Cover Buku Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing

Hasil Buruan 27 tahun,Untuk mengumpulkan data" Kebo Iwa dan Sri Karang Buncing

Poto Pak Made Masih Remaja

Poto tahun 1990, Bersama penglingsir Warga Sri Karang Buncing Jero Wayan Gede Oka (3 dari kiri) di depan "SUMUR UPAS" (dalam gubug), sumur diperkirakan dibuat oleh Ki Kebo Iwa oleh penduduk setempat disebut Kebo Suwo Yuwo.

Desa Adat Gamongan, Tiyingtali, Kecamatan Abang, Karangasem.

Foto Tahun 1992, bekas Pura Penataran Lempuyang

Pura Kuru Baya

Pura Kuru Baya terletak di barat Pura Gaduh, Blahbatuh. Pura ini tempat Ki Kbo Iwa mendapat wangsit bahaya, bahwasanya akan terjadi firasat buruk yang akan menimpanya. Tapi karena satya wacana dan mengemban tugas raja beliau akhirnya berangkat juga, maka terjadilah kenyataan pirasat itu dan beliau menemui ajal di tanah Jawa.

Pura Kawitan Blahbatuh

Pura Kawitan Yang terletak di barat daya Kota Gianyar

Bale Panjang Kebo Iwa

Bale Panjang Kebo Iwa di Jaba Pura Puseh Beda, Sudimara, Tabanan ,, dikisahkan dalam Prasasti Maospahit, bahwa bale ini dibuat untuk Kebo Iwa ,,, dimana dulunya sendi akhir berada jauh ke barat sekitar 300 meter ,,,

Simbol Penghulu Sri Karang Buncing

Simbol

Pak Made Lagi Jualan Buku

Pak made mempromosikan buku terbitan pertamanya

Pembuatan Tapel Kebo Iwa

Process pembuatan tapel Kebo Iwa berlokasi di gianyar oleh bapak Tjokorda

Rabu, 23 Mei 2012

Kebo Iwa di Campuhan Sumita, Desa Sumita, Gianyar

Jero Dasaran Wayan Sunarya bersama keluarga mengadakan perjalanan 'Napak Tilas' tinggalan lelangit Ida Bhatara Ratu Gde Kebo Iwa, di Campuhan Sumita. Tinggalan ini terletak di dua dinding tebing, dibatasi sungai yg airnya cukup deras, tebing sisi barat berada di wilayah Desa Cemadik dan tinggalan sisi tebing timur berada wilayah Desa Sumita. Tebing sisi barat terdapat ceruk yg dikatakan oleh masyarakat sekitar merupakan tempat tidur beserta bantal Kebo Iwa yg terbuat dari batu andesit serupa batu cadas yang ada di Pura Gunung Kawi, Tampaksiring. Telapak kaki berada di bantal dalam ceruk tempat tidur tebing sebelah barat ,, Sedangkan sisi tebing timur terdapat 'Prasada stana Dewi Gangga" berada wilayah Desa Sumita. Untuk menelusuri tinggalan seblahnya mesti menyebrangi sungai yg airnya cukup deras ,, tinggalan ini sangat tersembunyi, bisa lewat desa Cemadik dan Desa Sumita, Gianyar (Kdk Novi)














Kebo Iwa di Pr, Penataran Agung, Bukian, Pelaga, Badung

Foto diambil dari Bale Pemaksan menghadap Timur menuju Kori Tirta Pingit di belakangnya,,




Pintu masuk ke Tirta Mumbul terletak di "jaba tengah" sisi timur pura, terdapat beberapa pancuran tempat keluarnya tirta tsb. Setelah masuk kori, ada parit kecil di depannya, tempat mengalirnya air untuk mengairi sawah yg ada di beberapa desa sekitarnya yaitu, desa pelaga, nungnung, bukian ,, dlll

Candi Bentar Pura Penataran Agung, Bukian




Foto diambil dari jaba tengah pura menghadap selatan Kori Agung ,,

Poto diambil dari kori agung menghadap utara ,,


Dane Jero Kubayan sedang mendoakan maksud kedatangan pemedek Jero Dasaran dan Keluarga ke Pura ,,


Tetua Pura Penataran, Jero Dasaran Wyn, Sunarya dan Jero Kubayan pura ,,

Pura Penataran Agung diambil dari utara, jalan menuju pura ,,

Jeroan pura terdapat Gedong Meru tumpang 7 (tujuh) dan beberapa palinggih di sekitarnya ,,

Tirta mumbul terletak di Pura Penataran Agung, Bukian, Pelaga, di "mong" oleh empat desa adat yang ada di wilayah Perbekelan Pelaga. Menurut tetua pura Bapak Sudana yang diceritakan secara turun temurun oleh orang tuanya merupakan bekas "tapak tangan kebo iwa" (pen, dibangun oleh Kebo Iwa) dan secara pasti tidak diketahui sejarah keberadaan pura. Begitu-pun catatan tertulis yang ditinggalkan untuk dijadikan pedoman oleh masyarakat setempat. Pura berada dibawah perbukitan dengan pohon perindang disekitarnya ditambah dinginnya udara Desa Bukian sangat cocok untuk melakukan perenungan batin.

Tirta Pingit yang keluar dari dalam tanah dgn debit lumayan besar kalau dilihat dari sisi luar, air keliatan melimpah karena beberapa pancoran tertutup oleh rerumputan. Ini kali ke dua penulis datang ke pura ini sama juga tidak diijinkan masuk kedalam. Kira2 sepuluh tahun yang lalu penulis "pedek tangkil" sama sekali pancoran tidak tampak karena tertutup dgn padang gajah yg besar dan tinggi, hanya sungai kecil depan pancoran akan kelihatan air mengalir hasil buangan "tirta mumbul" itu.

Jero Kubayan yg mewakili jero mangku lingsir pura penataran, sang penandak panika, tetua pura penataran, jero dasaran wyn, sunarya dan cucu, jero mangku pura banjar sesetan (poto:kiri-kanan)


Detik2 ngaluhur jero dasaran disangga oleh sang anak Kadek Novi ,,

Dane Jero Kubayan dan tetua pura sedang minta petunjuk ttg keberadaan kahyangan ini ,, diceritakan tatkala Kebo Iwa dapat petunjuk Batara Siwa untuk mengadakan perjalanan menuju Den Bukit (utara bukit, singaraja??), beliau sempat mampir ketempat ini. Tirta ini memang dari Sorga stana Sanghyang Saraswati yang berfungsi sebagai pengelukatan ,,

Detik-detik jero dasaran kerauhan lelangit Kebo Iwa ,,, " kadyang kenapa kita, ulap-ulap lampah nira ,,,

Senin, 14 Mei 2012

Glosarium

Glosarium

Abhiseka : Julukan, sebutan.

Aditya : Matahari.

Agni : Api.

Akasa : Ether, gas, langit.

Animisme : Suatu keyakinan segala sesuatu berjiwa.

Apah : Air.

Arca : Patung simbol Tuhan ukuran lebih besar dari Pratima.

Arya : Gelar ksatria Jawa.

Asagan : Balai bambu seadanya, tempat upakara dan simbol suci Tuhan.

Atma : Roh, jiwa, spirit.

Babad : Sorga, cerita rakyat, prasasti kelas 4 dalam sejarah

Bale Kambang : Tempat persidangan zaman kerajaan Kelungkung

Baleran : Sebelah utara.

Bali-Aga : Aga = gunung, orang Bali yang hidup di pegunungan.

Bali-Mula : Orang Bali yang hidup sebelum masuknya agama Hindu.

Banjar (Br.) : Organisasi tradisional.

Barong Kadingkling : Barong berupa wayang orang

Barong Ket : Gabungan dari Barong Macan, Singa dan Sapi

Barong Landung : Barong berupa sepasang manusia tinggi besar berwujud nenek putih dan satu lagi manusia hitam  berwajah seram.

Barong Memedi : Berupa manusia rambut merah, badan dari daun  pisang tua (Bali: keraras).

Batahanyar : Tempat baru, istana baru.

Batu selebingkah : Pecahan gerabah

Bendesa : Kepala desa adat di Bali.

Bhadahulu : Pusat pemerintahan Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten.

Bhairawa : Menyeramkan, dahsyat, sadis, sekte yang mengajarkan tentang Tantra.

Bhatara : Roh suci para leluhur.

Black magic : Ilmu Hitam.

Brahmana : Kaum ulama

Buta Mracu : Raksasa neraka yang bertugas menghukum roh orang-orang yang berbuat dosa.

Caksu : Pengawas, mandor zaman Bali-Kuno.

Camput : Tak ada penerus.

Catur warna : Empat kelompok tugas.

Ceglongan : Palung kecil di pantai atau di rawa-rawa.

Chandra : Bulan.

Dadu : Merah muda.

Daksina : Selatan.

Dalem Petak : Sebutan niskala untuk Sri Batu Putih, Dalem Putih,Dalem Sweta, kakak kandung Sri Batu Ireng.

Dang Acarya : Pendeta Siwa zaman dahulu.

Dang Upadyaya : Pendeta Buddha zaman dahulu.

Dewa : Tuhan dalam agama Hindu, sinar suci Tuhan.

Dewa Pitara : Sebutan roh manusia setelah dilakukan upacara atma wedana (mamukur).

Dhiksita : Calon Pendeta.

Diurip : Dihidupkan.

Dukuh : Gelar pendeta Bali-Mula.

Dwi Jati : Lahir dua kali.

Emong : Yang bertanggung-jawab, melahirkan.

Empon : Yang memelihara, mengampu.

Ersanya : Timur-laut.

Gelong kori : Pintu masuk pura.

Genean : Tenggara.

Geriya : Rumah Pendeta Hindu.

Gunung Tolangkir : Gunung tertinggi, nama lain dari Gunung Agung di Bali.

Guru Napak : Guru pembimbing calon pendeta.

Guru Niskala : Guru pembimbing rohani yang tidak bisa dilihat mata.

Guru Rupaka : Sebutan untuk orang yang melahirkan kita.

Hulu : Pusat, kepala.

Hyang : Sebutan Tuhan dalam teologi Hindu di Bali.

Hyang Widhi : Sinar suci Tuhan.

Ireng : Hitam.

Istadewata : Dewa Pujaan.

Jaba sisi : Halaman terluar dari pura.

Jaba Tengah : Halaman tengah pura.

Jan Banggul : Nama lain untuk Jero Mangku dalam bahasa kerauhan.

Jenar : Kuning.

Jero Dasar : Sebutan seseorang dalam menyampaikan pesan dan kesan dari alam lain.

Jero Mangku : Sebutan seseorang yang bertugas menghaturkan upakara.

Jeroan pura : Halaman tersuci dari pura.

Jimbarwana : Hutan yang luas.

Kahyangan : Tempat suci para dewa/dewata

Kahyangan Tiga : Tiga tempat suci desa yaitu Pura Desa, Pura Puseh,Pura Dalem Kahyangan.

Katunas : Dimohon dengan upakara.

Kawitan : Leluhur yang telah suci.

Kelian pura : Ketua pura.

Kelod kauh : Baratdaya.

Kepelan : Kepalan tangan.

Kerauhan : Kedatangan kekuatan lain pada tubuh seseorang

Ki, Kryan : Gelar ksatria Bali Pertengahan

Ksatria : Bertugas dalam bidang pertahanan dan pemerintahan.

Kubahyan : Rohaniawan Desa zaman Bali-Kuno.

Magingsir : Pindah.

Mal : Kebun.

Manyama braya : Hubungan kekerabatan.

Manyingkir : Mengungsi.

Mapinton : Mohon restu, pengesahan.

Masurya : Berburu spiritual.


Merajan : Tempat suci keluarga.

Mirah : Warna merah.

Misan mindon :Keluarga sepupu.

Nak Bali : Orang Bali.

Nayaka : Pimpinan, pengiring, jabatan Bali kuna

Neriti : Baratdaya

Ngastiti Hyang Pramawisesa : Memuja Tuhan Maha Kuasa.

Ngayah : Membantu, bukti atas kehadiran para rencang.

Ngerodok : Air panas yang lagi mendidih.

Ngurek : Menusuk diri dengan keris.

Niskala : Tak nyata, maya, ilusi.

Nunas tirta : Memohon air suci.

Nyasa : Simbul-simbul religius.

Nyineb wangsa: Menutup asal usul.

Odalan : Pemujaan kembali.

Padharman : Tempat suci leluhur

Padipan : Perlengkapan persembahyangan pendeta.

Palemahan : Hal tanah lingkungan sekitarnya.

Palinggih : Stana suci dari dewa pujaan.

Pamancangah : Bacaan, kepustakaan.

Pamuput : pemimpin upacara, pendeta

Panca Maha Bhuta : Lima materi pokok terdiri dari padat, cair, panas,udara, suara (gas, ether).

Panca Tan Matra : Lima zat halus dari Panca Maha Bhuta.

Panca Yadnya : Lima kurban suci.

Pangayah : Pelayan dalam suatu pura.

Pangindra jala : Perangkap, tipu daya.

Pangulun setra : Tempat suci kuburan.

Para Rencang : Prajurit para dewata.

Pascima : Barat.

Pasek : Pemberian, hadiah, anugrah, nama kelompok keturunan.

Pasupati : Prosesi religius memohon spirit/roh dari kekuatan alam untuk menyatu dengan benda yang akan
disucikan.

Pawongan : Hal hubungan dengan manusia.

Pemaksan alit : Sebutan kelompok pengampu pura

Pengemong : Penanggung jawab

Pengempon : Pemelihara, pengempu

Penglingsir : Tetua warga, yang dituakan

Pepatih : Orang yang badanraganya dipinjam kekuatan bhuta.

Peranda : Sebutan pendeta bagi warga Ida Bagus.

Pertiwi : Tanah air.

Petak : Putih

Pewaregan : Dapur, lumbung

Piagem : Catatan tertulis tentang asal usul.

Prakanggo : Mahapatih para dewata.

Prakempa : Pergolakan umum khusus pada akhir dunia.

Pralingga : Bentuk manifestasi Tuhan.

Pratima : Simbul Tuhan dalam bentuk patung kecil.

Preta : Sebutan roh manusia yang baru meninggal.

Pujawali : Menghaturkan upacara pemujaan kembali.

Pura Panti : Pura keluarga dalam satu batih keturunan.

Purana : Catatan resmi yang ada di pura, cerita kuna

Purwa : Timur, awal

Rangda : Wujud seram dari dewi Durgha.

Rerajahan : Gambar-gambar mistis.

Rsi : Orang suci.

Rsi Yadnya Padiksan : Acara penobatan seorang pendeta Hindu di Bali.

Sadeg : Orang yang dipinjam badan raganya oleh kelompok dewa/bhatara.

Samgat : Sang pemutus, bagian kehakiman dalam system pemerintahan Bali-Kuno.

Sanggah Kemulan : Tempat suci rumah tangga.

Sarin Bwana : Isi dunia.

Sasana pemangku : Aturan dan etika seorang pemangku

Sasih : Nama bulan dalam kalender Bali.

Saya : Sebutan seksi tugas zaman Bali-Kuno.

Sekala : Nyata.

Sekte : Kelompok yang mempunyai pandangan sama dalam agama Hindu.

Senapati : Jabatan mahapatih kerajaan Bali-Kuno.

Senapati Dinganga : Mahapatih di wilayah Dinganga

Senapati Kuturan : Mahapatih di wilayah Kuturan

Senapati Sarbwa : Mahapatih di wilayah Sarbwa

Setra : Kuburan

Si : Gelar Ksatria Bali

Soroh : Komunitas dalam kehidupan

Sri : Gelar raja zaman Bali-Kuno.

Sri Kesari Warmadewa : Raja I Bali-Kuno

Sri Ugrasena : Putra dari raja Sri Kesari Warmadewa

Stula sarira : Badan kasar

Sudra : Pelayan dan buruh

Sukma sarira : Badan astral, badan halus

Supata : Sumpah

Tapel : Topeng

Tari wali : Tarian sakral berkaitan dengan upacara di suatu pura

Tuwur : Diminta dengan upakara

Ulam : Ikan

Upakara : Sesajen

Uttara : Utara

Varuna : Dewa Langit.

Vayu : Angin, udara. tenaga.

Waisya : Bertugas sebagai petani dan pedagang

Walaka : Orang kebanyakan yang bukan pendeta

Wanaprasta : Tahapan kehidupan ke-3 dari Catur Asrama

Wayabya : Barat laut

Wiku : Pendeta

Wilis : Hijau

SIMBOL PANGULU SRI KARANG BUNCING




Makna Simbol Pangulu
Treh Sri Karang Buncing
Oleh Ida Pandita Dukuh Acharya Dhaksa



Om Swastyastu


Mengutip transkrip Piagem Dukuh Gamongan yang berbunyi:
Sira Sri Jaya Katong, amrajaya ring yusaning bumi, Isakawarsa, Asti
Bhaskara, Netraning Ulan, Sri Jaya Katong amukti maring Batahanyar,
angamong wadwa sira, amuter maring Batahanyar, kasung kasiwi
denira Sri Jaya Katong, hana ta Glungkori ring mahameru, kapolo
denira Sri Jaya Katong maka tunggul ira ring Barabatu, lingganira
Hyang wawu dateng, Meru tumpang lima, hana ta kori agung, agelung
tumpang lima, maka tungguling Prabhu Bali, araning Pura Gaduh,
gagaduhan Prabhu Bali, Gagaduhan sira Sri Jaya Katong, maring
Batahanyar.
(Piagem Dukuh Gamongan, 8a-8b)



[Beliau Sri Jaya Katong menjadi penguasa, umur bumi, tahun
Isaka 1238/1316 Masehi, Sri Jaya Katong yang dimuliakan di Batahanyar,
memerintahkan rakyat baginda pusatnya di Batahanyar,
tempat persembahyangan baginda Sri Jaya Katong adalah Kori
Agung, tempat suci sangat agung, dibentuk oleh Sri Jaya Katong,
sebagai bukti baginda ada di Belahbatuh sebagai wujud atau simbol
Dewa sesembahan yang baru, Meru tumpang lima, lambang
kesatuan para raja Bali, namanya Pura Gaduh, tempat suci para
raja Bali, tempat suci beliau Sri Jaya Katong dari Batahanyar.]


Merujuk dari kalimat tersebut diatas, secara tegas disebutkan bahwa Arca Pangulu, atau arca kepala yang berwajah seram, mata melotot, kuping lebar, mulut tersembul taring, rambut ikal dan ber-perucut yang terdapat di Pura Gaduh, Blahbatuh dibentuk padazaman pemerintahan Sri Jaya Katong sekitar tahun Isaka 1238/1316 Masehi Sebagai simbol ajaran baru atau Simbol Suci Tuhan yang baru pada zamannya Karena tiada catatan tertulis yang pasti, apa makna yang terkandung didalamnya, sehingga banyak interpretasi yang muncul setelah itu Kadang-kadang oleh masyarakat Hindu sekitar menyebutnya arca pangulu ratu gde Kebo Iwa Sri Karang Buncing setelah lama hidup bersuami istri belum dikarunia anak akhirnya beliau memohon di Pura Gaduh memuja Hyang Sapta Giri maka lahirlah Sri Kebo Iwa. Dan Sri Jaya Katong adalah kakek kandung dari Sri Kebo Iwa dan kakek beliau yang satu lagi yaitu Sri Pasung Grigis (kakak dari Sri Jaya Katong) sebagai Bagawanta kerajaan Badahulu Beliau Sri Pasung Grigis yang merawat dan mengupacarai dari kecil Sri Kebo Iwa sampai beliau menjadi orang yang mumpuni dalam segala bidang Sehingga secara tidak langsung beliau Sri Kebo Iwa akan mengikuti atau mewarisi ajaran dan bimbingan yang diberikan oleh kakeknya berdua Kalau boleh dikatakan Arca Pangulu sebagai Hulu atau pusat konsentrasi dari Sri Kebo Iwa yang diwariskan oleh kakek beliau berdua yaitu Sri Jaya Katong dan Sri Pasung Grigis. Kebo Iwa adalah merupakan seorang tokoh legendaris Bali, barangkali tokoh legendaris Nasional Beliau kadang-kadang disebut sebagai tokoh pemersatu pada zamannya yang ingin beliau mewariskan untuk kita umat Hindu di Bali pada umumnya dan keturunan Sri Karang Buncing pada khususnya.Kini timbul pertanyaan kenapa hanya Ulu (kepala) saja dan kenapa tidak menggambarkan wujud yang utuh. Karena kita diharapkan bagian kepala inilah yang mampu membawa kemajuan spiritual dan kemajuan material setiap manusia, untuk bisa dicapai karena semua kemampuan itu ada di kepala.


Zaman pembuatan arca Pangulu pada saat itu ada 3 (tiga) buah keyakinan yang sangat besar yang ada di era Kebo Iwa yaitu yang pertama paksa/sekte Siwa, yang kedua paksa Budha, dan yang ke tiga paksa Bhairawa. Simbol-simbol itu kami akan jelaskan sebagai berikut:


Simbol pertama adalah Linggam konsep ke-Siwa-an
Diatas kepala beliau ada sebuah Lingga yang disebut peru cut dalam bahasa Bali, yang terbuat dari gulungan rambut yang menggambarkan ke-Siwa-an dari pada tokoh yang digambarkan Maksud dari penggambaran ini adalah beliau ingin mewariskan untuk kita umat Hindu di Bali yang diwariskan suatu konsep pengajaran tentang budi pekerti yang tujuannya adalah untuk kelepasan

Konsep Siwa atau Lingga dan perucut itu melambangkan konsep ke-Siwa-an atau konsep kelepasan adalah konsep tertinggi yang diwariskan untuk umat Hindu di Bali juga dalam Hindu Weda kita




Simbol kedua dengan rambut ikal adalah konsep ke-Budha-an
Rambut ikal itu menandakan disamping untuk mencapai pelepasan pada akhir kehidupan nanti diharapkan orang Hindu di Bali untuk bisa selalu mencapai yang dinamakan kebijaksanaan,karena Budha itu adalah simbol budi pekerti, kebijaksanaan tertinggi dalam proses kehidupan.

Siwa atau Linggam itu adalah konsep kelepasan setelah kematian dan Budha itu adalah konsep tertinggi dalan kehidupan. Jadi antara konsep Sunia dan Ramia. Sunia adalah konsep Siwa dan Ramia adalah konsep Budha.

Simbol yang ketiga dengan wajah menyeramkan adalah konsep
Bhairawa
Setiap orang Bali diharapkan memiliki sidhi, inilah yang ditekankan oleh leluhur kami untuk generasi pewarisnya dan umat Hindu di Bali secara umum. Kemampuan yang diharapkan tidak saja sidhi dan sakti dalam arti sempit, tapi sidhi disini yang dimaksudkan adalah jnana. Kita umat Hindu diwajibkan memiliki kemampuan intelektual untuk mengisi kehidupan ini dengan kemajuan peradaban zaman dan peradaban yang ada. Bhairawa disini juga diartikan bahwa kita umat Hindu dan generasi penerus beliau diharapkan memiliki guna desa yang sering disebut guna dusun. Guna desa ini maksudnya adalah setiap umat agar berperan serta memiliki nilai guna untuk memajukan masyarakat dimana dia tinggal. Jadi siapa pun yang merasa sebagai warih keturunan atau penerus dari pada orang-orang Bali khususnya spirit Kebo Iwa harus memiliki guna desa, atau menjadi pelopor dimana pun mereka berada. Seorang pelopor atau pemimpin dituntut untuk memiliki sifat partikel yang kekal dari para dewa atau dengan perkataan lain wajah inilah sebagai media penghubung untuk mencari guna desa itu, yang terdiri dari:



1. Mata mendelik terbuka lebar laksana Dewa Surya atau Dewa Api melenyapkan kegelapan dan kebodohan, membakar lawan,dan tidak pandang bulu untuk melenyapkan penyelewengan adharma di muka bumi ini.

2. Kuping lebar merupakan sifat partikel Dewa Vayu atau Dewa Angin, artinya seorang pelopor diharapkan mempunyai sifat mau banyak mendengar dan menerima kebenaran itu tanpa memandang dari mana pun sumbernya, tahu kehendak rakyat tanpa diberi tahu. Dalam kontek kekinian kita harus banyak memiliki informasi dan “networking” agar kita bisa bersaing dalam dunia global.

3. Mulut dengan taring menyembul, merupakan sifat partikel Dewa Wisnu, bagaikan sifat air yang disatu sisi bersikap simpatik, pandai menggunakan senyum, selalu berkata yang benar dan bersifat Tut Wuri Handayani. Disamping itu gigi taring yang ada adalah sakti, yang lebih sempit mengartikan,seseorang harus mempunyai skill yang mengkhusus. Inilah yang disebut linggih nganut sasana misalnya kalau ia seorang pemangku ia harus mengikuti sasana pamangku yang baik,kalau ia seorang dokter ia harus mengikuti sasana dokter yang baik, begitu pun seorang sulinggih dan seterusnya. Sakti /sakta itu memiliki pengertian yang lebih mengkhusus yaitu pada spesialisasi kemampuan setiap personil yang dimiliki.

4. Hidung yang besar merupakan sifat partikel Dewa Pertiwi atau Dewa Bumi, seorang pelopor hendaknya berlapang dada, bersikap toleran terhadap pendirian orang lain, dan mempunyai suatu kepekaan terhadap segala aspek yang akan terjadi.


Simbol yang keempat dengan siluet warna (halo) merah, kuning,putih ditengah lingkaran

Simbol ini melambangkan prabawa dari Tuhan yang dipuja yang melambangkan cinta kasih dan kesucian (putih lambang cinta kasih dan kuning lambang kesucian) dan warna merah lambang keberanian. Simbol warna ini melambangkan harapan setiap umat Hindu selalu memiliki rasa cinta kasih kepada sesama untuk meningkatkan kesucian pribadi dengan tidak gentar selalu menggali,memperbaharui dan menyeleksi (Utpatti, Stitti, Pralina) sehingga ajaran-ajaran yang ada selalu relevan terhadap zamannya.



Simbol yang kelima bunga teratai Padma Astadala
Teratai dengan delapan helai daun melambangkan 8 (delapan) arah angin Pulau Bali yang melambangkan kemahakuasaan delapan dewa yang dimulai dari:


1. Dewa Iswara penguasa arah Timur (purwa) warnanya Putih (petak) dengan puranya Lempuyang.

2. Dewa Mahesora penguasa arah Tenggara (geneyan) warna Merah muda (dadu) dengan puranya Goa Lawah.

3. Dewa Brahma penguasa arah Selatan (daksina) warnanya Merah (mirah) dengan puranya Gunung Andakasa.

4. Dewa Ludra penguasa arah Baratdaya (neriti) warnanya Jingga dengan puranya Uluwatu.

5. Dewa Mahadewa penguasa arah Barat (pascima) warnanya Kuning (jenar) dengan puranya Batukaru

6. Dewa Sangkara penguasa arah Barat Laut (wayabya) warnanya Hijau (wilis) dengan puranya Pucak Mangu.

7. Dewa Wisnu penguasa arah Utara (uttara) warnanya Hitam (ireng) dengan puranya Pura Batur.

8. Dewa Sambu penguasa arah Timur Laut (ersanya) warnanya Biru dengan puranya Besakih.


Sekedar catatan untuk posisi Tengah di era itu adalah Pura Pusering Jagat di daerah Pejeng yang sangat dekat dengan pusat pemerintahan Batahanyar pada zaman itu.


Padma Astadala ini melambangkan 8 (delapan) penjuru mata angin yang distanakan di delapan tempat penjuru mata angin Pulau Bali (Padma Bwana Bali) yang difungsikan untuk menjaga Pulau Bali-Agar selalu memberikan kesucian dan vibrasi kerohanian kepada umatnya.


Demikianlah secara singkat simbol-simbol yang diberikan kepada kita umat Hindu di Bali yang ditanamkan ke dalam pangarcan Pangulu yang dipakai sebagai simbol kebersamaan untuk Treh Sri Karang Buncing dan dalam garis besarnya bisa kita lihat dalam purana, babad, dan prasasti yang ditinggalkan oleh para leluhur kita, yang patut kita baca dan kita pelajari untuk kemajuan kita bersama.


Om Shantih, Shantih, Shantih Om


Penatih, 23 Pebruari 2009
Ida Pandita Dukuh Acharya Dhaksa
Padukuhan Samiaga,
Br. Semaga, Penatih,
Denpasar Timur














Daftar Pustaka

Daftar Pustaka

Adri, Dra Ida Ayu Putu. 1979. Sedikit Tentang Cri Maharaja Cri Wijaya Mahadewi.
Fakultas Sastra, Universitas Udayana Denpasar.

. 1990. Laporan Penelitian Nilai Gunung Kawi, Ditinjaudari Segi
Arkeologi dan Pariwisata. Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Denpasar.
Alit Pekandelan, Mangku, dkk. 2006. Leak Sari. Surabaya: Paramita.
. 2008. Kanda Pat Bhuta, Sakti seperti Siluman. Surabaya:

Paramita.
Anom Sudira Pering, A.A. 2005. Mahagotra Arya Tri Sanak. Surabaya: Paramita.
. 2005. Dalem Tarukan. Surabaya: Paramita.
Antasha, I Nyoman. Babad Arya Tegeh Kori. Singaraja: Toko Buku Indra Jaya.
Ardana, Prof. Drs., I Gusti Gede. 2000. Pura Kahyangan Tiga. Pemda. Tk. I Bali
Bandesa K. Tonjaya, I Nyoman Gde. Riwayat Empu Kuturan. Denpasar: Toko
Buku Ria.

Bawa, I Made. 2009. (Skripsi) Filosofis Pementasan Tari Barong & Rangda, di Pura
Sarin Bwana di Desa Adat Jimbaran, Kuta Selatan, Badung.
Budhiartini, Pan Putu. 2000. Rangda & Barong Unsur Dualistik. Lampung
Tengah.

Budiastra, Putu dkk. 1987. Laporan Pura Jeron Ratu di Desa Abang Songan,
Kintamani. Museum Bali, Direktorat Permuseuman Ditjen Kebudayaan,
Departemen Pendidikan & Kebudayaan.

Darta, A. A. Gde, dkk. 1996. Babad Arya Tabanan & Ratu Tabanan. Denpasar:
PT. Upada Sastra.

Djasa, I D. M. 1958. Prabhu Mayadanawa. Denpasar: Pustaka Kalimas.
Donder, I Ketut. 2004. Panca Dhatu, Atom, Atma & Dinamisme. Surabaya:
Paramita.

. 2007. Kosmologi Hindu, Penciptaan, Pemeliharaan & Peleburan Serta
Penciptaan Kembali Alam Semesta. Surabaya: Paramita.
Eisman, Fred, B. Jr. 1996. Bali Sekala & Niskala, Essay on Religion, Ritual, and Art.
Periplus Editions, (HK) Ltd.

Ginarsa, I Ketut. 1994. Ekspedisi Gajah Mada Ke Bali. Denpasar: CV Kayu Mas.
. 1978. Prasasti Arya Karang Buncing. Balai Penelitian Bahasa
Goris, R. 1986. Sekte-sekte di Bali. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

Hari Wijaya, M. 2006. Islam Kejawen. Yogyakarta: Gelombang Pasang.
IHDN. Kumpulan Hasil Penelitian Sejarah Pura (Hanya untuk Mahasiswa IHD).
James Danandjaja 1985. Pantomim Suci Betara Berutuk dari Trunyan Bali. Penerbit:
BP.

Kaler Adiwijaya, Nyoman. 1978. Laporan Survey Pura Puseh & Ulun Suwi, Desa
Awan, Kintamani, Bangli.

Kantun, I Nyoman, SH. MM. dkk. Babad Sidakarya. Penerbit: Upada Sastra.


Kardji, I Wayan. Babad Bendesa. 2006. Penerbit: Bali Media Adikarsa.

Koentjaraninggrat, Prof. DR. 2004. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta:
Djambatan.

Manda, Nyoman. 1997. Sejarah Singkat dan Raja Purana Pura Besakih. Denpasar:
Toko Buku Ria.
Mandala Wisata Samuan Tiga. 1981. Ceritera Ringkas Raja Sri Tapa Ulung. Bedahulu,
Gianyar, Bali.

Nyoka. 1990. Sejarah Bali. Denpasar: Toko Buku Ria.
Oka Swadiana, Jro Mangku, dkk. 2006. Kesurupan, Membahas Tradisi Kerauhan di
Bali. Denpasar: Majalah Hindu Raditya.

Oka Swadiana, Jro Mangku, dkk. 2007. Ngurek, Pengorbanan Diri Pemuja Sakti.
Denpasar: Majalah Hindu Raditya.

___________ Pura Lempuyang. Desa Adat Gamongan, Desa Tiyingtali, Kecamatan
Abang, Kabupaten Karangasem.

Pandit Shastri, ND. 1963. Sejarah Bali Dwipa.

Para Sutama, Agung. Tattwa Lalintihan Sri Karang Buncing, Belahbatuh, Gianyar.

Rai Putra, Drs. I B. Babad Arya Kuta Waringin. Penerbit: Upada Sastra.

Rai Putra, Drs. I B. 1991. Babad Dalem. Denpasar: Upada Sastra.

Rai Wiryani, Dra. A.A. 1991. Laporan Penelitian Arca Catur Kaya di Pura Penataran
Sasih. Desa Pejeng. Denpasar: Universitas Udayana.

Semadi Astra, I Gde. 1977. Jaman Pemerintahan Jaya Pangus. Lembaga Pengkajian,
Universitas Udayana Denpasar.

Slamet Muljana, Prof. Dr. 2007. Tafsir Sejarah Nagara Kretagama. Yogyakarta:
LKIS.

Slamet Muljana, Prof. Dr. 2005. Runtuhnya Hindu Jawa. Yogyakarta: LKIS.

Srijaya, Drs. I Wayan. 1990. Laporan Penelitian Kepurbakalaan di Pura Kebo Edan.

Desa Pejeng, Gianyar. Universitas Udayana.

Soebandi, Ktut. Pura Kawitan/Padharman & Penyungsungan Jagat. Denpasar:
Gunung Agung.

Soebandi, Jro Mangku Gde Ketut. 2004. Babad Pasek. Penerbit: Manikgeni.

Soekmono, R. 1956. Bali Purbakala. Djakarta: Penerbit dan Balai Buku
Indonesia.

Soekmono, Drs. R. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1. Yogyakarta:
Kanisius.

Suardika, Pasek. 2006. Bhisama Pasek Dalam Konteks Kekinian. Denpasar: Bali-
Aga.

Sudarsana, I Ketut, dkk. 2001. Pura Luhur Pucak Padang Dawa. Desa Bangli,
Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan.

Sudharsana, SH., I Gusti Bagus. 1967. Siapakah Yang Dimaksud Maya Danawa.
Denpasar: Pustaka Bali Mas.

Sudibya, I Gde. 1997. Hindu Budaya Bali. Denpasar: BP.

Suhardana, Drs. K. M. Dasar-Dasar Kesulinggihan. Surabaya: Paramita.
. Babad Keloping. Denpasar: Pustaka Manik Geni.
. 2005. Babad Nyuhaya. Penerbit: Paramita.

. 2008. Nagara Kretagama & Pararaton Sejarah Perkembangan
Majapahit. Surabaya: Paramita.

Sukadia, I Wayan. 2003. Asal Mula Kahyangan Pura Ulun Danu Batur.

Sukarto K. Atmojo, Drs. 1974. Ki Kebo Iwa. Lembaga Purbakala & Peninggalan

Nasional, Gianyar, Bali.

Sumarsono, H. R. 2008. Babad Tanah Jawi. Jakarta: Narasi.

Suparta Ardhana, I B. 2002. Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Indonesia.
Surabaya: Paramita.
Surasmi, I Gusti Ayu. Jejak Tantrayana di Bali. Penerbit: Bali Media.

Tim Penyusun. 1986. Sejarah Bali. Pemda Tk. I Bali.

. 1986. Raja Purana Bali. Dikbud Propinsi Tk. I Bali.
. 1992. Upacara Madiksa. Pemda Tk. I Bali.
. 1994. Memahami Aliran Kepercayaan. Denpasar: BP.
. 1998. Pura Lempuyang Luhur. Dinas Kebudayaan Tk. I Bali.
. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Paradigma.
. 2003. Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap

Aspek-Aspek Agama Hindu. Pemda TK I Bali.

Tim Penyusun. 2003. Arti & Fungsi Sarana Upakara. Pemda TK. I Bali.
Tim Penyusun. 2006. Pura Samuan Tiga. Bedulu, Gianyar, Pemda TK II Gianyar.
Tim Penyusun. 2006. Purana Pura Luhur Batukaru. Teks & Terjemahan Dinas
Kebudayaan Provinsi Bali.
Tim Penyusun. 2007. Sejarah Pura Bukit Dharma Durga Kutri Gianyar
Tim Redaksi Bali Post. 2008. Mengenal Pura Sad Kahyangan & Kahyangan Jagat.
Denpasar: PT Offset BP.

Titib, I Made. 1995. Ketuhanan Dalam Weda. Jakarta: PT. Penebar Swadaya.
Titib, DR. I Made. 2001. Teologi & Simbol-Simbol Dalam Agama Hindu. Surabaya:Paramita.

Warsika, Made. 1986. Kertagosa Selayang Pandang.
Wiana, Ketut & Raka Santri. 1993. Kasta Dalam Hindu, Kesalahpahaman Berabadabad.
Denpasar: BP.

Widana, I Gusti Ketut. Mengenal Budaya Bali. Penerbit: BP.

Widia, Drs., Wayan, dkk. 1978. Laporan Survey Peninggalan Kekunaan di Pura
Tanggahan Peken, Susut Bangli. Museum Bali, Depdikbud Bali.

. 1978. Laporan Survey Benda-Benda Keramat di Desa Serai & Awan,
Kintamani, Bangli. Museum Bali Departemen P & K Bali.

. 1979. Laporan Survey Pura Dalem Balingkang. Museum Bali,
Departemen Pendidikan & Kebudayaan Bali.

. Laporan Survey Kepurbakalaan di Pura Bale Agung Kuum Desa
Sukawana, Kintamani Bangli. Museum Bali, Departemen P & K Bali.
Yoga Segara, Nyoman, S.Ag. 2000. Mengenal Barong dan Rangda. Surabaya:Paramita.


Prasasti, Piagem, Purana, Prakempa, Pamancangah, dan Babad

Prasasti Bali (Prasasti Sukawana Icaka 804, Trunyan A Icaka 813, Trunyan B Icaka
833, Bangli Pura Kehen, Gobleg Pr. Desa Icaka 836, Prasasti Angsari, Srokodan
Icaka 837 Raja Sri Ugrasena, Babahan icaka 839 Raja Sri Ugrasena, Sembiran
Icaka 844 Raja Ugrasena, Serai Icaka 888 Raja Sri Ugrasena, Manikliu Icaka
877 Raja Sri Aji Tabanendra W, Manukaya Icaka 884 Raja Sri Chandrabaya,
Kintamani A Icaka 889 Raja Sri Aji Tabanendra, Sembiran Icaka 897 Raja
Sri Janasadhu W., Gobleg Icaka 905 Raja Sri Wijaya Mahadewi, Bebetin Icaka
911, Serai 915, Bwahan 916, Sading A 923, Batur Pr. Abang 933 Raja Sri
Gunaprya dharmapatni + Sri Dharmmodayana, Sembiran A Icaka 938 Raja
Sang Ajna dewi, Batuan Icaka 944 Raja Sri Marakata, Bwahan 947 Raja Sri
Marakata) alih-aksara oleh DR Roelof Goris, Universitas Indonesia, NV
Masa Baru, Bandung 1954

Prasasti-Prasasti Raja Anak Wungsu di Bali (Prasasti: Dawan A Icaka 975, Trunyan
C Icaka 971, Trunyan A Isaka 971, Bebetin A II Icaka 972, Sukawana A II
Icaka 972, Sangsit A=Blantih A Icaka 980, Dausa, Pura Bukit Indrakila A II
Icaka 983, Batunya Icaka 977, Sawan B=blantih B Icaka 987, Sembiran A IV
Icaka 987, Serai A III Icaka 989, Pengotan A II Icaka 991, Ubung A, Manikliu,
Sukawati A, Pandak Badung Icaka 993, Klungkung A, B, C Icaka 994, Sawan
A II Icaka 995, Srokadan B Icaka 999) alih-aksara oleh Ida Bagus Santosa.

Prasasti Dawan Caka 975, Prasasti Sangsit Caka 980, Prasasti Pandak Bandung
Caka 993,dikeluarkan oleh Raja Anak Wungsu teks dan terjemahan oleh Ida
Bagus Santosa.

Prasasti Raja Jaya Pangus (Empat Lembar Prasasti Raja Jaya Pangus) alih-aksara
dan terjemahan oleh Drs. Putu Budiastra, Proyek Pengembangan Media
Kebudayaan Ditjen. Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
R.I. 1977.

Prasasti Bwahan, Kintamani Bangli. alih-aksara dan alih Bahasa oleh Drs. Putu
Budiastra 1978. Museum Bali, Ditjen Kebudayaan Departemen P & K.
Prasasti Raja Sri Jaya Sakti (Prasasti: Tjampetan Icaka 1071, Manik Liu Icaka 1055,
Bebandem, Landih A, Bwahan Icaka 1068, Prasasti Depa, Prasasti Prasi Icaka
1070, Prasasti SadingB Icaka 1072, Prasasti Tampakgangsul, Prasasti Dausa,
Prasasti Pemecutan, prasasti Sibang Kaja) alih-aksara dan terjamahan oleh
Nyoman Poeger, Fakultas Sastra, Universitas Udayana, 1964.

Prasasti Bali (Himpunan) Koleksi R. Goris & Ketut Ginarsa (Prasasti: Pengotan
Icaka 1010 Raja Sri Sakalindu, Prasasti Tejakula Icaka 1077 raja Raga Jaya,
Prasasti Mantring Icaka 1099, Bwahan Icaka 1103, Penida Kaja Icaka 1103,
Batur Pr Abang 1103, Sembiran 1103, Kediri 1103, Bwahan D 1103, Sukawana
1103, Selat A 1103, Pengotan A, C 1103, Batunya 1103, Landih 1103, Campaga
1103, Sukawati 1103, Bulian 1103, Peguyangan 1103, tebakau 1103, Jagaraga
1103, Sarin Bwana 1103, Serai B 1103, Tengkulak 1103, Tonja 1103, Dalung
1103, Pengotan D 1103, Mantring 1103, Malat Gede 1103, Raja Sri Jaya
Pangus) alih-aksara oleh Machi Suhadi.
Prasasti Bali (Himpunan) Koleksi R. Goris & Ketut Ginarsa (Kintamani E Icaka

1122 Raja Aji Eka Jaya Lencana, Bangli Pr. Kehen Icaka 1126 Raja Sri Adi
Kuti Ketana, Pengotan Icaka 1218, Soekawana Icaka 1222, Srokadan Icaka
1246 Raja Sri Taruna jaya, Tjempaga Icaka 1246 Raja Sri Maha Guru, Tumbu
Icaka 1247 Raja Sri Maha Guru, Selumbung Icaka 1250 Raja Sri Wala Jaya
Krtaninggrat, Gunung Penulisan 1254 Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten,
Langgahan Icaka 1259 Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten) alih-aksara
oleh Machi Suhadi.
Prasasti Bali (Himpunan) Koleksi R. Goris & Ketut Ginarsa (Prasasti Batur Pr.
Abang Icaka 1306 Raja Sri Wijaya Rajasa, Wengker, Gobleg Pura Batur 1320,
Pura Penataran Besakih 1366 & 1380, Besakih C Merajan Selonding) alihaksara
oleh Machi Suhadi.
Prasasti Pura Bale Agung, Kintamani, Bangli, Icaka 889 Raja Sri Haji Tabanendra
Dharmadewa alih-aksara dan terjemahan oleh Putu Budiastra dkk. Museum
Bali Direktorat Permuseuman Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan 1985.
Prasasti Banjar Celepik Icaka 994, Tojan Klungkung alih-aksara dan terjemahan
oleh Drs. Putu Budiastra, Museum Bali, Departemen P & K 1980.
Prasasti Serai A Icaka 888 Raja Sri Ugrasena alih-aksara dan terjemahan oleh Drs.
Putu Budiastra, Museum Bali, Departemen P & K 1978.
Prasasti Pandak Bandung Icaka 993 Raja Anak Wungsu alih-aksara dan terjemahan
Oleh Drs. Putu Budiastra, Museum Bali, Departemen P & K 1979.
Prasasti Srokadan Icaka 1246 Raja Bhatara Guru alih-aksara dan terjemahan oleh
Drs. Putu Budiastra, Museum Bali, Departemen P & K 1977.
Prasasti Pengotan Icaka 846 Raja Sri Ugrasena alih-aksara dan terjemahan oleh
Drs. Putu Budiastra, Museum Bali, Departemen P & K, 1978.
Prasasti Pura Tulukbyu, Batur Kintamani, Icaka 933 Raja Sri Dharmmodayana
Warmadewa alih-aksara dan terjemahan oleh Drs. Putu budiastra, Museum
Bali, Departemen P & K 1980.
Prasasti Pasek Gelgel Icaka 1749 Desa Tampekan, Banjar, Buleleng, alih-aksara
dan terjemahan oleh Drs. Putu Budiastra, dkk. Museum Bali, Departemen
P & K 1979
Prasasti Mrajan Dadya Pasek Metra, Tembuku, Bangli alih-aksara dan terjemahan
oleh Mangku Sukiya, dkk. Museum Bali, Departemen P & K 1978.
Prasasti Pura Panti Bunga, Desa Sari Luwih alih-aksara dan terjemahan oleh Drs.
Putu Budiastra, dkk. Museum Bali, Departemen P & K 1977.
Prasasti Timpag, Kerambitan Tabanan alih-aksara dan terjemahan oleh Drs. Putu
Budiastra, Museum Bali, Departemen P & K 1977.
Piagem Dukuh Gamongan, milik Ida Pedanda Gede Jelantik Sugata dari Griya Tegeh
Budakeling Karangasem alih-aksara oleh Drs I Wayan Gede Bargawa.
Piagem Pasek Kubakal alih-aksara oleh Kantor Dokumentasi Budaya Bali 1997.
Prasasti Kalih Purana Sri Karang Buncing alih-aksara oleh Jro Mangku Nengah
Swena Karang dan Jro Gede Karang Tangkid Suarshana, 2008.
Prasasti Pura Maospahit dalam Bahasa Indonesia oleh Anonim.
Purana Pura Puseh Gaduh, Blahbatuh, Gianyar alih-aksara dan diterjemahkan oleh


Drs. I Wayan Gede Bargawa.
Purana Pura Pucak Manik, Purana Pura Trate Bang, Purana Pura Natar Bolong,
Purana Pura Pucak Panggungan, Purana Watu Ringgit, Purana Pura Majapahit
alih-aksara oleh I Ketut Sudarsana, Kapal, Badung.
Purana Pura Pucak Gagelang dan Pura Pucak Bukit Gede alih-aksara oleh I Ketut
Sudarsana, Kapal, Badung.
Purana Pura Luhur Pucak Kembar dalam Bahasa Indonesia disalin oleh Ketut
Sudarsana
Purana Bali Dwipa teks dan terjemahan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Propinsi Daerah Tinkat I Bali 1986.
Purana Pura Luhur Batukaru, Penebel, Tabanan, teks dan terjemahan oleh Tim
Penyusun Pemda Tk.I Bali.
Poerana Bali, Hikajat Sejarah Tanah Bali dalam Bahasa Indonesia oleh Anonim.
Pamancangah Bali-Mula, Bali Yaga, Bali-Aga alih-aksara oleh W Turun
Prakempa Desa Celuk disalin dalam audio visual.
Prasasti Dalem Putih Jimbaran alih-aksara oleh Anonim.
Prasasti Pasek Bendesa alih-aksaralontar 1998 oleh Kantor Dokumentasi Budaya
Bali
Prasasti I Gusti Anom Pande Warih Arya Wang Bang Pinatih alih-aksara oleh W.
Turun.
Prasasti Dadya Pajenengan alih-aksara lontar oleh Kantor Dokumentasi Budaya
Bali.
Lontar Aji Murti Siwa Sasana Ning Bwana Rwa milik Desa Adat Gamongan, Desa
Tiyingtali, Kecamatan Abang, Karangasem
Lontar Pidarta Ning Aran Ikang Gunung Angetaning Bali milik Desa Adat
Gamongan, Desa Tiyingtali, Kecamatan Abang, Karangasem
Lontar Raja Purana Palugrahan Hyang Gnijaya milik Desa Adat Gamongan, Desa
Tiyingtali, Kecamatan Abang, Karangasem
Lontar Pangeling-eling I Dukuh Gamongan milik Desa Adat Gamongan, Desa
Tiyingtali, Kecamatan Abang, Karangasem
Lontar Pemunder Desa Adat Gamongan milik Desa Adat Gamongan, Tiyingtali,
Abang, Karangasem
Lontar Sulayanggni, Desa Batu Gunung, Karangasem alih-aksara dan terjemahan
oleh Putu Budiastra, dkk. 1989.
Lontar Tutur Gong Besi alih-aksara dan terjemahan oleh Dinas Kebudayaan
Propinsi Bali 2002.
Babad Karang Buncing alih-aksara lontar oleh Kantor Dokumentasi Budaya Bali
1995.
Babad Ki Tambyak alih-aksara dan terjemahan oleh Endaggalla.
Babad Dalem Batu Aji dalam bahasa Bali kekinian disalin oleh Anonim.
Babad Dalem Anom Pamayun alih-aksara lontar oleh Dinas Kebudayaan Prop.
Bali.
Babad Dalem Batu Kuub dalam Bahasa Indonesia oleh Anonim 2000.
Babad Bhedaulu alih-aksara lontar oleh Dinas Kebudayaan Propinsi Bali 2001.

Babad Pasek alih-aksara lontar oleh Kantor Dokumentasi Budaya Bali 1995.
Babad Barabatu, Prasasti Pura Dalem Maya, Blahbatuh disalin oleh I Wayan
Turun.
Bancangan Pasek Gelgel alih-aksara lontar oleh Kantor Dokumentasi Budaya Bali
1997.
Usana Bali dan Usana Jawa teks dan terjemahan oleh Dinas Pendidikan &
Kebudayaan Propinsi Daerah Tingkat I Bali 1986.





Bab XI Kebo Iwa Masa Kini


Bab XI
Kebo Iwa Masa Kini

Banyak tokoh menggali keteladanan kisah hidup perjalanan Kebo Iwa, mulai dari aspek spiritual, ideologi, budaya, politik,sosial bahkan mitos mengupas sisi kehidupannya. Kebo Iwa termasuk tokoh Bali yang paling banyak dimitoskan. Selain mitos sebagai seorang raksasa bertubuh besar berasal dari hasil hubungan seorang pertapa dengan makhluk halus yang hidup di lereng Gunung Agung, lalu di asuh oleh Si Karang Buncing. Setelah besar membuat susah masyarakat Blahbatuh dalam menyiapkan makanan begitu banyak setiap hari. Akhirnya Desa Blahbatuh menjadi kekeringan karena semua hasil pertanian masyarakatnya habis dihaturkan kepada Kebo Iwa. Kebo Iwa lalu di bunuh oleh masyarakatnya sendiri.

Ada juga mitos, Kebo Iwa berawal dari Begawan Aji Nuk bersama permaisurinya yang berparas cantik berasal dari Rum (Romawi) Dewi Sucinek. Begawan Nuk mempunyai seorang putra Bagawan Sutasik yang kemudian bergelar Abra Sinuhun Pasir yang posturnya tinggi besar. Perilakunya seperti ikan besar dan santapannya pun ikan, yang diambil dari laut setiap tiga bulan sekali. Suatu saat Abra Sinuhun jatuh cinta dengan ulam (ikan) Dewi Kekasih yang berprilaku seperti manusia. Dewi Kekasih lantas hamil dan melahirkan seorang putra yang diberi nama Sri Mraja Kebo Iwa.

Serta mitos candi Gunung Kawi dibangun oleh Kebo Iwa dengan mempergunakan kuku mengukir tebing batu keras itu, serta mitosmitos yang lain yang semuanya sudah dijelaskan pada halaman diatas.

Kebo Iwa di Pasraman Yogadhiparamaguhya

Para pemimpin kini sulit memiliki jiwa senasionalis Kebo Iwa,seorang panglima Bali pada masa pemerintahan Sri Astasura Ratna Bumi Banten pada awal abad ke 14. Kebo Iwa merelakan nyawanya
pada Gajah Mada demi persatuan dan kesatuan nusantara. Hal itu terungkap dalam seminar Menggali Solidaritas Tokoh Kebo Iwa di Pasraman Yogadhiparamaguhya, Blahbatuh, Gianyar, Selasa,24 Februari 2009. Seminar menghadirkan tiga pemakalah yakni peneliti wawasan kebangsaan dari Universitas Udayana, Prof. Dr. I Gede Parimarta, Ketua Listibya Gianyar AA Rai, dan Ketua Umum Pasemetonan Sri Karang Buncing Dr. (Hc) Jro Karang T Suarshana MBA.

AA Rai mengatakan kini semangat wawasan kebangsaan warga Negara makin melemah, salah satunya akibat kelupaan sejarah negeri ini. Keluhuran nilai sejarah terabaikan oleh generasi muda karena perkembangan budaya egoistik. “Napas nasionalisme seperti dianut Kebo Iwa pantas menjadi inspirasi untuk meningkatkan wawasan kebangsaan ini” katanya. Rai menyatakan salut kepada Kebo Iwa yang rela mati demi cita-cita Gajah Mada mempersatukan nusantara.Bagi Kebo Iwa, betapa tak berarti jiwanya sendiri dibandingkan kepentingan bangsa yang lebih besar.

Parimarta menyatakan kekagumannya pada sikap bijak Kebo Iwa. Baginya Kebo Iwa adalah sosok inspirator di nusantara ini agar masyarakat memahami pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa.

Bupati Gianyar Dr. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati usai membuka seminar mengatakan, masyarakat Gianyar patut bangga memiliki pahlawan seperti Kebo Iwa. Namun yang paling penting kebanggaan itu dapat diimplimentasikan dengan langkah nyata, antara lain mempertahankan keutuhan NKRI, melestarikan keteladanan Kebo Iwa serta mengutamakan sikap menyama braya.

Ketua Umum Pasemetonan Sri Karang Buncing, Dr. Jro Karang T Suarshana memandang sikap Kebo Iwa menunjukkan keteladanan dan pengorbanan yang luar biasa dalam integrasi Bali ke dalam negara nasional. Karena itu, salah seorang tokoh Karang Buncing Kuta, I Made Supatra Karang, mengajak untuk meneladani sikap Kebo Iwa, ini bukan hanya untuk di Pasemetonan Sri Karang Buncing, tetapi juga untuk seluruh pemimpin dan masyarakat saat kini. “Sikap rela berkorban untuk kepentingan yang lebih besar kini
menjadi hal yang langka,” tandas Suparta.

Seminar tentang Kebo Iwa di Pasraman Yogadhiparamaguhya, Blahbatuh, Gianyar.

Kebo Iwa Putra dari Pertapa dengan Makhluk Halus

Forum studi Majapahit mengadakan sarasehan bertajuk “Gajah Mada dan Kebo Iwa dalam Perspektif Historis dan Spiritual Menuju Peneguhan NKRI.” Kegiatan ini diselenggarakan di Hotel Puri Saron, Seminyak pada 10 November 2010. Tampil sebagai pembicara, Langit Kresna Hariadi dari Yogyakarta, Dr. Nyoman Wijaya (Unud), dan Ida I Dewa Mardiana (penekun spiritual). 

Kemudian Langit menceritakan tentang silsilah perjalanan Gajah Mada yang sampai bertapa di Desa Sapih, dimana di tempat tersebut dijelaskan terdapat tujuh mata air terjun. Akibat tragedi yang terjadi di lapangan Bubat, kemudian terjadi disintegrasi yang memaksa Gajah Mada harus dipanggil kembali dari tempat pertapaan. Akan tetapi Gajah Mada tidak berkenan kembali dan akhirnya meninggal dunia karena penyakit diabetes. Gajah Mada meninggalkan banyak pertanyaan tanpa diketahui siapa Gajah Mada tersebut, dari mana asal usulnya dan siapa orang tuanya.

“Kita diajak untuk berada dalam sebuah mimpi bersama untuk mewujudkan sebuah buku mengenang tokoh Gajah Mada dan Kebo Iwa sebagai peletak dasar persatuan nusantara” sebut Nyoman Wijaya. Pemakalah selanjutnya Ida Idewa Ketut Mardiana mengatakan dalam sejarah Bali Kebo Iwa adalah manusia yang tak tertandingi, baik dari segi fisiknya seperti raksasa tinggi besar maupun kesaktiannya. Beliau juga seorang arsitek atau undagi yang 


 Pembicara kiri berdiri Dewa Mardiana, Langit Kresna, Nyoman Wijaya, Nyoman Baskara.


banyak meninggalkan peninggalan seperti bangunan tempat suci dan bangunan lainnya. Beliau sesungguhnya putra dari seorang pertapa di Gunung Tolangkir yang tergoda oleh kecantikan seorang lelembut, akhirnya melahirkan seorang anak yang sangat besar. Kemudian anak itu diserahkan kepada patih raja Bali yang bernama Arya Adikara atau Si Karang Buncing. Untuk menutup aib brahmana pertapa ini, maka dibuatlah kisah Kebo Iwa lahir dari api bara padipan di saat Sira Arya Adikara sembahyang. Setelah besar,Arya Adikara menyerahkannya kepada raja Astasura Ratna Bumi Banten dan kemudian diangkat menjadi patih andalan kerajaan Bali.Adapun ilmu andalannya disebut kebo sengilan.


Kebo Iwa Ikon Gianyar

Bupati Gianyar Cokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengatakan,mengingat Kebo Iwa adalah putra Gianyar, seoarang yang arif bijaksana, sakti, namun atas ketulusan dan kerelaannya mengorbankan diri untuk kepentingan yang lebih besar, yakni persatuan dan kesatuan Nusantara. Inilah yang mengilhami Bupati Gianyar untuk memilih Kebo Iwa sebagai maskot Daerah Gianyar.Pembangunan monument Kebo Iwa sebagai upaya untuk menghargai sikap ksatria mahapatih Bali itu. Bupati berharap Kebo Iwa bisa menjadi ikon Gianyar dan sikap ksatrianya bisa dijadikan tauladan oleh masyarakat. Disinggung soal wajah asli Kebo Iwa mengingat minimnya dokumen yang ada, untuk itu pihaknya sudah mencari masukan dari sejumlah pihak yakni keluarga Karang Buncing, tokoh agama, dan tokoh masyarakat 
Tetua warga Sri Karang Buncing saat bersilaturami dengan Bupati Gianyar
Kebo Iwa ‘Spirit of Inspiration’


Sosok Kebo Iwa seorang mahapatih yang patut dibanggakan,yang dimiliki Bali ketika Kerajaan Badahulu berkuasa di Bali. Dibalik ketokohan sang patih yang dikenal tegas, berani dan memiliki talenta kepemimpinan, ternyata banyak filosofi dan teladan yang bisa diambil dari seorang patih. “Kebo Iwa kita angkat sebagai spirit of Inspiration,” ujar I Made Supatra Karang, di tengah penggalangan amal pembangunan Wantilan Pura Kawitan yang kini berstana palinggih Kebo Iwa, minggu, 1 Februari 2009. Tidak saja nama besar, Kebo Iwa yang kini tengah diabadikan sebagai cagar budaya bernilai tinggi sebagai komoditi pariwisata Bali. Supatra Karang juga mengatakan Kebo Iwa adalah sosok yang memiliki spirit luar biasa,ia sosok pemimpin sarat membawa pesan untuk umat Hindu di Bali.

Kebo Iwa dan Gajah Mada di Pura Dalem Kretti Bhuana

Bali Post, Minggu, 24 April 2011, memberitakan bertepatan pada hari Sanghyang Aji Saraswati, Saniscara Umanis, Watugunung, Sabtu (23/4) kemarin di Pura Dalem Kretti Bhuana Kebo Iwa, kalinggihan tapel Kebo Iwa. Dengan berstananya tapel Kebo Iwa yang berlokasi di Jalan Kebo Iwa 63A Denpasar. Kini telah “bersanding” dua tapel tokoh besar sejarah nusantara di pura tersebut. Delapan tahun silam
Bupati BAdung AA. Gde Agung kiri) dengan Made Supatra Karang, dalam acara Bazar
Pasemetonan Sri Karang Buncing.



pada awal Bali TV mulai tayang, lebih dulu melinggih tapel Gajah Mada. Bersandingnya dua tapel yang disakralkan tersebut bertepatan pada piodalan yang di-puput Ida Peranda Gede Oka Karang, dari Geria Tegeh Karang, Lumintang, Denpasar.

Pimpinan KMB Satria Naradha menyatakan senang bisa menyandingkan kedua tapel tokoh besar Nusantara itu di Pura Dalem Kretti Bhuana Kebo Iwa. Figur Kebo Iwa merupakan tokoh yang sangat arif bijaksana. Keteladanannya dengan mengorbankan jiwa dan raganya demi kepentingan lebih luas Nusantara tercinta,merupakan spirit yang mesti diteladani. Spirit itu adalah adanya komitmen berkorban dalam kerangka menjadikan Bali dan Nusantara ini tetap ajeg, dinamis dan tetap kokoh pada visi dan misi NKRI.

Pada halaman lain, tapel Kebo Iwa dibuat oleh AA Gede Rai alias Gung Aji Mangku dan di-urip oleh Bupati Gianyar. Gung Aji Mangku tak hanya piawai melukis juga hebat membuat tapel-tapel sakral. Terbukti di tengah kesibukannya, lelaki berusia 80 tahun mampu menyelesaikan 3 tapel Kebo Iwa hanya dalam rentang

Bupati Gianyar Tjok Oka Artha Ardhana (kanan) menyerahkan tapel Kebo Iwa kepada
pimpinan Kelompok Media Bali Post, Satria Naradha.

waktu sebulan. Namun yang nyaloning atau mengurip tapel Kebo Iwa itu adalah Bupati Gianyar sendiri, Dr. Tjok. Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si.

Tapel Kebo Iwa itu dari material kayu pule, kayu kesayangan ibu Mahakali, yang katunas di Pura Pengukur Ukur, Desa Pejeng,Gianyar. Gung Aji membuat tiga tapel dari kayu pule, Konon,ada hal aneh dan ciri berbeda pada tiga tapel tersebut. Tapel yang diserahkan Bupati Gianyar kepada Satria Naradha, usai pentas
sendratari Kebo Iwa dan Gajah Mada di Lapangan Astina Gianyar beberpa waktu yang lalu, mengeluarkan air. Tapel yang kedua berat timbangannya melebihi berat yang lainnya, padahal komposisi dan ukurannya sama. Sedangkan tapel yang ketiga mengeluarkan minyak,rencananya akan diserahkan kepada warga Sri Karang Buncing

Keris Kebo Iwa


Dalam situs melajahngblog.blogspot.com, dikisahkan,menyambut Tahun Baru 2009 ada suatu kejadian 24 Nopember 2007. Kejadian ini sangat langka dan benar adanya. Dengan kejadian ini menjadikan kita lebih percaya dan lebih menghormati para leluhur atau pendahulu kita yang hebat dan satya dalam wacana,atau alam gaib atau juga kemahakuasaan Ida Hyang Widhi Wasa.


Suatu waktu Ida Dewa mendapat wangsit untuk mengambil keris pajenengan Ki Patih Kebo Iwa di Pantai Selatan yang disimpan oleh Ratu Kidul karena keris tersebut dibuang oleh Ki Patih Gajah Mada dengan maksud dapat mengalahkan Ki Patih Kebo Iwa. Ki Patih Kebo Iwa adalah keturunan Arya Karang Buncing di Blahbatuh,Gianyar yang lahir dari padipaan disaat sira Arya Karang Buncing memohon keturunan dihadapan Hyang Penguasa Alam Semesta,konon begitu lahir sudah mampu menyantap ketupat kelan (6 biji). Setelah dewasa Ki Kebo Iwa mempunyai tubuh yang sangat besar dan kekar diluar ukuran orang biasa (7 meter), dan memiliki kesaktian yang dimiliki dibawa dari lahir, kesaktian dan kekuatan tiada yang menyamai diseantero jagat.

Inilah yang menjadikan Maha Patih Gajah Mada memutar otak untuk mengatur siasat bagaimana cara memisahkan Ki Kebo Iwa dari Rajanya Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Kalau Ki Kebo Iwa dapat dipisahkan dari Rajanya sehingga mudah dapat mengalahkan Bali. Sampai saat itu Ki Kebo Iwa belum memiliki istri, tidak seorang pun putri di Bali yang menyamai bentuk tubuhnya. Hal inilah yang dipakai titik lemah Ki Kebo Iwa. Sang Ratu Raja Majapahit disuruh membuat sepucuk surat oleh Ki Patih Gajah Mada diperuntukkan Ki Kebo Iwa bahwa ada seorang putri yang cantik di tanah Jawa yang sepadan dengan Ki Kebo Iwa dan untuk dipersandingkan dengannya.

Ki Kebo Iwa sangat senang dan Kebo Iwa diharuskan menjemputnya ke Tanah Jawa. Ki Kebo Iwa mohon izin kepada Rajanya untuk pergi ke Jawa mengambil calon istri dan sang raja mengizinkannya.Sebelum menyeberang mengarungi lautan Ki Kebo Iwa semadi di Pura Luhur Uluwatu. Di Pura tersebut beliau sudah dilarang untuk pergi ke Jawa karena akan terjadi sesuatu, namun karena keinginan yang kuat mendapatkan istri, petunjuk itu tidak dihiraukan, bahkan ada batu besar yang menghadang, batu itu pun dibelahnya menjadi dua, satu ditaruh di Belah Batuh, satunya di bawa ke tanah Jawa (mungkin itu asal usul dari nama Desa Blah Batuh). Sampai di Jawa masyarakat takut dengan Ki Kebo Iwa karena tinggi besar membawa keris dan membawa batu. Muncul ide dari Ki Patih Gajah Mada untuk mengurangi kesaktian Ki Kebo Iwa. “Cening Kebo Iwa kenapa cening bawa keris dan batu ke sana sini, semua rakyatku jadi takut,mari kerisnya disimpan dulu.” Keris Ki Kebo Iwa diserahkan kepada Ki Patih Gajah Mada, bukannya disimpan, ternyata dibuang ke laut,dan diselamatkan serta disimpan oleh Ratu Kidul.



Berikutnya Ki Kebo Iwa disuruh membuat sumur oleh Gajah Mada untuk mandi calon istrinya. Setelah sumurnya dalam Kebo Iwa diurug dengan batu rame rame oleh rakyat Majapahit. Dengan kesaktiannya, batu-batu yang mengurugnya semua terpental ke angkasa. Gajah Mada sudah habis akal untuk melenyapkan Ki Kebo Iwa dari muka bumi, di suruhlah Ki Kebo Iwa pulang ke Bali karena istri yang dijanjikan itu sebenarnya tidak ada, "Itu hanya kiasan,"kata Gajah Mada. "Yang kami sebut Ni Gusti Lemah Tulis itu adalah sebuah gunung cantik yang namanya Gunung Batu Tulis."

"Saya tidak mau pulang ke Bali karena kami janji pada raja kami bahwa kami ke Jawa untuk mengambil istri. Bila kami tak membawa istri, kami akan sangat malu sekali pada sang Raja. Kami merasa di tipu daya, namun kami tak akan bisa mati dengan cara ini, lebih baik kami mati dengan secara satria. Kami bisa mati oleh siraman pamor bubuk, bunuhlah kami dengan itu, kami akan mati."

Kebo Iwa mengeluarkan pamor bubuk diserahkan kepada Patih Gajah Mada, lalu ditaburkan pamor bubuk itu oleh Gajah Mada,seketika itu Ki Kebo Iwa lenyap tanpa bekas (moksa).

Ida I Dewa Mardiana mendapat tugas mengambil keris itu di pantai selatan (Malang) dan pusaka tersebut sudah diberikan oleh Ratu Kidul dan kini disimpan di Kedatuan Kawista Belatungan,Tabanan.

Keris Pusaka Kebo Iwa











Minggu, 13 Mei 2012

Bab X Treh Sri Karang Buncing Masa Kini


Bab X
Treh Sri Karang Buncing
Masa Kini

Transisi pemerintahan Bali Kuno ke Majapahit, tahun 1343 M sampai tahun 1350 M, telah terjadi 30 (tigapuluh) kali pemberontakan dengan perkataan lain Bali belum sepenuhnya ditundukkan oleh para Arya Majapahit. Dalam menengahi peralihan kekuasaan antara Bali dan Majapahit atau untuk mengisi kekosongan pemerintahan Bali tatkala itu, maka diangkatlah seseorang dan diberi jabatan Kiayi Agung Pasek Gelgel, sebelum ditunjuk raja baru dari Majapahit yaitu Sri Kresna Kepakisan (Dalem Samprangan) Isaka 1272/1350 Masehi.

Peralihan kekuasaan tentunya membawa dampak politik psikologis bagi masyarakat Bali Mula pada umumnya dan keturunan Sri Karang Buncing pada khususnya. Untuk menghindari pergolakan politik kekuasaan pada masa itu, masyarakat Bali menyiasati dengan berbagai cara, antara lain dengan nyineb wangsa (menutup asal usul),menyingkir (mengungsi) ke tempat yang lebih aman dari kejaran musuh, atau diangkat oleh pemerintahan selanjutnya untuk mengisi strukturisasi pemerintahan didalam meredam kemarahan masyarakat Bali Mula. Disamping saling kawin mengawini antar keturunan dua penguasa, atau keluarganya dihaturkan untuk mengabdi dalam kelompok berkasta lebih tinggi, Disamping keberadaan di tempat sekarang karena bencana alam dan alasan lainnya.

Konsep pemujaan Tuhan melalui pura kawitan, tempat suci leluhur warga (klen) belum muncul pada era Bali Kuno. Sistem catur warna masih konsisten diterapkan dalam menata kehidupan sosial di jagat Bali era itu. Catur warna, merupakan empat pembagian guna dan karma yang ditentukan oleh sifat (bakat) dan pekerjaan seseorang, bukan ditentukan oleh kelahirannya seperti dalam sistem soroh. Mengambil analogi dengan mitos kelahiran warna tersebut,dapat dikatakan setiap orang adalah Brahmana, Ksatria, Wesya, dan
Sudra. Hanya gradasi pekerjaannya kemudian yang membedakan dia lebih disebut sebagai Brahmana (kaum ulama), Ksatria (pertahanan dan pemerintahan), Waisya (petani dan pedagang),atau Sudra (pelayan dan buruh). Ketaatan warna sudra dengan warna Brahmana, misalnya, seolah-olah terjadi karena perbedaan kelas, bukan dilihat dari fungsi sosialnya di masyarakat Hindu.

Semenjak sistem warna perlahan-lahan berubah menjadi sistem wangsa atau sistem soroh yang dapat disebut sebagai sistem kasta khas Bali, kemudian dikelompokkan sebagai Ksatria dan Wesya dalam sistem kasta, sedangkan Danghyang Nirartha, kemudian bergelar Pedanda Sakti Wawu Rauh yang datang ke Bali tahun 1550 di zaman pemerintahan Raja Dalem Batur Enggong dan Danghyang Astapaka,menurunkan wangsa Brahmana, yang kemudian dikelompokkan ke dalam kasta Brahmana. Sementara keturunan para dang acarya (pendeta sekte siwa), dang upadyaya (pendeta sekte boddha),para brahmana, para Rsi, para pertapa raja-raja Bali Kuno, para senapati, para kubahyan, para samgat, para nayaka, dan masyarakat Bali Mula yang dikalahkan, nyaris tidak berhak menyandang ke tiga kasta tersebut, kecuali mereka yang diperlukan wibawanya dalam menjaga stabilitas pemerintahan yang baru, disebut arya, sedangkan yang lain dikelompokkan sebagai sudra yang kemudian menyebut diri sebagai “jaba” (luar), yang berarti diluar kasta Brahmana,Ksatria, dan Wesya. Apalagi pengelompokkan wangsa-wangsa di Bali dikukuhkan lagi dengan hukum adat, yang memberikan hak-hak istimewa kepada wangsa yang lebih tinggi. Dengan adanya hak-hak istimewa itu, yang melekat secara turun temurun, semakin kuatlah anggapan masyarakat bahwa Catur Warna itu sesungguhnya sama dengan soroh (clan).

Zaman Bali Kuna tempat pertapaan dan perabuan para raja Bali, serta spirit alam sekitarnya yang dicandikan sebagai media penghubung ke para dewa oleh keturunan dan masyarakat Hindu sekitarnya. Karena raja diyakini sebagai titisan dewa. Setelah pemerintahan Sri Masula-Masuli tahun 1324 muncul konsep Sapta Giri yaitu 7 gunung sebagai simbol stana suci para dewa (lontar aji murti siwa sasana). Perkembangan selanjutnya kiblat tujuh gunung tersebut di aplikasikan di desa desa dengan palinggih meru tumpang
pitu (tempat suci dengan beratap tujuh) yang terletak di Pura Puseh.Pasca kedatangan Danghyang Nirartta sekitar tahun 1550 muncul konsep pemujaan kawitan, stana suci para leluhur serta konsep istadewata yang berdiri mengitari Pulau Bali. Yang pada akhirnya membawa dampak kebingungan bagi masyarakat Bali Mula untuk menelusuri jejak-jejak leluhur mereka yang sudah ada, sebelum kedatangan Danghyang Nirartta di Bali. Dimanakah pura kawitan dan padharman masyarakat Bali Mula itu?

Kebingungan bagi keturunan Sri Karang Buncing dan keturunan Dukuh dalam menentukan asal usul leluhurnya didapat dari cerita yang diceritakan oleh orang tua, maupun kerabat dekat, ada pula mendapat petunjuk dari ‘niskala’ dan sebagainya. Sehingga beberapa kelompok keluarga keturunan Sri Karang Buncing dan keturunan Dukuh masuk clan/warga pasek, beberapa kelompok keluarga masuk warga dalem (arya), beberapa kelompok keluarga masuk warga bendesa, bahkan ada yang masih tetap menyandang turunan dukuh dan soroh karang.

Penyebaran mereka dalam satu kabupaten di Bali terjadi dalam periode yang berbeda beda. Beberapa kelompok penyebarannya melalui darat dan beberapa kelompok penyebarannya melalui laut. Materi yang penulis kumpulkan dari beberapa pengurus maupun dari para panglingsir warga, beberapa merupakan hasil
wawancara, maupun dari catatan tertulis yang telah ada di beberapa Pura Dadiya yang ada di desa tertentu. Inventarisasi dilakukan khususnya bagi kelompok warga yang memiliki pura dadya, artinya kelompok keluarga yang jumlah populasinya melebihi 20 KK. Dari pengumpulan data tersebut terdapat berbeda-beda identitas yang dijadikan momentum didalam mengenang roh suci leluhur mereka dimasa lalu, ada memakai identitas prabali karang buncing, arya karang buncing, gusti karang buncing, bendesa karang buncing, sri arya karang buncing, dukuh karang, si karang, kryan karang buncing,pasek karang buncing dan soroh karang lainnya.

Kemungkinan munculnya perbedaan identitas tersebut berdasarkan guna karma, atau tugas dan fungsi keturunan beliau saat itu. Tatkala keturunannya menjabat sebagai kepala desa, bendesa karang buncing sebutannya. Tatkala keturunannya mendapat tugas pemerintahan Dalem (Majapahit), arya karang buncing sebutannya.Sedangkan keturunan yang berasal dari pertapa raja raja Bali Kuno di Desa Gamongan, persebaranya warga dukuh sebutannya. Tatkala ada pengelompokan dalam penulisan babad antara nak jawa dan nak bali atau keturunan berasal dari Jawa dan orang Bali, prabali karang buncing disebutnya. Jika keturunannya mamarekan (mengabdi) di keluarga dalem atau yang berkasta lebih tinggi, pasek karang buncing disebutnya, dan sebagainya. Sesungguhnya kata-kata Karang Buncing yang berbeda itu berasal dari Sri Karang Buncing adik kandung Sri Kebo Iwa yang hidup pada masa peralihan pemerintahan Bali Kuno ke Majapahit. Beliau berdua adalah keturunan akhir raja-raja Bali Kuno dan misan mindon (sepupu) dengan Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Disamping kesepakatan warga dalam Mahasaba, nama Sri Karang Buncing yang dipakai momentum oleh keturunannya masa kini di dalam mendekatkan diri kepada Hyang Kawitan (leluhur) dan Hyang Widhi/Tuhan.

Jika yang menjadi acuan awal keberadaan dalam menentukan pura kawitan pasca pemerintahan Arya Majapahit, semestinya keturunan Sri Kesari Warmadewa masa kini memiliki 5 pura kawitan yaitu 

(1) Pura Kawitan Warga Dukuh berhulu di Desa Gamongan persebarannya ke desa desa di Bali masa kini.

(2) Kawitan Sri Karang Buncing yang berhulu di Blahbatuh menjadi watek karang yang ada masa kini. 

(3) Pura Kawitan keturunan Sri Batu Ireng (Sri Astasura Ratna Bumi Banten) di Batahanar (Bedulu) tidak jelas keturunannya masa kini.

 (4) Pura Kawitan Dalem Petak Jingga di Jimbaran putrakandung Sri Batu Putih juga tidak jelas siapakah keturunannya masa kini.
 (5) Pura Kawitan Jaya Katwang putra Sri Maha Sidhimantra Dewa di Jawa, juga tidak jelas siapa keturunannya masa kini.

Dari kumpulan naskah yang ditemukan hanya 2 (dua) cabang keturunan Sri Kesari Warmmadewa yang kelihatan sangat jelas yaitu bermuara ke Gamongan menurunkan para Dukuh persebarannya masih ada masa kini. Dan yang bermuara ke Blahbatuh, Sri Karang Buncing yang menurunkan watek karang. Konsep Tri Hita Karana yang menjadi pedoman pemerintahan era Bali Pertengahan, dimana Desa Gamongan yang membidangi parahyangan jagat bali diberikan kekuasaan penuh mengurus hubungan umat dengan Tuhannya
(uloning jagat bali atau siwaning jagat bali) Sedangkan bagian pawongan hubungan kerajaan dan masyarakatnya adalah Batahanar (Blahbatuh), maka tunggul i jagat bali artinya Blahbatuh merupakan pusat pemerintahan di Bali pada era itu. Dan Pura Gaduh maka gagaduhan prabhu bali, artinya Pura Gaduh merupakan tempat suci kerajaan Batahanar saat itu. Pura Gaduh merupakan pusat pemujaan Dewa Sapta Giri di stanakan pada palinggih meru tumpang 7 (stana suci beratap tujuh), kalau boleh dikatakan Pura Jagat Natha masa itu. Sedangkan masa pemerintahan Dalem Gelgel, yang menjadi kiblat adalah Gunung Agung, Pura Besakih maka uloning jagat bali,dan Kerajaan Gelgel sebagai pusat pemerintahan.

Mengacu dari transkrip Lontar Purana Pura Puseh Gaduh, Lontar Raja Purana Pura Lempuyang dan Piagem Dukuh Gamongan, Warga Sri Karang Buncing dan masyarakat Bali Mula yang hendak madiksa atau menapaki hidup suci semestinya mengikuti jejak leluhur terdahulu yaitu melakukan hidup suci (wanaprasta) ke Gunung Lempuyang, Desa Gamongan, karena Pura Lempuyang Gamongan maka siwaning jagat bali, sebagai simbolis lahirnya istilah maguru siwa yang dirintis oleh Hyang Gnijaya khususnya bagi umat yang ingin menapaki hidup kesucian menjadi dukuh (pendeta). Dengan perkataan lain setidaknya sang calon diksita treh Sri Karang Buncing wajib nunas tirta atau mohon restu ke Desa Gamongan. Disamping bhisama yang telah dicetuskan para leluhur dalam lontar usana bali milik pura kawitan dan Piagem Dukuh Gamongan untuk tidak melupakan tiga kahyangan yaitu Pura Kawitan Sri Karang Buncing,Pura Gaduh dan Pura Lempuyang Gamongan, Karangasem.

Karena keterbatasan waktu, penulis hanya mencantumkan beberapa kelompok keluarga yang memiliki pura dadya yang ada di desa tertentu, sebagai penanda bahwa keturunan raja raja Bali Kuno khususnya keturunan Sri Karang Buncing dan Keturunan Dukuh masih tetap eksis dan jelas keberadaannya masa kini.Penulis tidak menelusuri dimana letak pura dadya itu, serta benda arkeologi yang ditinggalkan, adakah kahyangan desa yang di-mong oleh warga Karang Buncing selain pura dadya milik warga. Yang terkadang catatan tertulis berada jauh dari letak pura. Maka, tentu hasilnya tidak memuaskan di dalam menguraikan perjalanan leluhur mereka sebelumnya. Tidak ditemukan catatan pasti menguraikan persebarannya, maka tidak semua pura dadya diunggah dalam naskah ini. Sesungguhnya penulis hanya memfokuskan materi sampai di Sri Karang Buncing dan Dukuh saja. Untuk mengetahui lebih jelas tentang nama dan alamat keturunan Sri Karang Buncing dan Dukuh persebarannya masa kini tercatat di Buku Besar Pasemetonan Sri
Karang Buncing di Pura Kawitan, Blahbatuh, Gianyar.

Penjelasan awal tentang nama, alamat anggota warga berasal dari Sekretaris Warga Sri Karang Buncing, I Nyoman Sudana SH,yang mengatakan jumlah anggota yang terdaftar dalam Buku Besar Pasemetonan di Pura Kawitan berkisar 1.800 KK. Disamping dalam buku kecil yang disusun oleh Pak Wul dengan judul Ngingetang Kadang Warga khusus warga Karang Buncing tertera nama dan alamat dusun persebarannya di beberapa desa di Bali. Berikut beberapa persebaran keturunan Sri Karang Buncing dan Dukuh yang ada di Bali:

Kabupaten Karangasem
Pura Lempuyang, Desa Adat Gamongan, Perbekel Tiyingtali
I Gede Wira, tetua warga, mengungkapkan, sebelum pengambilalihan Pura Lempuyang yang sekarang disebut Pura Lempuyang Madya, warga Desa Adat Gamongan pangamong beberapa pura yaitu Pura Pucak Bisbis, Pura Penataran Lempuyang, Pura Telaga Sawang, Pura Pajenengan Sri pasung Grigis, Merajan Sri Rigis, Merajan Dukuh Karang, Merajan Karang Semadi, Pura Pesimpenan.Jumlah pangamong yang ada di Desa Adat Gamongan 38 KK dan pengempon sebanyak 18 dadiya yang tersebar di luar Desa Gamongan.

Pura Penataran Gamongan, Desa Pakraman Muncan

Dalam buku Inventarisasi Pura Penataran Gamongan yang disusun oleh Jro Mangku Sugiri, dkk (2010:11) dijelaskan tentang sejarah Pura Penataran Gamongan di Desa Pakraman Muncan.Sebelum dipindah atau magingsir ke Dusun Pamuhunan di tempat sekarang, dulu berlokasi di Bukit Kucet/Dukuh dan diperkirakan pendiriannya setelah runtuhnya Kerajaan Batahanar. Berdasarkan Raja Purana Besakih dan Tata Ruang Kawasan Suci Pura Besakih,Desa Muncan termasuk kawasan suci Pura Besakih sampai Pura Pasar Agung di Gunung Agung, karena Desa Muncan sebagai pewaregan (dapur, lumbung) Pura Besakih dan di Desa Muncan juga terdapat tempat pamelastian dan nunas tirta ida bhatara-bhatari Pura Besakih dan Pura Pasar Agung, yaitu Pura Yeh Sah.

Dengan adanya penataan pemukiman penduduk Desa Muncan saat itu oleh Kerajaan Karangasem, maka panglingsir (tetua) yang dulu berada di Dukuh juga pindah ke tempat sekarang yaitu Dusun Pamuhunan. Menurut cerita tetua, bahwa Dusun Pamuhunan dulunya adalah tempat pembakaran jenazah atau tunon sehingga diberi nama Pamuhunan. Perpindahan pemukiman ini diperkuat adanya kemungkinan pola pertukaran kepemilikan lahan antara lahan yang ditempati sebagai pemukiman sekarang (Dusun Pamuhunan)
dengan lokasi kuburan desa yang sekarang. Mengingat lahan-lahan yang berada disekitar kuburan desa sekarang, baik sebelah utara,timur maupun sebelah barat atau sekitar Pura Dalem banyak dimiliki oleh panglingsir sejak jaman dahulu, yang mempunyai akses kedekatan lokasi Bukit Kucet.

Menurut tetua warga, lokasi Pura Penataran Gamongan sekarang memakai lahan bekas pekarangan Kumpi Kayun dan Kumpi Karang yang ahli warisnya tidak ada lagi atau camput. Disamping itu juga didasarkan atas posisi tanah untuk pembangunan tempat suci dipandang cukup baik. Pengempon Pura Penataran Gamongan adalah keluarga Sri Karang Buncing yang berada di Dusun Pamuhunan, Desa Muncan yang jumlahnya saat kini (2009) adalah sebanyak 85 KK, baik yang mengempon Pura Penataran Gamongan maupun Pura Dadya.

Pura Paibon Hyang Batuh, Desa Lusuh

Menurut tetua warga I Wayan Bawa asal usul persebaran warga yang ada di Desa Lusuh yang diceritakan oleh para tetua sebelumnya berawal dari tiga orang menetap di Desa Selat, di Prasana dan tetua Wayan Bawa sebagai pengempon paibon Hyang Batuh berkembang menjadi 45 KK. Awalnya semua kepengurusan pura dipegang oleh warga baleran (utara) pura, sedangkan keluarga tetua Bpk. Wayan Bawa yang tinggal satu pakarangan dengan Pura Paibon hanya sebagai pelaksana bila ada upacara di Paibon Hyang Batuh.

Pada suatu hari karena keadaan pura sangat rusak dan tetua Wayan Bawa bermaksud memperbaiki pura sehingga keluarga yang tinggal di utara pura pun diminta untuk membantu mengeluarkan iuran dalam memperbaiki pura tetapi apa yang terjadi mereka hanya bisa membayar dengan batu slebingkah (pecahan grabah) hal ini membuat ketegangan antar dua kelompok keluarga itu, sehingga terjadi pemisahan dengan mendirikan Paibon baru di keluarga yang bertempat tinggal di utara. Semenjak itu masing-masing kelompok warga memiliki pura tempat suci sebagai pemujaan leluhur. Dari seluruh kelompok keluarga yang bertempat tinggal di Desa Lusuh tetap datang menghaturkan sembah bakti maupun membayar iuran wajib ke Blahbatuh jika ada odalan di Pura kawitan demikian di informasikan oleh Ketua Paibon Hyang Batuh I Wayan Bawa.

Persebaran warga ke Dusun (Banjar, Br.) yang ada di Kabupaten Karangasem: Br. Gede Muncan Selat, Banjar Yang Api Muncan Selat, Banjar Lusuh Selat Duda, Banjar Saren Nongan Rendang, Br.Sengkidu Nyuh Tebel, Banjar Jasi Bugbug, Br Asak Kanginan, Desa Timbrah, Desa Bungaya, Br. Bukian Nongan, Br. Perasi Bugbug, Br Buitan Apit Yeh, Br. Kastala Ngis Manggis, Br. Yeh Pah Manggis,Br. Ngis Kelod, Br. Simpar Kawan Pidpid, Br. Lebuh Pura Ayu Abang, Br Perayu Tista Abang, Br. Tista Gede, Br. Kemuda, Br.Lingga Manik Tumbu, Br. Siladumi, Br Cucut Ban Kayu, Br. Kubu Karangasem, Br Bungkulan Seraya, Br. Kecicang, Br. Lebah Culik,Br. Gambang Seraya, Br. Peladung Tengah,

Kabupaten Bangli
Kecamatan Tembuku ada Tiga Pura Dadya
1) Dalem Karang Buncing sebagai panglingsir Jero Mangku Gede.Pura Dalem Gaduh sebagai panglingsir Jero Mangku Gaduh. Puri Karang dengan anggotanya dari Sukawana sebagai panglingsir Jro Gede Karang.

 2) Pura Dadya Karang Kubu sebagai panglingsir Jero Guru. 

3) Pura Dadya Karang Bunutin dan Guliang sebagai panglingsir Guru Bratha. Mrajan Ageng Karang Buncing Penatahan sebagai panglingsir Jro Mangku Puseh. Dadya Gaduh Karang Manuk sebagai panglingsir Guru Logam.

Di Desa Undisan jumlah kepala keluarga adalah 75 KK penyebaranya melalui Desa Gamongan sampai sekarang nunas tirta dan kajang ka Desa Gamongan. Panglingsir Jro Dasaran I Made Wijasa dan Jro Mangku Dadya : Dr Jro Mangku Ketut Dinamika,S.Sos. Nama Pura : Dalem Gaduh Sri Karang Buncing. Penyebaran dari Undisan ka Kintamani, Sukawana dan Bunutin Kintamani.

Pura dadya di Bunutin panglingsir Guru Beratha penyebaranya dari Lebih Gianyar. Jumlah anggota 10 KK. Dari Bunutin ada ke Guliang Kawan dan Kubu Bangli. Nama Pura : Dadya Karang Buncing. Dadya Manuk nama panglingsir Guru Wayan Logam.Penyebarannya dari Blahbatuh karena panglingsir di sana bernama Kaki Gaduh. Jumlah Anggota 10 KK. Dadya Karang Penatahan berjumlah KK 35 KK, 5 KK di Bengkulu, 2 KK di Negara.Penyebarannya mungkin melalui gamongan karena berdasarkan pralingga yang disungsung berupa dukuh. Tetapi salah satu panglingsir diberi nama panggilan pekak batuh karena dulu waktu mapinton siapa yang bisa membuka gelung kori di Pura Gaduh dia warih Karang Buncing. dan beliau lolos. Semeton Desa Penatahan dan Desa Undisan mulai pengabenan dan upacara dewa yadnya sudah memakai Ida Pandita Dukuh sebagai pamuput (pemimpin upacara) dari dulu sampai sekarang antara semeton Desa Penatahan dan Desa Undisan sudah terjalin ikatan keakraban. Peninggalan para pendahulu berupa benda sakral banyak tersimpan di Penatahan,Balean di Undisan Klian subak di Manuk. Demikian diinformasikan
oleh Gede Karang.

Persebaran warga di Kabupaten Bangli: Banjar Guliang Kawan,Banjar Bunutin, Banjar Penatahan, Banjar Undisan Tembuku, Banjar Kuwum Sukawana Kintamani, Banjar Kutuh Kintamani, Banjar Manuk Susut, Banjar Jaya Maruti Kintamani.

Kabupaten Klungkung
Pura Gaduh, Dusun Losan, Takmung
Tetua warga dari Banjar Losan, I Nyoman Wijana, mengatakan,dimana sebelum masuknya para Arya Majapahit ke Bali, leluhur mereka bertempat tinggal di Desa Takmung. Setelah pengambilalihan,leluhurnya pindah ke Desa Blega. Suatu saat terjadi konflik di Alas Blatung dan mereka lolos dalam pertikaian, karena lolos maka lama kelamaan tempat mereka tinggal diberi nama Losan, karena lolos dari pertikaian itu. Jumlah kepala keluarga 35 KK yang mengampu Pura Gaduh yang ada di Banjar Losan, Kelungkung.Persebaran warga di Dusun (Banjar) yang ada di Kabupaten Kelungkung: Banjar Sengguan, Banjar Cempaka Pikat Dawa, Banjar Tusan, Banjar Angkan, Banjar Selat, Dusun Kangin Bakas, Banjar Kutampi Nusa, Dusun Tegal Besar, Banjar Losan Takmung.


Kabupaten Gianyar
Prakempa Pura Dalem, Desa Celuk
Dijelaskan Sanghyang Sidhimantra beryoga lahir dari Widhi yaitu, Bhatara Uma, Bhatara Iswara, Bhatara Brahma, Bhatara Mahadewa, Bhatara Wisnu, Bhatara Siwa. Bhatara Brahma beryoga lahir Sanghyang Agnijaya, Danghyang Sidhimantra disebut juga Bhagawan Indra Cakru, Danghyang Mahadewa, dan Sira Kul Putih.

Bhagawan Indra Cakru mempunyai dua orang putra yaitu Sang Wijaya Katong dan Sira Arya Pasung Giri. Sang Wijaya Katong mempunyai seorang putra yaitu Arya Karang Buncing. Arya Karang Buncing melahirkan Si Kebo Waruga dan adiknya Arya Prabali Karang Buncing. Dan selanjutnya Arya Prabali Karang Buncing menurunkan Watek Karang,

Dijelaskan juga, wafat nya Kebo Iwa tahun candra sangkala yaitu caksu bhuta suku wong yang artinya Caka 1252/1340 Masehi. Watek Karang menyebar ke Desa Gamongan menjadi Dukuh Gamongan.Lahir di Blahbatuh keturunannya bernama Jro Gede Kadulu yang menggantikan ayahnya yang bernama Prabali Karang Buncing. Dan turunan yang lain bernama Jro Nyoman Karang Samping Jeruk.

Desa Pakraman Blahbatuh

Ketua pemaksan alit I Wayan Karang, dari Banjar Tubuh,Blahbatuh mengatakan warga Sri Karang Buncing yang bertempat tinggal di Desa Blahbatuh berjumlah 125 KK, dari seluruh kepala keluarga tersebut, beberapa KK pengempon yang mempunyai tanggung jawab terhadap: 

1) Pura Kawitan Sri Karang Buncing.


2) Pura Gaduh, Blahbatuh. 

3) Pura Kurubaya.

 4) Pura Batursari.

5) Pura Kumanak. 

6) Pura Dalem Tunon. 

7) Pura Penataran, Br Tubuh, Blahbatuh. 

8) Pura Ibu, Br Tubuh, Blahbatuh. 

9) Pura Melanting, Pasar Blahbatuh, Gianyar. 

10) Pura Beji.

Persebaran warga di Kabupaten Gianyar: Banjar (Br) Blangsinga Blahbatuh, Br. Bonbyu, Br. Banda, Br. Bona Kaja, Br. Tojan, Br.Blega, Br. Maspahit Keramas, Br. Medahan Keramas, Br. Sumampan Sukawati, Br. Gelulung, Br. Sakah Guwang, Br. Kubur Ketewel,Br. Mukti Singapadu, Br. Negari Singapadu, Br. Kuteri Singapadu,Br. Pekandelan Batuan, Br. Abasan, Br. Celuk Sukawati, Br.Pengambangan Batubulan, Br. Wanaya Bedulu, Br. Kederi, Br.Tarukan Mas, Br. Mawang Kaja, Br. Mawang Kelod, Br. Batuk Demayu Singakerta, Br. Kengetan Ubud, Br. Kutuh Kelod Petulu,Br. Tunon Demayu, Br. Padang Tegal Ubud, Br. Tengah Ubud, Br.Pupuan Tegalalang, Br. Perean Tegalalang, Br. Malet, Br. Timbul, Br.Tengah Triwangsa Manuaba, Br. Kebon Kedisan, Br. Peliatan KelusaPayangan, Br. Buntek Kerta, Br. Titiapi Pejeng, Br. Laplapan Pejeng,Br. Intaran, Br. Puseh, Br. Pande, Br. Pegembungan Pejeng, Br. Tegal Suci Tampaksiring, Br. Papadan Petak Bitera, Br Sumita Bitra, Br.Siladan Siangan, Br. Pas Dalem, Br. Pagesangan, Br. Kawan Babakan,Br. Serongga, Br. Cebang, Br. Lebih Kaja, Br. Tegal Tulikup, Br.Pinda Saba, Br. Basangambu, Br. Uma Kuta Pejeng Kangin.


Kabupaten Badung
Merajan Kubon Karang Buncing, Sibang Kaja
Dalam Lontar Prasasti Sira Arya Karang Buncing terdiri dari 14 lembar dialihaksara oleh Drs. I Nyoman Sukada (1989:6) dijelaskan,Bhatara Siwa beryoga lahir manusia Ki Prabali Karang, beliau berputra laki perempuan, beliau ini yang menurunkan Ki Prabali Karang Buncing sampai masa kini. I Prabali Karang Buncing yang tinggal di Bedugul memang milik I Prabali Gaduh di Gaduh, lahir seorang putra yang bernama Sri Kebo Teruna, sebagai mahapatih Dalem di Bali. Beliau I Gusti Karang Buncing banyak mempunyai hamba, banyak mempunyai putra, sampai I Gusti Bibi Aji Karang Kedi, banyak mempunyai putra, semua sudah menempati masing desa, semua dikasi para abdi, menjadi Prabali Karang dari dahulu sampai kini Anaknya I Gusti Karang Buncing bernama I Kebo Iwa sebagai mahapatih Dalem Bedahulu. Demikian asal mula I Gusti Karang Buncing, I Prabali Karang Buncing serta yang didharmakan I Gusti Pasung Rigih, dan I Gusti Pasung Giri menjadi mahapatih di Dalem Bedahulu.

Diceritakan keturunan I Gusti Karang Buncing, yang mengungsi di Desa Sibang, tiga anaknya yang satu bernama Si Gede Mangku Mica Gundil, berasrama di Srijati, putri beliau satu dihaturkan kepada Ida Pranda Sakti Manuaba, mempunyai putra seorang diri bernama Ida Pranda Teges, berasrama di Srijati merupakan guru spiritual (surya) Si Gede Mangku Mica Gundil, Si Abug Mahong berasrama di selatan Pura Dalem Denpasar, Si Gede Karang berasrama di utara Pura Dalem Denpasar di Sibang Kaleran. Semua mempunyai tempat masing-masing di sekitar Desa Sibang, selesai.

Setelah kalahnya Desa Sibang oleh I Gusti Agung Made Kamasan, serta I Gusti Gede Putu Mambal, Si Gede Mangku Mica Gundil membelot kepada I Gusti Agung Made Kamasan, Si Abug Mahong terus ngungsi ke Desa Tegal Narungan bersama seluruh keturunannya sampai sekarang. Si Gede Karang wafat di sebelah barat kayu kepuh besar. Keturunan Si Gede Karang dan putranya mengungsi ke Desa Peliatan, serta ada yang mengungsi mencari tempat lain, serta ada putranya masih tetap tinggal di Sahibang, yang tertua seperti Si Putu Gendu, Si Putu Gendu anak dari Kompyang Grudug, Si Made Nesa, Si Luh Nyoman Nesa, diambil oleh Puri Praupan, Si Ketut Nesa Loncing, Si Kompyang Grudug, mempunyai putra Si Wayan Kenak semua masih di Desa Sahibang, selesai.

Si Gede Bandesa Sahibang, yang mengungsi dari Desa Sahibang ke Desa Peliatan sejak tahun Saka 1392/1470 M, banyak putranya masih di Peliatan. Disamping itu ada yang mengungsi ke Manuaba,setelah lama menetap di Manuaba, ada putra beliau yang bernama I Karsa. I Karsa mempunyai dua orang putra laki laki bernama I Goyal, adiknya bernama I Jaya, dijadikan Pemangku di Pura  SaktiManuaba, setelah menjalani hidup suci, dan berguru di Geriya Ubud, mempunyai putra dan putri 8 orang.

Jumlah keturunannya yang mengampu Merajan Kubon Karang Buncing di Sibang Kaja tercatat 4 Oktober 1989 sebanyak 103 KK.


Pura Panti Karang Buncing Kuta

Ketua warga, I Made Sunarca, mengatakan persebaran keturunan Sri Karang Buncing dari Blahbatuh ke daerah Kuta tercantum dalam Lontar Piagem Dukuh Gamongan, berbunyi:

Mangke caritanen Treh nira Sri Karang Buncing, risapamadegan
nira Sri Kresna Kepakisan Baturenggong, anugrahaken desaparadesa
maring sira Bandesa Karang Buncing ndyata, Karang Buncing Kuta
ngamong pradesa Jimbaran, mwah Bandesa Silabumi, Bandesa Sraya,
Bandesa Sege, Bandesa Garbawana, Bandesa Ujung, Bandesa Tumbu,
Bandesa Bugbug, Bandesa Asak, Bandesa Timrah, Bandesa Prasi,
Bandesa Subagan, mwang Bandesa Sibetan, mula Treh Sri Karang
Buncing, mapalarasan saking Batahanyar.

[Berikut diceritakan treh beliau Sri Karang Buncing, di zaman
pemerintahan Baginda Sri Kresna Kepakisan Baturenggong,
menganugrahkan kepada Bandesa Karang Buncing, sebagai
pucuk pimpinan di desa desa, Karang Buncing Kuta, menjadi
pucuk pimpinan desa wilayah Jimbaran, serta Bandesa Silabumi,
Bandesa Seraya, Bandesa Sege, Bandesa Garbawana, Bandesa
Ujung, Bandesa Tumbu, Bandesa Bugbug, Bandesa Asak, Bandesa
Timrah, Bandesa Prasi, Bandesa Subagan, juga Bandesa Sibetan,
memang keturunan Karang Buncing, memang asalnya Batahanyar.
Dalam Usana Bali dijelaskan, kang panghulu kasinungan Jro Gede
Karang Dimade demikang juesta ring Sema Kuta Negara, artinya
adalah orang kepercayaan bernama Jro Gede Karang Dimade yang
utama bertempat tinggal di daerah suci Desa Kuta.

Yang dimaksud tempat suci di sini kemungkinan Pura Sarin Buwana, di Desa Jimbaran, Kuta Selatan. Pura Sarin Buwana termasuk Kahyangan Jagat Jimbaran bekas pertapaan Sri Batu Putih kakak kandung dari Sri Batu Ireng (Sri Astasura Ratna Bumi Banten) raja kerajaan Batahanar (Bedulu). Sejarah keberadaan Pura Sarin Buwana dan beberapa nama tempat yang ada di wilayah Jimbaran tertulis sangat jelas dalam Lontar Piagem Dukuh Gamongan. Benda tinggalan kuno yang terdapat di Pura Sarin Buwana berupa: lingga yoni jangkep, arca perwujudan dewa-dewi, arca siwa bhairawa, dan puluhan arca batu kecil. Pura Sarin Buwana di-mong oleh Warga Sri Karng Buncing yang ada di Jimbaran dan pangempon pura seluruh umat Hindu di Desa Jimbaran dan beberapa kelompok warga berasal dari luar Desa Jimbaran. Demikian dikatakan oleh kelian Pura Sarin Buwana, I Made Sudiarsa, Banjar Ubung, Jimbaran.

Setelah Ki Tambyak kalah sebagai penjaga keamanan wilayah Jimbaran serta keturunan Sri Batu Putih (Dalem Putih) yaitu Dalem Petak Jingga juga tidak jelas kehidupannya. Pasca peralihan kekuasaan masih terjadi kekacauan di desa-desa yang ada di Bali,untuk meredam kemarahan masyarakat Bali Mula oleh Sri Kresna Kepakisan Baturenggong maka diangkatlah keturunan Sri Karang Buncing sebagai kepala desa yang ada di Bali salah satunya Karang Buncing Kuta ngemong pradesa Jimbaran artinya Karang Buncing Kuta sebagai kepala desa yang mewilayahi dari Kuta sampai di Jimbaran. Dari Kuta persebarannya ke Desa Jimbaran, Munang Maning, Tainsiat, Denpasar, dengan jumlah kepala keluarga 150 KK, ikut mengampu Pura Panti Sri Karang Buncing yang terletak di Jalan Bunisari, Kuta.

Peninggalan kuno yang terdapat di Pura Panti Karang Buncing Kuta berupa batu kepelan kebo iwa (batu kepalan tangan Kebo Iwa) dengan diameter sekitar 60 cm, tinggi 125 cm yang distanakan di palinggih kepelan. Tinggalan batu ini termasuk salah satu peninggalan kuno yang dilindungi Dinas Kebudayaan di Wilayah Kecamatan Kuta. Sebelum dipindah ke Pura Panti tahun 1994, kepelan ini berada di muka halaman kelas SD 2 Kuta, sebelah Hotel Ida Beach Inn. Karena beberapa murid sakit tanpa sebab yang jelas sampai berminggu-minggu, lalu orang tuanya minta petunjuk dari paranormal untuk nunas tirta di palinggih batu akhirnya mereka berangsur pulih kembali. Sebelum batu kepelan itu dipindah dari halaman SD 2 Kuta, yang jaraknya sekitar 500 meter dari Pura Panti.

Memang dari dulu tetua warga mendengar cerita itu dari masyarakat sekitar, bahwa batu itu merupakan kepelan kebo iwa,.Karena tiada catatan yang pasti menyebutkan tentang keberadaan batu itu, maka tetua warga mengabaikannya. Pada suatu malam sehabis pujawali di Pura Panti, tetua dari Blahbatuh dan Desa Sesetan bersama beberapa warga mendatangi SD 2 itu, setelah upakara di haturkan di palinggih batu kepelan tidak begitu lama salah seorang tetua dari Sesetan kerauhan, dipinjam badan raganya dalam menyampaikan pesan dan kesan dari alam lain, diceritakan KeboI wa mengadakan perjalanan ke pantai selatan, wilayah Jimbaran,saat lagi air surut banyak muncul ceglongan (palung pasir kecil) yang masih berisi air di dalamnya lalu beliau mandi di salah satu palung kecil itu, karena saking larut dalam keheningan di palung pasir itu,tanpa disadari air pasang terjadi, karena beliau mempunyai suatu ajian tertentu sehingga Si Kebo Iwa tidak pernah tersentuh oleh air pasang itu, lalu turun sabda dari “ajik dewa brahma” untuk ingat
diri, kalau tidak Pulau Bali ini akan tenggelam.

Ketika Kebo Iwa sedang membendung daratan Kuta dan Jimbaran untuk menghubungkan Bali dengan Bukit Jimbaran di saat memindahkan dua bongkahan batu bukit dengan sebatang pohon kelor, batang kelor itu patah dan patahan batu itu jatuh di Pantai Bualu sekarang disebut Nusa Dua. Kebo Iwa mengepal tanah
bukit lalu dilempar dan jatuh di halaman SD 2 Kuta. Setelah adanya petunjuk tersebut beberapa hari kemudian batu kepelan di halaman SD 2 di-tuwur dan distanakan di Pura Panti saat kini.

Tetua warga yang diceritakan secara lisan oleh orang tuanya,mengungkapkan di samping selatan Pura Panti dulunya berdiri sebuah Bale Banjar yang disebut Banjar Gianyar. Karena perkembangan pemerintahan selanjutnya disamping populasi warga kian bertambah, maka tanah bale banjar itu dijadikan tempat tinggal oleh keturunannya. Demikian untuk warga Sri Karang Buncing yang ada wilayah Kuta dan Jimbaran, selain mengempon Pura Panti Karang Buncing, Kuta dan Pura Sarin Buwana, Jimbaran, juga mengempon di masing-masing merajan dewa hyang milik beberapa kelompok keluarga.

Pura Gaduh Bindu, Mekar Bhuana

Menurut tetua warga, I Ketut Seninnatha, dari cerita orang tuanya terdahulu, persebaran warga yang ada di Desa Adat Bindu berasal dari Blahbatuh, yang lama kelamaan mendirikan satu tempat suci yang disebut Pura Gaduh Bindu. Keturunan yang mengampu Pura Gaduh Bindu berjumlah 18 KK yang tersebar dalam beberapa Banjar yaitu Banjar Pane, Banjar Badung Sibang, Banjar Senggu Sibang, Banjar Bindu Mekar Bhuana.


Persebaran warga di wilayah Kabupaten Badung berikut: Banjar Tainsiat Denpasar, Banjar Belaluan, Br. Kaliungu Kelod, Br. Kayumas Kaja, Br. Pemeregan, Br. Tampak Gangsul, Br. Gemeh, Br. Kelandis,Br. Munang Maning, Br. Tegehe Tonja, Br. Sanglah, Br. Ambengan,Br. Pasekan, Jl Raya Sesetan No 67 Denpasar, Br. Jematang, Br.Pembetan Kapal, Br. Tangeb Kapal, Br. Uma Kapal, Br. Buruan Sanur, Br. Delod Peken Sanur, Br. Intaran Sanur, Br. Langon Sanur,Br. Ubung Jimbaran, Br. Tegal Kuta, Br. Benah Ubung Kaja, Br.Belusung Peguyangan, Br. Semaga Penatih, Br. Pohmanis Penatih,Br. Pasek Jagapati, Br. Jaba Jero Jagapati, Br. Kemulan Jagapati, Br.Angantaka, Br. Aseman Sedang, Br. Sigaran Mambal, Br. Taman Tegal Darmasaba, Br. Bindu Mambal, Br. Tamas, Br. Baturining Mambal, Br. Darmasaba, Br. Mengwi Sibang Gede, Br. Blumbang Penarungan, Br. Gulingan Tengah Mengwi, Br. Kuhum Mengwi,Br. Beringkit, Br. Gambang Mengwi, Br. Tinggan Pelaga.

Kabupaten Jembrana

Sekretaris Warga Sri Karang Buncing, Kabupaten Jembrana, I Wayan Suarma menjelaskan, secara pasti tak diketahui persebaran warga yang ada di wilayah Jembrana, hanya diperkirankan melalui darat dan ada persebaranya melalui laut. Begitu pun keberadaannya di tempat sekarang kedatangannya dalam periode yang berbedabeda.Turunya di Pelabuhan Perahu Lelateng menyebar ke 3 (tiga) lokasi yaitu,

 1) Kelurahan Banjar Tengah. Lama kelamaan dari Banjar Tengah membuat Dadiya di Melaya di Banjar Sari Kuning.
2) Kelurahan Baler Bale Agung, terletak sebelah selatan RS Negara.Dari Kelurahan Bale Agung lama kelamaan karena ada pembukaan hutan untuk dijadikan pertanian, lalu ada keluarga yang ikut dalam pembukaan hutan, yang lama kelamaan mendirikan Pura Dadiya di Desa Baluk. Dari Desa Baluk karena tranportasi lancar membuka Dadiya baru di Desa Tuwed. Masa kini Pura Dadiya yang dimiliki oleh Warga Sri Karang Buncing di Kabupaten Jembrana terletak di 9 (Sembilan) tempat yaitu: 

1) Dadiya Mendoyo. 2) Dadiya Berangbang. 3) Dadiya Kebon. 4) Dadiya Banjar Tengah. 5) Dadiya Baluk. 6) Dadiya Tuwed. 7) Dadiya Sari Kuning. 8) Dadiya Kedisan. 9) Dadiya Pergung. 10) Dadiya Berawan Tangi.
 Jumlah kepala keluarga keturunan Sri Karang Buncing yang ada di Kabupaten
Jembrana berjumlah 250 KK.


Dadiya Karang Buncing, Mendoyo Dangin Tukad

Menurut tetua warga I Ketut Meder, berdasarkan penuturan orang tua yang pernah diwawancarai, sekitar abad ke-18 ada tiga orang keluarga Tegal Mengkeb, Tabanan merantau ke Jembrana tepatnya di Desa Mendoyo Dangin Tukad. Saat itu penduduk Desa Mendoyo Dangin Tukad masih jarang, boleh dikatakan desa itu baru berdiri. Alamnya masih asri tetapi daerahnyaa rendah yang sering terendam banjir.

Setelah beberapa tahun bermukim di Mendoyo Dangi Tukad, dua orang tak betah dan mendengar kabar di Berangbang ada pembukaan hutan, lalu kedua orang itu pindah ke Berangbang mengadu nasib ikut membuka lahan pertanian. Karena daerah itu subur mereka etah tinggal di sana dan berkembang sampai sekarang menjadi puluhan keluarga, yang sekaligus meyakini penyungsungannya di Pura Kawitan Sri Karang Buncing, Blahbatuh, Gianyar.Dan yang masih tinggal di Mendoyo Dangin Tukad berkembang menjadi beberapa keluarga dan satu diantaranya pindah dan menetap di Desa Pergung Kecamatan Mendoyo yang juga bagian dari Warga Sri Karang Buncing.

Dadiya Kedisan Yeh Embang asal mulanya berasal dari Bangli persebaranya melalui darat. Sedangkan Dadiya Berawan Tangsi asal leluhurnya dari Karangasem (Tuwed) karena waktu Gunung Agung meletus lalu mengungsi ketempat sekarang.

Persebaran warga di Dusun (Banjar) untuk wilayah Kabupaten Jembrana: Banjar Kebon, Br. Banyubiru, Br. Satria, Br. Berangbang,Br. Mendoyo Dangin Tukad, Br. Yeh Embang Kedisan, Br. Yeh Buah,Br. Sari Kuning, Br. Baluk, Br. Tengah.

Kabupaten Buleleng
Pura Puseh Tingkih Kerep, Desa Pegadungan

Tetua warga, Jro Nyoman Tirta, bertempat tinggal di Dusun Asah Panji, Wanagiri, mengatakan, secara pasti memang tidak ditemukan keberadaan Pura Puseh Tingkih Kerep itu, namun menurut cerita tetua, asal mula leluhur dari Gamongan, Karangasem, mengungsi ke Pegadungan sebanyak tiga orang yaitu, I Tingkreb, I Gede Tangkas,dan I Gede Balon. Lama kelamaan keluarga mereka menyebar ke Dusun Taman Sari, Desa Padang Muliya, akhirnya mendirikan Pura Dadiya Kawitan Dukuh Gamongan. Dari Padang Mulia menyebar
ke beberapa desa antara lain, Desa Wanagiri, Desa Pancasari, Desa Lemukih, Desa Tegal Linggah, Desa Gitgit, Kota Singaraja, Desa Panji dan ke Desa Toli-Toli (Sulawesi Tengah).

Jumlah kepala keluarga turunan dari tiga nama leluhur tersebut di atas perkembangannya sampai sekarang berjumlah 350 KK. Dimana sebelumnya warga setempat bingung mencari identitas nama leluhur mereka yang patut di puja didalam mendekatkan diri kepada Hyang Kawitan (leluhur) dan Hyang Widhi. Selama 15 tahun terjadi perdebatan pencaharian jati diri warga dengan berbagai jalan ditempuh bahkan masuk bui pun di alami dalam proses pencaharian itu. Akhirnya ada beberapa kelompok keluarga masuk ke Warga Pasek, beberapa kepala keluarga masuk ke Warga Dalem (arya), dan beberapa kelompok keluarga masih meyakini turunan Dukuh. Belakangan sekitar tujuh tahunan baru menyadari Dadiya di Taman Sari ada keterkaitan ke Desa Gamongan. Karena tidak tahu ada keterkaitan antara Dukuh Gamongan dengan Pura Kawitan, Blahbatuh. Yang selama ini keluarganya belum pernah tangkil hatur sembah ke Pura Kawitan di Blahbatuh, hanya sampai di Desa Gamongan. “Mudah-mudahan dalam waktu dekat akan tangki hatur sembah” kata Jro Nyoman Tista, menyudahi informasi ini.

Menurut tetua warga Drs. I Ketut Sutarja, jumlah Dadiya yang ada di Kabupaten Buleleng sebanyak 55 Dadiya. Persebaran warga yang ada di Kabupaten Buleleng: Br. Tamblang Kubu, Br. Kubu Anyar, Br. Bulian Kubutambahan, Br. Cemara Bulian, Br. Siana Depaha, Br. Depaha, Br. Bila Kanginan, Br. Menasa Sinabun, Br.Menyali Sawan, Br. Sudaji, Br. Peken Sangsit, Br. Sema Sangsit, Br.Tamansari Padangmulia, Br. Longsegehe, Br. Katiasa Pegadungan,Br. Lebah Siung Panji Anom Sukasada, Br. Bubuan Seririt, Br. Uma Patemon, Seririt, Br. Galiran Bakti Seraga, Br. Penataran Buleleng,Kampung Widiasari, Br. Tamansari, Br. Jawa, Br. Jagaraga, Br. Sepang Busungbiu, Br. Yeh Panes, Br. Samirenteng, Br. Dauh Desa Tambak,Br. Kelodan Jineng Dalem, Br. Bukit Jineng Dalem, Br. Tejakula, Br Tejakula Kelodan, Br. Tejakula Tengah, Br. Les, Br. Depaha Tejakula,


Kabupaten Tabanan
Pura Dadiya Mandul, Banjar Mandul, Luwus
Nyoman Sada, tetua Warga Karang Buncing di Desa Mandul,mengungkapkan, leluhur mereka berasal dari Desa Kapal, daerah Pura Sada, lalu mengungsi ke tempat sekarang. Pertama datang dan menetap di Desa Mandul sebanyak 3 KK dan 2 KK tinggal di Banjar Palian, tetapi Dadiya nya tetap di Mandul, Luwus, Tabanan.Saat kini perkembangan populasi warga di Mandul berjumlah 15 KK. Dari dahulu keluarga besar di Mandul tetap mengampu Pura Kawitan Sri Karang Buncing di Blahbatuh dan Pura Lempuyang Gamongan.

Persebaran warga di Kabupaten Tabanan: Banjar Batu Tampik Kediri, Br. Mal Mundeh, Br. Tanjung Beraban, Br. Bukit Catu Baturiti, Br. Pemuteran, Br. Mandul Luwus, Br. Bangli Baturiti, Br.Jeruk Legi, Br. Lebe Perean, Br. Abian Luwang, Br. Apuan Baturiti,Br. Tegal Mengkeb Selemadeg, Br. Soka Senganan, Br. Klecung Selemadeg, Br. Bunyuh Perean Marga, Br. Penge Tua Marga, Br.Basang Be Marga, Br. Pajaan Pupuan, Br Tumagading Wanasari Penebel, Br. Jelijih Sanda Pupuan, Br. Selat Perean.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More