Jumat, 21 Februari 2020

IX JEJAK-JEJAK DALEM SWETA DAN DALEM IRENG

IX
JEJAK-JEJAK
DALEM SWETA DAN DALEM IRENG
DALAM PURANA DAN BABAD
Purana Pura Luhur Pucak Kembar, Babad Dalem Batu Kuub, Babad Batu Aji, Prasasti Dalem Putih Jimbaran, Purana Pura Natar Bolong, Dalem Putih dan Dalem Ireng adalah Saudara Kembar dan Jejak-Jejak Perjalanan Dalem Putih dan Dalem Ireng menjadi nama-nama desa di Bali.

Salinan purana-purana tersebut diatas penulis dapati isinya hampir sama, yang berbeda adalah judul dan bahasa yang dipakai, ada memakai Bahasa Jawa kuno, Jawa Tengahan, Bahasa Bali kekinian dan Bahasa Indonesia. Salah satu Purana Pura Luhur Pucak Kembar disalin dan diterjemahkan oleh I Ketut Sudarsana dan I Gusti Ngurah Oka Anom, Desa Adat Pacung, Baturiti, Tabanan, dalam Bahasa Indonesia berikut:

Tersebutlah pada jaman dahulu saka 135 atau tahun 213 Masehi, Sanghyang Pasupati beryoga di Gunung Rajya, setelah yoganya mencapai tingkat kesempurnaan, makanya yoganya dilemparkan ke sebuah sungai yang berbatu, menyebabkan gempa yang sangat dahsyat secara terus menerus, kemudian dari batu yang ada di sungai lahirlah anak kecil kulitnya hitam legam, dan dari riak air yang mendidih lahir pula seorang bayi warna kulitnya putih. Menurut purana peristiwa tersebut terjadi di sungai Limpar dan menurut Kunalini Tattwa sungai Limpar adalah sungai Unda, disanalah bayi itu berdua hidup menikmati keindahan sungai dan semak belukarnya.

Saking asyiknya bermain tidak dirasakan menyusup sampai ketengah semak belukar,yang dihuni oleh seekor Lembhu, seraya menyapa: Ya tuanku berdua, siapakah gerangan orang tuamu? Anak kecil itu lalu menjawab, maafkan aku Lembhu, aku tidak tahu dengan bapak dan ibuku, aku tidak tahu dari mana asal usulku, demikian jawabnya. Ki Lembhu akhirnya memberikan penjelasan, bahwasannya tuanku adalah putra Sanghyang Pasupati, tuanku bernama Dalem Kembar (Dalem Ireng dan Dalem Sweta), kisah tentang kelahiran tuanku berdua yaitu tuanku yang lahir dari batu disebut Dhalem Ireng, dan tuanku yang lahir dari buihnya air sungai disebut Dalem Sweta, itulah sebabnya paduka disebut Dalem Ireng dan Dalem Sweta,namun ijinkan saya memberikan nasehat kehadapan paduka berdua bahwasannya paduka berdua tidak seyoyanya memerintah bersama-sama, yang patut memegang tapuk pemerintahan adalah paduka Dalem Ireng, sebab paduka adalah penjelmaan Sanghyang Wisnu sudah sewajarnya memegang pemerintahan, demikian petuah Ki Lembhu. Kedua Dalem itu bertanya, dimanakah seharusnya saya memegang tapuk pemerintahan? Ki Lembhu memberikan penjelasan: sebab paduka lahir dari batu, apabila ada batu berwarna mengkilap saat diterpa sinar matahari, disanalah seharusnya paduka mendirikan pemerintahan, kemudian tempat itu berilah nama Batu Maklep, demikian hatur Ki Lembhu kehadapan Batu Ireng.

Sekarang diceritrakan Dalem Selem bersama Ki Lembhu berjalan menuju arah barat daya, dalam perjalanan Ki Lembu tak henti-hentinya memberikan petunjuk, bahwa pada saatnya nanti sudah sampai pada tujuan ayahnda akan hadir, dan tempat itu berilah nama Taro dan sesungguhnya saya ini adalah Ki Lembhu Nandini, setelah demikian bertutur kata secara kasat mata Ki Lembu tidak tampak lagi dari pandangan.

Setelah matahari tepat berada diatas khatulistiwa (tajeg surya) Dhalem Kembar secara tiba-tiba mendengar suara sayup-sayup (sabda) yang mengisyaratkan: “Hai anakku Dhalem Sweta engkau tidak patut memegang pemerintahan, hanya engkau Dhalem Ireng yang seyogyanya memegang pemerintahan”. Setelah Dhalem mendengar sabda yang demikian itu, lalu keduanya saling membuat perjanjian dengan berintikan yaitu: sebab aku dan engkau lahir menjadi saudara kembar, semoga tidak pernah berpisah dan semoga dikemudian hari bisa bertemu kembali, demikian perjanjian antara Dhalem Sweta dan Dhalem Ireng.

Hal kian Dhalem Sweta mohon pamit dan melanjutkan perjalanan kearah barat daya,menelusuri hutan rimba yang lebat, ditengah hutan belantara rasa haus, lapar dan dahaga tidak tertahankan, menyebabkan jasmaninya lemah lunglai tidak mampu lagi melanjutkan perjalanan, hingga Dhalem Sweta terduduk istirahat, seolah-olah ingat akan pesan Ki Lembhu, bahwa dirinya putra Hyang Pasupati, namun secara tiba-tiba pada tempat istirahat tersebut tersembur air jernih, dengan sigap air tersebut segera diminumnya, sehingga tenaganya pulih kembali, karena keluarnya air tersebut dari batu selagi mengenang Sanghyang Pasupati, maka tempat itupun diberi nama Batu Hyang, mulai saat itulah banyak orang-orang Bali menghambakan diri pada Dhalem,lalu Dhalem bersabda: Hai kamu orang-orang Bali, karena kamu bhakti padaku dan karena engkau telah memahami hakekat bhakti kepadaku, maka sepantasnya tempat ini aku beri nama Batu Aji, setelah demikian akhirnya Dhalem melanjutkan perjalanan menuju arah barat, setelah sampai ditempat tujuan, disanalah beliau melepaskan lelah bersenang-senang, kemudian disana beliau mendirikan tempat pemukiman, lalu Dhalem bersabda: Hai kamu para hamba sahajaku sekalian, mulai saat ini tempat ini aku beri nama Antiga, dirasakan tempat itu sangat indah diterangi oleh sinarnya rembulan, yang menyebabkan hati beliau terpesona dengan keindahan alamnya, kemudian nama Antiga diganti oleh beliau menjadi Batu Bulan, kemudian beliau melanjutkan perjalanan menuju barat daya, dalam perjalanan yang sangat melelahkan itu, beliau melihat serumpun bambu yang menjulang tinggi bagaikan menyundul langit, pohon bambu itulalu dikutuk menjadi tempat yang luhur (tinggi),yang dikemudian hari akan terwujud sebuah kahyangan bernama Ulu watu (nama watu disesuaikan dari kelahiran Dhalem berasal dari watu).

Sekarang kembali diceritrakan Dhalem Ireng, karena terlalu lama beliau memimpin pemerintahan, tiba-tiba beliau teringat dengan saudaranya Dhalem Sweta, kata lubuk hatinya, apakah gunanya aku memegang pemerintahan, bila tidak mengetahui keberadaan saudaraku, niscaya kekuasaan tidak ada artinya, demikian kata hati beliau,sehingga hasrat dalam pikirannya memutuskan untuk pergi mencari kakaknya Dhalem Sweta, sehingga beliau menuju arah barat. Tidak diceritrakan dalam perjalanan,akhirnya beliau tiba pada suatu tempat dan bertemu dengan orang-orang desa, lalu Dhalem Ireng bertanya: apakah gerangan nama tempat ini ?, orang desa tersebut menjawab, ya tempat ini bernama Batu Hyang, dulunya atas kutukan Dhalem Sweta,demikian jawaban orang-orang desa tersebut, dimanakah Dhalem Sweta sekarang,demikian pertanyaan Dhalem Ireng, kalau tidak salah Dhalem Sweta berada di Batu Aji, demikian jawabannya.

Setelah mendengar jawaban yang demikian itu, dengan tergesa-gesa pergi menuju desa Batu Aji, dengan harapan dapat bertemu dengannya Dhalem Sweta, entah berapa lama perjalanan beliau, sampailah pada tempat yang dituju, dengan segera beliau lalu bertanya: dimanakah gerangan keberadaan Dhalem Sweta, tuanku kiranya Dhalem Sweta kini berada di desa Batu Bulan, demikian jawaban yang diperolehnya, akhirnya dari desa Batu Aji beliau menuju desa Batu Bulan, namun sayang sekali Dhalem Sweta sudah meninggalkan desa Batu Bulan, dan dari desa Batu Bulan terbetik berita bahwa Dhalem Sweta berada di desa Sakyamuni (sekarang Sakenan), setelah sampai di Sakenan beliau bertemu dengan Ki Dhukuh, lalu bertanya, ya paman Dhukuh,dimanakah gerangan keberadaan Dhalem Sweta?, ya tuanku Dhalem Sweta sekarang berada di desa Jimbaran, demikian jawaban Ki Dhukuh.

Sekarang diceritrakan Dhalem Ireng dengan segera menuju desa Jimbaran, pada saat yang baik itu beliau bertemu dengan hamba sahaja (dayang) Dhalem Sweta,dimana dayang tersebut sedang mempersiapkan santapan yang akan disuguhkan kepada majikannya Dhalem Sweta, dengan melihat santapan tersebut tiada tertahan nafsunya untuk menikmati, maka dengan lahapnya Dhalem Ireng menyantap hidangan tersebut, terkejutlah si dayang yang bernama Ni Pring Gading, lalu bertanya: siapakah gerangan tuan, hamba tidak mengenal tuan sebelumnya, mengapa tuan berani memakan santapan yang akan kami hidangkan untuk tuan hamba Dhalem Sweta, mendengar kata Ni Pring Gading yang demikian itu, mendadak Dhalem Ireng berhenti menyantapnya, lalu beliau bertanya: Hai dayang dimanakah kini berada Dhalem Sweta, ya tuanku beliau kini berada di tempat pagagan (ladang padi gaga),demikian jawab si dayang, dengan segera Dhalem Ireng berjalan menuju tempat pagagan, namun Dhalem Sweta tidak pula dijumpai, sebab Dhalem Sweta sudah kembali menuju desa Jimbaran, dalam perjalanan pulang beliau sempat menyinggahi ladang orang-orang kampung, namun setelah tibanya Dhalem Sweta di istana, dengan sangat hormat dayang Ni Pring Gading humatur, maafkan tuanku Bhatara Dhalem Sweta, ijinkan hamba melaporkan kehadapan duli tuanku, bahwasanya ada seorang yang datang dengan bentuk tubuh besar, tinggi kekar rupanya bagaikan setan, orang tersebut telah berani lancang membuka langsung menyantap santapan tuanku raja,tiada tertahan takut hamba, dan lagi pula orang tersebut menanyakan paduka tuanku raja, mendengar hatur si dayang yang demikian itu, sungguh tiada tertahan murkanya Bhatara Dhalem Sweta dan dengan segera kembali lagi ketempat pagagan, hal kian sampailah pada tempat pagagan dan bertemu dengan Dhalem Ireng.

Karena saking emosionalnya pertempuran kedua belah pihak tidak dapat dihindari,perang tandingpun terjadi, sama-sama bersenjata keris, salik tusuk, namun keduanya tidak ada terlukai karena sama-sama kebal, karena tiada yang terkalahkan, akhirnya kedua belah pihak sama-sama kepayahan, dalam pada itu beliau berdua saling tegur sapa, Siapakah gerangan anda, aku bernama Dhalem Ireng, aku Dhalem Sweta,setelah bertegur sapa, barulah menyadari tentang asal usul dan pesan Ki Lembhu Sanghyang Pasupati yang masing-masing membawa senjata yaitu: Dhalem Sweta bersenjatakan Keris Kala Katenggeng, dan Dhalem Ireng bersenjatakan Keris Miring Agung, barulah beliau menyadari bahwa yang diajak perang tanding adalah saudaranya sendiri, sehingga suasana berubah dari tegang menjadi terharu, samasama meceritrakan pengalaman masing-masing. Akhirnya Dhalem Ireng berkata kepada kakaknya Dhalem Sweta. Ya kakakku Dhalem Sweta, banyak sekali kakanda memberikan nama desa dan yang terakhir kanda berada di desa Jimbaran, sudah seyogyanya kanda disebut Dhalem Putih Jimbaran, sekarang ijinkanlah saya mohon pamit, sayapun juga berniat memberikan nama suatu tempat atau desa yang bercirikan watu, yang merupakan ciri bahwa aku pernah melintasi daerah tersebut. Dan ijinkan adinda menuju kearah utara, kalau demikian baiklah, namun kanda mohon tempat kita berperang tadi kita namakan Bukit Kali.

Kini diceritrakan Dhalem Ireng berjalan menuju kearah utara, setelah lama berjalan, lalu beliau menjumpai areal kebun kelapa, namun tiba-tiba air lautan menyemburkan gelombang, menyebabkan hatinya sangat marah. Dhalem Ireng, lalu tempat itu dikutuk diberi nama Seseh, dari Seseh beliau melihat kearah timur, terlihat warna tanah yang putih, tanah itu diungsikan oleh beliau, sampailah beliau pada tanah yang berwarna putih dan beliau terkejut pada saat menginjakkan kakinya pada sebuah batu, tiba-tiba batu tersebut berlobang, sehingga tempat itu beliau kutuk bernama Batu Nyorong atau Batu Bolong, dari Batu Bolong Dhalem Ireng lagi melanjutkan perjalanan menuju kearah timur, dalam perjalanan beliau melalui batu yang licin sehingga kakinya terpeleset ke dalam air, dengan segera pula memberikan kutukan,bahwa pada tempat beliau terjatuh diberi nama Batu Belig, dari Batu Belig lagi beliau melanjutkan perjalanan kearah timur, ditengah perjalanan yang melelahkan tiba-tiba beliau terjatuh terkulai (ulung=Bhs. Bali). Maka tempat itu diberi nama Batu Tulung.

Dari Batu Tulung beliau menempuh perjalanan yang cukup jauh sehingga rasa haus dan dahaga tiada tertahankan, akhirnya beliau memuja kebesaran Tuhan memohon karunianya, seketika itu tersemburlah air, lalu diminumnya, sehingga rasa haus dan dahaganya hilang, maka tempat itu diberi nama Batu Bedak (sekarang lebih dikenal Batu Bidak).

Sekarang dikisahkan beliau Dhalem Ireng dari Batu Bedak melanjutkan perjalanan menuju ke utara dan sampailah beliau di wilayah Bukit Asah, dari ketinggian bukit itu melihat jurang yang dalam melihat dari mata batinnya, tempat itu sangat religius, disanalah beliau beryoga semadi, dalam alam yoganya muncullah Dhalem Bali, Panca Wisnu, Panca Dewata, lalu terdengar sabdha mantra yang sayup-sayup bunyinya: Hai, anakku Dhalem Ireng, aku ini adalah ayahmu Sanghyang Pasupati,aku juga disebut Sanghyang Lingga Bhuwana, ayahndamu ini berstana di Pucak Candi Purusada, tempat ini aku beri nama Batu Pucak Kembar, semoga sepanjang jaman menjadi kahyangan, sebagai sarana umat manusia menghaturkan rasa syukur dan bhaktinya melakoni kehidupannya.

Hai, anakku Dhalem Ireng aku juga berkahyangan di Gunung Agung (Tohlangkir).Apabila aku berkahyangan di Gunung Watukaru, aku disebut Hyang Jaya Netra,apabila aku berkahyangan di Bukit Jati aku disebut Hyang Siwa Pasupati, bila aku berkahyangan di Gunung Trate Bang (trate= tunjung) dan (Bang=merah), maka aku disebut Hyang Besa Warna, apabila aku berstana di Gunung Bratan aku disebut Hyang Danawa, demikianlah agar kamu mengingat selalu, lalu Dhalem Ireng bertanya:Maafkan paduka Bhatara, apakah sebabnya tempat ini disebut Batu Pucak Kembar?Demikian pertanyaan Dalem Ireng, kemudian dijawab oleh Paduka Hyang Lingga Bhuwana, yang berstana di Pucak Candi Purusada yang berlokasi di desa Kapal, hai anakku Dhalem Ireng, karena engkau dilahirkan kembar, disini telah terwujud suatu bukti saksi dua buah batu, itulah sebabnya dinamakan Batu Pucak Kembar (batu tersebut kini berada di Taman Cakra. Pent). Demikian konon sabdha Sanghyang Pasupati kepada anaknya Bhatara Dhalem Ireng, pada saat itu menunjukkan tahun
saka 322 atau tahun 400 Masehi, mulainya keberadaan Batu Pucak Kembar atas wara nugraha Sanghyang Lingga Bhuwana/Hyang Pasupati kepada Dhalem Ireng,pada saat itu kembali Sanghyang Pasupati memberikan titah kepada anaknya Dhalem Ireng, anakku Dhalem Ireng, berangkatlah dengan segera ke Bukit Uluwatu, setelah kamu sampai disana berkemaslah untuk menyatukan pikiran dengan sarana beryoga semadhi, biar kamu cepat menyatu kehadapan Sang Pencipta, setelah mendengar petunjuk Sanghyang Pasupati yang demikian itu, lalu beliau bergegas pergi menuju Bukit Uluwatu, disana Dhalem Ireng berkonsentrasi menyatukan bayu sabdha idhep dengan yoga semadhi, tiada diceritakan yoganya berhasil, akhirnya Dhalem Ireng moksah menyatu kehadapan Sanghyang Acintya, Demikian Purana Batu Pucak Kembar, keberadaanya di Bukit Asah.

MANDALA WISATA SAMUAN TIGA, GIANYAR
Syahdan setelah para Dewa, khususnya Bhatara Indra berhasil menewaskan Raja Mayadenawa, Pulau Bali menjadi aman, tentram dan teratur disegala bidang tidak terkecuali dibidang keagamaan. Meskipun para Dewa telah mengalahkan Raja Mayadenawa tersebut, namun para Dewa tidak pernah melupakan kegagahan keberanian Raja tersebut, sebagai seorang kesatria dimedan laga yang sangat dahsyat.Terkesan dengan hal-hal tersebut diatas, maka para Dewa mengadakan perundingan dimana diputuskan bahwa roh Raja Mayadenawa hendaknya dihargai dan dimuliakan.

Berdasarkan kebijaksanaan tersebut maka abu jenazah Raja Mayadenawa diupacarakan di Pura Besakih. Pada hari yang dianggap baik oleh para Dewa, abu jenazah Raja Mayadenawa yang ditempatkan di buah kelapa gading diusung ke Besakih. Setiba di Besakih dimana upacara besar-besaran dilakukan, tepat upacara selesai, terjadilah suatu kejadian yang penuh mukjisat dan mengagumkan. Buah kelapa gading dimana abu jenazah raja Mayadenawa ditempatkan, Pecah !. Dari
dalamnya muncullah dua anak: 1 laki-laki dan 1 perempuan, kedua anak tersebut kemudian diberi nama Masula-Masuli.

Bertahun-tahun kemudian kedua anak tersebut telah dewasa, dan disaat itu keadaan Pulau Bali sedang luang, dimana tidak ada seorang Raja pun yang bertahta, oleh karena itu atas persetujuan para Dewa, Masula – Masuli dinobatkan menjadi Raja di pulau Bali. Sebetulnya keputusan para Dewa untuk menobatkan Massula-masuli sebagai Raja itu bertentangan dengan keinginan hati keduanya, karena Masula-Masuli berminat untuk hidup di sorga. Akan tetapi Sanghyang Pasupati tidak mengijinkan,maka Masula-Masuli menduduki singasananya di Batahanyar. Setelah keduanya menjabat sebagai Raja, keadaan Pulau Bali sangat tentram dan damai, karena kebijaksanaan beliau dalam memerintah, Kesuburan dan kemakmuran mereka dimana-mana, rakyat benar-benar menikmati kehidupan yang tenang, lebih-lebih dalam hal-hal keagamaan, beliau sangat taat. Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sangat kuat. Demikian juga ke Pura Besakih beliau sangat rajin beribadat.Kebiasaan-kebiasaan yang baik dari Raja ini juga berpengaruh terhadap rakyatnya sehingga seluruh rakyat Bali pada waktu itu juga sangat taat menjalankan perintah keagamaan. Setelah beberapa lama memangku jabatan, beliau kemudian menikah.

Dari pernikahan itu lahirlah seorang putra yang bernama Sri Tapa Ulung, setelah beliau meningkat dewasa, Sri Tapa Ulung dinobatkan sebagai Raja menggantikan ayahnya dengan nama Sri Asta Asura Ratna Bumi Banten, yang artinya keturunan ke 8 dari leluhur Sri Mayadenawa. Dibawah pemerintahan beliau yang tak banyak berbeda dengan pemerintahan ayahnya, segala sesuatunya berjalan lancar tanpa kurang suatu apa, lebih-lebih dengan didampingi oleh seorang mahapatih yang gagah perkasa bernama Ki Pasung Gerigis tinggal di Tengkulak dan seorang pembantunya Ki Kebo Iwa alias Kebo Taruna yang tinggal di desa Blahbatuh.

Selain itu banyak lagi bawahan-bawahan beliau yang semuanya bijaksana dan pemberani dalam melaksanakan roda pemerintahan. Pada suatu hari bertahun-tahun kemudian beliau mengambil suatu keputusan untuk melakukan yoga semadi di Pucak Penulisan di Sukawana, Kintamani. Beliau berangkat dengan diiringi oleh Patih Ki Pasung Gerigis, karena ketekunan beliau dalam melakukan semadi tersebut,maka para Dewa mengabulkan keinginan beliau agar menjadi seorang yang sakti,menguasai kekuatan gaib, tidak mempan dengan senjata apapun.

Diantara kesaktian anugrah dari para Dewa itu ialah Raja Tapa Ulung bisa menghilangkan kepala beliau sewaktu-waktu bila ingin pergi ke sorga. Pada suatu saat yang tak terduga, ketika kepala beliau tak kembali lagi sebagai mana biasanya,maka sang patih Ki Pasung Gerigis menjadi sangat kaget dan cemas tak tahu apa yang mesti dilakukan. Namun Ki Pasung Gerigis masih mencoba menunggu dengan tenang, tapi malang kepala sang raja tetap tidak muncul kembali sebagai biasanya.Patih Ki Pasung Gerigis menjadi kehilangan akal, tidak selang berapa lama ada orang membawa seekor babi lewat dihadapanya, tanpa berpikir panjang, babi itu kemudian diminta olehnya dan kepalanya dipotong. Segera kepala babi tersebut dipasang dileher Sri Tapa Ulung.

Syukurlah beliau hidup kembali, tapi berkepala babi. Beliau kemudian berkemaskemas dengan patihnya untuk kembali pulang ke Bataanyar. Sesampai di pinggir danau Batur, tanpa sengaja beliau melihat bayangannya di air danau itu. Betapa kecewanya setelah tahu bahwa kepala beliau adalah kepala seekor babi. Perasaan putus asa dan menyesal menyebabkan beliau enggan kembali ke Bataanyar. Tetapi sang patih Pasung Gerigis tak henti-hentinya membujuk dan menghibur beliau agar
mau kembali ke Istana di Bataanyar. Dan di Istana nanti akan dibuatkan suatu tempat yang tinggi, dimana manusia tidak akan bisa memandangnya. Atas bujukan tersebut,akhirnya beliau bersedia kembali ke Bataanyar dengan diiringi oleh patih Ki Pasung Gerigis. (Besar perkiraan bahwa sejak saat itu desa Bataanyar diberi julukan desa Bedaulu, sebab Rajanya berbeda kepala).

Disanalah di tempat yang tinggi itu beliau bertempat tinggal tanpa seorang manusiapun yang bisa memandangnya.Selain itu disebarkan pula suatu pengumuman keseluruh Bali, bahwa barang siapa yang berani memandang wajah sang raja Sri Tapa Ulung, pasti akan dibunuh. Demikianlah beliau bertahta di Istana Bedaulu. Oleh karena beliau merasa mendapat anugrah kesaktian yang tidak ada seorangpun yang menandinginya dan juga melihat kenyataan bahwa seluruh rakyat Bali begitu patuh
dan taat selama ini, maka timbulah sifat-sifat keangkaramurkaan dan sifat takabur beliau. Rakyat dilarang melakukan ibadah keagamaan, dan beliau tidak mau patuh lagi pada perintah Majapahit. Baginda ingin terlepas dari kekuasaan Majapahit.

Lama kelamaan Majapahit merasa bahwa sikap Sri Tapa Ulung telah berubah.Akhirnya sikap Sri Tapa Ulung yang membangkang itu sampai ke telinga Raja Majapahit yang lalu itu diperintah oleh Raja Sri Kala Gemet. Karena itu di Majapahit diadakan rapat yang dihadiri oleh mentri-mentri, hulubalang-hulubalang, dan pemuka-pemuka rakyat. Dalam rapat itu diputuskan “perang” dengan Raja Sri Tapa Ulung. Pada waktu itu Majapahit mempunyai seorang patih yang terkenal yaitu Patih Gajah Mada.

Dibawah pimpinan Patih Gajah Mada diaturlah siasat untuk dapat menaklukkan Pulau Bali dan membunuh Raja Sri Tapa Ulung yang berkhianat tersebut. Siasat perang ini harus betul-betul cermat, karena disamping Raja Sri Tapa Ulung adalah raja yang terkenal kesaktiannya, juga Raja Sri Tapa Ulung mempunyai patih yang sakti dan gagah berani, yaitu Kebo Iwa. Disebutkan kemudian bahwa Patih Gajah Mada menghadap Sri Tapa Ulung, untuk memohon Ki Kebo Iwa yang hendak dikawinkan dengan seorang putri. Ini termasuk salah satu siasat perang dari Patih Gajah Mada.Dalam perjalanan ke Bali, Gajah Mada dan pasukannya sampai didesa Blahbatuh yang dipegang oleh Ki Pasung Gerigis.

Disana diperkenalkan dengan Ki Karang Buncing dan Ki Kebo Iwa.Atas ikhtiar Ki Pasung Gerigis, maka Gajah Mada akhirnya diperkenankan untuk menghadap Sri Tapa Ulung, tapi dengan syarat agar Gajah Mada tidak melihat dan memandang wajah Raja Tapa Ulung. Dan Patih Gajah Mada juga mengajukan suatu permohonan yaitu agar diperkenankan menerima suguhan makanan berupa sayur paku liking, nasi sengauk (aron) dan minum air dengan kele. Semuanya ini akan diatur oleh Ki Pasung Gerigis.Sesampainya Gajah Mada di istana dengan segala hormat sebagai mana layaknya
seorang bawahan yang menghadap Raja, begitu pulalah sikap sikap Patih Gajah Mada dalam menghadap Raja Sri Tapa Ulung. Dan didalam kesempatan itulah Gajah Mada menghaturkan niatnya untuk memohon Ki Kebo Iwa yang hendak dikawinkan dengan seorang puteri (Lemah Tulis yang sudah terkenal cantiknya). Dengan alasan agar hubungan Majapahit dengan Bali lebih erat lagi. Oleh Baginda Raja Sri Tapa Ulung sedikitpun tidak menduga bahwa itu hanya tipu muslihat belaka, karena itu segera beliau mengabulkan permohonan Gajah Mada dengan ikhlas. Setelah acara pokok selesai,

Gajah Mada kemudian bersantap dengan suguhan yang telah dimintanya. Dengan sendirinya untuk bersantap hidangan tersebut, wajah harus ditengadahkan sehingga terlihat jelas wajah Sri Tapa Ulung oleh Gajah Mada. Betapa kecewanya, marah dan malu baginda raja Sri Tapa Ulung mengetahui bahwa dengan akalnya Gajah Mada telah berhasil memandang wajah beliau. Pada waktu itu sebetulnya Baginda ingin segera membunuh Gajah Mada, namun peraturan yang berlaku yaitu membunuh utusan suatu kerajaan adalah dilarang keras apalagi utusan itu sedang makan. Karena itulah Baginda Raja tidak bisa berbuat apa-apa.

Selanjutnya atas perkenan Baginda Raja, Patih Gajah Mada membawa serta Ki Kebo Iwa ke Jawa. Pada akhirnya tercapailah tujuan Patih Gajah Mada untuk mengurangi kekuatan kerajaan Bali (Bedaulu), karena sampai di Pulau Jawa Ki Kebo Iwa terbunuh. Betapa sedih dan duka Baginda Sri Tapa Ulung mendengar nasib yang menimpa patih kesayangannya, selain itu perasaan tertekan karena sangat malu sesudah Patih Gajah Mada berhasil memandang wajah Baginda. Segera beliau mengambil keputusan untuk melenyapkan diri dari muka bumi dengan jalan Moksa.Itulah riwayat Baginda Raja Sri Tapa Ulung yang bertahta di kerajaan Bedaulu, Bali.

SARIN BWANA DI MONOGRAFI DARMASABA
Asal usul nama Darmasaba tertuang dalam Lontar Usaha Bali, seperti yang tertulis dalam Monografi Desa Darmasaba tahun 1980 silam, nama darmasaba berkaitan dengan keturunan danghyang Nirarta diceritakan, sang kawi-wiku asal Daha (Jawa Timur) itu memiliki cucu bernama Ida Pedanda Sakti Manuaba yang tinggal di Desa Kendran Tegalalang Gianyar.

Merasa tidak disenangi sang ayah, Ida Pandita Manuaba pergi mengembara bersama dua orang pengiringnya, pengembaraan sang pendeta sampai di Pura Sarin Buana di Jimbaran, saat mengadakan semadi tapa yoga ditempat ini sang pendeta melihat sinar api yang sangat jauh di utara timbul keinginan beliau, Ida Pandita Manuaba untuk mengunjungi tempat itu, sampailah beliau di Pura Batan Bila, Peguyangan, disini Ida Pandita Manuaba singgah menghadap Ida Pandita Budha yang tinggal disana.

Selanjutnya kedua Pandita bersama-sama menuju arah utara dan singgah di Taman Ceng Ana, sebuah taman milik Arya Lanang Blusung. Ditempat ini kedua Pandita bersama-sama melaksanakan Tapa Yoga Semadi dan menetap sementara waktu.Kedatangan kedua Pandita ini didengar oleh Bendesa Aban, sang Bendasa pun menghadap kedua pandita, namun karena tidak berani menghadap lengsung, Bendesa Aban hanya memperhatikan dari kejauhan secara seksama, dalam bahasa bali, memperhatikan dari jarak jauh berarti “Nenjo” sehingga tempat itu dikenal sebagai “Peninjoan” yang sekarang menjadi nama banjar.

Setelah mendapat petunjuk barulah Bendesa Aban menghadap kedua pendeta itu.Setelah itu Ida Pandita Manuaba dan Ida Pandita Budha kembali melanjutkan perjalanan dan bertemu dengan seorang bendasa, dan tempat itu kini dinamai Menesa sampai sekarang menjadi nama banjar.

Melalui Bendesa ini diadakan pendekatan untuk datang ke sebuah pura yang saat Ida Pandita bertapa semedi di Pura Sarin Buana di Jimbaran keliatan Sinar Api yang sangat terang dan begitu besar serta agungnya. Tempat pura yang terdapat sinar tersebut kini disebut Pura Hyang Api yang terletak di wilayah Banjar Menesa.

Kedua Pandita dan Ki Bendesa mengadakan pertemuan di Pura Budha Manis,sebuah pura yang dibangun oleh Kebo Iwa, untuk mengingatkan bahwa tempat itu pernah dilaksanakan pertemuan penting untuk membicarakan ke dharmaan (kesucian) kemudian tempat itu diberi nama Darmasaba (dharma-kesucian dan Sabha- pertemuan), usai pertemuan itu, Bendesa Aban mohon pamit pulang, karena hari sudah sore Ki Bendesa Aban mempercepat perjalanan, dalam Bahasa Bali mempercepat jalan itu disebut “Cabe” dan selanjutnya dipakai nama Banjar Cabe sampai saat ini.

Berselang beberapa lama, Desa Aban yang diperintah oleh Ki Bendesa Aban diserang malapetaka yaitu serangan binatang semut, sehingga masyarakatnya banyak yang meninggalkan desanya, sebagian masyarakat ada yang tinggal di daerah perkebunan disebelah selatan Desa Aban, dan lama kelamaan mereka menetap disana, dan tempat baru itu diberi nama “Tegal” dan selanjutnya dijadikan sebutan sebuah Desa Adat yakni Desa Adat Tegal.

Dari sejarah kepemimpinan Desa Darmasaba, Perbekel sejak zaman penjajahan telah beberapa kali mengalami pergantian Perbekel dengan sebutan sesuai zaman serta peraturan yang mengaturnya dan kesemua pemimpin desa tersebut telah melaksanakan tugas, fungsi, wewenang, dan tanggung jawabnya untuk membangun desa sesuai kondisi yang ada pada saat itu.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More