleburan atau pengembalian unsur-unsur Panca Tan Matra (lima zat halus yang belum berukuran) dengan Panca Maha Bhuta (lima materi pokok dunia) yang saling berhubungan dan lebur menyatu. Mulai dari pertiwi (benda padat) kembali ke apah (benda cair), dari benda cair kembali ke teja (benda panas), dari benda panas kembali ke vayu (udara, angin), dari udara kembali ke akasa (suara, bunyi,sabda Tuhan). Sedangkan makna filosofis dari papatih (babuten) menusuk dirinya adalah sebagai simbol bunuhlah sifat keterikatan duniawi yang ada dalam diri, dalam proses pencaharian jati diri terhadap Hyang Widhi/Tuhan Dengan pemuasan jasmani akan terjadi ketergantungan satu dengan yang lain,terjadi saling tarik menarik dalam lingkaran dosa, mengakibatkan kelahiran kembali. Ibarat air akan selalu mengalir ke bawah karena ditarik oleh beratnya dosa-dosa dimasa kehidupan yang lalu. Sedangkan dengan pengekangan indera hawa nafsu dari keterikatan duniawi tubuh akan semakin ringan ibarat api akan selalu naik melambung keatas menyatu dengan Hyang Widhi/Tuhan.

Karena keris terbatas, berdiri kiri meringis nunggu giliran dapat taji (keris)








V SEKILAS UPACARA PIODALAN

V
SEKILAS UPACARA
PIODALAN

Upacara yang dilaksanakan di Pura Dalem Sarin Bwana ada yang insidental dan ada yang bersifat rutin, seperti yang disebutkan oleh Jero Mangku INyoman Bagia dan Kelian Pangamong Pura I Made Sudiarsa (wawancara tanggal 13 Maret 2015) persembahan insidental (aci panyabran) yang dimaksud adalah upacara yang dilaksanakan setiap bulan, enam bulan dan setiap tahun sekali. Persembahan yang dilaksanakan setiap bulan yang jatuh pada hari Soma Pon, Persembahan yang dilaksanakan setian enam bulan pada hari Sugiyan Bali, Galungan, Kuningan, dan persembahan yang dilaksanakan setahun sekali yaitu Ngusaba Nini di hari Purnama bulan kelima di Pura Muaya, Jimbaran.
Saat acara pamendakan Ida Bhatara dilakukan di jaba tengah

Sedangkan upacara rutin yang disebut piodalan alit dilaksanakan setiap enam bulan pada hari Soma Pon wuku Sinta, mulai tujuh hari sebelum puncak piodalan para pangempon pura sudah mulai mempersiapkan perlengkapan upakara, membersihkan semak belukar untuk tempat parkir kendaraan, mempersiapkan jajanan di dapur,busana pura diturunkan dari pasimpenan kemudian dibersihkan debu-debu yang melekat dalam busana dan ayahan lain untuk menunjang kelancaran piodalan. Jika piodalan gede masa persiapan dilakukan satu bulan sebelum puncak acara, piodalan gede dilakukan setelah dua tahun sekali.
Genah Semayangan, Jero Mangku sedang menghaturkan upakara
Sehari sebelum puncak piodalan simbul-simbul suci pralingga ida bhatara yang juga disebut Ampilan berjumlah tiga Ampilan berupa Gagak Ora, prerai Sanghyang Giripati, Dewi Sri akan diusung dari gedong parerepan yang letaknya di sebelah utara Banjar Menega, Jimbaran berjalan kaki lewat candi obag-abig Jalan Pemelisan Agung ke barat menyusuri pinggiran pantai menuju depan Pura Muaya lewat Jalan Bukit Permai kini Jalan Karang Mas Sejahtera menuju Jalan Sarin Bwana di tempatkan di bale panca resi.Esok hari Soma Pon Sinta di pagi hari tiga Ampilan dan runtutannya dibersihkan, di hias di bale panca resi di sucikan dengan persembahkan upakara prayascita, pejati,biyakaon, japit dan runutannya. Setelah selesai menghias pralingga ida bhatara lalu distanakan di Gedong Pajenengan kemudian perlengkapan lain rantasan,penyeneng, panastan, pengenteg ditempatkan di palinggih tajuk. Bila uapacara piodalan gede menghias ida bhatara dilakukan setelah pralingga ida sampai di pura, dihias dan disucikan kemudian esok hari lagi disucikan oleh pemangku pura,dan seluruh Ampilan di usung ke jaba tengah depan bale panggung dihaturkan upakara pamendakan oleh pemangku Pura Sarin Bwana serta jero mangku desa.Makna dari upacara ini menyambut kedatangan ida bhatara dan seluruh simbul suci yang berkaitan, untuk berkenan duduk di payogan yang telah disediakan di utama mandala. Setelah ampilan distanakan di gedong pajenengan dilanjutkan dengan upakara pamendakan yang dilakukan oleh para penari laki perempuan dan beberapa penari membawa upakara yang nantinya dipersembahkan ke masing-masing tempat suci yang ada di Pura Dalem Sarin Bwana.
Persiapan Acara Padatengan depan Gedong Pajenengan, penutup piodalan
Upacara piodalan gede dan piodalan madya mapulagembal akan dipimpin oleh sulinggih sedangkan piodalan alit dijalankan oleh pemangku desa serta diiringi oleh pemangku Pura Dalem Sarin Bwana. Hampir berjalan bersamaan begitu ida sulinggih mulai memakai busana para sekaa santi sudah melantunkan kidung suci,penabuh gambelan menyuarakan lagu pembukaan yang biasa ditabuh, penari masih menari lemah gemulai menarikan pamendakan berlanjut kaitan ke piodalan, suara kulkul bertalu-talu, tabuh rah juga tidak ketinggalan dilaksanakan di jeroan pura sebanyak tiga saet serta acara yang ada berkaitan dengan piodalan.

Para sutri dan tukang banten membantu ida sulinggih menjalankan eteh-eteh upakara piodalan, ngayab upakara dilanjutkan dengan persembahyangan bersama dan upacara selesai dipimpin oleh ida sulinggih sekitar pukul satu siang. Acara berhenti sejenak menunggu waktu berlalu sambil duduk di area dagang dadakan yang menjajakan dagangannya di jaba sisi. Jika palawatan Dewa Ayu matangi sekitar pukul empat sore sudah hadir di pura diikuti kerauhan para pepatih dan melakukan prosesi yang biasa dilaksanakan yaitu masolah alit di jaba tengah.

Sekitar pukul tujuh malam dilajutkan acara ilen-ilen desa yang dipimpin oleh pemangku desa dan pemangku pura yaitu dimulai persembahan upakara di genah pasamayangan, para sadeg dan pangemong pura ikut menyaksikan. Ciri khas upacara di genah semayangan ini yaitu para sutri menari mengitari tempat ini sebanyak tiga kali, yang digambarkan membawa persembahan untuk para leluhur yang beragama Budha dari seberang laut seperti lilin, uang kertas cina, jajanan, kelapa muda,buah-buahan tertentu, khas lain acara ini, suara gambelan yang dilagukan namanya madayung atau nendang bahasa lokal setempat. Setelah jero mangku mendoakan upakara lalu sebagian upakara dibakar seperti; uang kertas Cina, perahu-perahuan,dan beberapa upakara lain ditaruh di tanah sebelah utara genah semayangan Kadang kadang prosesi upacara di sini diikiuti oleh kerauhan seseorang dengan bahasa Cina.
“Ngayah Waduk Brerong” kata pepatih Ketut Sartika, di depan Arca Kuno
Setelah persembahan di genah semayangan selesai dilanjutkan sebagian pemangku menghaturkan persembahan upakara yang ada di bale panca resi yang ditujukan untuk ida bhatara di segara (laut) dan sebagian pemangku memnghaturkan upakara yang telah disediakan di bale pengaruman untuk ida bhatara yang bestana di pangalasan (hutan) dan setelah pemangku selesai mendoakan seluruh upakara akan di larung ke pantai dan untuk upakara yang di alas akan dibawa ke suatu tempat tidak jauh dari pura di samping pohon pole. Prosesi terakhir yaitu acara pedatengan dan pengeluaran yang dilakukan didepan gedong pajenengan yang diikuti oleh seluruh umat Hindu yang hadir. Dalam prosesi ini selalu diakhiri dengan tradisi kerauhan oleh puluhan sadeg dan pepatih, baik tua muda, laki prempuan yang memang raganya sebagai mediasi oleh Roh alam sekitarnya. Esok hari seluruh simbul suci ida bhatara dikembalikan ke tempat parerepan semula.


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More