Cover Buku Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing

Hasil Buruan 27 tahun,Untuk mengumpulkan data" Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing

Desa Adat Gamongan, Tiyingtali, Kecamatan Abang, Karangasem.

Foto Tahun 1992, bekas Pura Penataran Lempuyang

Pura Kuru Baya

Pura Kuru Baya terletak di barat Pura Gaduh, Blahbatuh. Pura ini tempat Ki Kbo Iwa mendapat wangsit bahaya akan terjadi firasat buruk yang akan menimpanya,Tapi karena satya wacana dan mengemban tugas raja beliau akhirnya berangkat juga, maka terjadilah kenyataan pirasat itu dan beliau menemui ajal di tanah Jawa.

Pura Kawitan Blahbatuh

Pura Kawitan Yang terletak di barat daya Kota Gianyar

Bale Panjang Kebo Iwa

Bale Panjang Kebo Iwa di Jaba Pura Puseh Beda Sudimara,Tabanan dikisahkan dalam Prasasti Maospahit bahwa bale ini dibuat untuk Kebo Iwa dimana dulunya sendi akhir berada jauh ke barat sekitar 300 meter

Simbol Penghulu Sri Karang Buncing

Simbol

Pak Made Lagi Jualan Buku

Pak made mempromosikan buku terbitan pertamanya

Pembuatan Tapel Kebo Iwa

Process pembuatan tapel Kebo Iwa berlokasi di gianyar oleh bapak Tjokorda

Jumat, 17 Januari 2020

SAMBUTAN KEPALA BALAI ARKEOLOGI DENPASAR

SAMBUTAN
KEPALA BALAI ARKEOLOGI DENPASAR



    Selaku Kepala Balai Arkeologi Denpasar wilayah kerja Bali, NTB, NTT dan secara pribadi, saya sangat mengapresiasi dan menyambut dengan baik usaha keras yang dilakukan oleh I Made Bawa sehingga terwujud Purana Pura Sarin Buana. Berbagai sumber data seperti informasi lisan atau tradisi lisan atau sumbrr-sumber tertulis atau lontar, tatwa, babad, prakempa, prasasti tembaga Bali Kuno, jurnal dan buku-buku ilmiah berbagai hasil penelitian lainnya dipakai sebagai acuan. Lebih dari itu, berbagai ritual adat dan aktivitas keagamaan tidak lepas dari pengamatan I Made Bawa juga dipakai sebagai bahan untuk melengkapi dan memperkuat kajiannya.
    Di balik kebersahajannya berbekal kemampuan akademis yang mumpuni dan laku spiritualnya, I Made Bawa dengan cermat dan lugas meramu, mempersandingkan, dan mengolaha data sedemikian rupa. Ditunjang oleh pengalamannya, sehingga dalam karyanya tersaji secara apik informasi tentang Pura Sarin Buana dari berbagai aspek.Sepatutnya karya ini diapresiasi oleh berbagai pihak, karena merupakan wujud nyata dari upaya memperkuat karakter dan jatidiri.


                                                                                   Denpasar 24 April 2015
                                                                                   Kepala Balai Arkeologi Denpasar

                                                                                   
                                                                                   Drs. I Gusti Made Suarbhawa












                                                                                                        I Made Bawa     viiv

III SARIN BWANA MASA LALU DAN KINI

III SARIN BWANA MASA LALU DAN KINI

PEMBAHASAN MASA LALU

PETUNJUK LONTAR
Mengungkap tabir keberadaan Pura Dalem Sarin Bwana tidak lepas dengan kehidupan Sri Batu Putih (Dalem Putih) di Jimbaran saudara kandung Sri Batu Ireng (Dalem Badhahulu, Sri Astasura Ratna Bumi Banten) bukanlah pekerjaan mudah untuk mendeskripsikan ke permukaan, apalagi masa kejadian telah tujuh abad berlalu. Kita hanya bisa membangun opini dari data tertulis yang ditinggal oleh para pendahulu baik berupa prasasti, purana, piagem, prakempa dan babad.Di samping secara lisan disampaikan turun temurun oleh para tetua maupun lewat poto pada masa lalu.
Photo 1987, pagar Arca baru mulai dibangun bersamaan Gedong Pajenengan atap semen
Karena ranah sejarah adalah pakta di lapangan (bumi) sedangkan ranah agama di atas awang-awang/ langit. Jika lima data yang disebutkan di atas tidak sinkron dengan di lapangan tentu hasilnya jauh panggang dari api. Antara pegangan klompok pura dengan pegangan klompok warga harus saling menceritakan, misalnya, bila pegangan klompok warga tertentu menyebutkan leluhurnya membangun Pura “A” tetapi di purana Pura “A” tidak tercantum nama leluhurnya, berarti data itu mengambang, begitupun bila tercantum nama leluhurnya di purana Pura “A” tetapi tidak tercantum namanya di prasasti yang dikeluarkan oleh raja/ penguasa pada zamannya sama juga mengambang atau perlu di analisa kembali, yang kadang-kadang angka tahun sama tetapi berbeda nama sebab nama keluarga akan berganti bila dinobatkan menjadi raja sesuai gelar diberikan oleh kerajaan dalam Prasasti yang dikeluarkan pada zaman itu. Begitupun setelah hidup suci gelar yang diberikan oleh kerajaan akan berganti pula sesuai gelar yang diberikan guru nabe.

Beberapa sumber yang menjadi rujukan dalam penulisan awal sejarah Pura atau Desa di Bali yaitu, 1) Bersumber dari catatan tertulis berupa prasasti, purana, piagem,prakempa dan babad yang menjadi milik pura atau catatan tertulis yang terdapat di lain tempat yang menerangkan asal usul desa atau tempat suci itu dan seluruh data tersebut mempunyai nilai yang berbeda. 2) Berdasarkan Tri Hita Karana yaitu tentang tata letak tempat antara parahyangan, pawongan dan palemahan atau dengan perkataan lain batas antara kawasan suci (parhyangan, ulu desa), kawasan pemerintahan/ penduduk (pawongan) dan kawasan kuburan (palemahan). Penduduk yang tinggal paling dekat dengan Pura Desa biasanya mempunyai hubungan historis langsung. Pada zaman dahulu tempat tinggal para penguasa di sekitarnya berdiri Pura Desa, Pura Puseh, Sekolah, Banjar, Pasar, dan fasilitas umum lainnya. Hubungan manusia dengan manusia yaitu hubungan manusia dengan kelompok pekerjaan akan muncul Bale Banjar, sekaa dan kelompok pekerjaan lainnya. Hubungan manusia dengan palemahan (kuburan) akan kelihatan di sisi sebelah mana keluarganya di kuburkan apakah di luwan atau di teben, sang penguasa posisi kuburannya di tempakan di luwanan atau mempunyai tradisi khusus bila keluarganya meninggal. 3) Berdasarkan nama-nama palinggih yang ada di halaman utama pura misalnya,di halaman pura berdiri palinggih atas nama leluhurnya atau di pura ada nama pura pasimpangan pura lain. 4) Berdasarkan pemangku yang secara turun temurun mengabdi di pura itu, kemungkinan tanah pura berasal dari keluarganya, atau leluhurnya sebagai penguasa awal di tempat itu. 5) Berdasarkan ragam hias atau relief yang menjadi ornament pura dan tinggalan artefak lain. 6) Berdasarkan jumlah kepala keluarga (KK), jumlah KK dalam merajan gede paling banyak tentu mereka yang lebih dahulu berada di tempat itu. 7) Berdasarkan hubungan abstrak ke pura yang lebih tinggi kedudukkannya dalam nunas tirta jika ada upacara pujawali, atau yang menjadi sadeg desa berasal dari keluarga leluhur pendiri tempat itu,

Photo Arca terakhir, detik-detik ekskavasi oleh Balar dan BPCB Bali, (1/12/2014)
Salah satu petunjuk terdekat untuk mengungkap masa lalu kehidupan Sri Batu Putih (Dalem Putih) di Jimbaran adalah Lontar Piagem Dukuh Gamongan dan Prasasti Dalem Putih Jimbaran, disamping beberapa lontar lainnya yang tentu ada keterkaitan dengan jejak-jejak perjalanan kehidupan dari kedua tokoh tersebut. Kedua petunjuk lontar tersebut ditulis pada zaman yang berbeda. Piagem Dukuh Gamongan diperkirakan ditulis tahun 1600 Masehi setelah kekuasaan Dalem Baturenggong hal ini diketahui dari silsilah keturunan akhir dari Dukuh Gamongan tercatat tiga generasi di bawahnya bernama Dukuh Karang. Piagem Dukuh Gamongan 21a, disebutkan Gelar Dukuh Gamongan diberikan oleh Danghyang Bawurawuh (Danghyang Nirartta) sebagai bagawanta Raja Sri Kresna Kepakisan Baturenggong. Dukuh Gamongan adalah putra pertama Sri Pasung Giri dari Desa Gamongan, Karangasem, Sedangkan Prasasti Dalem Putih Jimbaran diperkirakan ditulis setelah kekuasaan Kerajaan Mengwi, ini diketahui dari pembagian tugas untuk mengabdi menjadi pemangku di tiga tempat suci yang ada di Jimbaran yaitu Pura Dukuh, Pura Ulun Swi dan Pura Dalem Kahyangan.

Ketiga tempat suci itu dibangun oleh putra Dalem Putih Jimbaran bernama Dalem Petak Jingga berpuri di Pura Dukuh sebelah timur laut Banjar Perarudan. Setelah masuknya para Arya Majapahit, atau kemungkinan Dalem Petak Jingga tidak mempunyai keturunan, akhirnya pakubon (Pura Dukuh) terbengkelai tidak terurus. Di Piagem Dukuh Gamongan tidak muncul nama Dalem Putih begitu pun sebaliknya nama Sri Batu Ireng dan Sarin Bwana tidak muncul dalam Prasasti Dalem Putih Jimbaran.

Dalam Purana Pura Luhur Pucak Kembar, Babad Batu Aji, Prasasti Dalem Putih Jimbaran, Purana Pura Natar Bolong, Babad Batu Kuub, Dalem Putih dan Dalem Ireng adalah saudara kembar laki-laki. Oleh karena Sri Batu Putih (Dalem Putih) yang lahir lebih dahulu maka disebut kakak kandung oleh Dalem Ireng dalam Piagem Dukuh Gamongan.

Arca-arca tinggalan Dalem Putih dan busana hitam putih saat acara piodalan
Rangkuman dari beberapa lontar tersebut di atas dapat digambarkan, pada zaman dahulu kehidupan keluarga kerajaan, setiap kelahiran kembar laki-laki selalu dipisah kehidupannya oleh orang tuanya, hanya salah satu dari mereka yang menetap di kerajaan sebagai pengganti kelak sang raja, itu pun setelah mendapat petunjuk dari rohaniawan kerajaan.

Apabila ada kelahiran kembar buncing yaitu kelahiran laki dan perempuan dalam satu kandungan maka setelah dewasa akan dinikahkan oleh kedua orang tuanya misalnya,Sri Masula-Masuli yang disebut juga Prabu Buncing, Sri Karang Buncing orang tua Sri Kebo Iwa dan adik Kebo Iwa juga kelahiran buncing setelah dewasa dinikahkan oleh orang tuanya, hal tersebut dipertegas dalam Lontar Batur Kelawasan hanya keluarga raja yang boleh menikahkan putranya yang kelahiran buncing, sedangkan masyarakat biasa dilarang menirukan seperti itu.

Kembali pada kehidupan Dalem Putih dan Dalem Ireng di masa remaja. Menurut tradisi kerajaan yang semestinya pengganti Sri Masula – Masuli adalah anak tertua yaitu Dalem Putih Jimbaran (Sri Batu Putih), entah pertimbangan apa yang mendasari orang tuanya untuk tidak menjadikan Dalem Putih sebagai raja. Juga tidak dijelaskan secara rinci dalam Piagem Dukuh Gamongan tentang keberadaanya sampai di Desa Jimbaran, apakah begitu masih bayi ia dibawa ke Jimbaran, siapa yang merawatnya, apa yang dilakukan sehari-hari dan pertanyaan lainnya. Setelah Sri Batu Ireng dinobatkan menjadi raja disebut Sri Astasura Ratna Bumi Banten sekitar tahun 1330 Masehi di Kerajaan Batahanar yang belakangan dalam babad disebut Kerajaan Bedaulu atau Raja Berkepala babi, Dalem Ireng baru mengetahui dirinya mempunyai saudara kandung yang hidup di Jimbaran disamping mereka sama-sama tidak mengetahui wajah masing-masing.

Dalem Putih mengetahui dirinya tidak dipilih menjadi raja, sedih hatinya lalu terlunta lunta menyusuri pinggir laut sendirian menuju arah baratdaya desa, menyusuri hutan lebat masuk wilayah Luhur Uluwatu menemukan gugusan pohon bambu petung yang luas, di mana salah satu batang bambu itu besar dan tinggi sekali, yang ujungnya tembus ke langit akhirnya bambu itu di paripurna dan ditebang, potongan bambu yang atas melesat ke sorga sedangkan batang bawahnya muncul seorang anak perempuan. Karena tidak ada Ibu lalu sang bayi disusui oleh seekor kijang yang kelak dijadikan istri oleh Dalem Putih. Kemudian peristiwa itu dijadikan bhisama oleh Dalem Putih untuk sanak saudara agar tidak makan daging kijang dan memakai bambu sebagai alas tempat tidur. Dari larangan tersebut dapat digambarkan bahwa masa itu hewan kijang dan bambu dilindungi. Yang menjadi pertanyaan mungkinkah sebatang bambu ditebang lahir seorang wanita, mungkinkah kijang menyusui manusia dan kenapa tidak Dalem Putih yang merawatnya, apakah tidak kelamaan Dalem Putih menanti sang bayi sampai dewasa untuk dijadikan istri, ini contoh sebuah babad yang mengandung makna tertentu di balik kata-kata babad itu.

Setelah jabang bayi tumbuh dewasa dan dijadikan istri oleh Dalem Putih, mereka membangun sebuah taman atau perkebunan yang penuh dengan berbagai tanaman pala bungkah pala gantung dan tumbuhan lain sambil melakoni hidup suci menjalankan tapa, brata, yoga, semadi yang membuat betah hati Sang Dalem tinggal di mal (Penulis: dalam bahasa jimbaran kamel artinya pondok yang letak jauh dari pemukiman penduduk, tertutup oleh rimbunan pepohonan subur yang membuat betah siapa pun yang datang ke sana).

Pada suatu hari sang istri lama menunggu kedatangan suami dari kebun yang telah menyediakan makanan lezat, sampai matahari sorong ke barat Sang Dalem belum juga datang. Tak diduga datang seorang lelaki berbadan gede kekar, kulit hitam, rambut acak-acakan bagaikan raksasa, tanpa permisi langsung masuk dapur membuka hidangan yang telah disiapkan untuk Dalem Putih. Dan tamu yang baru datang menanyakan sang kakak Sri Batu Putih. Lalu sang istri menjawab Dalem Putih berada di Mal. Tanpa berkata sepatah pun Dalem Ireng pergi menuju Mal, sampai di sana dan memeriksa kebun sekitarnya ia terkagum-kagum dengan tempat itu, semua tumbuhan hidup dengan subur dan masari.Akhirnya tempat di mana Dalem Putih berkebun sambil melakukan pemujaan terhadap Hyang Pramawisesa oleh Dalem Ireng dinamakan Sarining Bwana, apan saking irika meletik ikang Sarin Bwana. (Penulis, Sarin Bwana artinya hadir Roh alam karena kekuatan tapa Dalem Putih, di lapangan setiap pujawali di Pura Dalem Sarin Bwana selalu terjadi phenomena kerauhan yang mengatasnamakan isi dunia, seperti, ngayah batu kitik,pangpang mal, ngayah leak barak, gregek tunggek, blego, penyu, pancung segara,I pekak dan sebagainya atau kemungkinan lain, Sarin Bwana artinya sebagai pusatkekuatan Roh alam).

Photo 1984, Gedong Pajenengan beratap alang-alang, tiang empat asal rehab tahun 1964

Lanjut cerita, karena tidak ketemu dengan kakaknya di Mal sudah pasti jalan yang dilalui berbeda, tidak lama Dalem Ireng pergi dari Puri, kemudian datang Dalem Putih dan kedapatan sang istri menagis lalu ditanya sebabnya, sambil sesenggukan Istri Dalem Putih menceritakan tingkah polah sang tamu yang baru saja pergi menuju Mal, akhirnya Dalem Putih sangat marah langsung mengambil senjata dan balik ke kebun. Sampai di kebun kedapatan Dalem Ireng yang lagi terkagum-kagum dengan tempat sekitarnya. Karena saling tidak mengenal mereka berdua, tanpa basa basi Dalem Putih langsung menyerang Dalem Ireng, akhirnya terjadi perkelahian sangat hebatnya mulai dari Sarin Buana menuju Batu Mabing, Batu Maguwung, Sekang, Muaya, Kali, Tambak, Unggan-unggan dan terakhir sampai di Gaing Mas, lalu mereka kepayahan dan tidak ada yang cedera sedikit pun. Sambil memijit-mijit kaki dan nafas ngos-ngosan Dalem Putih bertanya kepada sang tamu, “Hai kamu siapa, dari mana dan apa tujuan kamu datang ke sini, kenapa kamu tidak cedera sedikitpun” lalu dijawab oleh Dalem Ireng, Aku Sri Batu Ireng berasal dari Badhahulu, datang ke sini mau bertemu dengan kakak ku Sri Batu Putih, setelah berkata demikian, “Aku Sri Batu Putih” sahut Dalem Putih langsung memeluk Dalem Ireng karena saking bahagianya juga disambut gembira oleh rakyat Jimbaran. Kegembiraan itu sampai di depan pasar Jimbaran, berujar mereka berdua, semoga kelak disini dibangun pura yang namanya Ulun Swi, sebagai tonggak pertemuan sanak saudara. (Penulis: Ulun Swi disini apakah Ulun artinya sebutan ‘aku’ untuk sesama keluarga raja,karena mereka berdua baru menyadari bersaudara atau ‘saya’ untuk menyebutkan diri sendiri bagi orang biasa atau Ulun artinya Tuhan, dan Swi artinya bertemu, jadi tempat Tuhan bertemu hambanya).

Photo 1984, Kondisi Palinggih Papelik, Bale Panca Resi dan Pohon Kepah di kiri
Setelah perkelahian berakhir, Dalem Ireng diajak ke Puri sambil menikmati hidangan yang tadinya telah disediakan oleh sang Istri Dalem Putih. Tidak berapa lama Dalem Ireng mohon pamit kembali ke istana Badhahulu (Batahanar) dan setelah itu Dalem Putih pun hidup bahagia sambil menunggu kehamilan istrinya yang telah menginjak kelahiran anak pertamannya. Setelah umur kandungan, lahir seorang putra diberi nama Dalem Petak Jingga. Tidak disebutkan aktivitas yang dilakukan oleh Dalem Petak Jingga hingga ia menginjak dewasa.

Dalam Prasasti Dalem Putih Jimbaran disebutkan, dalem putih jimbaran lunga maring jawa bumi solo artinya Dalem Putih Jimbaran keluar jagat Jimbaran sendiri bukan ia pergi ke Solo Jawa, karena Kerajaan Solo keberadaannya sekitar tahun 1650 Masehi sedangkan keberadaan Dalem Putih tahun 1325 Masehi, jadi jeda waktu 200 tahun lebih sebelum kerajaan Solo berdiri. Diperkirakan setelah Dalem Petak Jingga membangun tiga pura, lalu Dalem Putih keluar jagat Jimbaran sendiri untuk melakukan perjalanan suci menuju arah Utara, sampai di Selatan Kuta, rakyat Jimbaran prasida ngiring Dalem Putih yang sekarang disebut Pura Sada. Dari Kuta Dalem Putih menuju arah utara sampai di Seminyak beliau meminyaki kakinya karena pegel, terus berlanjut ke utara menuju Batu Belig, Batu Bolong, terakhir di Pucak Kembar di sana beliau mencapai moksah.

Uraian tersebut di atas bahwa Dalem Petak Jingga membangun tiga pura tersebut sebelum ayahnya melakukan perjalanan suci mencapai moksah. Karena tidak ditemukan data yang jelas tentang pembangunan tiga pura yang dibangun oleh Dalem Petak Jingga, apakah dibangun sebelum meninggalnya Dalem Putih atau dibangun setelah moksahnya Dalem Putih untuk mengenang leluhurnya. Lalu siapakah keturunan Dalem Petak Jingga? Apakah Dalem Petak Jingga tidak punya keturunan atau gugur dalam pertempuran diserang oleh para Arya Majapahit bersama prajuritnya?
Photo 1987, Batang Pohon Kepah dan tembok Pura masih dari tumpukan Batu Bukit
Dalam pamancangah yang ada di Bali, setelah wafatnya Mahapatih Kebo Iwa yang kena pangindra jala (perangkap) oleh Mahapatih Gajah Mada, akhirnya pada tahun 1343 para Arya Majapahit menyerang pulau Bali, yang pada saat itu dijaga oleh para patih kerajaan Bhadahulu (Batahanar) antara lain, Ki Pasung Grigis di Tengkulak,Si Gudug Basur di Batur, Si Kala Gemet di Tangkas, Si Girimana di Ularan, Si Tunjung Tutur di Tenganan, Si Tunjung Biru di Tianyar, Ki Tambyak di Jimbaran, Ki Bwahan di Batur, Ki Kopang di Seraya, Ki Walung Singkal di Taro, Ki Agung Pemacekan sebagai Demung

Penyerangan terbagi menjadi tiga arah yang dibawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada menuju wilayah Bali Timur dibantu oleh para Patih dan para Arya lainnya mendarat di Tianyar. Arya Damar dan Arya Sentong, Arya Kutawaringin mendarat di Bali Utara. Dan Arya Kenceng, Arya Belog, Arya Pangalasan, Arya Kanuruhan, mendarat di pantai Bali Selatan dan menuju ke Kuta. Tidak diungkapkan dahsyatnya pertempuran pada ketiga wilayah tesebut. Pertanyaan penulis yang belum dapat jawaban secara faktual adalah apabila penyerangan Bali oleh para Arya Majapahit secara besar-besaran membawa ribuan pasukan kemudian Bali kalah, lalu sisa prajurit yang masih hidup dan menetap di Bali masuk soroh (klen) apakah mereka, di manakah Pura Kawitannya? Dalam pertempuran tentu ada prajurit Majapahit yang tewas lalu di manakah kuburan massalnya atau monument sebagai lambang untuk mengenang jasa jasa mereka?

Analisa penulis, penyerangan Bali oleh Majapahit bukan melalui pertempuran secara besar-besaran, dari kekuasaan Dalem Sagening sampai Dalem Baturenggong masyarakat Bali masih waspada dan menungu komando dari Ki Pasung Giri yang menjadi andalan Bali setelah wafatnya Kebo Iwa di Jawa. Para Arya Majapahit mempunyai upaya mempengaruhi rakyat Bali dengan mendekati Ki Pasung Giri dan berhasil, terjadi kesepakatan untuk mengangkat adiknya yang kedua bernama Sri Giri Ularan (Gusti Ularan) menjadi mahapatih Agung di kerajaan Dalem Baturenggong. Pengangkatan putra Sri Rigis dari Desa Gamongan ini untuk meredam kemarahan masyarakat Bali, paska transisi pemerintahan Bali ke Jawa.

Para Arya Majapahit melakukan pendekatan kepada tetua lokal Bali melalui utusan yang telah direkrut untuk disampaikan ke desa-desa yang disebut Pasek yang artinya paek, parek (orang biasa) yaitu masyarakat Bali yang dekat dengan penguasa, dalam Buku Custodians of the Sacred Mountains (Thomas Reuter, 2005 : 268) penyunting Drs. I Nyoman Dharma Putra disebutkan Pasek ada dua faksi yaitu Pasek yang loyal terhadap Kerajaan Gelgel dan Pasek yang loyal dengan Bali Mula. Pasek yang masih loyal dengan Bali Mula yang berpusat di Blahbatuh (Pura Gaduh). Pemujaan Kawitan semestinya nama leluhur (nama orang) yang pernah hidup pada zamannya dan mempunyai jasa untuk dikenang masa kini. Bendesa, Penyarikan, Kubayan, Pande, Dukuh, Juru Alas, Senapati dan lainnya adalah nama kelompok pekerjaan/ tugas yang diemban, bukan nama orang (kawitan).

Dengan pengangkatan tetua lokal menjadikan mereka sebagai penguasa di wilayah masing-masing, diangkat sebagai bendesa untuk desanya masing-masing, Kemudian wilayah Jimbaran setelah wafatnya Ki Tambyak seperti yang tertulis dalam Piagem Dukuh Gamongan halaman 17b -18a, diceritakan treh Sri Karang Buncing, di zaman pemerintahan Sri Kresna Kepakisan Baturenggong, menganugrahkan kepada Bandesa Karang Buncing Kuta, sebagai pucuk pimpinan mewilayahi sampai di Jimbaran, serta Bandesa Silabumi, Bandesa Seraya, Bandesa Sege, Bandesa Garbawana, Bandesa Ujung, Bandesa Tumbu, Bandesa Bugbug, Bandesa Asak, Bandesa Timrah, Bandesa Prasi, Bandesa Subagan, juga Bandesa Sibetan, memang keturunan Karang Buncing,merupakan wakil dari Kerajaan Batahanar (Badhahulu).
Pembangunan baru Gedong Pajenengan beratap semen dimulai tanggal 13 Juli 1987




Kamis, 09 Januari 2020

TRANSKRIPSI DAN TERJEMAHAN II

II
TRANSKRIPSI

DAN TERJEMAHAN


Om awighnam astu namo siddham. Om pranamya sira sang widyàm, bhukti
mukti hitartam, parawaksya tattwa wijñéyah, barmmàdhi patayé swaram, sira
grané tittyawakyam, brahmàresi mahàdhi dwìjam gnijayam puspitam wìryam,
bràhmana kula wangsajam. Om karanyah puspanam, nama siddhi dìrghayusa,
papayé nama swàhà, wìrasthàna patayé nama siddham, Iti puràna Pura Dalem
Sàrin Bhwana rinipta risapamadeganira, mùrdhaning jagat Badung Anak Agung
Gdé Agung mwang pinlaspas olih Jro Mangku Pura Sarin Bhwana, kinawruhan
déning Bandéúa Adat Jimbaran,


Om Awighnam Astu Namo Siddham. Om, Pranamya sira sang widyam, Bhukti
mukti hitartam, Parawaksye tattwa widnyeyah, Barmmadhi pataye swaram, sira
grane tittyawakyam, Brahmaresi mahadhi dwijam, Gnijayam puspitam wiryyam,
Brahmanakula wangsajam. Om karanyah Puspanam, nama sidhidirghayusa, Papaye
namaswaha, wirastana pataye nama sidham. Purana Pura Sarin Bwana ini ditulis di
jaman Pemerintahan Bupati Badung Anak Agung Gde Agung, upacara pamelaspas oleh

Jero Mangku Pura Dalem Sarin Bwana dan disaksikan oleh Bendesa Adat Jimbaran,



mwang Kelihan Pangamong Pura nitya pratisténg ùrddha siwadwàra sembahen
tar kabeteng tulah pamidhi, mogha langgeng ing acala. Maka pùrwwaning
tattwa, iti pwa mangké wuwusen maka pangañjur ikang katha, unukàla ring
asitkàla, duk nora hana bhùmi ring Bali, sira Sang Hyang Gururéka màyàsakti,
wuwusan angréka bhùmi ring Bali, anurunaken hyang-hyang bhwana
kabéh, Hyang Gnijaya maka huluning bhwana, alingga bhaþàra ring gunung
Lempuyang, duk guminé kumaléñcok, amùrti Hyang Gnijaya mijil kang sùrya
pipitu, amulatana bhùmi, angréka Hyang Gnijaya, tumurun Hyang Wisnu,
alingga bhaþàra ring gunung Mangu, tumurun Hyang Tumuwuh alingga bhatàra
ring gunung Batukaru, tumurun Bhaþàra Hyang Tugu alingga bhatàra ring
gunung Andàkàsa. Añatur kumentel ikang bhùmi, malih goyang ikang bhùmi,
mulati Bhatàra Mahàdéwa, amunggel ikang gunung Mahàméru binakta maring
Bali, tumurun Bhatàra Mahàdéwa alingga bhatàra ring gunung Agung,


dan Kelian Pangemong Pura, nitya pratisteng urdha siwadwara sembahen tar kabeteng
tulah pamidhi, amogha langgeng ing acala. Sebagai permulaan cerita, sekarang
dipaparkan pada awal cerita, dahulu kala, ketika belum ada bumi Bali, setelah
selesai beliau Sanghyang Guru Reka Mayasakti, mencipta bumi Bali, menurunkan
para Dewa di Bali, sebagai jungjungan seluruh jagat, Hyang Gnijaya bagaikan
pusat bumi, di saat bumi bergoncang, muncullah diri Hyang Gnijaya mengeluarkan
tujuh matahari, asal mula bumi, mencipta Hyang Gnijaya, turunlah Bhatara Wisnu,
bersemayam di gunung Mangu, turun Hyang Tumuwuh bersemayam di gunung
Batukaru, turun Bhatara Hyang Tugu, bersemayam Bhatara di gunung Andakasa.
Empat arah seimbang bumi, lagi bergoyang bumi ini pergi Bhatara Mahadewa,
memotong Gunung Mahameru dibawa ke Bali, turunlah Bhatara Mahadewa
bersemayam beliau di gunung Agung,




tumurun Hyang Pasupati alingga bhatàra ring Tulukbyu, tumurun Bhatàra Déwi
Dhanuh alingga bhatàra ring gunung Batur, nrus pañcer ikang gunung, rawuh
ring sapta pàtàla, añapta ikang ukir, amuter ikang jagat, arûa Bhaþàra ring Bali
nora hana janma miwah sadaging bhùmi, arsa Bhatàra sami sagunung saptané
ring Bali, ayoga Bhatàra Wisnu awijil hana paksi buron, ayoga Bhatàra Hyang
Watukaru, awijil walang, mina, sadaginging bhùmi, ayoga Bhatàra Hyang Tugu
amijilaken bhùta, kala, dengen, miwah satengeting bhùmi, ayoga Bhatàra Hyang
Gnijaya, amijilaken janma mànusa, wijil toya, ayoga Bhatàra Déwi Dhanuh,
amijilaken sato suku pat, ayoga Bhatàra Hyang Pasupati, amijilaken sato suku
rwa, ayoga Bhatàra Hyang Mahàdéwa, amijilaken bàyu, sabdha, idhep, sahika
kramaning mànusa, kumangkang kumingking, karéka déning bhatàra sami
sadaginging bhùmi, samangkana pawijilan añapta ikang ukir ring Bali dwìpa.


turun Bhatara Hyang Pasupati bersemayam beliau di gunung Tulukbyu, turun Bhatara
Dewi Danuh bersemayam di gunung Batur, lantas itu gunung, sampai ditujuh lapisan
alam bawah tanah, menyatu itu gunung, yang mengatur jagat ini, berkehendak beliau,
belum ada manusia dan isi bumi, berkehendak seluruh Bhatara dari tujuh gunung yang
ada di Bali, beryoga Bhatara Wisnu melahirkan burung binatang lain, beryoga Bhatara
Hyang Watukaru melahirkan walang, ikan, dan seisi bumi, beryoga Bhatara Hyang
Tugu melahirkan makhluk halus serta tempat-tempat angker di bumi ini, beryoga
Bhatara Hyang Gnijaya, tercipta manusia dan air, beryoga Bhatara Dewi Danuh
melahirkan binatang berkaki empat, beryoga Bhatara Hyang Pasupati melahirkan
binatang berkaki dua, beryoga Bhatara Hyang Mahadewa mencipta, suara, tenaga,
pikiran, termasuk juga hasil karya manusia, binatang kecil-kecil, yang diwujudkan
oleh semua Bhatara beserta seisi dunia, demikian cerita munculnya tujuh gunung
di Pulau Bali.                               (lontar Aji Murti Siwa Sanana ning Bwana Rwa)






































PENDAHULUAN 1

I
PENDAHULUAN


LATAR BELAKANG DAN MASALAH

LATAR BELAKANG

Wilayah Desa Adat Jimbaran terdapat beberapa buah pura umum yang merupakan sungsungan umat Hindu jagat Jimbaran seperti; Pura Dalem Sarin Bwana, Pura Batu Maguwung, Pura Muaya, Pura Gaing Mas, Pura Ulun Swi dan beberapa pura lainnya.Pura Dalem Sarin Bwana terletak di Desa Adat Jimbaran, Kuta selatan, Kabupaten Badung, sekitar empat kilometer arah selatan dari perempatan pasar atau depan Pura Ulun Swi, menuju dusun kali, pinggir pantai, depan Pura Muaya, melewati dusun sekhang, dusun batu maguwung, jembatan batu mabing, belok kiri dibawah pohon asem, dan beberapa pepohonan lain sekitarnya.

Pura berdiri di atas perbukitan batu kapur, diketinggian sekitar 80 meter di atas permukaan laut. Secara administratif Pura Dalem Sarin Bwana berada di dusun Lalang Jajang, berbatasan sebelah timur dusun Simpangan, sebelah selatan dusun Gubug, barat berbatasan dusun Pande, sebelah utara Batu Mabing.

Tinggalan arkeologi yang terdapat di pura ini berupa Arca perwujudan dewi berbahan batu tufa breksi (lahar kering) yang jumlahnya puluhan, satu miniatur tri lingga (Brahmabhaga, Wisnubhaga, Siwabhaga), dua patahan batu besar bila keduanya disambung menyerupai bentuk badan manusia berdiri tegak, bertangan empat, ulu (kepala) belum di ketahui, apakah perwujudan kepala manusia menyeramkan atau yang lain. Masyarakat sekitar mengatakan bahwa Arca ini digambarkan sebagai dewa siwa bhairawa dan beberapa pragmen kecil lainnya. Di belakang punggung Arca terdapat stela (parba) yang semuanya sudah aus. Tinggalan arkeologi ini sangat penting karena ditemukan hanya satu-satunya untuk wilayah Kecamatan Kuta Selatan, yang selama ini miskin dengan temuan-temuan Arca dari masa klasik dan diduga kuat memiliki makna bagi perkembangan budaya Hindu di Desa Adat Jimbaran dan Bali pada umumnya.

Arca-arca peninggalan Sri Batu Putih (Dalem Putih Jimbaran) kakak kandung Sri Batu Ireng (Sri Astasura Ratna Bumi Banten) ini sangat disucikan, di mana sebelumya terserak di tanah sekitar pura. Para pendahulu menemukan Arca tersebut dalam kurun waktu berbeda dan dikumpulkan di satu pondasi terbuka tanpa atap, sehingga sangat 2 Purana Pura Dalem Sarin Bwana riskan dari terjangan patahan pepohonan, hujan, terik matahari dan tangan iseng.Karena tempat tinggal pangempon jauh dari pura sehingga rumput dan tumbuhan menjalar hidup dengan bebas di atasnya.

Tetua pangamong pura tidak berani melakukan tindakan ekskavasi lalu dibuatkan gedong linggih agar Arca terhindar dari hujan dan terik matahari. Mereka takut terjadi kejadian yang tidak diingini setelah melakukan penggalian. Disamping alasan lain,bahwa arca-arca tersebut mentik bertumbuh sendirinya dari dalam tanah. Jika arca itu dicabut asumsi mereka kekuatan gaib dari arca itu akan sirna. Pernah tentara Jepang membawa pulang salah satu Arca ke tangsi (barak tentara), tempat tinggal mereka letaknya tidak jauh dari pura. Setelah berhasil mengambil Arca tersebut pada sore hari ia kesurupan. Oleh warga desa sekitar diminta untuk mengembalikan arca tersebut ke tempat semula, di samping kisah mistis lain yang ada hubungannya dengan pura baik secara pribadi tidak disebutkan di sini.

Ekskavasi dilakukan untuk mengetahui bilamana ada sisa tinggalan lain yang masih tertimbun dibawahnya yang ada keterkaitan dengan Arca tersebut. Di samping untuk mengetahui keadaan sosial masyarakatnya, agama yang berkembang pada masa itu dan beberapa aspek lain yang tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat. Yang menjadi pertanyaan, apakah pada zaman dahulu Arca ini sebagai pusat pemujaan,siapakah yang di-dewa-kan atau Arca-arca ini hanya sebagai ragam hiasan belaka oleh pemiliknya? Jika ya, dimanakah bangunan utamanya, paling tidak ada bekas tinggalan pondasi atau ornament lain penyertanya. Atau ada kabut mistis dibalik arca-arca ini sehingga warga riskan melanggar pantangan di atas.

Mendengar berbagai kisah di luar batas pikiran itu, tentu bertambah pula keyakinan tetua warga untuk tidak menggusur sedikit pun arca-arca tersebut, walaupun pembangunan fisik palinggih yang lain sudah dilakukan. Pemugaran fisik pura pernah dilakukan beberapa periode, sedangkan Arca kuno masih terserak di tanah,hanya yang diperbaiki tembok pembatas mengelilingi arca-arca tersebut. Padahal keberadaan peninggalan Arca ini lebih awal dari pada bangunan lain yang semestinya tempat suci Arca kuno ini lebih awal dibangun.

Apabila umat hendak menghaturkan upakara karena letak Arca di bawah, sejajar dengan mata kaki, maka sikap badan mesti membungkuk seakan-akan ida bhatara berada di bawah level manusia. Dalam hal ini tentu tidak elok batas kaki manusia,upakara dan Arca sejajar, sangat nista dipandang oleh mata. Coba tengok sekarang ini sebelum dibangun palinggih Arca (baru dibangun) yaitu bale banten dengan pralingga (arca) ida bhatara Dalem Putih, jimbaran dua kali lipat lebih tinggi dari arca. Analog ini bisa dikatakan didalam perjamuan tamu agung yang sedang disuguhi makanan, di mana letak suguhan jauh dari jangkauan tangan sang tamu. Sehingga sang tamu tidak melihat suguhan apa yang dipersembahkan di atas kepala mereka, Pada umumnya posisi pralingga ida bhatara lebih tinggi dari bale banten sehingga sang tamu melihat dengan jelas suguhan apa yang di haturkan dan mana yang dikehendaki.

Setelah pemugaran terakhir fisik pura rampung, pada tanggal 21 Juli 2005 diadakan upacara mamungkah tawur gentuh agung, melaspas, padudusan agung dan ngenteg linggih dihadiri oleh para Pemangku Kahyangan Desa Jimbaran dan undangan lainnya. Setiap pujawali di Pura Dalem Sarin Bwana selalu terjadi tradisi kerauhan atau kemasukan roh alam lain melalui para sadeg dan pepatih, sebagai media komunikasi antara manusia, alam dan kekuatan tertinggi yang bersemayam di Pura Dalem Sarin Bwana. Baik mengatasnamakan roh dewa, roh resi, roh manusia, roh pitra dan bhuta. Didalam acara yang disebut pedatengan yang biasa dilakukan pada malam hari, adalah prosesi penutup dalam acara piodalan dan kerauhan pun muncul,akhirnya terjadi dialog antara pemangku dengan para sadeg yang mewakili kelompok dewa dan pepatih mewakili kelompok bhuta.

Pada kesempatan yang baik itu, Jero Mangku Gede Pura Dalem Sarin Bwana INyoman Bagia menanyakan tentang parahyangan yang telah dibangun, apakah diterima atau belum, juga tidak ketinggalan menanyakan tentang Arca-arca yang ada, apakah boleh dibangun palinggih baru agar Arca terhindar dari hujan dan terik matahari. “Nah…To ya, Ida Bhatara nak tan dados nunas, napi ja katur, Arca nika pinaka pratiwimba Ida Bhatara sane malinggih iriki” sahut sang sadeg dalam bahasa Bali lumrah.

Bertitik tolak dari bahasa kerauhan para tetua pada malam mamungkah itu, sehingga pangemong dan pangempon pura berancang-ancang membangun palinggih baru untuk Arca, disamping ada ide dari warga agar merancang purana Pura Dalem Sarin Bwana sesuai himbauan pemerintah di dalam dharmawacana, agar setiap pura memiliki purana atau dokumen pura yang berisi asal usul keberadaan pura, dewa yang berstana pada masing palinggih, upakara yang dipersembahkan dan catatan lain yang berkaitan dengan pura sebagai pedoman bagi pangemong dan pangempon Pura Dalem Sarin Bwana.

Menyongsong hari pujawali pada tanggal 4 Mei 2015 kelian pengamong pura telah mengajukan surat permohonan ke Balai Arkeologi (Balar) Denpasar dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Gianyar, Wilayah Kerja Bali, NTB, NTT untuk meneliti, inventarisasi, konservasi dan petunjuk lainnya terhadap tinggalan Arca kuno yang ada di Pura Dalem Sarin Bwana.

MASALAH

Tidak ditemukannya data primer berupa prasasti yang menjadi pedoman langsung pangamong pura untuk menjelaskan keberadaan Arca-arca yang ada di Pura Dalem Sarin Bwana. Hanya peninggalan berupa Arca yang jumlahnya puluhan tanpa angkatahun yang pasti tertera di dalamnya. Data skunder berupa salinan lontar Piagem Dukuh Gamongan, milik Ida Pedanda Gede Jelantik Sugata dari Griya Tegeh Budakeling, Karangasem yang dialih aksara oleh Drs. I Wayan Gede Bargawa menyebutkan tentang keberadaan Pura Dalem Sarin Bwana bekas pertapaan Sri Batu Putih yang belakangan disebut Dalem Putih Jimbaran.adalah kakak kandung dari Sri Batu Ireng setelah dinobatkan menjadi raja disebut Sri Astasura Ratna Bumi Banten (Dalem Ireng, Sri Gajah Waktra, Dalem Bedaulu, Sri Tapo Hulung). Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang diungkap di sini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana eksistensi Arca kuno di Pura Dalem Sarin Bwana?
2. Apakah fungsi Arca kuno yang ada di Pura Dalem Sarin Bwana bagi warga Hindu di Desa Adat Jimbaran?
3. Apakah makna teologi yang terkandung pada Arca itu bagi warga Desa Adat Jimbaran dan sekitarnya?

TUJUAN DAN MANFAAT 

TUJUAN UMUM

Adapun tujuan umum penulisan purana ini adalah sebagai berikut:
• Untuk memberikan sumbangan pemikiran serta memperkaya khasanah ilmu pengetahuan khususnya dalam perpustakaan sehingga akan dapat membantu para pangempon pura dan masyarakat sekitarnya.
• Memberikan gambaran atas berbagai aspek yang dilatarbelakangi bahwa setiap artefak merupakan hasil aktivitas kegiatan manusia. 

TUJUAN KHUSUS

Adapun tujuan khusus penulisan purana ini adalah sebagai berikut:
• Mengetahui eksistensi Arca-arca kuno di Pura Dalem Sarin Bwana.
• Mengetahui fungsi Arca-arca kuno bagi warga Hindu di Desa Jimbaran.
• Untuk mengetahui makna teologi yang terkandung pada Arca di Pura Dalem Sarin Bwana.

MANFAAT PENULISAN PURANA

Manfaat penulisan ini dapat dibagi menjadi dua yaitu manfaat teoritis dan praktis.Secara teoritis hasil penulisan ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan menambah bahan pustaka perseorangan dalam mengenang jejak-jejak kehidupan Sri Batu Putih (Dalem Putih Jimbaran) dan perkembangan pembangunan Pura Dalem Sarin Bwana. Disamping diharapkan bermanfaat memperluas khazanah ilmu pengetahuan tentang cagar budaya menyangkut bentuk-bentuk cagar budaya yang merepresentasikan kearifan lokal, jenis-jenis kearifan lokal yang tercermin dalam cagar budaya. Selain itu berusaha untuk mengungkap berbagai aspek seperti aspek relegi, aspek ruang, waktu dan fungsi dari Arca tersebut.


Sedangkan manfaat praktis peninggalan Arca-arca di Pura Dalem Sarin Bwana adalah untuk mengetahui bentuk Arca/ palinggih dan nama dewa yang distanakan pada masing-masing palinggih dan keterkaitan dengan masyarakat Desa Jimbaran akan dapat diuraikan sejarah berdirinya dan perkembangan Pura Dalem Sarin Bwana.Disamping manfaat dari penulisan ini dapat dijadikan sumber informasi untuk lebih mengenal, memahami, dan menghayati eksistensi Arca yang telah masuk Cagar Budaya wilayah Kabupaten Badung dalam buku Cagar Budaya Bali (Tim, 2011 : 27).

PUSTAKA, KONSEP, TEORI

KAJIAN PUSTAKA

Kajian Pustaka merupakan penampilan argumentasi penalaran keilmuan yang memaparkan hasil kajian pustaka dan hasil pikiran peneliti mengenai suatu masalah atau topik kajian yang memuat beberapa gagasan yang berkaitan, yang harus didukung oleh data yang diperoleh dari sumber pustaka.

Beberapa referensi yang dapat dijadikan pegangan untuk memperkuat penulisan awal purana ini adalah berupa salinan prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Bali Kuno yang telah di alih aksara oleh para akhli sastra atau pemerintah yang berwenang,maupun oleh perseorangan. Beberapa rujukan salinan purana yang distanakan dan disucikan pada pura-pura kahyangan jagat di Bali. Beberapa salinan babad yang digubah oleh perseorangan untuk mengenang kisah yang disampaikan secara lisan lalu ditulis dan dijadikan pedoman warga. Di samping referensi didapat dari piagem adalah suatu catatan resmi yang dibuat oleh para pendahulu yang dijadikan pegangan oleh kelompok warga (klen). Maupun laporan penelitian dari para sejarawan tentang perkembangan budaya dan agama Hindu di Bali. Adapun pustaka primer yang menjadi rujukan dari Pura Dalem Sarin Bwana untuk dijadikan sebagai pedoman oleh pangemong dan pengenpon pura sama sekali nihil, hanya tinggalan artefak berupa arca batu perwujudan dewi-dewi, lingga, dan beberapa pragmen kecil-kecil yang ditinggalkan oleh Dalem Putih Jimbaran. Jadi yang dipakai rujukan dalam penulisan purana ini adalah sebagai berikut:

• Lontar Piagem Dukuh Gamongan halaman 14a dijelaskan…tan pasamadana sira Sri Batu Ireng, neher jumujug maring Mal, ri sampun sira nureksakna punang Mal, angob sira tumon punang tatanduran, asing tinandur sarwa mupu, mwang masari, ika matangnyan, ri genah nira Sri Batu Putih ngastiti Hyang Pramawisesa, ingaranan Sarining Bwana, apan sakeng irika pangastitinira meletik ikang Sarin Bwana, mangkana ujar ira Sri Batu Ireng ..

• Prasasti Dalem Putih Jimbaran dijelaskan, tucapa mangke sira Dalem Putih Jimbaran, garjita sira ring pakubon kunang stri nira meteng wus liwar ring wolu lakwaning prataya mijil pwa ikang rare jalu paripurna ingaranan sira Dalem Petak Jingga mwah wuwus ta sira Dalem Petak Jingga, apan sira kaping singgih dening wang Jimbaran sira angwangun paryangan setanan bhatara meru tumpang welas ingaranan ta ya Ulun Swi, hana pwa sentanan nira anglurah Tegeh Kori samawita ring Dalem Petak Jingga sira ta amangkui malinggih Bhatara ring Ulun Swi mwah ta Dalem Petak Jingga angwangun ta sira Kahyangan Pangulun Setra, hana ta Santana nira I Gusti Anglurah Celuk ring Tabanan sira ta sumawita ring Dalem Petak Jingga sira ta kinon nira mangku ring palungguh nira ring bhatara ring kahyangan pangulun setra, mwah ta sira Dalem Petak Jingga angwangun sentana Bhatara Meru Tumpang 3 saha paibon ingaranan pwa ya Pura Dukuh,hana ta ya Pasek Saking Samba kasiasih aninggali pradesa nia angungsi desa Jimbaran sumawita maring Dalem Petak Jingga sira ta kinon nira Mangku I palinggihan nira bhtara ring Pura Dukuh . .

• Purana Pura Luhur Pucak Kembar disalin dan diterjemahkan oleh I Ketut Sudarsana tentang jejak-jejak perjalanan Dalem Putih dan Dalem Ireng menjadi nama Desa yang ada di Bali seperti; Batuhyang, Batuaji,Batubulan, Uluwatu, Batu Bolong, Batu Belig, Batu Tulung, Batubidak dan beberapa nama desa yang berisi kata Batu yang diberikan oleh masyarakat untuk mengenang jejak perjalanan Sri Batu Putih dan Sri Batu Ireng.

• Dalam Buku Kebo Iwa oleh Bawa (2013 : 254) berisi Silsilah Leluhur Sri Batu Putih (Dalem Putih) berasal dari keturunan Raja-raja Bali kuno dengan orang tua bernama Sri Masula-Masuli menjadi raja tahun 1324M,di atasnya Sri Taruna Jaya (Sri Jayasunu) menjadi raja tahun 1316M, di atasnya Sri Dewa Lancana menjadi raja Bali tahun 1204, di atasnya Sri Maha Sidhimantradewa menjadi pertapa di Gamongan, Lempuyang Karangasem,di atasnya Sri Jaya Sakti (Sri Gnijaya Sakti) menjadi raja Bali tahun 1133M di atasnya Sri Aji Hungsu menjadi raja Bali tahun 1049M, di atasnya Sri Udayana menjadi raja tahun 989M dan seterusnya.

• Bawa dalam Skripsi IHDN Denpasar 2009 berjudul Filosofis Pementasan Tari Barong dan Rangda di Pura Dalem Sarin Bwana, Desa Adat Jimbaran,Kuta Selatan, Badung (2009 : 78) apabila pelawatan Dewa Ayu Barong dan Rangda di Desa Adat Jimbaran matangi maka setiap pujawali di Pura Dalem Sarin Bwana dewa ayu akan masolah alit di halaman tengah (jaba tengah) pura. Fenomena kerauhan selalu terjadi oleh puluhan orang baik laki maupun prempuan, tua muda, tidak pandang bulu apakah berbadan kekar, kurus, bertatto, orang terpelajar maupun tidak, tradisi kerauhan tetap terjadi, tidak bisa mengelak dari kekuatan Roh alam sekitar. Orang-orang yang kerauhan di depan arca-arca ini selalu menyebut diri ngayah waduk brerong (Barong) dengan kata lain isi dunia yang menyeramkan.

• Bawa dalam Tesis IHDN Denpasar 2014 berjudul Simbol Arca Pangulu di Pura Puseh, Desa Pakraman Blahbatuh, Gianyar (2014 : 4) adalah bekas pertapaan Sri Jaya Katong dikala menjadi Rajapatih (Raja Muda) Kerajaan Batahanar disebut Kebo Parud (C1206/1284M) dan setelah hidup suci disebut Sri Jaya Katong dan Sri Jaya Katong adalah kakek kandung Sri Kebo Iwa yang diilustrasikan penganut Siwa Bhairawa.dengan ciri-ciri roman muka menyeramkan, mata terbuka lebar, gigi taring menyembul dari mulut, tengkorak manusia tergantung di telinga, kepercayaannya mempergunakan magik, mistis dan selalu berbentuk menakutkan. Dalam Purana Pura Pucak Padang Dawa tersebutlah Kebo Iwa yang disebut juga Bhatara Gede Sakti Ngawa Rat penganut Budha Bhairawa dengan mengubah wujudnya menjadi barong dari asal kata Bhairawa.

• Dalam buku Teologi dan Simbol-simbol Dalam Agama Hindu oleh Titib (2001 : 72) disebutkan, simbol-simbol pada umumnya berfungsi sebagai sarana untuk memuja kebesaran atau keagungan-Nya. Simbol-simbol tersebut dapat juga berfungsi untuk memantapkan sradha (keimanan) dan bhakti (ketaqwaan) umat kepada-Nya. Bentuk arca, pratima atau simbolsimbol ketuhanan dalam agama Hindu, tidak terlepas dengan konsepsi penggambaran Tuhan Yang Maha Esa menurut kitab suci Veda dan susastra Hindu lainnya, Para Maha Rsi Hindu zaman dahulu bersifat konsisten melakoni kehidupan wanaprasta, yaitu menjalani kehidupan dengan melepaskan keterikatan pemuasan jasmani dalam proses pencaharian jati diri terhadap Tuhan. Sehingga hasil perenungan para resi zaman dahulu, diwujud-nyatakan ke dalam bentuk seni dan di aplikasikan sifat dan fungsi Tuhan dalam bentuk; arca, gambar, pratima, upakara, bahasa, tari wali.Yang mempunyai nilai estetis, nilai simbolis, dan nilai spiritual. Seperti apa yang telah diwariskan oleh para leluhur terdahulu, misalnya; sifat dan fungsi Tuhan sebagai pembasmi kejahatan tampak tangan arca disimbolkan membawa kapak, fungsi Tuhan sebagai asal ilmu pengetahuan tampak tangan arca disimbolkan membawa lontar, sifat Tuhan sebagai penyejuk tampak tangan arca membawa sibuh (tempat tirta), serta diwujudkan dan digambarkan dengan banyak tangan sesuai fungsi dan kebesaran-Nya.Demikian pula simbol-simbol yang terdapat dalam upakara bebantenan misalnya; daksina lambang stana Ida Hyang Widhi/Tuhan. Sedangkan banten guru piduka adalah mengandung nilai permohonan maaf umatnya.Banten porosan yang terdiri dari pinang yang berwarna merah simbol Dewa Brahma, daun sirih yang berwarna hijau simbol Dewa Wisnu, dan kapur yang berwarna putih simbol Dewa Siwa.

KONSEP

Konsep merupakan suatu pengertian yang harus terlebih dahulu dipahami di dalam suatu penulisan. Landasan konsep adalah teori baku yang digunakan sebagai landasan dasar di dalam menjawab semua permasalahan yang diajukan. Sehubungan dengan uraian tersebut diatas, landasan konsep yang dimaksud dalam penulisan ini sebenarnya adalah pustaka untuk memecahkan masalah penulisan. Penulis mencari pengertian-pengertian atau konsep-konsep yang relevan dengan variabel-veriabel yang menjadi topik penulisan ini, sehingga diperoleh pemahaman yang konprehensif terhadap permasalahan yang dikemukakan berturut-turut yaitu tentang: (1) Purana (2) Pura (3) Dalem (4) Sarin Bwana.

PURANA

Di Bali terdapat 6 (enam) data skunder yang menjadi acuan dalam penulisan sejarah pura atau tempat yaitu prasasti, purana, piagem prakempa, babad dan kajian akademik, masing-masing mempunyai nilai tersendiri. 1) Prasasti adalah aturan resmi pemerintahan yang dikeluarkan oleh raja pada zamannya sendiri dan tertulis strukturisasi pemerintahanya, nama tetua desa, isi prasasti tentang pajak, perluasan desa, batas-batas desa, perabasan hutan menjadi tempat tinggal atau menjadi tempat suci. Teks prasasti jarang menjelaskan tentang asal usul keturunan para raja itu.Prasasti umumnya ditulis di atas tembaga, batu, perunggu, tahan ribuan tahun sangat disucikan dan distanakan di pura. 2) Purana, isinya menceritakan kejadian yang telah lewat tentang kisah para raja serta keturunannya dan dikaitkan dengan mitos para dewa yang berstana di gunung sekitarnya. Umumnya dalam purana kelihatan nama keluarga dan nama abhiseka setelah menjadi raja yang diberikan oleh kerajaan. Begitu pun nama raja akan ditinggal setelah hidup suci. Purana ditulis di atas daun lontar menjadi pedoman untuk kelanjutan dari pangemong dan pangempon pura itu. Dalam purana tercatat nama leluhur warga yang merintis keberadaan sejarah pura. Purana pun disimpan di pura. 3) Piagem adalah pegangan dari kelompok warga (klen) yang isinya menceritakan kisah leluhur mereka terdahulu dan berkaitan dengan keberadaan purana dan prasasti dari pura tertentu. 4) Prakempa, adalah pegangan dari klompok warga (klen) yang isinya menceritakan sekelumit jejak leluhur mereka yang hanya ada di desa setempat. 5) Babad adalah cerita yang didengar, dari mulut ke mulut, bisa bersumber dari nak kerauhan (trance) atau hasil perenungan seseorang lalu ditulis dan dikait-kaitkan dengan nama tertentu, tanpa sumber sejarah yang jelas, menjadi milik pribadi. Babad ditulis belakangan menceritakan kisah ratusan bahkan ribuan tahun berlalu yang biasanya mengandung arti kiasan dibalik penulisan. 6) Hasil deskripsi seseorang dalam persyaratan memperoleh gelar kesarjanaan di perguruan tinggi.Ironisnya jika para akademisi memakai acuan babad dalam penulisan suatu karya ilmiah lalu dijadikan pedoman oleh umat kebanyakan maka hasilnya bertentangan dengan apa yang tercantum dalam prasasti dan purana.

Walaupun mempunyai data awal berupa piagem, prakempa, babad sebagai pedoman kelompok warga tetapi tidak tercantum kisah leluhurnya dalam purana dan prasasti yang ada di pura, maka isi naskah itu diragukan kebenarannya alias mengambang. Begitupun sebaliknya bila prasasti tembaga dan prasasti batu yang dikeluarkan olehraja pada zamannya, dan menjadi pedoman pura tetapi tidak tertulis namanya dalam purana dan piagem maka teks itu perlu dianalisis keberadaannya. Dan yang terakhir bila mempunyai purana sebagai data awal keberadaan sejarah pura dan mengisahkan nama-nama raja dan turunannya, tetapi tidak muncul namanya dalam prasasti yang dikeluarkan sebagaimana raja-raja yang lain, serta tidak tercantum nama leluhur warga dalam purana, mengakibatkan kebingungan dalam menguraikan tinggalan naskah itu. Dengan demikian naskah satu dengan naskah yang lain mesti sinkron antara teks prasasti dan purana milik pura tertentu dengan piagem, prakempa, babad pedoman suatu kelompok warga. Bila tidak terdapat saling keterkaitan dan berdiri sendiri atau saling tumpang tindih isi naskah satu dengan naskah lain maka dapat menimbulkan pembelokan sejarah, disamping menjadi acuan munculnya palinggih atau pura baru.

Menurut Matsya Purana bab 53 ayat 65 setiap Purana unsur sargah, pratisarga,wamsa, wamsanucarita, manvantara, adalah sangat jelas. Sargah adalah penciptaan,dalam konteks ini bukan hanya penciptaan dunia ini, namun juga cikal bakal berdirinya pura tersebut. Pratisarga akan menuntun kita pada kelanjutan pura ini setelah ada, sebagai kahyangan apa. Setelah itu diikuti Wamsa dari garis keturunan siapa dan pendeta siapa yang menjadi pemrakarsa. Kemudian Wamsanucarita, kelak pura ini dipuja oleh keturunan siapa atau garis keturunan yang mana. Yang terakhir adalah Manvantara atau periode waktu, siapa yang di puja serta upakara dan hari piodalan pura tersebut.

PURA

Istilah Pura muncul belakangan setelah kekuasaan Dalem Waturenggong dari Kerajaan Gelgel, di mana sebelumnya tempat suci pada awal sejarah Bali disebut satra, padmak, katyagan, panglumbyagan, sala, sma, vihara, kaklungan, salunglung yang kemungkinan satra menjadi Setra atau tempat suci kuburan, padmak menjadi Padma, katyagan menjadi Kahyangan, Sma artinya Semadi, Karangasem asal kata Karang Sma (tempat semadi), Salunglung menjadi sanggah selumbung, vihara tempat suci umat Budha, sala patung kecil yang menjadi objek sesembahan.

Beberapa Prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Bali kuno tertulis supata atau dipasupati dihadapan Hyang Danawa (Dewa Danau), Hyang Gunung (Dewa Gunung), Hyang Api (Dewa Api), Hyang Tegeh (Pura Penulisan) dan Hyang-hyang lainnya. Ini artinya awal sejarah Bali belum muncul bentuk palinggih dan nama pura, begitu pun nama dewa yang berstana seperti sekarang ini. Di Bali di mana kaki dipijak di sana ada dewa, bila penduduk yang berada di pinggir danau misalnya, umat Hindu akan membuat asagan (bale upakara sementara) di pinggir danau dan seluruh sembah, puja 10 Purana Pura Dalem Sarin Bwana puji dan haturan langsung ditujukan ke Air Danau, karena danau itu adalah linggih atau wujud Hyang Danawa (Dewa Danau), jadi tidak perlu dibuatkan tempat suci lagi. Begitu pun yang tinggal di pinggir laut akan memuja langsung ke air laut sebagai perwujudan Hyang Segara (Dewa Laut) dan yang tinggal di gunung membuat bale upakara ke arah gunung sebagai stana Hyang Gunung (Dewa Gunung), begitu pun yang tinggal di Desa ada Pura Desa yang dipuja Hyang Kemulan Desa di tegalan, sawah dan lainnya. Setelah masuknya para Arya Majapahit dibangun bentuk tempat suci dan nama dewa sebagai lambang penyatuan Bali dan Majapahit yaitu adanya palinggih Gunung Agung, Gunung Lebah, Uluwatu dan lainnya adalah konsep teologi Bali dan palinggih maospahit, palinggih menjang sluwang, parerepan, palinggih prasanak dan sebagainya yang di analogikan seperti kehidupan manusia. 

DALEM

Begitu pun istilah Dalem muncul belakangan setelah kekuasaan Raja Dalem Waturenggong, dalam hal ini kata Dalem artinya Raja atau keluarga raja, misalnya,Dalem Sagening, Dalem Bedaulu, Dalem Selem, Dalem Putih, Dalem Ketut Ngulesir,Dalem Klungkung dan sebagainya. Juga Dalem artinya Ida Bhatara misalnya Dalem Kahyangan, Dalem Puseh, Dalem Desa dan sebagainya. terakhir kata Dalem artinya tak terjangkau (achintya) artinya Hyang Widhi/ Tuhan sesuai alih aksara dan terjemahan lontar Gong Besi, oleh Dinas kebudayaan Propinsi Bali, mengatakan secara ringkas persembahan bakti yang utama, tidak lain kehadapan Bhatara Dalem.Beliulah yang seharusnya dipuja, namun harus engkau ketahui nama lain Bhatara Dalem, Ketika beliau berstana di Pura Puseh, Sanghyang Tri Yodadasa Sakti nama beliau, pergi dari puseh berstana di Pura Desa, Sanghyang Tri Upasedhana nama beliau, pergi beliau dari desa dan berstana di Bale Agung, Sanghyang Bhagawati nama beliau, pergi dari bale agung, berstana di perepatan jalan, Sanghyang Catur Bhuwana nama beliau, pergi beliau dari perepatan jalan, berstana beliau di pertigaan jalan, menjadilah beliau Sanghyang Sapuh Jagat, pergi beliau dari pertigaan, berstana beliau dikuburan, menjadilah beliau Bhatara Durga, dan seterusnya. 

SARIN BWANA

Nama Sarin Bwana diberikan oleh Sri Batu Ireng (Dalem Ireng) di tempat beliau Sri Batu Putih ngastiti Hyang Pramawisesa, bernama Sarining Bwana, karena dari tempat beliau memohon muncul Sarin Bwana (isi dunia), begitu ujar beliau Sri Batu Ireng (Lontar Piagem Dukuh Gamongan).

TEORI

Karya penulisan akan lebih sempurna apabila disertai landasan teori. Landasan teori merupakan pijakan atau dasar teori yang dipakai didalam membedah masalah penelitian dan sekaligus sebagai tuntunan untuk menyelesaikan masalah. Sehingga akan didapat suatu rumusan hipotesis atau pernyataan yang dikaji. Soekanto (2003 : 27) berpendapat bahwa teori adalah hubungan antara dua fakta atau lebih, atau pengaturan fakta menurut cara-cara tertentu. Fakta tersebut merupakan sesuatu yang dapat diamati dan pada umumnya dapat diuji secara empiris. Oleh karena itu, dalam bentuk yang paling sederhana, suatu teori merupakan hubungan antara dua variabel atau lebih, yang telah diuji kebenaranya. Jika teori diartikan sebagai hubungan kausal,logis dan sistematais antara dua atau lebih konsep, maka teori tiada lain merupakan penjelasan suatu gejala-gejala konsep atau variabel. Dari uraian tentang teori tersebut diatas, sudah jelas bahwa teori sangat berguna untuk membantu memecahkan segala permasalahan dalam penelitian ini. Adapun teori yang dipakai dalam penelitian ini diantaranya.

TEORI SIMBOL

Teori simbol merupakan suatu hal atau keadaan yang merupakan pengantaran dan pemahaman terhadap objek. Simbol acapkali memiliki makna yang mendalam yaitu suatu konsep yang paling bernilai dalam kehidupan masyarakat. Kata simbol berasal dari bahasa Greek, sum-balloo yang mengandung arti saya bersatu bersamanya,penyatuan bersama, (Titib, 2001: 63). Simbol adalah penyatuan dua hal menjadi satu. Teori simbol ini dipergunakan untuk membahas simbol-simbol untuk memaknai dalam penulisan laporan penelitian ini. Menurut Eliade (Pals, 2001 : 84) bahwa simbol berakar pada perinsip-perinsip kesurupan, atau analogi. Hal-hal tertentu memiliki kwalitas, bentuk, karakter yang serupa dengan sesuatu yang lain. Dalam bidang pengalaman agama, beberapa hal dilihat serupa atau mengesankan yang sakral hal-hal itu memberi petunjuk pada supra natural.

TEORI MAKNA

Makna adalah suatu teori yang paling bernilai dalam kehidupan bermasyarakat. Ff Mudji Sutrisno (tt : 50) memaparkan tentang makna yaitu sebuah kata atau maksud yang terkandung dalam suatu hal. Dalam kehidupan sehari-hari dalam aktifitas kehidupan manusia terkandung sebuah makna begitu juga dalam pelaksanaan aktivitas keagamaan yang diwujudkan dalam pelaksanaan yadnya memakai sarana upacara dan setiap upacara tersebut memilki makna masing-masing sesuai dengan fungsinya. Teori ini untuk menganalisis naskah-naskah Bali Kuno yang ditinggalkan oleh pemerintahan masa lalu.




                                                                                                        I Made Bawa

PRAKATA PENULIS

PRAKATA PENULIS

Barhisadah pitara uty arvag
ima vo havya cakrma jusadhvam,
ta a gata avasa samtamena
atha nah sam yor aravo dadhata
Rgveda X. 15. 4.

[Wahai para leluhur yang duduk bertebaran,
datanglah kemari dengan (membawa) pertolongan,
upacara (tulisan) ini kami persembahkan untuk anda,
semoga anda berbahagia,
Datanglah dengan pertolongan bermanfaat,
karuniailah kami kesehatan,
rahmat dan bebaskan dari keperihan.]

Om Swastyastu,
    Puji syukur dipanjatkan ke hadapan Hyang Widhi serta Ida Bhatara - Bhatari yang berstana di Pura Dalem Sarin Bwana, roh suci para leluhur yang telah memberikan tuntunan dan kerahayuan kepada kami sekeluarga sehingga naskah buku ini berhasil dirampungkan.
    Penulis hanyalah seorang pamupul mengumpulkan naskah yang ditinggalkan para pendahulu, baik berupa salinan prasasti, purana, piagem, prakempa, babad yang telah di alih aksara dan diterjemahkan oleh Pura setempat, Kantor Kebudayaan Bali, Museum, Balai Arkeologi, Griya, Perpustakaan, di rumah penekun sastra atau dari tetua warga, bahkan kliping koran pun kami kumpulkan. Setelah terkumpul seluruh salinan teks itu dan dirunut menurut angka tahun dan nama raja yang berkuasa akan kelihatan nama samar,beda nama tetapi orangnya satu. Dalam purana nama raja masih memakai nama keluarga sedangkan dalam prasasti akan berganti nama sesuai gelar yang diberikan oleh kerajaan.
    Buku ini tidak akan terwujud tanpa dukungan dari berbagai pihak, terutama terimakasih dihaturkan kepada Bapak Drs. I Wayan Gede Bargawa, dari Banjar Gelulung,Sukawati, Gianyar. Beliau telah susah payah, mencari, menggali, mengalih aksara dan menterjemahkan naskah kuno Piagem Dukuh Gamongan, lontar milik Griya Tegeh Budakeling, Karangasem. Dalam lontar ini tercatat dengan jelas jejak-jejak perjalanan hidup Sri Batu Putih yang ada di Jimbaran saudara kandung dengan Sri Batu Ireng setelah menjadi raja disebut Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Purana Pura Puseh Gaduh, lontar
milik Pura Puseh, Desa Adat Blahbatuh, Lontar Aji Murti Siwasana, milik Desa Adat Gamongan, Karangasem dan beberapa lontar lainnya.
    Suksma dahat, petugas Balai Arkeologi (Balar) Denpasar dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Gianyar, Wilayah Kerja Bali, NTB, NTT telah menginventarisasi dan konservasi peninggalan arca – arca di Pura Dalem Sarin Bwana.
    Terimakasih kepada Kadis Kelautan Badung I Made Badra, Bapak Camat Kuta Selatan, Bapak Lurah Jimbaran, Kelian Desa Adat Jimbaran dan staf telah membantu dalam kelancaran penulisan buku ini.
    Juga penulis mengucapkan terimakasih kepada Jero Mangku Made Suatjana, pengalihaksara Purana, juga pangempon Pura Dalem Sarin Bwana, semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan, tidak henti-hentinya memberikan semangat dan bantuan materi lainnya demi kelancaran buku ini.Tentu, naskah ini tidaklah sempurna sebab penulis tidak menyaksikan peristiwa sejarah masa lampau dan sangat kontradiktif dengan kenyataan yang ada dilapangan.Tergantung penulis hendak menguraikan kisah kehidupan dari sisi yang mana, apakah kisah kehidupan pendahulu hendak didongengkan, disucikan, dibudayakan, atau dipolitisir, tentunya membawa dampak bagi generasi tentang sejarah Bali. Penulis dengan senang hati menerima segala bentuk kritik demi perbaikan buku ini, yang tentunya kritik tersebut diwujudkan dalam bentuk buku, sehingga menambah wawasan ilmu pengetahuan.
    Akhir kata, penulis mohon maaf atas keterbatas yang dimiliki dalam menguraikan sejarah perjalanan Dalem Putih (Sri Batu Putih) yang ada di Jimbaran, semoga amal baik semua pihak dalam membantu kelancaran naskah buku ini mendapatkan sinar suci-Nya. Semoga buku ini ada manfaatnya.

    Terimakasih kepada Kadis Kelautan Badung I Made Badra, Bapak Camat Kuta Selatan, Bapak Lurah Jimbaran, Kelian Desa Adat Jimbaran dan staf telah membantu dalam kelancaran penulisan buku ini.
    Juga penulis mengucapkan terimakasih kepada Jero Mangku Made Suatjana,pengalihaksara Purana, juga pangempon Pura Dalem Sarin Bwana, semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan, tidak henti-hentinya memberikan semangat dan bantuan materi lainnya demi kelancaran buku ini.
    Tentu, naskah ini tidaklah sempurna sebab penulis tidak menyaksikan peristiwa sejarah masa lampau dan sangat kontradiktif dengan kenyataan yang ada dilapangan. Tergantung penulis hendak menguraikan kisah kehidupan dari sisi yang mana, apakah kisah kehidupan pendahulu hendak didongengkan, disucikan, dibudayakan, atau dipolitisir, tentunya membawa dampak bagi generasi tentang sejarah Bali. Penulis dengan senang hati menerima segala bentuk kritik demi perbaikan buku ini, yang tentunya kritik tersebut diwujudkan dalam bentuk buku, sehingga menambah wawasan ilmu pengetahuan.
    Akhir kata, penulis mohon maaf atas keterbatas yang dimiliki dalam menguraikan sejarah perjalanan Dalem Putih (Sri Batu Putih) yang ada di Jimbaran, semoga amal baik semua pihak dalam membantu kelancaran naskah buku ini mendapatkan sinar suci-Nya. Semoga buku ini ada manfaatnya.


Om Shanti Shanti Shanti Om

                                                                                                Jimbaran, 24 April 2015
                                                                                                                    Made Bawa

VV Purana Pura Dalem Sarin Bwana

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More