Sabtu, 30 Oktober 2010

KONTOVERSI ANTARA MPU KUTURAN & SENAPATI KUTURAN

Kontroversi antara Mpu Kuturan dengan Senapati Kuturan

           Argumentasi lain yang menyebutkan Mpu Kuturan datang di Bali pada zaman pemerintahan Sri Dharmmodayana Warmadewa, dan beliau banyak membangun tempat suci (pura) yang ada di Bali, juga terdapat beberapa silang interpretasi yang berbeda-beda terhadap argumentasi tersebut, sedikit komparasi antara:

Versi Jawa, menyebutkan Mpu Kuturan:
adalah seorang pendeta atau rohaniawan berasal dari Majapahit (Usana Bali) dan referensi lain menyebutkan keberadaan beliau Mpu Kuturan yang bersaudara kandung dengan Mpu Genijaya, Mpu Ghana, Mpu Semeru, Mpu Bharadah yang hidup pada zaman pemerintahan Airlangga tahun 1019. Mungkinkah seorang resi membangun pura pura yang ada di Bali? Karena seorang resi (pertapa) berusaha hidup melepaskan keterikatan duniawi dan hidup dari hasil pajak kerajaan. Mengapa konsep yang dibuat oleh Mpu Kuturan dalam penataan tempat suci (pura) yang ada di Bali tidak lazim terdapat di Jawa, seperti ada Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem, Pura Panti, Pura Segara, Pura Tambak Kurung atau dengan perkataan lain, terdapat pemujaan berdasarkan atas karakteristik atau sifat kekhasan dari pura tersebut, yaitu ada Pura Umum (Sad Kahyangan, Kahyangan Jagat), Pura Teritorial (Kahyangan Desa), Pura Fungsional (Pura Subak, Pura Melanting, Pura Sagara, dll), Pura Kawitan (Sanggah Kamulan, Pura Ibu, Pura Panti, Pura Dadya).
           Pada zaman pemerintahan raja-raja Bali Kuno, pertapaan para pendeta hidup dari tunjangan hasil pajak yang diberikan oleh raja. Para pendeta kerajaan diangkat dan diberikan wewenang untuk mengurus pertapaan dan tempat pemujaan raja oleh raja yang berkuasa pada saat itu, begitupun sebaliknya seorang raja akan diangkat dan disahkan serta diberikan gelar ke-dewa-an oleh para pendeta kerajaan. Raja Bali Kuno pada akhir pemerintahan bersifat konsisten menjalani kehidupan wanaprasta yaitu melepaskan keterikatan dunia materi, dengan hidup menyepi atau pergi ke tempat yang lebih tinggi (gunung) untuk mencari keagungan Tuhan. Sedangkan Mpu Kuturan banyak disebut-sebut dalam Usana Bali yang ditulis setelah Bali ditaklukkan oleh Majapahit.
           Menurut Prasasti Dadya Pajenengan dan Prasasti Pasek Bandesa, alih aksara lontar Kantor Dokumentasi Budaya Bali tahun 1998, menjelaskan, dari Batara Brahma lahir seorang putra bernama Brahmana Pandita nama lain Mpu Witadharma menurunkan seorang putra bernama Mpu Wiradharma menurunkan tiga orang putra, yang sulung bernama Mpu Lampita, yang menengah Mpu Adnyana, paling bungsu bernama Mpu Pastika. Mpu Lampita melahirkan dua orang putra, yang sulung bernama Mpu Pakuturan dan adiknya bernama Mpu Pradah. Jadi Prasasti ini bertentangan dengan Bancangan Pasek Gelgel diatas, dimana Mpu Lampita menurunkan lima orang putra yaitu Brahmana Pandita (Mpu Gnijaya), Mpu Semeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan, Mpu Bradah, sedangkan dalam prasasti Dadya Pajenengan dan Prasasti Pasek Bandesa menurunkan dua putra, Mpu Pakuturan dan Mpu Pradah, tidak muncul nama Mpu Ghana, Mpu Semeru, dan Mpu Gnijaya.
           Dalam Babad Pasek yang disusun oleh Jro Mangku Ketut Soebandi (2004:20,36), Mpu Kuturan muncul dua periode yaitu zaman pemerintahan Raja Sri Udayana Warmmadewa tahun Caka 923/1001 Masehi dan pada zaman pemerintahan Raja Sri Masula Masuli tahun Caka 1246/1324 Masehi. 
           Dalam lontar Raja Purana Pura Lempuyang, Gamongan, muncul Mpu Kuturan bersama keturunan Sri Pasung Grigis dan Sri Jaya Katong sekitar tahun 1324 Masehi, dan banyak opini masyarakat Mpu Kuturan identik dengan Senapati Kuturan (Versi Bali).
           Dalam dongeng serat calon arang yang digubah tahun 1540 menceritakan kejadian lima ratus tahun yang lalu, Mpu Baradah diutus oleh raja Erlangga datang ke Bali untuk menawarkan salah satu anaknya menjadi raja di Bali, karena anak beliau mempunyai hak waris menjadi raja Bali. Sebelum Mpu Baradah menemui sang raja, secara protokoler, seorang tamu wajib mengikuti aturan-aturan yang ditentukan oleh penguasa Bali saat itu. Proses Mpu Baradah sebelum menemui sang raja diwajibkan menghadap sang senapati (mahapatih) sebagai panglima perang saat itu. Yang pada saat itu diterima oleh sang Senapati Kuturan. Tidak secara tegas menyebutkan siapa nama pejabat Senapati Kuturan saat itu.
           Dalam buku Sejarah Bali Dwipa oleh ND. Pandit Shasri (1963:53) tertulis, Hal yang perlu diingat ialah bahwa prasasti-prasasti yang berhubungan dengan diri Mpu Bharada yang dihubungkan dengan diri Mpu Kuturan, tidak ada dikeluarkan pada zaman orangnya sendiri. Prasasti yang didapatkan di Jawa Timur (Aksobyah) ber-angka tahun 1289 Masehi bertentangan dengan keterangan yang menyatakan bahwa beliau itu datang pada zaman pemerintahan raja Sri Udayana.       
           Kalau ditarik periode tahun kedatangan Mpu Kuturan tiba di Bali, Isaka 923/1001 Masehi dan dihubungkan dengan kedatangan Mpu Gnijaya pada tahun Isaka 971/1049 Masehi, terdapat tenggang waktu yang sangat mencolok sekali selama 48 tahun. Mungkinkah periode selama 48 tahun pendeta Mpu Gnijaya baru tiba di Bali?
           Sedangkan dalam bagan silsilah MGPSSR, Mpu Bharadah yang datang ke Bali pada era keberadaan Mpu Kuturan tahun Isaka 923/1001 Masehi, menurunkan putra Mpu Bahula, menurunkan putra Mpu Tantular (Mpu Wiranatha), menurunkan putra Danghyang Smaranatha, menurunkan putra Mpu Nirarta yang tiba di Bali tahun Isaka 1382/1460 Masehi. Jadi interval waktu selama 460 tahun, mungkinkah Mpu Baradah hanya menurunkan empat generasi saja?
           Dalam catatan prasasti raja-raja Bali-Kuno, penulis belum menemukan Mpu Kuturan menjadi pendeta kerajaan Sri Dharmma Udayana Warmmadewa yang berkuasa pada era itu. Jabatan pendeta hanya dikeluarkan oleh para sekte/agama yang berkembang pada zaman itu, misalnya: pengikut Sekte Siwa pendetanya disebut dang acharya, Sekte Budha pedetanya disebut dang upadyaya, Sekte Waisnawa pendetanya disebut rsi bhujangga dan lain sebagainya. Disamping itu, untuk menjadi orang suci berdasarkan garis keturunan (Sapinda) misalnya, raja Sri Gnijaya setelah memerintah melakukan hidup suci (wanaprasta) di Lempuyang tetap memakai nama Gnijaya, begitu pun yang melanjutkan pertapaan setelahnya yaitu Sri Maha Sidhimantra Dewa, Sri Indracakru, Sri Pasung Grigis, Sri Rigis, Sri Pasung Giri tanpa amari aran atau berganti nama..

Versi Bali menyebutkan Senapati Kuturan:
 adalah sebuah jabatan mahapatih kerajaan (bukan nama yang menjabat, pejabat), secara stuktural langsung dibawah raja dan bertanggung-jawab atas tempat pemujaan raja yang ada di wilayah Kuturan / Kutur.

Kata senapati berasal dari bahasa sanskerta sena dan pati. Sena berarti tentara sedangkan Pati berarti raja. Jadi senapati berarti raja atau pemimpin tentara. Terdapat beberapa jabatan senapati yang dikenal pada masa pemerintahan Bali Kuno antara lain, Senapati Balembunut, Senapati Dinganga, Senapati Denda, Senapati Mahiringin, Senapati Sarbwa, Senapati Kuturan, Senapati Waransi, Senapati Wrasanten.

Beberapa Kutipan Prasasti yang Menjelaskan Kuturan adalah Nama Tempat/ Wilayah, berikut:

Dalam Prasasti Bwahan dialih aksara dan diterjemahkan oleh Putu Budiastra pada kelompok III A4 tahun caka 1068/1146 Masehi yang dikeluarkan oleh raja Sri Jayacakti, berbunyi;

. . . lawan karaman i wikang ranu maser Kedisan, Bwahan, Air Hawang, tan ategen wilwangharepa salwiran i pamuja nira Sri Maha Raja mare Kutur mwangngi Turunan, apan . . .

Arti Bebas:
. . . selanjutnya krama desa-desa di tepi danau yaitu Kedisan, Bwahan, Air Abang, tidak dipaksa untuk ikut melakukan penghormatan terhadap pemujaan paduka Sri Maha Raja yang ada di Kutur maupun di Turunan karena ..

Dalam Prasasti Pengotan Caka 1103/1181 Masehi, dikeluarkan pada zaman pemerintahan Sri Jayapangus, berbunyi:

. . . mangkana yan hana kapamwatan ri tani karaman i udanapatya tan parabyaparan denira ri padecyannya, makadi sirakmitan Kuturan tan kna pabharu, lawan wnanga yanawunga . .

Arti Bebas
. . demikian pula apabila ada yang membebani penduduk desa di udanapatya tidak boleh mengganggu penduduk desa seperti umpamanya mereka menjaga di Kuturan tidak dikenakan pabharu (iuran) dan diperkenankan mengadakan sabungan ayam . .

Dalam Prasasti Selat, Caka 1103/1181 Masehi dikeluarkan oleh Raja Sri Jaya Pangus, halaman 4 b berbunyi:

. . . ngawineh wnang wiku rsi momah sumlaping ring karaman tan katempahana denda waci ring Kuturan . . .

Arti Bebas
 . . alasan diijinkan seorang resi berumah samping krama tidak dikenakan iuran (kewajiban) yang tinggal di Kuturan . . .

Dalam Prasasti Selumbung, Caka 1250/1328 Masehi dikeluarkan oleh Raja Sri Maha Guru, halaman II a 4 berbunyi:

. . . tan kna padeci ring Kuturan, lawan karaman ing Salumbung . . .

Arti Bebas
. . . tidak kena iuran (kewajiban) tinggal di Kuturan, juga warga di Selumbung . . .

Dalam Prasasti Batuan, tahun Caka 944/1022 Masehi, dikeluarkan oleh raja Sri Marakata Pangkaja Tunggadewa, dikatakan: 

bahwa untuk kesejahteraan penduduk desa, terdapat sawah paduka raja yang tidak ada yang mengerjakan, itulah sebabnya sawah tersebut diberikan (punya) kepada salah satunya untuk Sang Senapati yang ada di Kuturan, dijadikan pelaba pura, yang terletak di perbatasan Batuan.

           Ada dua Senapati Kuturan yang muncul pada zaman pemerintahan Sri Dharmodayana yaitu: dalam Prasasti Serai tahun Caka 915/993 Masehi, muncul De Senapati Kuturan Dyah Kuting dan Prasasti Batur Pura Abang tahun Caka 933/1011 Masehi muncul De Senapati Kuturan Dyah Kayop (Goris, R,1954:82, 89).

          Dengan demikian kalau dihubungkan Mpu Kuturan (versi Jawa) adalah seorang Brahmana, yang datang dari Jawa dan mendapat jabatan menjadi Senapati Kuturan (versi Bali) dalam pemerintahan Raja Sri Dharmodayana atau menjadi seorang ksatria Bali, lalu yang manakah nama beliau satu di antara dua nama tersebut diatas?

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More